Showing posts with label KRI TNI-AL. Show all posts
Showing posts with label KRI TNI-AL. Show all posts
0

★ First Steel Cutting Pembangunan LST Ketiga TNI AL

Jakarta | Wakil Asisten Logistik (Waaslog) Kasal Laksamana Pertama (Laksma) TNI Ir. Sayid Anwar membuka First Steel Cutting pembangunan Kapal Angkut Tank-3 TNI Angkatan Laut di salah satu galangan kapal mitra TNI Angkatan Laut Srengsem Panjang Lampung, Kamis (28/3).

Kegiatan tersebut, dihadiri Kadismatal Laksma TNI Ir. Bambang Nariyono, M.M., Kadisadal Laksma TNI Mulyadi, S.I.P, M.A.P, Kadislaikmatal Laksma TNI Hary Pratomo, Pusada Baranahan Kemhan yang diwakili oleh Kabid Matra Laut Kolonel Laut (T) Sriyanto, Danlanal Lampung Kolonel Laut (E) Ir. Fery Sidjaja, Danbrigif 3 Marinir Kolonel (Mar) Hardimo dan Dirut PT. Daya Radar Utama (DRU) Amir Gunawan.

Pelaksanaan Steel Cutting Kapal Angkut Tank-3 TNI Angkatan Laut ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Waaslog Kasal didampingi Dirut PT. Daya Radar Utama (DRU) dan Pusada Baranahan Kemhan.

Dalam sambutannya Waaslog Kasal Laksma TNI Ir. Sayid Anwar mengatakan, dengan adanya pembangunan Kapal Angkut Tank TNI Angkatan Laut diharapkan dapat memajukan industri pertahanan dalam negeri sehingga dapat mengurangi ketergantungan dari luar negeri. Pelaksanaan pembangunan ini sebagai wujud pembinaan dari pemerintah dalam hal ini Kemhan/TNI, dengan harapan PT. Daya Radar Utama tetap memberikan Technical Support di luar masa Warrantinya sehingga kapal ini dapat berfungsi sesuai usia.

Melalui pelaksanaan Steel Cutting Kapal Angkut Tank-3 TNI Angkatan Laut tersebut, membuktikan bahwa PT. Daya Radar Utama berkomitmen dan siap menjadi lead integrator pembangunan produk Alat Utama Sistem Senjata (Alut Sista) bidang kemaritiman.


  ● Koarmabar  
0

★ Kapal Cepat Rudal (KCR) Buatan Nasional Memuaskan

Jakarta  Kapal Cepat Rudal (KCR) produksi dalam negeri yang berada di bawah jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) berhasil mengikuti Latihan Geladi Tugas Tempur (Glagaspur) Tingkat III/L-3 dengan mencapai nilai kualitatif cukup memuaskan.

KCR tersebut yakni KRI Clurit (CLT-641), KRI Kujang (KJG-642), dan KRI Beladau (BLD-643). Ketiga KCR tersebut merupakan kapal pemukul reaksi cepat yang dalam pelaksanaan tugasnya mengutamakan unsur pendadakan, mengemban misi menyerang secara cepat, menghancurkan target sekali pukul dan menghindar dari serangan lawan dalam waktu singkat.


Ketiga kapal perang yang dilengkapi dengan Sensor Weapon Control (Sewaco) dan Close in Weapon System (CIWS) ini sehari-harinya berada di bawah pembinaan Satuan Kapal Cepat (Satkat) Koarmabar dengan Komandan Kolonel Laut (P) Dafit Santoso.


Glagaspur Tingkat III/L3 yang Kendali Operasional dibawah Komandan Satkat Koarmabar selaku Perwira Pelaksanan Latihan mulai dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap pengakhiran dapat terlaksana dengan baik, tertib dan lancar. Materi-materi yang dilaksanakan dalam serial latihan dapat dilaksanakan dengan lancar diantaranya manuver lapangan di Selat Riau dan Laut Natuna, AAROFEX serta GUNNEX di Laut Natuna.


Semua materi yang dilaksanakan telah dapat mencapai nilai kualitatif cukup memuaskan. Hasil lain yang tidak kalah pentingnya ialah tidak ada kerugian personel dan material yang berarti.


Dengan nilai kualitati cukup memuaskan hasil pencapaian KRI Clurit (CLT-641), KRI Kujang (KJG-642), dan KRI Beladau (BLD-643) sebagai kapal perang yang baru bergabung dengan TNI Angkatan Laut pada bulan Januari ini, Glagaspur Tingkat III/L3 unsur-unsur KRI di jajaran Koarmabar dinyatakan berhasil.

  ● Koarmabar  
0

3 KRI Buatan Dalam Negeri Laksanakan Latihan Tempur

Jakarta | Tiga Kapal Perang Repubik Indonesia (KRI) yang berada di bawah jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) hasil produksi dalam negeri melaksanakan latihan Geladi Tugas Tempur (Glagaspur) Tingkat III/L3.

Kapal-kapal perang tersebut yakni KRI Clurit (CLT-641), KRI Kujang (KJG-642), dan KRI Beladau (BLD-643), Ketiga kapal perang yang memiliki kemampuan sebagai kapal pemukul reaksi cepat yang dalam pelaksanaan tugasnya mengutamakan unsur pendadakan, mengemban misi menyerang secara cepat, menghancurkan target sekali pukul dan menghindar dari serangan lawan dalam waktu singkat pula ini sehari-harinya berada di bawah pembinaan Satuan Kapal Cepat (Satkat)Koarmabar.

