Showing posts with label Spesies. Show all posts
Showing posts with label Spesies. Show all posts
0

9 Spesies Menakutkan, Salah Satunya Dari RI

Kodok Bertaring ditemukan di Sulawesi dan bernama latin d Limnonectes species I.

Fanged Frog dari Sulawesi (National Geographic)

VIVAnews -
Bumin kian tua, tapi kian banyak spesies hewan baru yang ditemukan. Ada yang unik, lucu, tapi banyak pula yang tampang dan rupanya menggerikan. Sejumlah hewan di bawah ini masuk dalam kategori 'Halloween Species' versi National Geographic edisi Oktober.

Halloween adalah hari, yang menurut legenda, di mana seluruh makhluk halus berkumpul dan jatuh pada 31 Oktober tiap tahunnya.

1. Beelzebub Bat (Kelelawar Iblis)

Beelzebub merupakan salah satu Pangeran di neraka. Nama 'sadis' itu kemudian diberikan pada kelelawar yang baru diumumkan pada 2011 ini. Nama 'bengis' ini disandang sang kalong seusai dengan warna bulunya yang hitam. Kontras dengan warna perut putihnya.

Burung yang ditangkap di hutan hujan Vietnam ini, selalu sigap menginggit siapa pun yang menangkapnya."Jika ada dia di tangan Anda, dia akan mencari cara apa pun untuk kabur," kata Neil Furey sebagai ahli biologis di grup konservasi Fauna & Flora International.

2. Cyclops Shark (Hiu Mata Satu)

Bentuknya mungil jika dibandingkan dengan saudaranya sesama hiu, yakni hanya 56 cm. Hanya ada satu mata di tubuh dan terletak tepat di tengah kepalanya. Hiu ini ditemukan di Meksiko.

3. Jamur Pengendali

Ditemukan spesies jamur batu yang tumbuh di kepala semut di hutan Brasil. Jamur ini bisa mengambil alih kendali otak sebelum akhirnya membunuh sang semut untuk mencari inang baru.

4. Devil Worm (Cacing Setan)

Cacing ini diklaim sebagai hewan yang hidup paling dalam di perut bumi. Nama latinnya Halicephalobus mephisto, sesuai dengan tokoh setan di legenda Faustian.

5. Kodok Vampir Terbang

Kodok jenis ini pertama kali ditemukan di tahun 2008 dengan panjang hanya lima centimeter. Mereka hidup di selatan Vietnam dan menggantungkan hidupnya dengan bergelantungan dari pohon ke pohon. Bagian tubuh yang digunakan: jari berselaput.

6.Dinosaurus Evil Spirit

Spesies yang ini sudah punah jutaan tahun lalu. Namun, seorang paleontologist berhasil menemukan bukti keberadaan dinosaurus ini. Dia memiliki moncong pendek dengan gigi depan tajam.

7. Tiny Pit Viper

Spesies dari China ini diumumkan penemuannya pada Juli 2011. Didaulat sebagai ular viper terkecil di dunia dan hanya bisa tumbuh hingga 0,7 meter.

8. Kodok Bertaring

Inilah kodok yang ditemukan ditemukan di Kepulauan Sulawesi dan bernama latin d Limnonectes species I. Ada 13 jenis dari kodok ini, sembilan di antaranya baru pertama kali ditemukan.

Namun, taring yang jadi bagian dari namanya sesungguhnya bukan taring. Melainkan tulang rahang yang menonjol.

9.Pit Viper Bermata Ruby

Spesies ini baru diumumkan pada Maret lalu dan hidup di Vietnam, timur Kamboja sepanjang plato Langbian.


VIVAnews

0

Dua Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Tuban

TUBAN--MICOM: Dua jenis kelelawar spesies baru ditemukan di sejumlah goa di wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Itu setelah sejumlah tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI) melakukan riset 21 goa di wilayah kabupaten setempat.

Dua spesies kelelawar ini belum memiliki nama dan belum pernah ditemukan di wilayah lain. Namun, dua jenis kelewawar ini terindikasi anggota kelompok barong. Terutama, dari suku Hipposideridae.

