0

Mobile Advertising Telkomsel Berbasis Lokasi

INILAH.COM, Jakarta- Telkomsel membuka layanan mobile advertising berbasis lokasi yang menarik. Layanan ini memudahkan pengiriman pesan komersial ke penerima yang tepat.

VP Mobile Advertising Management Telkomsel Nyoto Priyono mengatakan,pengiklan dan pemasar kini mulai melihat ponsel sebagai media komunikasi pemasaran yang tepat untuk mengedukasi calon pelanggan dengan beragam produk dan jasa yang mereka tawarkan.


Telkomsel menawarkan Ad@hand yang merupakan inovasi layanan dengan sistem broadcasting advertising dan memungkinkan pengiklan menyasar secara tepat target pasarnya berdasarkan lokasi dengan memanfaatkan SMS dan MMS sebagai media penyampaian pesan.

"Melalui layanan Ad@hand, pengiklan bisa mendapatkan target pasar sesuai profil pelanggan, sehingga informasi iklan atau promosi yang diterima pelanggan sesuai kebutuhannya," katanya.

Keuntungan lain, target informasi iklan yang dikirimkan ke pelanggan lebih terukur karena didasarkan lokasi pelanggan.

Pengiklan yang melakukan siaran iklan tidak terbatas pada pelanggan korporat saja, tapi juga konsumen iklan pribadi atau pengusaha kecil menengah.

Pemanfaatan layanan ini juga akan menciptakan segmen bisnis baru berupa bisnis seluler. Misalnya saja petugas asuransi cukup bersiaga di tempat perbelanjaan dan mengirimkan iklan penjualan asuransi untuk pengunjung mall.

Di samping Ad@hand, Telkomsel juga memperkenalkan layanan mobile advertising yang lain, yakni Mobile Coupon (MCoupon). Layanan ini memberikan fleksibilitas bagi pengiklan untuk mempromosikan produk-produknya melalui kupon elektronik berupa image dalam layanan MMS.

Dengan menggunakan layanan MCoupon, pengiklan tidak perlu lagi mencetak banyak kupon dan membagikannya ke masyarakat secara manual. Cukup dengan mengirimkan MMS, kupon tersebut dapat diterima pelanggan yang disasar di mana pun dan kapan pun dia berada.[ito]


• Inilah
0

Lapan Gelar Seminar Penerbangan dan Antariksa

Tangerang (ANTARA News) - Demi membangun kebersaman visi dan tujuan para pelaku dan pelaksana bidang penerbangan dan antariksa nasional, Lapan menyelenggarakan Seminar Nasional Penerbangan dan Antariksa.

Seminar diadakan Senin (15/11) di Gedung Dewan Riset Nasional (DRN), Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Tangerang.

Hasil seminar akan menjadi bahan penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang penerbangan dan antariksa di Indonesia hingga 2025. Selain itu, juga akan menjadi bahan pengayaan materi dalam pembahasan Rancangan Undang-undang tentang Keantariksaan.

Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) penerbangan dan antariksa memiliki manfaat yang besar bagi masyarakat. Aplikasi bidang ini meliputi komunikasi, transportasi, keperluan dunia usaha, perbankan, eksplorasi sumber daya mineral dan geologi, pertahanan keamanan, pertanian, dan mitigasi bencana alam.

Seminar akan dihadiri 600 peserta. Mereka terdiri dari para pengambil kebijakan, peneliti, akademisi, praktisi, dan pelaku industri. Rencananya, Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Drs. Suharna Surapranata, MT. akan membuka acara ini. Menristek dan Ketua Komite Inovasi Nasional (KIN) Prof. Dr. Ir. Zuhal akan menjadi "keynote speaker" dalam acara tersebut.