Latihan Glagaspur Tingkat III/L3 yang melibatkan kapal-kapal perang bertipe Kapal Cepat Rudal (KCR) ini berada di bawah kendali oprasional Komandan Satuan Kapal Cepat Kolonel Laut (P) Dafit Santoso. Latihan ini bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan profesionalisme prajurit koarmabar dan mengukur kesiapan serta kemampuan tempur unsur-unsur Koarmabar sesuai fungsi azasinya, agar dapat melaksanakan tugas utamanya serta dapat meningkatkan kerja sama taktis antar unsur-unsur koarmabar dalam melaksanakan aksi tempur laut.

Pelaksanaan Latihan Glagaspur Tingkat III/L3 ini dibagi dalam tiga tahap:

● Tahap pertama yaitu tahap persiapan di pangkalan dalam tahap ini unsur-unsur KRI yang terlibat melaksanakan kegiatan antara lain briefing rancana Manlap Glagaspur Tingkat III/L3, dan selanjutnya melakukan persiapan akhir untuk pelaksanaan manuver lapangan.

● Tahap kedua manuver lapangan, pada tahap ini unsur-unsur KRI yang terlibat keluar Pangkalan Tanjung Uban bersama-sama melaksanakan serial latihan di Selat Riau, Laut Natuna dan Selat Singapura guna meningkatkan profesionalisme tempur prajurit matra laut.

● Selanjutnya tahap ketiga yakni tahap pengakhiran dilanjutkan dengan pembuatan laporan pelaksanaan, selanjutnya unsur-unsur bergerak bebas menuju daerah operasi yang telah ditentukan.

Dengan dilaksanakannya Latihan Glagaspur Tingkat III/L3 diharapkan unsur-unsur KRI di jajaran Koarmabar mampu untuk menghadapi berbagai kemungkinan ancaman yang dapat mengganggu kedaulatan negara, keamanan perairan wilayah barat dan kredibilitas NKRI serta tanggap menghadapi situasi-situasi yang timbul dalam pelaksanaan operasi.

Latihan Glagaspur Tingakat III/L3 unsur-unsur KRI jajaran Koarmabar ini juga dilaksanakan dalam rangka mendukung pelaksanaan Latihan Gabungan (Latgab) TNI Tahun 2013 mendatang.


  ● Koarmabar  

0

Kontrak Kapal Perang dengan Palindo Berlanjut

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3YEAiQaYK1KruDCh6JHcloYtfsVlnqV3TvwBRN-6DzLlGNwmhycPqaFruPmVX2SFIbB-u-xLgz9-HQu19R1lETgcp8D9Y9vELgSEYiAyqZpIVGWi7_Mzt5ksH-z4No-lRkfVG1vD0dfXE/s1600/25012013_Kota_KRI_Beladau_643_Argi_01.jpg
KRI Beladau 643 (Foto Tribunnews Batam/Argyanto)
Jakarta | Kementerian Pertahanan berencana untuk menyerahkan sisa kontrak kebutuhan kapal cepat rudal 40 kepada PT. Palindo Marine, Batam. Sebelumnya perusahaan ini sukses memproduksi KRI Clurit 641, KRI Kujang 642 dan KRI Beladau 643.

Palindo masih punya 'hutang' satu unit KCR 40 lainnya yang ditargetkan rampung akhir tahun ini. Jika selesai, TNI AL akan memiliki empat unit kapal dari 16 unit KCR 40 yang ditargetkan hingga tahun 2019 mendatang.

"Dari kajian TNI AL, kami cenderung untuk menyerahkan kontrak produksi KCR 40 kepada Palindo," ujar Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Mayor Jenderal Ediwan Prabowo kepada Tempo, Jumat, 25 Januari 2013 usai menerima protocol of delivery KRI Beladau 643 dari Palindo.

Palindo Marine sendiri baru menandatangani kontrak untuk produksi empat unit kapal cepat rudal dari 16 kapal yang ditargetkan dalam target minimum pengadaan alat utama sistem persenjataan. "Pertimbangan untuk meneruskan kontrak dengan Palindo antara lain masalah perawatan kapal," ujar dia.

Direktur Utama Palindo Marine Harmanto mengaku siap untuk meneruskan kontrak produksi KCR 40. "Kami tidak masalah jika target pengadaan kapal dipercepat," kata Harmanto.

Pembuatan KCR 40, ujar dia, membutuhkan waktu 12 bulan untuk setiap unit. "Tapi tidak masalah karena kami bisa kerjakan secara paralel." Ahak--panggilan akrab Harmanto, mengaku mampu membangun lima kapal cepat rudal sekaligus.

Namun Kementerian Pertahanan mengakui masalah pendanaan masih menghambat percepatan produksi KCR 40. Tiga unit kapal yang sudah diproduksi, seluruhnya menggunakan skema pinjaman dalam negeri. Bank Mandiri selaku bank milik pemerintah ikut membiayai pembuatan kapal senilai Rp 75 miliar per unit.