Berdasarkan data yang dihimpun menyebutkan, kelelawar jenis itu memiliki bagian daun hidung yang rumit. Ciri lainnya, daun hidungnya anterior membundar dan agak berbentuk seperti ladam kuda (kecuali pada Coelops).

Sebenarnya ordo Hipposideridae memiliki dua familia. Yakni, hipposideros dan coelops. Ukuran
tubuhnya bervariasi dari kecil hingga besar.

Dua peneliti yang bekerja melakukan pengabdian di museum Museum Zoologi, Bogor, itu adalah Ibnu
Maryanuo dan Sigit Wiantoro. Menurut Sigit, pihaknya bersama peneliti lainnya telah memulai
survei kelelawar gua di kawasan karst wilayah Tuban sejak 2007.

Hingga saat ini pihaknya telah melakukan riset 21 gua disejumlah perbukitan di Tuban. Di antaranya, meliputi gua-gua di kawasan Kecamatan Rengel, Montong, Semanding, Plumpang, dan Merakurak. (YK/OL-5)


MediaIndonesia
0

Sulitnya Menjadi Taksonom di Indonesia


SHUTTERSTOCK


KOMPAS.com - Apa tantangan yang harus dihadapi oleh taksonom atau ahli mengenai penamaan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang ada di Indonesia? Dr Dwi Listyo Rahayu, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan salah satu dari hanya lima taksonom kelomang di dunia berbagi cerita.

Dalam Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I yang diadakan hari ini (20/9/2011) di Jakarta, Dwi Listyo Rahayu yang akrab disapa Yoyok mengatakan bahwa salah satu tantangan menjadi taksonom di Indonesia adalah kurangnya senior. "Kita kekurangan pembimbing dalam bidang taksonomi," kata Yoyok.

Jumlah penelitian yang terlibat penelitian taksonomi di Indonesia saat ini diketahui sebanyak 20-30-an. Namun, peneliti yang bisa dikatakan sebagai taksonom hanya 3 orang.

"Lalu juga akses pustaka yang minim," tambah Yoyok. Beberapa pustaka memang sudah tersedia dalam format digital, namun Yoyok mengatakan bahwa taksonom masih perlu pustaka tua yang hingga saat ini belum tersedia dalam format tersebut.

Kesulitan lain yang dihadapi adalah akses terhadap holotype suatu spesies. Selama ini, banyak spesimen spesies yang ada di Indonesia disimpan di museum luar negeri. Raffless Museum di Singapura bahkan disebut memiliki koleksi spesies Indonesia yang lebih lengkap.

"Publikasi juga menjadi kesulitan. Ada beberapa jurnal yang gratis memang tapi harus menunggu lama. Sementara pada beberapa jurnal internasional, kita masih harus membayar," jelas Yoyok yang meneliti kelomang sejak tahun 1982.

Untuk mengirimkan ke jurnal nasional pun, tidak serta merta mendapat kemudahan. "Saya pernah kirimkan ke jurnal nasional, waktu itu diminta dibuat dengan kunci identifikasinya. Tapi akhirnya dikatakan terlalu panjang, apakah tidak bisa disingkat," ceritanya.

Beragam kesulitan menjadikan taksonomi kurang populer, bukan hanya di kalangan pelajar, tetapi juga di kalangan ilmuwan itu sendiri. Sebagai akibatnya, inventarisasi keanekaragaman hayati di Indonesia pun mengalami hambatan.

Yoyok mengatakan bahwa minat taksonomi harus digiatkan. Ia mengatakan, bahwa sebenarnya banyak kesempatan untuk menjadi taksonom. Ketika sudah dipercaya, banyak kesempatan penelitian dan kerjasama internasional yang bisa diraih.

"Kita harus memilih jenis yang tepat, harus reasonable. Misalnya, kalau tidak bisa selama jangan menilih koral. Kemudian memperkuat network dan meraih kesempatan kerja sama," ujar Yoyok yang menyelesaikan studi master dan doktoral dalam bidang biologi kelautan di Perancis.

Sementara, untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi taksonom di Indonesia saat ini, satu hal yang bisa diupayakan adalah menambah jumlah reference collection. Dengan bertambahnya reference collection, lebih mudah bagi taksonom untuk melakukan penelitian taksonomi.