Seminar akan dibagi dalam sembilan sesi pararel. Sesi tersebut adalah Seminar Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional RI (Depanri), Seminar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dirgantara (Siptekgan) ke XIV, Seminar Astronotika Indonesia, Seminar Kebutuhan Misi Satelit, Seminar Pengembangan Teknologi Penginderaan Jauh di Indonesia, Seminar Pemanfaatan Penginderaan Jauh, Seminar Sains Antariksa, Seminar Pemodelan Iklim, dan Seminar Space Mindedness (pendidikan tentang Iptek kedirgantaraan bagi generasi muda).(ENY/S026)


• ANTARAnews
0

"Aplikasi Koran Gusur Koran"

AP/Marcio Jose Sanchez

TEMPO Interaktif, Monaco - Kepala News Corp. untuk wilayah Eropa dan Asia, James Murdoch mengatakan penjualan aplikasi koran untuk perangkat elektronik, seperti Apple iPad menggusur bisnis koran konvensional.

Pada Juni lalu, News Corp menutup layanan berita, The Times yang bisa diakses secara bebas dari situs di London. Selain Times, beberapa media massa lainnya yang juga dimiliki News Corp. adalah Sunday Times dan tabloid terlaris di Inggris Sunday. Media massa yang dapat diakses secara online itu kini tidak gratis lagi.

Dengan ditutupnya akses gratis melalui situs tersebut, News Corp Inggris kehilangan hingga 90 persen pembaca online mereka. Sebaliknya, tercatat 105 ribu pelanggan yang telah membeli aplikasi koran supaya dapat membaca berita yang disajikan media massa 'berbendera' News Corp. melalui gadget eReader maupun Apple iPad.

Menurut anak dari Rupert Murdoch, Chief Executive Officer (CEO) News Corp, saat ini industri koran tengah mencari model bisnis baru dalam era digital. Banyaknya situs yang menyajikan berita secara gratisan membuat media massa mengalami 'krisis' pembaca dan menurunkan pendapatan iklan.

Adapun ayahnya, Rupert Murdoch mengatakan harusnya industri koran berterima kasih kepada Apple iPad. Pasalnya, penjualan aplikasi koran pertama kali dilakukan pada perangkat komputer tablet iPad dan itu mengakibatkan perubahan pola bisnis koran konvensional.

Sebagaimana ayahnya, James Murdoch juga menyambut baik peluang untuk menjual aplikasi koran melalui toko aplikasi Apple, iTunes App Store meskipun aplikasi tersebut mengambil 30 persen pendapatan perusahaan penerbitan.

"Kami memilih menggunakan aplikasi koran karena bebas friksi," kata James Murdoch. Menurut dia, terlalu banyak ongkos yang dikeluarkan untuk penjaga toko koran dan agen padahal mereka belum tentu memperjualbelikan koran dengan baik. Namun demikian, pembaca melalui aplikasi koran juga cukup berbahaya karena bisa mematikan pangsa pasar koran konvensional. "Inilah yang menggusur pasar koran versi cetak," katanya.

Aplikasi koran mulai tersedia di toko aplikasi Apple, iTunes dan bisa diakses 7,5 juta unit iPad yang telah dijual sejak akhir September lalu.[Reuters|Rini K]


•
TEMPOInteraktif
0

Pemantau Lalu Lintas Antariksa Indonesia

Tampilan monitor Sistem Pemantau Benda Jatuh milik Lapan.

TEMPO Interaktif, Dua bekas roket Ariane 44L R/B dan Navstar 46 berkejaran di atas angkasa Indonesia. Ariane, berukuran 17 meter persegi, mengambil jalan pintas dengan menyusuri garis ekuator. Sampah satelit ini melayang di atas Aceh, bergerak ke utara Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan seterusnya menuju Samudra Pasifik.


Roket Navstar, seluas 2,5 meter persegi, memilih jalur yang lebih panjang dan lonjong membentuk garis kurva interval. Dari utara Sumatera, bekas satelit ini menyeberang ke arah Samudra Hindia, melintasi angkasa Australia, dan naik kembali ke Samudra Pasifik.