Kapal cepat rudal sepanjang 44 meter ini terbuat dari high tensile steel pada bagian lambung dan aluminium alloy di bagian atas. KCR 40 dapat melaju hingga 30 knot, atau kurang lebih 60 kilometer per jam.
0

Wamenhan Meninjau Kesiapan KCR Ke-3

Jakarta | Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) RI Sjafrie Sjamsoeddin didampingi Kabaranahan Kemhan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo dan sejumlah pejabat Kemhan serta TNI lainnya, Kamis (17/1), melakukan kunjungan kerja ke Batam, dalam rangka meninjau kesiapan Kapal Cepat Rudal (KCR) 40 ketiga, yang akan diserahkan pada akhir bulan ini.

Kapal yang diberi nama KRI Beladau-643 tersebut, memiliki spesifikasi teknologi tinggi dengan panjang 44 meter, lebar 8 meter, tinggi 3,4 meter dan sistem propulasi fixed propeller 5 daun serta mampu berlayar dengan kecepatan 30 knot.

KCR - 40 terbuat dari baja khusus bernama High Tensile Steel pada bagian hulunya (lambung). Baja High Tensils Steel ini merupakan produk dalam negeri dari PT. Krakatau Steel. Sementara untuk bagian atasnya, kapal ini menggunakan Aluminium Alloy sehingga memiliki stabilitas dan kecepatan yang tinggi saat berlayar. Kapal yang sepenuhnya di buat di PT. Palindo Marine Shipyard itu, juga dilengkapi sistem persenjataan modern (Sewaco/Sensor Weapon Control), diantaranya meriam kaliber 30 mm enam laras sebagai Close in Weapon System (CIWS) atau sistem pertempuran jarak dekat dan Rudal C-705 buatan China

Selain melihat secara langsung KRI Beladau-643, Wamenhan beserta rombongan juga berkesempatan meninjau Combat Boat hasil produksi PT Palindo Marine Shipyard bekerjasama dengan Balitbang Kemhan RI, yang pengerjaannya sudah memasuki tahap penyelesaian.


● DMC
0

★ 2013, PT.PAL Serahkan KCR dan 2 Buah Tug Boat Pesanan TNI-AL

Surabaya � Di penghujung tahun 2012, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengunjungi galangan kapal nasional PT. PAL di Surabaya Jawa timur. Wamenhan rupanya ingin mengetahui progress pembuatan kapal perang pesanan TNI-AL. Seperti diketahui, sepanjang 2012, Kementrian Pertahanan telah memesan sejumlah kapal kepada PT. PAL. Diantaranya KCR-60, Kapal Tunda, Perusak Kawal Rudal serta kerja sama pembuatan Kapal Selam dengan Korea Selatan.

Untuk KCR-60M, progresnya boleh dibilang masih pada jalurnya. Namun, melihat presentasi yang diberikan oleh PT. PAL, progresnya justru lebih cepat dari yang direncanakan. Hingga bulan November 2012, kemajuan produksi telah mencapai 43 % lebih dari semula yang direncanakan 34,7%. Jika tidak ada aral melintang, pada Desember 2013, KCR-60M sudah melaut.


Namun demikian ditemukan juga sejumlah kendala dalam pembangunan KCR-60M. Yaitu, General Arrangement yang menjadi lampiran kontrak ternyata belum memenuhi opsreq TNI AL dan baru dapat disepakati pada bulan September 2012. Lalu pada Maret s/d Mei 2012, baru diproses persetujuan BKI (biro klasfifkasi Indonesia) untuk gambar konstruksi kapal. Dan juga adanya permasalahan daftar kebutuhan pembelian steel plate & profil yang baru dapat dikonfirmasi oleh vendor (PT.KS dan vendor LN), dengan jadwal kedatangan di PT. PAL INDONESIA bulan November dan Desember 2012. Selain itu disarankan juga pengadaan combat system dapat diputuskan anggarannya, sehingga proses desain platform dan combat system dilakukan bersamaan.


Sementara untuk kapal tunda, justru PT. PAL akan mengalami kemunduran jadwal serah terima. Awalnya, serah terima kapal pertama akan dilakukan pada bulan April 2013, dan terpaksa mundur hingga 15 Juli 2013. Permasalahannya adalah Steel Plate yang rencana awal menggunakan material stock, ternyata pada saat Blasting painting terdapat beberapa cacat/ pitting. Sehingga harus diganti dengan pembelian steel plate baru. Plate pengganti mulai datang pada awal Desember 2012 secara bertahap. Selain itu, terdapat pula kesulitan untuk mendapatkan tenaga Sub kontraktor.



Namun demikian, pada proyek Tug Boat ini sudah terlihat bentuk kapalnya. Bagian haluan dan dek kapal sebagian sudah selesai dibuat.




● ARC
0

★ KRI Klewang Kedua Dibangun Awal tahun 2013

Banyuwangi � PT Lundin Industry Invest, perusahaan pembuat kapal perang asal Banyuwangi, Jawa Timur, akan memulai pembuatan KRI Klewang kedua pada Januari 2013. "Semaga awal 2013 bisa dimulai," kata Direktur PT Lundin, Lizza Lundin, melalui pesan pendek kemarin. KRI Klewang pertama, bernomor 625, terbakar habis di Selat Bali pada 28 September lalu.

