0

Teknologi Modifikasi Cuaca untuk Pengendalian Banjir

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui UPT Hujan Buatan mengampanyekan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sebagai solusi pengendalian banjir kepada instansi-instansi terkait, termasuk pemerintah daerah. Beberapa waktu lalu, tim UPT Hujan Buatan mengadakan presentasi di hadapan Pemprov Jawa Barat.

“Mencermati banjir di DAS Citarum beberapa waktu lalu yang sangat masif, sampai ke Kerawang dan mengakibatkan kerugian yang begitu besar, kami coba memperkenalkan kepada Pemprov Jawa Barat bahwa TMC bisa digunakan untuk pengendalian banjir,” terang Dr. Tri Handoko Seto, Meteorologist pada UPT Hujan Buatan-BPPT

Dalam upaya pengendalian banjir, jelas Seto, modifikasi cuaca yang dilakukan adalah menyegerakan awan yang tumbuh di laut menjadi hujan sebelum awan tersebut bergabung dengan awan darat.

Menurutnya, secara teknologi hal tersebut memungkinkan, yakni dengan menggunakan bahan semai berukuran 30 hingga 100 mikron. “Bahan semai yang biasa digunakan untuk modifikasi cuaca untuk atasi kekeringan adalah untuk membuat hujan turun lebih cepat dan dan lebih banyak. Pada upaya pengendalian banjir, yang kita gunakan hanya yang untuk membuat hujan turun lebih cepat. Karena itu bahan semai yang digunakan 30 sampai 100 mikron,” terang Seto.

Menurutnya, TMC untuk pengendalian banjir telah dikenalkan UPT Hujan Buatan sejak 2007. Saat itu Tim UPT Hujan Buatan melakukan presentasi di hadapan Pemprov DKI Jakarta, terkait prediksi bahwa di Jakarta pada 2007 akan mengalami banjir lebih besar ketimbang tahun-tahun sebelumnya. “Namun saat itu, Pemprov DKI Jakarta belum bersedia menerapkannya,” kata Seto.

Untuk pelaksanaannya, UPT Hujan Buatan didukung oleh satu unit mobile radar untuk memantau perkembangan awan dan pesawat CASA 212 seri 200 untuk menebar bahan semai.

“Untuk kasus Jakarta, begitu terpantau oleh radar ada pertumbuhan awan di pantai utara Jawa, langsung kita sebar bahan semai agar awan segera menjadi hujan, dan tak sempat bergabung dengan awan darat,” jelas Seto.

Untuk Jawa Barat, pemantauan dilakukan di dua sisi, yakni di utara dan selatan. “Memang agak lebih sulit. Di Jawa Barat,pemantauan awan selain menggunakan mobile radar, juga perlu didukung dengan stationary radar yang ada di Puspitek Serpong,” kata Seto seraya menambahkan, kedua radar itu mampu mengkover pemantauan awan di uatar dan selatan Jawa Barat.

Barat bahwa TMC bisa digunakan untuk pengendalian banjir,” terang Dr. Tri Handoko Seto, Meteorologist pada UPT Hujan Buatan-BPPT

Dalam upaya pengendalian banjir, jelas Seto, modifikasi cuaca yang dilakukan adalah menyegerakan awan yang tumbuh di laut menjadi hujan sebelum awan tersebut bergabung dengan awan darat.

Menurutnya, secara teknologi hal tersebut memungkinkan, yakni dengan menggunakan bahan semai berukuran 30 hingga 100 mikron. “Bahan semai yang biasa digunakan untuk modifikasi cuaca untuk atasi kekeringan adalah untuk membuat hujan turun lebih cepat dan dan lebih banyak. Pada upaya pengendalian banjir, yang kita gunakan hanya yang untuk membuat hujan turun lebih cepat. Karena itu bahan semai yang digunakan 30 sampai 100 mikron,” terang Seto.

Menurutnya, TMC untuk pengendalian banjir telah dikenalkan UPT Hujan Buatan sejak 2007. Saat itu Tim UPT Hujan Buatan melakukan presentasi di hadapan Pemprov DKI Jakarta, terkait prediksi bahwa di Jakarta pada 2007 akan mengalami banjir lebih besar ketimbang tahun-tahun sebelumnya. “Namun saat itu, Pemprov DKI Jakarta belum bersedia menerapkannya,” kata Seto.