"Kecepatannya sekitar 3.000 kilometer per jam," kata Thomas Djamaludin, peneliti senior astronomi dan astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Aksi dua bekas roket yang terjadi Rabu, 3 November, lalu pukul 09.43 WIB di ketinggian 7.261 kilometer itu tampak pada layar monitor Sistem Pemantau Benda Jatuh Antariksa di kantor Lapan, Bandung. Tempo ikut menyaksikan keandalan sistem yang pada Oktober lalu baru dipasang untuk menggantikan sistem manual.

Menurut Djamaluddin, dari layar monitor kita bisa melihat pergerakan obyek antariksa satu jam lalu hingga dua jam ke depan. Sistem pemantau real time ini akan memberi peringatan jika benda itu akan jatuh.

Sistem canggih tersebut ternyata hasil rancangan peneliti Abdurrahman dan sejawatnya di Lapan. Mereka memodifikasi perangkat lunak Orbitron yang umum dipakai pemantau benda jatuh di seluruh dunia. Hasilnya, pengamatan dipersempit hanya untuk benda bukan meteor yang berpotensi jatuh di wilayah Indonesia.

Pada layar berlatar warna biru itu, obyek benda jatuh ditandai dengan titik merah. Garis orbitnya berbeda-beda warna sesuai dengan ketinggian benda saat terbang. Legenda garis itu dijelaskan di kotak kiri bawah. Garis orbit berwarna abu-abu menandakan obyek berada 200 kilometer di atas kita.

Untunglah, posisi Ariane dan Navstar yang Tempo saksikan saat itu lebih dari ketinggian tersebut. "Ini masih aman," kata Djamaluddin. Selanjutnya, garis hijau menginformasikan bahwa benda itu berada di ketinggian 150-200 kilometer dan berpotensi jatuh dalam hitungan hari.

Sedangkan pada garis lintasan kuning, berarti ada sampah antariksa yang tengah melayang dengan jarak 120-150 kilometer. "Kalau yang kuning ini, jatuhnya sudah dalam hitungan beberapa jam lagi," ujar Djamaluddin. Status waspada pun mulai diberlakukan.

Garis merah tambah membuat was-was pemantau dan peneliti. Di ketinggian 90-120 kilometer itu, pergerakan sampah antariksa itu sudah wajib dipelototi. Status pun meningkat ke awas. Sebab, kata Djamaluddin, sampah antariksa mulai jatuh di ketinggian 120 kilometer. Jika terus turun hingga kurang dari 90 kilometer, berarti benda tengah meluncur jatuh tertarik gaya gravitasi bumi. "Itu tinggal jatuh dalam hitungan menit saja," ujarnya.

Kepala Pusat Pengembangan Sains Antariksa Lapan Sri Kaloka Prabotosari mengatakan laporan sampah antariksa sesuai dengan prosedur yang disampaikan ke berbagai pihak yang berkepentingan, misalnya kepolisian, militer, dan BNPB, sejak beberapa hari sebelum benda itu jatuh. Tapi, untuk peringatan dini ke masyarakat, Lapan mengaku tak punya mekanismenya.

Masalah itu, kata Djamaluddin, tak hanya dialami Lapan, tapi juga institusi dan peneliti astronomi di seluruh dunia. Sejauh ini mereka hanya bisa memperkirakan area lokasi dan waktu jatuh benda dengan ketidakpastian yang masih cukup tinggi. Dari perkiraan lokasi jatuh, misalnya, rentang jaraknya masih sangat jauh, yaitu hingga 3.000 kilometer.

Djamaluddin mengatakan sulitnya memperkirakan lokasi dan waktu benda jatuh karena ilmuwan di dunia belum bisa membuat model hambatan udara secara akurat. "Berapa pengereman obyek itu oleh udara masih susah diperkirakan," kata lelaki kelahiran Purwokerto berusia 48 tahun itu.