Kapal seharga Rp 114 miliar ini diluncurkan pada 31 Agustus 2012. Penyebab kebakaran adalah korsleting listrik pada saat pemasangan mesin dan instalasi listrik di galangan ke kapal. Menurut Lizza, Klewang kedua akan dibuat dengan bahan yang sama, yakni komposit karbon, dan dilengkapi dengan teknologi anti-terbakar. Hal itu, kata Lizza, dilakukan agar insiden terbakarnya Klewang pertama tidak berulang. Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Surapati mengatakan Angkatan Laut sedang mengkaji tiga opsi penggantian kapal perang KRI Klewang 625. "Sampai hari ini kami belum memutuskan memilih opsi yang mana," kata Untung.

● Opsi pertama, kapal baru dengan material sejenis kapal lama, namun dengan kualitas bahan yang lebih baik.
● Opsi kedua, kapal sejenis namun materialnya diganti, dari komposit fiber menjadi baja atau aluminium.
● Opsi ketiga, jenis kapal diganti menjadi KCR-60.

Menurut Untung, saat ini Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, Tangerang Selatan, Banten, masih menguji material komposit fiber. Kalau material itu dinilai baik, TNI AL mungkin akan memilih opsi yang pertama. "Tapi, dengan catatan kualitas bahannya kelas satu," kata dia.

Untung memastikan TNI AL tidak mengeluarkan duit sepeser pun dalam pembuatan KRI Klewang baru. Sebab, dalam kontrak, kata Untung, PT Lundin sebagai produsen bersedia bertanggung jawab melakukan penggantian jika terjadi kerusakan kapal. "Alternatif mana pun yang kami pilih, Lundin siap mengganti," kata Untung.

0

★ Viper Class

VIPER Class merupakan kapal patroli cepat TNI AL buatan putra-putra Indonesia. Seluruh kapal dibuat oleh Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (fasharkan) TNI AL yang mempunyai panjang 39-40 meter. Merupakan jenis kapal Patrol Craft (PC-40) hasil karya dan modifikasi prajurit terbaik matra laut.

Latihan airsoftgun di KRI Viper 820 (Foto SAC)
TNI AL membutuhkan banyak kapal untuk patroli maupun angkutan untuk menjaga keamanan dalam negeri. Karena anggaran yang terbatas, maka diusahakan untuk membuat kapal patroli sendiri melalui Dislitbang TNI AL, yang mendesain kapal kecil ukuran PC 36 dan PC 40 dengan biaya yang relatif murah.

Akhirnya prototipe kapal pertama berhasil dibuat sekitar tahun 2000an dan menjadi desain yang mumpuni untuk dibuat massal dengan memaksimalkan Fasharkan TNI AL diseluruh nusantara berserta mitra kerjanya. Bahannya pun dipilih yang ringan dan ekonomis dari bahan Fiberglass yang terbukti cukup bagus.

Dari kapal Patroli PC 36 jenis Boa Class, TNI AL merasa cukup puas dan memulai dengan ukuran yang lebih besar PC 40, maka kapalpun dibuat diberbagai fasilitas Angkatan Laut di nusantara.

Dari tipe PC 40 meter ini TNI AL membuat beberapa jenis yang serupa tapi ada perbedaan kecil secara detail sampai dengan desain yang berbeda tapi ukurannya sekitar 40 meter. Bersama dengan Galangan kapal dalam negeri, TNI AL mencoba terus untuk produksi kapal patroli untuk memenuhi kebutuhan dalam menjaga kedaulatan NKRI. Desainnya terus berubah dengan serapan teknologi dari luar, design by design pun dicoba untuk di produksi.

Salah satu kapal dengan kapal ukuran 40 meter yang dikenal adalah tipe Tarihu Class, Krait Class maupun yang terakhir dan menjadi andalan TNI AL yaitu Clurit Class. Tipe terakhir pun fungsinya setingkat lebih baik karena di persenjatai dengan CIWS maupun rudal anti kapal yang rencananya buatan Cina. Dan masuk dalam satuan kapal cepat (Satkat). Rencananya TNI AL akan memesan 6 unit kapal jenis ini pada PT Palindo, Batam. Melihat kebutuhan akan banyaknya kapal, Clurit Class cocok untuk diperbanyak dan di tempatkan di semua pangkalan TNI AL untuk menjadi kekuatan dasar pangkalan sebelum kapal lainnya membantu.

Kembali ke kapal jenis Viper Class ini akhirnya tahun 2005-2006 dibuat beberapa unit di fasharkan TNI AL dan banyak berguna dalam menjaga perairan Indonesia. Selain sebagai kapal patroli pantai, kapal ini juga digunakan sebagai kapal SAR dalam mencari korban kecelakaan di laut maupun penindakan penyelundupan di perairan Indonesia.

Kapal kelas ini digerakkan oleh tiga mesin pokok masing – masing berkekuatan 1100 HP, mampu melaju hingga 29 knot. Dengan kecepatan jelajah 15 knot, kapal ini bisa berlayar hingga lima hari dengan 20 orang ABK. Bagian haluannya dilengkapi dengan dudukan senjata untuk kanon mitraliur laras ganda 25 mm buatan Rusia dan senjata mesin berat (SMB) 12,7 mm pada buritan. Kapal bercat doreng ini dilengkapi dengan ruang pusat informasi tempur, ruang komunikasi dan gudang amunisi. Kapal ini berfungsi untuk antikapal permukaan dan antiserangan udara terbatas.