Untuk pelaksanaannya, UPT Hujan Buatan didukung oleh satu unit mobile radar untuk memantau perkembangan awan dan pesawat CASA 212 seri 200 untuk menebar bahan semai.

“Untuk kasus Jakarta, begitu terpantau oleh radar ada pertumbuhan awan di pantai utara Jawa, langsung kita sebar bahan semai agar awan segera menjadi hujan, dan tak sempat bergabung dengan awan darat,” jelas Seto.

Untuk Jawa Barat, pemantauan dilakukan di dua sisi, yakni di utara dan selatan. “Memang agak lebih sulit. Di Jawa Barat,pemantauan awan selain menggunakan mobile radar, juga perlu didukung dengan stationary radar yang ada di Puspitek Serpong,” kata Seto seraya menambahkan, kedua radar itu mampu mengkover pemantauan awan di uatar dan selatan Jawa Barat.

• technologyindonesia

0

AAL Ciptakan Sistem Kontrol Meriam dan Sonar

Sonar Lopas 8300 (photo: neotek)

Surabaya - Para kadet Akademi Angkatan Laut (AAL) menciptakan sistem kontrol meriam 57 mm SU-60 dan Sonar Lopas 8300.

"Ini merupakan bagian dari upaya kami menggiatkan inovasi dan kreativitas para kadet dalam melengkapi dan modernisasi persenjataan TNI-AL," kata Gubernur AAL, Laksamana Pertama TNI Bambang Suwarto di Surabaya, Rabu.

Ia mengucapkan terima kasih kepada anak didiknya yang yang mampu menciptakan sistem persenjataan modern itu.

Kadet AAL yang berhasil menciptakan sistem kontrol meriam 57 mm SU-60 adalah SMDK (E) Michael Kaseke, SMDK (E) Yoga Prihantoro, SMDK (E) Siswanto Bennie, SMDK (E) Teguh Ulin, dan SKD (E) M Zulkhaidar dibawah dosen pembimbing Mayor Laut (E) A. Sardjono dan Mayor Laut (ES) Oman Ukirman.

Mereka mampu memodifikasi meriam 57 MM/S-60 buatan Rusia tahun 1964 sehingga menjadi sebuah meriam yang beroperasi dengan bantuan komputer.

Meriam 57MM/S-60 itu berfungsi sebagai alat instruksi bagi kadet AAL dan menjadi wahana efektif serta efisien untuk melatih kemampuan teknik sistem pemograman dan pengendalian bagi kadet Korps Eletronika AAL.

Parameter pengoperasian yang dilakukan awak menggunakan "joystick" sebagai pengendali, sedangkan sistem mekanikal peralatan meriam 57 mm itu tidak dilakukan modifikasi, hanya diperbaiki untuk tetap mempertahankan kinerja meriam tersebut.

Beberapa kadet lain, yakni SMDK (E) Susilo N. Dony A, SMDK (E) Tony Arkayudha P, SMDK (E) Kirono Yakti Asmoro, SMDK (E) Ghanosa Adityawarman, dan SMDK (E) Aditya Pradhana Purcha dibawah bimbingan Mayor Laut (ES) Oman Ukirman dan Kapten Laut (E) Nanang Sugiyantoro juga berhasil menciptakan "Panoramic Passive Sonar" dengan menggunakan metode "Software Imaging".

"Ini murni menggunakan piranti lunak secara utuh tanpa menggunakan piranti keras lain, seperti "hydrophone" dan "preamplifier" yang ada di kapal," kata Kepala Departemen Elektronika AAL Kolonel Laut (E) Endarto Pantja Irianto.

Ia menjelaskan, pengoperasian sonar tersebut tidak hanya untuk kapal selam, melainkan juga untuk kapal-kapal permukaan yang memiliki kemampuan tempur di bawah air.

• Antara

0

Teknologi 4G Mulai Diujicoba di Indonesia

Dua operator seluler yaitu PT Indosat Tbk dan PT XL Axiata Tbk mulai mengembangkan evolusi teknologi GSM untuk menyambut datangnya era 4G. Awal pekan ini (26/4) Indosat mulai mengomersialisasikan teknologi Dual Carrier High Speed Acess plus (DC HSPA+) dengan kecepatan hingga 42 Mbps di beberapa titik di Jakarta. Sementara XL dengan menggandeng Ericsson akan menggelar kajian terhadap implementasi LTE (long term evolution) di Indonesia.

Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi mengatakan, kajian tersebut akan mempelajari semua aspek baik dari sisi teknis, regulasi, dukungan handset hingga kesiapan konten dan menilai kelayakannya apakah dapat lamgsung diserap pasar saat diluncurkan. Hasnul mengatakan pihaknya tidak ingin implementasi LTE senasib 3G yang tidak segera diserap karena pasar belum siap. Kajian akan dilakukan selama tiga hingga enam bulan. Ericsson akan menyediakan perangkat LTE dari sisi core hingga radio access untuk kajian secara teknis.

Untuk melakukan uji coba LTE ini kedua belah pihak masih akan menunggu proses perijinan dari pemerintah. Uji coba ini rencananya akan diadakan pada semester kedua tahun ini.

Telkomsel nampaknya juga lebih memilih menerapkan teknologi LTE ketimbang Wimax. karena LTE bisa memanfaatkan sebagian komponen jaringan 3 G dan HSDPA yang sudah ada, berbeda dengan WiMAX yang harus membangun infrastruktur yang baru dari radio sampai core.

Banyaknya operator GSM di Indonesia yang berencana mengimplementasi LTE karena LTE dianggap lebih mudah dibandingkan Wimax yang membutuhkan perubahan besar-besaran pada infrastruktur operator GSM. Sehingga dari segi investasi LTE tiga kali lebih murah.

LTE merupakan pengembangan dari teknologi 3G dengan nama R-8 (Release-8) yang lebih difokuskan ke arah kecepatan data transfer yang lebih tinggi dibandingkan dengan 3.5 G (HSPA+). Maksimum kecepatan downlink bisa mencapai 100 Mbps, sementara kecepatan uplink mencapai 50 Mbps.

Dengan LTE, pengguna dapat mengunduh dan mengunggah video beresolusi tinggi, mengakses e-mail dengan lampiran besar, serta dapat melakukan video conference setiap saat. Kemampuan LTE lainnya adalah untuk mengoperasikan fitur Multimedia Broadcast Multicast Service (MBMS), yang sebanding dengan DVB-H dan WiMAX. LTE dapat beroperasi pada salah satu spektrum yang termasuk standar IMT-2000 (450, 850, 900, 1800, 1900, 2100 MHz) ataupun pada spektrum baru seperti 700 MHz dan 2,5 GHz.

Namun begitu, Kepala Bagian Umum dan Humas Ditjen Postel, Departemen Komunikasi dan Informasi Gatot S Dewa Broto mengatakan teknologi LTE belum dapat diaplikasi di Indonesia dalam waktu dekat karena payung hukumnya masih sangat lemah. Dikatakan, LTE membutuhkan konvergensi tinggi, sementara Undang- Undang (UU) Telekomunikasi belum mengatur soal itu secara gamblang.

Sebagai langkah awal dukungan pemerintah terhadap pemanfaatan LTE, tambah Gatot, Ditjen Postel akan membahas RUU Konvergensi. Pembahasan RUU ini termasuk program 100 hari Menteri Komunikasi dan Informasi. Namun diakuinya, RUU ini belum masuk dalam Program Legislasi Nasional 2010.

Selain payung hukum, ada satu masalah lagi yakni belum siapnya industri dalam negeri untuk mendukung LTE. Karenanya, Gatot memperkirakan teknologi LTE baru dapat beroperasi secara komersial sekitar 2-3 tahun lagi. (dra/dari berbagai sumber)

• technologyindonesia

0

PTDI Siapkan Investasi Rp 248 Miliar di 2010

Pesawat amfibi Dornier Seastar (photo grzimek)
Jakarta - PT Dirgantara Indonesia (PTDI) memperkirakan investasi di tahun 2010 sebesar Rp 248 miliar. Ini terbagi menjadi dua, existing business sebesar Rp 87 miliar dan New Product Development, Rp 161 miliar.

Demikian disampaikan Direktur Utama PTDI Budisantoso dalam RDP dengan Komisi VI DPR-RI di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (4/5/2010).

Ia menambahkan, investasi yang telah ada dalam pipeline tersebut terdiri dari penggantian dan revitalisasi fasilitas jangka pendek, pengembangan bisnis perawatan pesawat. Selain itu dana sebesar ini juga diperuntukan sebagai biaya pengembangan pesawat CN 235 NG (Next Generation) dan N219 dan Amphibi Sea Star.