Saat ini bumi diselimuti tak kurang dari 15 ribu sampah antariksa. Ukuran sampah antariksa yang tertangkap radar dan teleskop khusus pemantau benda jatuh mulai 10 sentimeter hingga sebesar bekas stasiun antariksa. Sampah yang menjadi sorotan peneliti selain bendanya berukuran cukup besar, sisa tabung roket berbahan bakar nuklir karena beracun. Beruntung, jumlah sampah antariksa yang jatuh menimpa penduduk masih sedikit.[ANWAR SISWADI]


•
TEMPOInteraktif

Musim Benda Jatuh

TEMPO Interaktif, Jakarta - Ada 15 ribu lebih keping sampah antariksa yang sewaktu-waktu jatuh ke bumi. "Musim jatuh benda antariksa biasanya terjadi saat matahari sedang aktif," kata peneliti senior astronomi dan astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin.

Tanda sedang aktif itu ditunjukkan oleh banyaknya bintik hitam (sun spot) yang muncul di permukaan matahari. Semakin banyak bintik, berarti ledakan di matahari cenderung lebih banyak. Aktivitas sang surya itu berdampak pada penebalan atmosfer bumi.

Kerapatan udara itu mengakibatkan perjalanan sampah antariksa mengitari bumi di atmosfer menjadi terhambat, sehingga potensi jatuhnya karena daya tarik bumi lebih besar. Djamaluddin mengibaratkan pelari sprint yang tiba-tiba menghadapi kerumunan orang di lintasan larinya.

Saat matahari sedang aktif, misalnya pada 2000, kata Djamaluddin, hampir setiap hari ada dua sampah antariksa yang jatuh di berbagai penjuru bumi. Tapi, kalau matahari sedang tidak aktif seperti sekarang ini, sampah antariksa yang jatuh sebanyak 1-2 buah setiap minggu. Sejauh ini belum ada penangkal yang jitu, utamanya untuk melindungi permukiman penduduk dari kejatuhan sampah antariksa.

Beberapa negara adidaya pernah berupaya menghancurkan benda jatuh itu dengan roket. Namun tindakan itu banyak dikecam negara lain karena malah menambah jumlah tebaran sampah di bumi. Lagi pula, penembakan itu tak selalu ampuh karena kecepatan jatuh, waktu, dan lokasi benda sampah antariksa masih sulit dihitung secara tepat.[ANWAR SISWADI]


• TEMPOInteraktif

0

Tak Ada Kamus, SMS Saja

Hasil terjemahan Google SMS Translator di Telkomsel untuk kalimat "I love you."

KOMPAS.com — Perkembangan teknologi begitu pesat dan memudahkan kita untuk berinteraksi dengan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Bahkan, perbedaan bahasa bukan lagi penghalang bagi siapa pun untuk saling berkomunikasi.

Salah satu penemuan revolusioner adalah mesin penerjemah. Mesin buatan Google, misalnya, sudah bisa menerjemahkan kata dan kalimat bahasa Indonesia ke dalam berbagai bahasa dalam waktu singkat. Di dunia komputer dan jagat internet, hal ini sebenarnya bukan hal baru. Sudah banyak mesin penerjemah yang tersedia di berbagai situs. Namun, layanan seperti itu hanya mudah diakses lewat komputer yang bisa mengakses internet.

Menjadi menarik saat layanan penerjemahan dari situs dialihkan ke SMS. Kenapa demikian? Jangkauan SMS lebih luas. Fasilitas itu bisa diakses semua kalangan lintas platform, baik untuk ponsel mewah, maupun ponsel jadul.

Kamus berbasis SMS sebenarnya juga bukan hal yang baru. Sudah ada sejumlah content provider yang menyediakannya. Namun, saat layanan penerjemahan bahasa disediakan Google, kelihatannya hal ini pantas dijajal. Pasalnya, mesin penerjemah bahasa Google, diakui atau tidak, merupakan salah satu mesin yang lumayan untuk saat ini.

Kami mencoba layanan penerjemah Google SMS Translator yang disediakan Telkomsel. Pada percobaan pertama, paling gampang adalah ketika kita mengirim kalimat "I Love you" ke 4664. Dalam waktu kurang dari semenit, muncul SMS balasan berisi "Aku mencintaimu."