Kapal patroli PC-40 Kelas Viper

#  Nama kapal                 Buatan                                Tahun       Bertugas sejak
1  KRI Viper 820              Fasharkan TNI AL Jakarta                   19 Oktober 2006.
2  KRI Piton 821              Fasharkan TNI AL Mentigi   2005        19 Oktober 2006.
3  KRI Weling 822            Fasharkan TNI AL Mentigi   2005        19 Oktober 2006.
4  KRI Matacora 823       Fasharkan TNI AL Mentigi    2006        14 Maret 2008.
5  KRI Tedung Selar 824 Fasharkan TNI AL Jakarta                     14 Maret 2008.
6  KRI Boiga 825             Fasharkan TNI AL Manokwari         1 Agustus 2007 (terbakar 2010)

 Spesifikasi Umum
Jenis:Type PC-40 patrol boat
Berat:100 tons
Panjang:40 m (131 ft 3 in)
Lebar:7.3 m (23 ft 11 in)
Kecepatan:29 knots (54 km/h; 33 mph)
Jelajah:4 days
Persenjataan:
  • 25 mm (1 in) machine guns
  • 12.7 mm (0.50 in) machine guns
Berikut Foto Kapal Viper Class :

 KRI Viper 820 

KRI Viper 820 (Foto Formil Kaskus)

 KRI Piton 821 

KRI Piton 821 merupakan kapal patroli TNI AL yang bertugas di daerah Papua dan berpangkalan di Lantamal X TNI AL.

KRI Piton 821 (Foto Havitdema)

 KRI Weling 822  

KRI Weling 822 (Foto Berita HanKam)

 KRI Matacora 823  


KRI Matacora 823 (Foto Armabar)

 KRI Tedung Selar 824  


KRI Tedung Selar 824

 KRI Bolga 825 

Nama Boiga diambil dari nama latin ular Tiung Cincin, yakni Boiga Dendrophilia. Ular ini salah satu jenis ular ganas yang hidup di kawasan hutan bakau di semua kepulauan di Indonesia.

Menurut Berita Antara tanggal 26 juli 2010 kapal ini terbakar di Dermaga Ujung, Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur. Hampir 50 persen terbakar dan bagian kapal sudah miring tenggelam ke laut yakni bagian buritan dan lambung kiri dari kapal itu, sehingga menyisakan sisi kanan saja. Beruntung tidak ada korban jiwa. Akhirnya TNI AL memutuskan untuk mengkandas kapal ini di Lokasi kejadian.


(semua data dan foto dari berbagai sumber)

 Garuda Militer 
0

★ PC 40 buatan Lokal

Interior KRI Birang 831 (Antara)
INDONESIA membutuhkan banyak kapal perang selain untuk menjaga perairan yang luas dan juga digunakan sebagai kapal patroli maupun kapal SAR bila terjadi kecelakaan di laut. Karena pengadaan kapal tidak murah dan anggaran terbatas, maka TNI AL mencoba mengadakan kapal yang murah tapi dapat diandalkan untuk perairan dangkal maupun penjaga pesisir pantai yang luas di nusantara.

Akhirnya kapal patroli ukuran 36 sampai 40 meter yang dipilih sebagai andalan untuk menjaga perairan Indonesia yang luas ini. Bahannya pun dicari yang ringan tapi kuat yaitu material serat kaca (fiberglass). Banyak desain yang diajukan Dislitbang TNI AL bersama perusahaan swasta yang sudah di ujicoba dan akhirnya dicoba produksi oleh fasharkan TNI AL yang tersebar di berbagai daerah di nusantara.

Bentuknya pun sebetulnya hampir mirip atau sama seperti Boa Class, Kobra Class maupun KRI Tarihu 829. Hanya detail dan panjang yang membedakannya. Menurut salah satu forum militer disebutkan bahannya juga berbeda namun tetap fiberglass. Seluruh kapal ini dibuat oleh Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (fasharkan) TNI AL.

Jenis kapal 40 meter ini yang menurut info internet disebut sebagai kapal yang termasuk dalam kelas Tarihu. Namun menurut kasat mata pada gambar ada perbedaan pada kapalnya dan hanya panjangnya yang serupa 40 meter. Jawabannya hanya TNI AL yang tahu. Karena di media sering disebut sebagai tipe PC 40 saja.

Tipe terakhir yang kemudian di pesan TNI AL adalah tipe Clurit Class produksi PT Palindo, Batam. Namun Clurit Class ini beda fungsi karena dipersenjatai CIWS dan rudal antikapal buatan Cina. Clurit Class pun bukan sebagai kapal patroli tapi dalam TNI AL masuk dalam satuan kapal cepat (satkat). Kapal jenis ini telah diproduksi 3 unit dari rencana 6 unit. Untuk anggaran yang terbatas dalam rencana memenuhi kebutuhan kapal perang yang banyak, nampaknya tipe ini sangat cocok untuk di perbanyak dan di tugaskan di seluruh wilayah perairan nusantara yang sangat luas.

Kapal PC 40 meter setelah diproduksi menjalani dinas di TNI AL dan banyak berjasa menindak pelaku kejahatan maupun menolong korban kecelakaan di Laut. Selain menjadi andalan penjaga pantai di daerah, bila di butuhkan kapal jenis inipun siap ke laut dalam untuk menjaga kedaulatan NKRI.