KOMPAS
0

Indonesia Butuh Minimal 45 Taksonom Kelautan

Penyelam menikmati alam bawah laut perairan Pulau Sanghiang, Serang, Banten, Sabtu (10/4). Pesona terumbu karang yang masih cukup baik di perairan tersebut menarik wisatawan bahari dari wilayah Jabodetabek untuk menyelam pada akhir pekan.

KOMPAS.com
- Indonesia merupakan salah satu pusat biodiversity atau keanekaragaman hayati dunia, salah satunya ditandai dengan besarnya jenis spesies di laut. Namun berapa spesies yang sebenarnya ada di laut Indonesia dan apa saja? Pertanyaan ini perlu dijawab dengan inventarisasi keanekaragaman hayati laut itu sendiri.

Prof Dr Suharsono, Ketua Masyarakat Taksonomi Kelautan Indonesia, yang juga peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, untuk mampu menginventarisasi keragaman hayati itu, kebutuhan utamanya adalah taksonom kelautan. Sayangnya jumlha taknsonom kelautan di Indonesia masih sangat minim.

"Dibutuhkan minimal 45 taksonom kelautan. Tiap kelas dalam satu taksa harus ada yang menangani. Idealnya dalam satu ordo ada satu taksonom," kata Suharsono dalam Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I yang berlangsung hari ini, Selasa (20/9/2011) di Jakarta.

Sejumlah taksonom tersebut diharapkan mampu meneliti beragam taksa makhluk hidup laut, seperti bakteri, firaminifera, porifera, crustacea, mollusca, echinodermata, coelenterata dan beragam jenis tumbuhan laut serta mangrove. Menurut Suharsono, masih banyak biota laut yang kini masih belum diteliti.

"Bakteri laut ini sudah banyak yang meneliti tetapi secara taksonomi belum banyak. Algae juga masih sedikit. Jenis Bryozoa dan Cetacea juga masih belum banyak," katanya.

Suharsono menjelaskan, beberapa strategi tengah dirancang untuk memenuhi kebutuhan taksonom. Salah satunya lewat edukasi. Institut Pertanian Bogor (IPB), kata Suharsono, tahun ini mulai menyelenggarakan jurusan taksonomi setelah mendapat lampu hijau dari DIKTI.

Strategi lain yang ditempuh adalah advokasi pada pemerintah untuk membangun reference collection kelautan, membentuk jaringan taksonomi dengan memanfaatkan universitas yang ada, kerjasama dengan lembaga internasional serta melakukan ekepedisi.

"Ke depan taksonom Indonesia harus jadi author dalam penamaan spesies. Saat ini banyak yang terlibat penelitian taksonomi tetapi belum menjadi author," kata Suharsono. Menjadi author berarti nama taksonom tercantum dalam nama spesies, seperti Linnaeus yang diterakan pada banyak spesies.

Saat ini, jumlah peneliti Indonesia yang terlibat dalam penelitian taksonomi adalah 20-30an. Namun, hanya 3 peneliti yang bisa dikatakan sebagai taksonom. Peluang menjadi taksonom di negeri yang kaya akan keanekaragaman hayati ini masih sangat besar.


KOMPAS
0

Belajar Biodiversitas Indonesia Masa ke Luar Negeri?


Julio Dalponte - Monyet spesies baru yang ditemukan.

JAKARTA, KOMPAS.com
- Indonesia memerlukan tambahan koleksi rujukan biodiversitas (reference collection). Saat ini, koleksi rujukan paling lengkap yang dimiliki Indonesia baru Museum Zooligicum Bogoriense. Koleksinya pun juga masih terbatas.

"Reference collection ini memang mahal, tapi kita harus punya. Idealnya memang tiap propinsi itu punya. Tapi paling tidak kita punya 5, yang mewakili tiap wilayah, misalnya Sumatera, Jawa dan sebagainya," kata Dr. Siti Nuramaliati Prijono, Kepala P2 Biologi LIPI.

Salah satu manfaat yang bisa diperoleh dengan memiliki koleksi rujukan adalah mengetahui jumlah spesies di suatu wilayah. Dengan punya koleksi rujukan, pemantauan terhadap hilangnya suatu spesies dari lingkungan tertentu akan lebih mudah dilakukan.