Sementara, realisasi penjualan di luar negeri untuk tahun 2009 mencapai Rp 443 miliar. Sedangkan domestik mencapai Rp 68 miliar, hingga total penjualan mencapai Rp 511 miliar. Penjualan perseroan tercatat menurun dibanding periode tahun 2008, yaitu Rp 557 miliar. Ini terdiri dari luar negeri Rp 352 miliar dan domestik Rp 206 miliar.

"Kita kan dapat kontrak life time dari Air Bus berupa suku cadang dan sayap, kita pasang disana," kata Direktur Keuangan PTDI Herwana Hadimulya.

Untuk kontrak carry over 2009 tercatat mencapai Rp 1,658 triliun. Terjadi penambahan sekitar Rp 798 miliar di tahun yang sama. Posisi hutang PTDI tahun lalu sendiri tercatat Rp 2,590 triliun dengan ekuitas yang tercatat di neraca mencapai negatif Rp 295 miliar, hingga posisi aktiva perseroan mencapai Rp 2,295 triliun.(wep/ang)

• detikfinance
0

PT DI Tawarkan Pesawat ke Daerah

Pesawat N-219 (photo Aries)
MANADO, KOMPAS.com - PT Dirgantara Indonesia (PT.DI) menawarkan pesawat terbang nasional jenis N219 kepada pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk memperlancar perhubungan ke daerah terpencil.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT.DI Andi Alisjabana di Manado, Senin (26/4/2010), mengatakan, pesawat jenis ini cocok untuk Sulut karena dirancang khusus untuk penerbangan jarak pendek dan bisa mendarat pada landasan tak beraspal di wilayah pegunungan.

"N219 dapat menggantikan pesawat Twin Otter yang sudah tua dan tidak diproduksi lagi," kata Andi pada sosialisasi fasilitasi pengembangan dan promosi investasi Far 23 (Program N219).

Harga pesawat ini hanya 3,8 juta dollar AS (sekitar Rp 35 miliar), dapat mengangkut penumpang 19 orang dan masih memungkinkan dibiayai dari dana pemerintah daerah.

Analisis operasi pesawat N219 di Sulut untuk rute Manado-Naha berjarak 256 kilometer (km) jarak tempuh satu jam, dengan perkiraan penumpang 80 persen (15 orang), maka dapat dioperasikan dengan harga tiket Rp 650.000 per penumpang.

"Tiket seharga Rp 650.000 per penumpang dan LF 80 persen dapat diperoleh keuntungan sekitar 1.086 dollar AS per trip (sekali terbang)," kata Andi.

Sedangkan untuk Manado-Melonguane (360 km), jarak tempuh 1,25 jam, harga tiket Rp 750.000 per penumpang, jumlah penumpang 15 dapat diperoleh keuntungan 1.253 dollar AS per sekali jalan.

"Total pendapatan 4.677 dollar AS dikurangi biaya operai 4.514 dollar AS, maka diperoleh keuntungan 163 dollar AS per tahun atau 16.316 dollar AS per bulan. Jumlah tersebut cukup menguntungkan bagi Sulut," kata Andi.

Karakteristik pesawat N219 diantaranya, bermesin ganda masing-masing 850 SHP, disertifikasi pada ketegori CASR 23 (commuter category), biaya operasi dan pemeliharaan yang rendah, berkemampuan high and hot airfield capability, sederhana dan mudah pemeliharaannya.

"Pesawat ini belum diproduksi, harus ada permintaan sekitar 30 pesawat baru bisa dibuat, dan merupakan peluang bagi pemerintah daerah," kata Andi dan menambahkan, kepemilikan pesawat oleh pemerintah daerah dimungkinkan karena ada aturan untuk itu.