Seperti Boa Class, Kobra Class maupun Viper Class, kapal-kapal ini juga menggunakan nama sejenis ular. Pemberian nama KRI dengan nama ular berbisa adalah untuk membangkitkan semangat patriotisme dan kebanggaan bagi seluruh jajaran TNI khususnya prajurit TNI AL.

Spesifikasi Umum PC 40 M :

Panjang : 40 Meter
Lebar : 7,30 Meter
Kecepatan : 29-30 knot
Awak : 20 Personel
Senjata :
- Kanon Kaliber 20 mm
- 2 (dua) buah senjata mesin kaliber 12,7 mm

Berikut foto kapal PC 40 M :

KRI Akura 830

Kapal ini merupakan kapal Patroli Cepat yang dibuat pada tahun 2009 oleh Fasharkan Batam. Sedangkan nama Akura merupakan salah satu jenis ular paling berbisa penghuni pulau Ternate tepatnya di Pulau Hiri. Ular Alkura memiliki kecepatan bergerak, kepekaan penginderaan tinggi dan racun yang sangat mematikan.

KRI Alkura 830
KRI Birang 831

KRI Birang adalah kapal perang jenis kapal patroli cepat dengan tipe PC 40. Dengan material serat kaca (fiberglass), KRI Birang dibuat 2008 di Fasharkan Mentigi, Lantamal IV Tanjung Pinang. Namun baru diresmikan oleh Panglima TNI tanggal 26 Januari 2010.

Kecepatan maksimun kapal tersebut hanya mencapai 29 knot, Sementara itu, untuk kecepatan jelajah, KRI Birang hanya 26 knot dengan kapasitas tangki BBM sebanyak 35 ribu liter. Untuk aksi radius jarak jelajah cepat 30 knot membutuhkan waktu 2 hari, sedangkan jelajah 20 knots memakan waktu 4 hari.

KRI Birang 831 yang memiliki 20 awak diharapkan mampu menjaga NKRI khususnya di wilayah perairan Makassar dan sekitarnya.

KRI Birang 831

KRI Mulga 832

KRI Mulga 832 adalah kapal patroli cepat kelas PC-40 buatan Fasharkan Manokwari tahun 2009, termasuk dalam jajaran Satuan Keamanan Laut Lantamal XI Merauke. Kapal ini dilengkapi kanon kaliber 20 mm dan SMB 12,7 mm, mampu melaksanakan peperangan permukaan terbatas.

Nama Mulga diambil dari jenis ular berbisa yang banyak ditemukan di Papua bagian Tenggara. Mulga (Pseudechis Australis) atau sering disebut King Brown Snake merupakan ular yang mampu menghasilkan racun dalam jumlah yang sangat banyak dan mematikan.

KRI Mulga 832

(semua data dan foto dari google)


 Garuda Militer 
0

★ Kobra Class

Kobra Class TNI AL manuever di Laut
SAAT ini TNI AL memiliki beberapa kapal tempur ringan yang dibina oleh satuan kapal Patroli Cepat. Dapat dikatakan pengembangan kapal Patroli Cepat (PC) PC-36 dan PC-40 merupakan program Dislitbang AL yang sangat mengesankan.

Pada tahun 2000 Dislitbang AL menyelesaikan prototype kapal patroli ringan dengan konstruksi lambung berbahan fibreglass dan menerapkan desain kapal berteknologi siluman (Stealth).

Kapal ini memiliki spesifikasi teknis panjang keseluruhan 36 meter, lebar 5,75 meter, sarat air 1,30 meter dan berbobot 90 ton.

Kapal ini digerakkan oleh tiga mesin pokok masing-masing berkekuatan 1100 HP, mampu melaju hingga 25 knot. Dengan kecepatan jelajah 15 knot, kapal ini bisa berlayar hingga lima hari dengan 20 orang ABK.

Bagian haluannya dilengkapi dengan dudukan senjata untuk kanon kaliber 20 mm. PC-36 diproduksi dalam jumlah massal yang kemudian dikenal dengan Kobra Class.

Kapal patroli 36 meter ini dinamakan binatang buas jenis ular yang dikenal liar dan berbahaya.

Kapal patroli buatan lokal ini biarpun kecil tapi telah banyak berguna dan berjasa dalam beberapa operasi militer selain perang (OMSP) sebagai kapal pencari korban kecelakaan maupun tugas memantau perairan Inonesia dari kemungkinan penyelundupan maupun lintas batas tanpa izin. 

KRI jenis ini dibangun Fasharkan TNIAL bersama mitra kerjanya.