"Contohnya kita bisa tahu bahwa 90 persen biodiversitas di Ciliwung itu hilang kan karena kita membandingkan dengan reference collection. Kita lihat dari museum di Bogor dan Leiden untuk mengetahui itu," jelas Nuramaliati yang akrab disapa Lili.

Manfaat lainnya, menurut Lili, adalah kemudahan bagi para taksonom untuk mengakses bahan untuk penelitian. Selama ini, untuk mengakses holotype suatu spesies, kadang taksonom harus pergi ke reference collection di luar negeri, menghabiskan biaya yang tak sedikit. Masa untuk melacak keanekaragaman hayati atau biodiversity di Indonesia harus ke luar negeri?

Lili mengungkapkan, reference collection tambahan nantinya bisa dikelola siapapun, misalnya kalangan universitas. Hal utama adalah memastikan bahwa setiap pengelola memiliki komitmen untuk mengelolanya secara berkelanjutan.

"Yang terpenting adalah komitmen. Jangan sampai nanti pemimpinnya ganti lalu bilang, buat apa ini, hanya menghabiskan biaya," kata Lili saat ditemui di acara Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I di Jakarta hari ini, Selasa (20/9/2011).

Tentang koleksi spesimen sendiri, saat ini masih harus ditambah. Jumlah koleksi spesies laut, termasuk yang ada di Museum Zoologi Bogor masih sangat minim. Eksplorasi biodiversitas laut masih harus dilakukan untuk menginventarisasi spesies-spesies yang ada.


KOMPAS
0

Ulat Bulu Probolinggo Merupakan Hama Baru

Ulat bulu (desiciria inclusa) yang menyerang pohon asem di kelurahan Kepanjen, Jombang, Jawa Timur. (ANTARA/Syaiful Arif)

Jakarta (ANTARA News) - Ulat bulu dari jenis Arctornis submarginata, yang saat ini populasinya sedang meledak di Probolinggo, merupakan hama baru, karena sebelumnya tidak pernah dilaporkan menimbulkan kerusakan berat pada tanaman mangga.

Guru Besar Ilmu Hama Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Aunu Rauf yang dihubungi dari Jakarta, Jumat, mengatakan, pihaknya telah membawa sampel kepompong dari Probolinggo ke Bogor untuk diteliti.

"Ulat Arctornis submarginata boleh dikatakan hama baru. Bahkan sebetulnya ulat ini tidak dikenal dalam kepustakaan hama mangga. Karena selama puluhan tahun ini ulat Arctornis submaginatus selalu rendah populasinya karena dikawal ketat oleh musuh alaminya," katanya.

Menurut dia, spesies ini sebelumnya tidak pernah membuat ulah sehingga luput dari perhatian dan tidak ada penelitian yang telah dilakukan terhadap ulat ini.

Bahkan tulisan Dr CJH Franssen berjudul "Een Beknopt Overzicht van de Plagen van de Mangga" (Hama-hama pada Tanaman Mangga di Hindia Belanda) terbitan tahun 1941 sama sekali tidak menyebut-nyebut ulat ini.

Padahal para ilmuwan Belanda pada masa kolonial dikenal sangat tekun dan rapih dalam mencatat segala fenomena alam yang terjadi di Indonesia.

"Namun secara umum siklus hidup spesies ini berlangsung sekitar 4-5 minggu, dengan seekor betina mampu meletakkan telur sebanyak 300 butir," katanya.

Menurut dia, dalam beberapa minggu mendatang ini pohon mangga di Probolinggo yang diserang sebetulnya sudah siap untuk berbunga, namun karena daunnya habis dimakan ulat, diperkirakan masa pembentukan bunga dan buah akan tertunda atau mundur.

"Minggu lalu (4-5 April) pada saat berkunjung ke Probolinggo, serangan telah mereda karena sebagian besar ulat telah memasuki fase kepompong. Bahkan pada 13 April diperkirakan sebagian besar kepompong telah menjadi ngengat dan telah meletakkan telur," katanya.

Namun, karena pohon mangga yang sudah terserang itu gundul, diperkirakan ngengat akan terbang ke pohon lain yang belum terserang, baik yang ada di sekitarnya maupun yang berjarak cukup jauh.