Nah, mari coba dengan kalimat lebih panjang misalnya saat kita akan mengajak kencan teman bule. "Kapan kita bisa bertemu? Apakah kamu mau makan malam denganku malam ini?" dan yang keluar "When we can meet? If you want to have dinner with me tonight?" Wah, hasil terjemahan itu rupanya kurang pas.

Percobaan ketiga, coba apakah mesin ini sanggup menerjemahkan artikel berbahasa Inggris ini. "Corpses, cancer patients and diseased lungs are among the images the federal government plans for larger, graphic warning labels that would take up cigarettes." Hasil terjemahannya, "korps, pasien kanker, dan paru-paru sakit adalah di antara gambar rencana pemerintah federal untuk lebih besar, label peringatan grafis yang akan mengambil rokok."

Nah, kelihatannya mesin penerjemah Google memang harus banyak belajar lagi. Layanan ini masih pas untuk membantu mengartikan kalimat-kalimat pendek dan sederhana. Memang diakui, tidak mudah menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa lain yang memiliki susunan kalimat berbeda. Namun, untuk sekadar memahami arti sebuah kalimat, lumayanlah. Bagi yang sudah punya sedikit dasar bahasa Inggris, layanan ini cukup membantu memberikan petunjuk dan gambaran keseluruhan.

Lagi pula, kalau dari ponsel harus membuka browser web hanya untuk mengakses layanan Google Translator, maka kita membutuhkan proses yang lebih banyak. Selain bahasa Inggris, layanan Google SMS Translator di Telkomsel menyediakan penerjemahan ke bahasa Belanda, Perancis, Jerman, Italia, Portugis, dan Spanyol dengan menambahkan kode setiap negara di awal kalimat yang akan diterjemahkan. Info lebih lanjut, ketik "INFO" kirim ke 4664 dari Kartu Halo, Simpati, atau Kartu As. Ingat, setiap pengiriman SMS termasuk permintaan informasi dan penerimaan hasil terjemahan dikenakan biaya Rp 100.


• KOMPAS

0

Hebat! Inilah Sumber Alternatif Bahan Bakar

Gasifikasi Biomassa

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Melalui program Tanoto Professorship Award (TPA), Prof. Dr. Herri Susanto telah melakukan penelitian penyempurnaan teknologi gasifikasi biomasa sebagai sumber alternatif yang ramah lingkungan, dengan memanfaatkan limbah sekam padi dan tongkol jagung.

Gasifikasi biomassa tersebut menghasilkan bahan bakar gas (gas produser) yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar motor diesel atau motor busi stasioner untuk menghasilkan listrik atau bahan bakar di tungku industri misalnya sistem pengeringan produk pertanian.

“Tanoto Professorship Award telah meningkatkan suasana akademik dan mendorong minat penelitian para mahasiswa doktor, magister maupun tingkat sarjana” ujar Prof. Dr. Herri Susanto dari Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung.

Sasaran penelitian penyempurnaan teknologi biomassa mencakup dua aspek, yaitu: Pengembangan teknik tar catalytic cracking untuk menurunkan kadar tar dalam gas produser sampai dengan tingkat yang diizinkan pada motor diesel (maks. 50 mg/Nm³) serta pengembangan teknik pembersihan gas produser dengan absorben minyak yang diperkirakan lebih efektif daripada metoda konvensional dengan absorben air (water scrubber system).

Ratih Loekito, Program Director Tanoto Foundation mengungkapkan kegembiraannya akan keberhasilan yang dicapai oleh penelitian teknologi gasifikasi biomassa dari Prof. Dr. Herri Susanto. “Kami bangga karena penelitian selain dapat memberikan manfaat bagi masyarakat penerima juga dapat menghasilkan peneliti‐peneliti berbakat yang tentunya dapat menjadi penerus masa depan”.