Berikut kapal yang termasuk Kobra Class :

No.        Nama          Tahun Dibangun                   Dibangun di      
867        Kobra                 2003                      Fasharkan TNI AL Mentigi  
868        Anakonda          2003                       Fasharkan TNI AL Mentigi  
869        Patola                2003                      Fasharkan TNI AL Mentigi  
870        Taliwangsa         2004                      Fasharkan TNI AL Manokwari
             Kalagian             -

Persenjataan :
  1. Kanon Oerlikon 20 mm/70 : 1 pucuk, kecepatan tembakan 250-320 rpm, 
dengan jangkauan maksimum 4,3 km dengan berat amunisi 0,1 kg,
 anti kapal (terbatas), pesawat udara, helikopter. 
  2. Senapan Mesin 12,7 mm : 1-2 pucuk.
Berikut Foto Kbra Class :

KRI 867 Kobra

KRI Kobra (867) telah diresmikan pada 14 April 2003 oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto di Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamir) Priok Jakarta. KRI Kobra diperbaiki/dipelihara oleh Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan (Fasharkan) dengan biaya pemelharaan Rp 12 Juta yang ditanggung oleh pihak TNI-AL.

Dalam upacara tersebut juga diadakan penyerahan jabatan komandan dan penyerahan tanda pangkat bagi Kapten (L) Edi Haryanto sebagai Komandan KRI Kobra yang pertama.

KRI Kobra memiliki panjang 36 meter serta lebar 6 meter yang mampu melaju hingga kecepatan 230 knot/jam. Markas KRI Kobra di Lantamal III Armabar di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

KRI Kobra adalah produk Indonesia asli, dibuat di Pangkal Pinang Riau pada 2003. Kapal patroli ini dilengkapi dengan peralatan radar serta memiliki senjata tempur di buritan dan haluan dengan peluru berkaliber 20 mm dan 12 mm. KRI ini terdiri dari 3 lantai. Lantai paling atas digunakan untuk tempat kemudi dan pengamatan, lantai di bawahnya terdapat peralatan radar, serta kamar-kamar bagi komandan kapal dan ruangan. 

KRI Kobra berjasa dalam menyelamatkan 22 orang dalam insiden Kebakaran KM Levina I.

KRI Kobra 867

KRI 868 Anakonda

KRI Anakonda 868

KRI 869 Patola

KRI Patola 869

KRI 870 Taliwangsa

Menurut metro TV tanggal 16 Maret 2010 diberitakan KRI Taliwangsa tenggelam, 18 ABK selamat di perairan Selat Makasar. Kapal ini sangat berjasa saat patroli dalam kasus ambalat memanas.

KRI Taliwangsa 870

KRI Kalagian

Tidak ada info maupun gambarnya hanya tercatun nama dan termasuk dalam Kobra Class.

(sumber foto dari google dan TNI AL)


 Garuda Militer 
0

Lika Liku Proyek PKR 10514

Maket PKR 10514 PT PAL 2012 (Foto Berita HanKam)
Jakarta - Kementerian Pertahanan resmi menandatangani kontrak pembelian 1 unit Kapal Perusak Kawal (PKR) 10514 senilai total USD 220 juta atau sekitar Rp 2,06 Triliun dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS), Belanda.

Kontrak ditandatangani oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) Mayjen TNI Ediwan Prabowo dan Director Naval Sale of DSNS Evert van den Broek wakil DSNS di Kantor Kemhan pada 5 Juni 2012.

Hadir dalam acara ini Dubes Belanda untuk Indonesia Tjeerd de Zwaan dan Direktur Utama PT.PAL Indonesia (Persero) Ir Muhamad Firmansyah Arifin.

Pemerintah Indonesia sedikitnya harus membelanjakan 75 juta euro atau sekitar Rp 750 miliar untuk mempersenjatai PKR. Satu unit PKR lengkap dengan persenjataan sekitar Rp 2,810 triliun.

Model PKR 10514 PAL di IndoDefence 2010 (Foto Berita HanKam)

Proyek Kapal PKR 10154 didaulat sebagai Joint Production (Kerjasama Produksi) antara DSNS dan PT. PAL. PKR akan dibangun di tiga tempat, Vlissingen dan Galatz, Belanda dan terakhir di rakit di PT PAL. Kapal direncanakan diterima pada awal tahun 2017. DSNS akan melakukan alih teknologi dalam kontruksi desain dan pembangunan kapal PKR 10514 kepada PT PAL. PT. PAL hanya mendapatkan 3 persen dari nilai kontrak US$ 220 juta atau sekitar US$ 6,6juta.

Sumber di PT PAL dihubungi Berita HanKam menyatakan Joint Production ini, tidak lebih menjadikan PT PAL sebagai tukang rakit atau tukang lem kapal. Tidak memberikan manfaat besar bagi PT PAL dibandingkan pembelian kapal Landing Platform Dock (LPD) dari Korea Selatan.


Ditambahkannya, lebih menguntungkan bagi PT PAL bila Kemhan memilih Orizzonte Sistemi Navali dari Italia. Kapal akan dirancang bersama oleh kedua perusahaan dan dibangun sepenuhnya di PT PAL. Pihak TNI AL sebagai pengguna lebih memilih kapal rancangan Orizzonte Sistemi Navali serta kapal sudah dalam kondisi dipersenjatai. DSNS telah memamerkan dua kali maket model PKR 10514 pada Indo Defense 2010 dan 2012. Pada bagian haluan dan buritan kapal persenjataan yang dipasang mengalami perubahaan.


PKR yang diidamkan TNI AL dan memberikan manfaat besar dalam hal alih teknologi untuk PT PAL. (Foto Berita HanKam)

Rudal permukaan-ke-udara MICA dengan sistem penembakan masih memakai sistem VLS. Bofors ASW Rocket launcher SR375A dihilangkan digantikan dengan CIWS Oerlikon Millennium 35 mm Naval Revolver Gun System. Sistem CIWS Phalanx dipasang di bagian buritan dihilangkan. Sistem peperangan anti-kapal selam mengandalkan torpedo dan helikopter anti-kapal selam.