"Kiranya hal ini perlu diwaspadai dengan melakukan deteksi dini terhadap serangan ulat bulu. Bila ditemukan serangan perlu segera dimusnahkan dengan cara memotong ranting terserang dan kemudian menguburnya," katanya.

Mengingat intensifnya pengendalian yang telah dilakukan oleh Dinas terkait dan masyarakat, serta mulai meningkatnya peran musuh alami di lapangan dalam 1-2 minggu terakhir ini, tampaknya serangan lanjutan dari generasi ulat berikutnya, kalaupun terjadi, tidak akan terlalu dahsyat, ujar Aunu.(D009/Z003)


ANTARAnews
0

Ulat Bulu Probolinggo Spesies Baru di Indonesia

Ulat Bulu Probolinggo Spesies Baru di Indonesia

TEMPO Interaktif, Jakarta --Profesor ilmu serangga dari Institut Pertanian Bogor, Aunu Rauf, menyatakan ledakan populasi ulat bulu di Probolinggo berasal dari spesies yang belum dikenal sebelumnya. Ulat bulu ini berbeda dengan hama yang menyerang sebelumnya. “Ini adalah hama baru di Indonesia,” kata Aunu saat dihubungi Tempo, Selasa.

Sebelumnya ia memperkirakan spesies ulat bulu yang menyebar di Probolinggo merupakan spesies Lymantria marginata. Spesies ini dapat dikenali dari pola yang terbentuk di sayapnya. Spesies jantan memiliki sayap berwarna gelap sementara sayap spesies betina berwarna putih bintik-bintik. Ia juga memastikan spesies baru ini bukan Dasychira inclusa sebagaimana perkiraan para pakar hama. “Warna sayap ngengat di Probolinggo adalah putih polos baik jantan maupun betina,” ujar Aunu di Probolinggo.

Aunu mengatakan, ledakan populasi ulat bulu baru pertama kali terjadi di Indonesia. Tak heran jika peneliti belum bisa memastikan jenis spesies ulat bulu yang berkembang di Probolinggo. "Kami akan bawa spesimennya ke Bogor untuk dipelajari," kata dia.[ANTON WILLIAM]


TEMPOInteraktif
0

Spesimen Tumbuhan di LIPI Terbakar

Dari kiri ke kanan Kepala Bidang Botani, PPB LIPI, Eko Baroto, dan dua penliti LIPI, Dedy Darnaedi dan Suhardjono, memilah-milah spesimen dari tumbuhan hasil ekspedisi tim Dedy di Kalimanatan, setelah persistiwa kebakaran oven saat spesimen itu dalam proses pengeringan di oven tersebut, Rabu (12/1) pagi.

BOGOR, KOMPAS.com — Sebagian dari spesimen tumbuhan hasil ekspedisi di hutan perbatasan Indonesia dengan Serawak (Malaysia) di Kalimantan rusak akibat terbakar atau terkena air. Itu akibat oven yang dipakai untuk mengeringkan ratusan spesimen tersebut terbakar, yang diduga akibat adanya hubungan pendek arus listrik, Rabu (12/1/2011) pagi.

Oven tersebut merupakan salah satu fasilitas untuk keperluan peneliti di Gedung Pusat Penelitian Biologi LIPI di Kompleks Cibinong Science Center di Cibinong, Kabupaten Bogor. Berkaitan dengan musibah itu, penempatan oven tersebut akan direlokasi, dibuat bangunan tersendiri yang tidak menempel dengan bangunan induk.

"Sebetulnya penempatan oven di ruang ini sudah cukup baik. Artinya, sudah diperhitungkan dengan baik dan memenuhi standar internasional. Namun, kebakaran ini membuat kami mempertimbangkan untuk memindahkannya di banguan tersendiri, yang tidak menempel dengan gedung induk. Toh, tidak perlu bangunan terlalu besar," kata Kepala Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi (PPB) LIPI Eko Baroto.

Pemindahan oven itu, kata Eko, karena pihaknya tidak mau mengambil risiko yang dapat membahayakan koleksi spesimen biologi yang ada di Pusat Penelitian Biologi. Di ruang koleksi gedung tersebut tersimpan sekitar dua juta spesimen flora. Belum lagi spesimen fauna yang jumlahnya juga sama banyaknya.