• Kompas
0

Pindad Dongkrak Penjualan Kendaraan Tempur Panser

BANDUNG, (PRLM).-PT Perindustrian Angkatan Darat (Pindad) menggarap serius pasar regional Asia Tenggara untuk mendongkrak penjualan kendaraan tempur panser. Dirut Pindad Adik Avianto Soedarsono mengemukakan dalam waktu dekat ini penjualan 32 unit panser ke negara jiran Malaysia tinggal menunggu kesepakatan akhir yang akan dilakukan pada pertengahan Mei 2010. Selain Malaysia, Pindad dan Departemen Pertahanan menjajaki kerja sama perdagangan panser dengan Vietnam. Di saat yang bersamaan, pasar Filipina pun akan digarap

"Pada saat pameran di Malaysia baru-baru ini, Filipina menyatakan tertarik pula dengan produk panser kami," kata Adik, Jumat (30/4).

Saat ini, panser yang akan dijual ke Malaysia masih menjalani serangkaian ujicoba di lokasi pabrik Pindad, Kiaracondong Bandung. Beberapa komponen juga masih disempurnakan antara lain mesin, sistem pendingin, dan transmisi.

Dia menuturkan khusus untuk penjualan Panser ke Malaysia, perangkat mesin tidak lagi menggunakan mesin pabrikan Renault. Akan tetapi, menggunakan mesin Mercedes-Benz. "Karena Renault ternyata menjadi pesaing kami untuk memasok kendaraan ke Malaysia sehingga kami harus mengganti komponen mesin," kata Adik.

Namun demikian, Pindad belum memastikan, apakah unit panser yang akan dijual ke Malaysia akan menggunakan mesin Benz. Adik mengemukakan ada dua pilihan mesin yang akan dipakai untuk panser tersebut yaitu Benz atau Deutz yang hampir sama dengan mesin Renault berkapasitas 7.000 cc dan berkekuatan 320 tenaga kuda.

Selain menjajal dan menyempurnakan produk, Pindad dan Malaysia juga masih membenahi berbagai persyaratan administrasi supaya transaksi penjualan yang dilakukan benar-benar menerapkan prinsip good and clean government. Jika semua uji coba dan persyaratan rampung dalam waktu dekat ini, maka kesepakatan penjualan 32 unit panser akan dilakukan Mei 2010.

Selanjutnya, pengiriman pertama panser ke Malaysia bisa dilakukan pada November 2010 dan sisanya pada akhir tahun. Adik mengatakan pihaknya juga akan mengusulkan penyelesaian sisa 61 unit panser dari total 154 unit, jika penjualan panser ke Malaysia benar-benar terwujud.

Dia menuturkan harga jual panser ke Malaysia akan lebih mahal 30% dibandingkan dengan harga panser yang dipesan Dephan seharga Rp7 miliar. "Memang ada beberapa hal yang membuat harga jual ke Malaysia lebih mahal," katanya.

Juga dijelaskannya, harga jual panser pada tahun ini akan dinaikkan 10 persen sampai 15 persen, sebagai penyesuaian dengan perkembangan ekonomi makro. Untuk itu, Adik meminta agar pemerintah mau mengucurkan dana tambahan untuk pembayaran unit sisa panser.

"Memang kontraknya dengan pemerintah berlangsung pada 2007, tetapi harga tahun 2007 mungkin berbeda dengan harga sekarang," katanya.

Lonjakan harga baja belakangan ini, juga berpengaruh pada harga jual produk Pindad secara keseluruhan. Akan tetapi, kata Adik, kenaikan harga produk tersebut tidak terlalu signifikan. (A-132/kur)***

• PikiranRakyat
0

Ahli Radar Dunia, Putera Indonesia

Liem Tiang Gwan, putera Indonesia kelahiran Semarang, 20 Juni 1930, ini seorang ahli Radar (radio detection and ranging)yang mendunia. Radar rancangannya banyak digunakan untuk memantau dan memandu naik-turunnya pesawat di berbagai belahan dunia. Bahkan militer di banyak negara Eropa menggunakan jasanya untuk merancang radar pertahanan yang pas bagi negaranya.

Liem Tiang-Gwan, sudah puluhan tahun bergelut dan malang melintang dalam dunia antena, radar, dan kontrol lalu lintas udara. Namanya sudah mendunia dalam bidang radar, antena, dan berbagai seluk-beluk sistem gelombang elektromagnetik yang digunakan untuk mendeteksi, mengukur jarak, dan membuat peta benda-benda, seperti pesawat, kendaraan bermotor, dan informasi cuaca.