Model PKR rancangan PAL pada IndoDefene 2008 (Foto Berita HanKam)

Pemerintah Indonesia telah memesan 4 korvet SIGMA dari DSNS sesuai Renstra TNI AL 2003-2013. Korvet Sigma I dan Sigma II dibeli saat kunjungan Menhan Juwono Sudarsono dan Kepala Staf TNI AL Laksamana TNI Slamet Soebijanto ke DSNS pada 14-18 September 2006. Korvet Sigma III dan IV direncanakan dibangun bekerjasama dengan PT PAL dalam rangka alih teknologi. DSNS membatalkan kerjasama ini dengan alasan PT PAL belum siap dan membangun sepenuhnya di Belanda. Keempat korvet telah dioperasikan oleh TNI AL Surabaya.


Berbagai Sumber



0

★ Boa Class

 Kapal Patroli Cepat Kelas Boa 


KRI Welang 808 dalam bantuan kecelakaan di laut
Luasnya perairan Indonesia membutuhkan banyak kapal, bersamaan dengan TNI AL mengusahakan kebutuhan kapal patroli. Karena minimnya anggaran pengadaan alutsista, maka diusahakan kapal yang dapat beroperasi di perairan Indonesia khususnya pinggir pantai dari para penyelundup maupun pencuri hasil alam, maka bersama fasharkan di Seluruh Indonesia dibuat beberapa kapal patroli yang dapat menjaga perairan dari gangguan di laut.

Pada tahun 2003-2005 Fasharkan di sebagian daerah dimaksimalkan untuk dapat membuat kapal patroli. Dari desain yang sama maka lahirlah kapal patroli cepat kelas Boa.


Dari jenis kelas Boa lahir 4 kapal dan bertambah lagi menjadi 9 unit yang menggunakan nama binatang sejenis ular, Nama jenis Ular-ular ganas ini yang berarti kecil tapi mematikan. Diharapkan dapat meminimalkan gangguan dilaut.



Kapal hasil produksi bangsa Indonesia ini dibuat oleh putra-putra daerah terbuat dari bahan fiberglass (serat kaca) yang terbukti cukup mumpuni untuk sejenis kapal patroli.

Karena fungsi utama hanya sebagai penghalau gangguan ringan dilaut maka kapal patroli ini tidak menggunakan senjata berat seperti meriam dan bebannya pun terbatas, dan hanya dipersenjatai senjata mesin 12.7 mm.


Kapal ini banyak disebar dan berfungsi sebagai kapal patroli daerah di pangkalan di Indonesia. Kapal jenis ini berjasa dalam pencariaan korban kecelakaan kapal maupun menangkap kapal penyelundup di laut.


No.    Nama          Tahun Dibangun                   Dibangun di      
807    Boa                    2003                         Fasharkan TNI AL Mentigi
808    Welang               2003                         Fasharkan TNI AL Mentigi
809    Suluh Pari           2004                         Fasharkan TNI AL Mentigi
810    Katon                 2005                         Fasharkan TNI AL Mentigi

815    Sanca                 2005                         Fasharkan TNI AL Manokwari
816    Warakas             2005                         Fasharkan TNI AL Jakarta
817    Panana               2005                         Fasharkan TNI AL Makassar
818    Kalakay              2005                         Fasharkan TNI AL Manokwari
819    Tedong Naga       2005                         Fasharkan TNI AL Jakarta


Kapal jenis Boa ini memiliki berat 90 ton. Dengan dimensi 36 meter x 7 meter. Ditenagai oleh 3 mesin MAN 1100HP D2842 LE 410 yang sanggup mendorong kapal hingga kecepatan 25-30 knot. Diawaki oleh maksimal 20 pelaut. Kapal ini dibuat dari bahan fiberglass. Di buat oleh Fasharkan TNI AL bersama mitra kerjanya.

Persenjataan :
  1. Kanon Oerlikon 20 mm/70 : 1 pucuk, kecepatan tembakan 250-320 rpm, 
dengan jangkauan maksimum 4,3 km dengan berat amunisi 0,1 kg, 
anti kapal (terbatas), pesawat udara, helikopter. 
  2. Senapan Mesin 12,7 mm : 1-2 pucuk.
Berikut Foto Kapal Boa Class :

KRI Boa 807


KRI Boa 817

KRI Welang 808



KRI Welang 808

KRI Suluh Pari 809


KRI Suluh Pari 809

KRI Katon 810


KRI Katon 810 bersama KRI lainnya


KRI Sanca 815


KRI Sanca 815


KRI Warakas 816


KRI Warakas 816

KRI Panana 817


KRI Panana 817

KRI Kalakay 818


KRI Kalakay 818


KRI Tedong Naga 819

KRI Tedong Naga ini yang waktu patroli bertemu kapal Malaysia, lalu terjadi insiden menyerempet, karena sudah memperingatkan KD Rencong (Malaysia) agar segera meninggalkan perairan Ambalat.


KRI Tedong Naga 819


(sumber dan foto dari berbagai media online dan google)


 Garuda Militer