"Kerugian akibat kebarakan ini sekitar Rp 50 juta, kalau hanya melihat fisik oven. Namun, nilai kerugian akibat spesimen terbakar atau rusak sulit dihitung. Kalau yang ini, spesimen baru, mungkin untuk mendapatkannya masih relatif mudah, yakni melakukan ekspedisi baru lagi ke lokasi yang sama. Kalau koleksi masa lalu, ini bisa benar-benar jadi malapetaka luar biasa," tutur Eko.

Kebakaran kecil oven tersebut telah merusak sebagian besar sepesimen dari 152 jenis tumbuhan yang dikumpulkan dari ekspedisi dua peneliti Indonesia dan tiga peneliti Jepang di perbatasan hutan Indonesia dengan Serawak, dari Desember sampai awal Januari ini. Ekspedisi tersebut dipimpin Dr Dedy Darnaedi, salah seorang peneliti utama LIPI.

"Spesimen yang kami kumpulkan ada ratusan dari 152 jenis tumbuhan yang ditemukan di sana, antara lain dari jenis jahe-jahean, paku-pakuan, lumut-lumutan, sirsak-sirsakan, anggrek, dan buah manggis liar," kata Dedy.

Ia yang dibantu Dr Sujarjono, juga peneliti, dan sejumlah karyawan memilah-milah spesimen yang selamat dari musibah kebakaran itu untuk tetap dipakai sebagai penelitiannya. "Mudah-mudahan masih banyak yang bisa dipakai. Kalau tidak, apakah perlu ekspedisi lagi, nantilah dipikirkan. Kami baru pulang dua hari lalu dari ekspedisi ini," katanya.

Kebakaran oven itu diketahui sekitar pukul 07.30 oleh Arif Hidayat, Manajer Koleksi PPB, yang tengah melakukan pemeriksaan rutin. Ia sempat menyemprotkan busa antiapi ke oven itu, tetapi api tidak berhasil dipadamkan.

Asap tebal yang keluar dari oven dan memenuhi ruangan tersebut menambah panik semua orang yang sudah datang ke kantor. Pemadam kebakaran pun segera dipanggil dan mengirimkan enam unit mobil. Tidak sampai menghabiskan satu tangki air mobil pemadam, api pun akhirnya padam.

"Tetapi, kami semua sudah sangat panik sebab asap sangat tebal dan memenuhi ruang. Di ruang itu (dekat dengan ruang oven), banyak zat kimia untuk keperluan penelitian. Kami sungguh khawatir kebakaran akan merembet", kata Eko Baroto, yang mendapat telepon dari mana-mana menanyakan kabar keselamatan koleksi PPB LIPI.


KOMPAS

0

Ikan Tak Bermata dari Papua

KOMPAS.com - Ikan tak bermata dan katak yang membawa telur di bagian punggungnya adalah dua dari beragam jenis spesies baru yang ditemukan di sebuah gua di Papua.

Tim peneliti dari Institute Research and Development (IRD) di Montpellier, Perancis menemukannya dalam rangkaian ekspedisi penelitian di gua, sungai bawah tanah hingga hutan belantara di wilayah Lengguru, bagian selatan wilayah leher burung Papua.

"Dalam hal penemuan hal baru, ada banyak hal yang harus diselesaikan di daerah itu, daerah yang sangat sulit untuk diakses tetapi memiliki keragaman hayati yang mengagumkan," kata salah seorang ilmuwan dari IRD, Laurent Pouyaud, dilansir AFP, Jumat (26/11/2010).

Para ilmuwan yang terdiri dari biolog, paleontolog dan arkeolog menelusuri wilayah penelitian tersebut selama tujuh minggu. Wilayah itu dikatakan merupakan labirin tanah kapur yang memungkinkan spesies yang tinggal mengalami isolasi selama jutaan tahun lamanya.

Ikan yang tak memiliki mata serta tak berwarna karena tidak mengalami pigmentasi (produksi pigmen yang menentukan warna kulit) yang ditemukan di salah satu gua adalah penemuan yang paling mengagumkan. "Ikan ini, sepengetahuan kami, merupakan jenis ikan gua pertama yang ditemukan di wilayah Papua," kata Pauyaud.