“Penyempurnaan teknologi gasifikasi biomassa ini telah merepresentasikan komitmen Tanoto Foundation untuk memberikan dukungan bagi penelitian yang memberikan manfaat tinggi bagi masyarakat. Penelitian ini dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia, terutama pada upaya‐upaya pengurangan ketergantungan akan bahan bakar minyak pada sentra‐sentra kegiatan pertanian dan di berbagai remote area serta subtitusi sebagian bahan bakar fosil dan kaitannya dengan aspek lingkungan Clean Development Mechanism ataupun Carbon Credit,” ujar Ratih.

Prof. Dr. Herri Susanto menambahkan, bahwa selain penelitian dasar teknologi pembersih gas hasil proses gasifikasi biomassa, beliau juga melakukan pengembangan unit gasifikasi biomassa untuk diaplikasikan sebagai sumber teknologi penyediaan energi pedesaan di beberapa daerah, antara lain: Satu unit PLTD‐Gasifikasi Janggel di sebuah area kebun sawit; Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Dua unit PLTD‐G yang akan dipasang di daerah Kabupaten Inderagiri Hulu dan daerah Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau yang akan memanfaatkan pelepah sawit sebagai biomassa bahan baku proses gasifikasi dan satu unit gasifikasi untuk dapat dimanfaatkan pada usaha menengah pakan ayam (CV Sejahtera) di Suryalaya, Kabupaten Tasikmalaya.


• Tribunnews
0

Kemenhub Belum Izinkan RAL Beroperasi

Pesawat RAL Riau Airlines

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Kementerian Perhubungan menegaskan belum memberikan izin beroperasinya Riau Airlines sepanjang syarat-syarat operasi penerbangan belum dipenuhi.

"Hingga saat ini izin belum diberikan karena syarat tiga set awak kokpit belum dipenuhi," kata Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub, Yurlis Hasibuan di Jakarta.

Yurlis mengatakan, sejak maskapai tersebut berencana menggunakan Boeing 737-500 sebagai armadanya, pihaknya tidak memberikan sertifikasi untuk terbang. Hal itu karena syarat terbang belum terpenuhi.

Hingga saat ini, jelasnya, RAL masih bermasalah dengan sumber daya manusia, yaitu kekurangan tenaga pilot. Menurutnya, jumlah pilot yang disyaratkan adalah minimal tiga set, satu set terdiri minimal satu pilot dan satu kopilot, tetapi RAL baru mempekerjakan satu set pilot.

Mengenai keharusan mengoperasikan minimal dua pesawat, Yurlis mengatakan, pihaknya telah memberikan keringanan, dengan harapan RAL bisa menambah armada dalam waktu dekat.

"Tetapi yang jelas, bila hingga 2012 RAL tidak memiliki lima pesawat dan menguasai lima pesawat lainnya, maka dengan terpaksa tidak memenuhi syarat sebagai maskapai berjadwal," tandasnya.

Seperti diketahui, Undang Undang No 1 tahun 2009 menyatakan, maskapai harus mengoperasikan minimal 10 unit pesawat dengan rincian lima unit berstatus hak milik dan setidaknya lima lagi dikuasai (sewa).

Mengenai pernyataan RAL sudah terbang, jelasnya, hal itu tidak benar karena selama ini Kemenhub belum memberikan izin terbang. Diketahui, dulu Riau Airlines (RAL) melayani penerbangan Pekanbaru, Batam, Natuna dan sebagainya di wilayah Kepri. (*)


• Tribunnews
0

Sharp Raih Penghargaan Karena Keunggulan Teknologi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT SHARP Electronics Indonesia (SEID) menambah deretan prestasinya dengan meraih 2 penghargaan di ajang Pengakuan Prestasi Rekor Bisnis. Sharp meraih penghargaan sebagai “Produsen Televisi Pertama yang Menggunakan Teknologi 4 Warna Dasar” dan “Produsen Plasmacluster Generator Pertama di Indonesia”.

Harian Seputar Indonesia bersama dengan Tera Foundation menyelenggarakan acara apresiasi yang ditujukan khusus untuk dunia bisnis, dengan nama Rekor Bisnis (ReBi). Handi Irawan D, penggagas Rekor Bisnis (ReBi) mengungkapkan Rekor Bisnis (ReBi) adalah sebuah apresiasi dan pengakuan tertinggi yang diberikan kepada suatu perusahaan atau organisasi (yayasan, lembaga dan komunitas) baik swasta maupun pemerintah, dan juga kepada suatu produk, jasa dan merek atas prestasi yang diraih di dalam bidang ; kinerja pasar, kinerja produk, kinerja pelayanan, kinerja proses, research & development, sumber daya manusia, tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar, maupun keunggulan-keunggulan bisnis lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ditambahkan Handi, Rekor Bisnis (ReBi) diberikan melalui hasil riset pasar, data sekunder, publikasi media dan juga keputusan dewan juri, sehingga objektivitas dan reliabilitas dari Rekor Bisnis (ReBi) dapat dipertanggungjawabkan. Diharapkan, Rekor Bisnis (ReBi) ini mampu menjadi sumber inspirasi dan memacu perusahaan-perusahaan untuk menghasilkan produk, kinerja, maupun inovasi-inovasi baru yang lebih baik, sehingga akan membantu meningkatkan pertumbuhan perekonomian di Indonesia.

Pada ajang penghargaan tersebut, 15 perusahaan telah terbukti menorehkan prestasi dalam bidang kinerja pasar, kinerja produk, kinerja pelayanan, kinerja proses, research and development, sumber daya manusia, dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dan lingkungan, serta bidang prestasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sharp berhasil menyabet 2 penghargaan sekaligus yaitu sebagai “Produsen Televisi Pertama yang Menggunakan Teknologi 4 Warna Dasar” dan “Produsen Plasmacluster Generator Pertama di Indonesia”. Kedua produk tersebut merupakan produk Sharp yang berteknologi tinggi dan inovatif. Sharp sekali lagi menunjukkan kepemimpinannya pada teknologi TV LCD dengan menghadirkan LED yang inovatif yaitu Aquos Quattron LED TV. Untuk pertama kalinya, warna dasar kuning (Yellow) telah ditambahkan ke tiga warna dasar, merah, hijau dan biru (RGB) sehingga Aquos Quattron LED TV menghasilkan kualitas gambar yang luar biasa.

Produk kedua Sharp yang mendapat apresiasi adalah Plasmacluster Ion Generator. Sharp telah mengembangkan teknologi Plasmacluster dengan konsentrasi ion tinggi yang mampu mempercepat pemurnian udara di ruangan. Ion Plasmacluster akan menonaktifkan mikroba di udara seperti virus dan bakteri, penyebab alergi seperti debu rumah, serta sangat efektif dalam menghilangkan bau-bau tidak sedap seperti bau asap rokok, bau binatang peliharaan, bau sampah, bau toilet dan bau-bau tidak sedap lainnya, bahkan juga yang menempel pada serat bahan seperti bau keringat. Teknologi Plasmacluster SHARP telah mendapatkan verifikasi dari berbagai badan penelitian di Jepang dan negara lain, salah satunya adalah dari Institute of Human Virology and Cancer Biology-University of Indonesia(IHVCB-UI) serta Retroscreen Virology Ltd, London.

“Keberhasilan Sharp dalam mewujudkan keinginan pelanggannya akan produk berteknologi dan berguna bagi masyarakat luas, memperlihatkan upaya perusahaan dari semua lini untuk terus secara bersama-sama memberikan yang terbaik dengan one-of-a- kind product dan one-of-a- kind technology kepada pelanggan di seluruh Indonesia. SEID pun menyambut gembira penghargaan yang diberikan kepada Sharp melalui Pengakuan Prestasi rekor Bisnis, karena hal ini berarti kami mendapat apresiasi atas kerja keras dalam berinovasi dan berkreatifitas menghasilkan produk berteknologi maju,” pungkas Fumihiro Irie, SEID President Director.





• Tribunnews