Sementara para biolog terpesona oleh ikan tanpa mata, para arkeolog juga terpikat oleh temuan lukisan di dinding gua yang dibuat dari alat berbahan cangkang hewan. Temuan tersebut bisa menjadi bukti adanya migrasi orang-orang Asia ke Australia sekitar 40.000 tahun yang lalu.

Penelitian ini merupakan langkah pertama dari sebuah proyek yang direncanakan akan mempelajari keragaman hayati di wilayah Indonesia. Riset tersebut merupakan kerjasama Kementrian Kelautan dan Perikanan dengan perguruan tinggi sains.

Pouyaud mengatakan, keanekaragaman hayati di Papua sendiri saat ini terancam oleh rencana perluasan lahan perkebunan dan tambang.


KOMPAS

0

LIPI Tetapkan Dua Spesies Prioritas

Meranti-merantian (Dipterocarpaceae )(photo: flickr.com)

TEMPO Interaktif, Bogor - Sadar akan ancaman kepunahan spesies langka di tanah air, sejumlah ahli tanaman dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penetapan spesies prioritas konservasi untuk dua famili tanaman langka.

Penetapan kedua famili tanaman langka itu dilakukan pada sebuah workshop yang berlangsung di Gedung Konservasi PKT Kebun Raya Bogor hingga besok, dengan tema Penetapan Spesies Prioritas Konservasi : Dipterocarpaceae dan Thymelaeaceae.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Konservasi Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas LIPI, Dr. Didik Widyatmoko, M.Sc yang juga sebagai penggaas awal diluncurkannya spesies konservasi, menjelaskan berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN) tahun 2009 ditemukan sebanyak 386 spesies di Indonesia yang termasuk dalam kategori kritis (critically endangered), genting (endangered) dan rawan (vulnerable).

Bahkan, kata Didik, apabila studi-studi yang lebih cermat dan intensif dilakukan, dipercaya jumlah sebenarnya spesies tumbuhan Indonesia berkategori terancam kepunahan lebih besar dari angka tersebut. ''Spesies-spesies tumbuhan Indonesia yang masuk dalam kategori terancam tersebut berasal dari 44 famili, jumlah terbesarnya atau sebanyak 37% di sandang oleh spesies-spesies dari famili Dipterocarpaceae,'' kata Didik.

Sejauh ini, lanjut Didik, tumbuhan Indonesia terancam kepunahan yang telah dikolehsi di Kebun Raya Indonesia mencapai 83 spesies atau 21,5% dari jumlah total tumbuhan Indonesia yang masuk dalam kategori terancam. ''Ke 83 spesies itu belum termasuk spesies-spesies Nepenthes koleksi Kebun Raya Indonesia,'' paparnya.

Ahli tanaman lainnya yang juga terlibat dalam penetapan spesies yang mendapat prioritas untuk dikonservasi adalah Harry Wiriadinata dari Herbarium Bogoriense, P2Biologi LIPI, ia menjelaskan Thymeleaceae adalah jenis tumbuhan karas-karasan dari marga Aquilaria dan Gyrinops. ''Dari 15 jenis Aquilaria tercatat 6 jenis yang dapat menghasilkan resin gaharu,'' ujar Harry.

Sedangkan Famili Dipterocarpaceae merupakan satu-satunya suku yang memiliki potensi besar dalam hal kayu seperti Meranti, Kapur, Bengkirei serta Pinang Jawa. ''Celakanya lagi jenis-jenis tersebut tumbuh di dataran rendah, sehingga potensi kepunahannya sangat besar akibat konversi lahan,'' kata Harry.

Pada tahun sebelumnya LIPI sudah mengkonservasi sebelumnya empata famili yang terdiri dari 100 spesies sudah dikonservasi, seperti Angrek, paku, palem, kantong semar. Secara keseluruhan tercatat 16 daftar tanaman langka di Indonesia saat ini . ''Karena keterbatasan anggaran dan tenaga ahli paling tidak sudah enam yang kita konservasi,'' papar Harry.

Data lainnya dari IUCN mencatat Indonesia merupakan negara urutan ke 4 setelah Brazil (tumbuhan terancam sebanyak 1.835 spesies), Malaysia (685 spesies), dan China (446 spesies).Diki Sudrajat