”Sekolah saya dulu berpindah-pindah. Saya pernah di Jakarta, lalu di Taman Siswa Yogyakarta, kemudian menyelesaikan HBS (Hoogere Burgerschool) di Semarang tahun 1949. Setelah itu, saya masuk Institut Teknologi Bandung dan meraih sarjana muda tahun 1955. Saya melanjutkan studi di Technische Universiteit (TU) Delft, lulus tahun 1958,” ujar pria yang kini bermukim di kota Ulm, negara bagian Bavaria, Jerman.

”Lalu saya ke Stuttgart dan bekerja sebagai Communication Engineer di Standard Elektrik Lorenz, yang sekarang dikenal dengan nama Alcatel,” kata Liem.

Meskipun sudah bekerja dan mendapatkan posisi yang lumayan, Liem muda masih berkeinginan untuk kembali ke Tanah Air. Ia masih ingin mengabdikan diri di Tanah Air. Maka, tahun 1963 ia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja di Stuttgart dan kembali ke Indonesia. ”Apa pun yang terjadi, saya harus pulang,” ujarnya mengenang.

Hidup berubah
Niat untuk kembali ke Tanah Air sudah bulat. Barang-barang pun dikemas. Seluruh dana yang ada juga dia bawa serta. Liem muda menuju pelabuhan laut untuk ”mengejar” kapal yang akan menuju Asia dan mengantarnya kembali ke Tanah Air. Kapal, itulah sarana transportasi yang paling memungkinkan karena pesawat masih amat terbatas dan elitis.

Namun, menjelang keberangkatan, Liem mendapat kabar bahwa Indonesia sedang membuka konfrontasi dengan Malaysia. Karena itu, kapal yang akan ditumpangi tidak berani merapat di Tanjungpriok, Jakarta. Kapal hanya akan berlabuh di Thailand dan Filipina. Maka, bila Liem masih mau kembali ke Indonesia, ia harus turun di salah satu pelabuhan itu.

”Saat itu saya benar-benar bingung. Bagaimana ini? Ingin pulang, tetapi tidak bisa sampai rumah, malah terdampar di negeri orang. Saya memutuskan untuk membatalkan kepulangan. Seluruh koper dan barang bawaan diturunkan lagi, padahal saat itu uang sudah habis. Tetapi dari sinilah, seolah seluruh hidup saya berubah. Saya kembali lagi bekerja di Stuttgart sebagai Radar System Engineer di AEG-Telefunken. Perusahaan ini sekarang menjadi European Aeronautic Defence and Space (EADS),” katanya.

Sejak itu, karier Liem di bidang gelombang elektromagnetik dan dunia radar semakin berkibar. Setelah bekerja di EADS, ia diminta menjadi Kepala Laboratorium Radarsystem-theory tahun 1969-1978, disusul kemudian Kepala Seksi (bagian dari laboratorium), khusus menangani Systemtheory and Design, untuk sistem radar, pertahanan udara, dan Sistem C3 (Command Control Communication). Sebelum pensiun pada tahun 1995, Liem masih menjabat sebagai Kepala Departemen Radar Diversifications and Sensor Concepts.

”Meski sudah pensiun, hingga tahun 2003 saya masih diminta menjadi consulting engineer EADS,” tambahnya.

Paten
Perannya yang amat besar dalam bidang radar, sensor, dan gelombang elektromagnetik membawa Liem untuk mematenkan sejumlah temuannya. Puluhan temuannya diakui berstandar internasional, kini sudah dipatenkan.

”Yang membuat saya tergetar, ketika menyiapkan Fire Control and Battlefield Radars, Naval Fire Control Radar dan sebagainya. Ini kan untuk perang dan perang selalu membawa kematian. Juga saat saya merancang MSAM Systems: Hawk Successor; Airborne High Vision Radar dan sebagainya,” kata Oom Liem.

Dia menambahkan, ”Saya sendiri sudah tidak ingat lagi berapa rancangan radar, antena, dan rancangan sinyal radar yang sudah saya patenkan. Itu bisa dibuka di internet.”
Indonesia

Secara sederhana, ilmu tentang elektro yang pernah ditekuni selama belajar, coba dikembangkan oleh Om Liem. Dalam sistem gelombang radio atau sinyal, misalnya, ketika dipancarkan, ia dapat ditangkap oleh radar, kemudian dianalisis untuk mengetahui lokasi bahkan jenis benda itu. Meski sinyal yang diterima relatif lemah, radar dapat dengan mudah mendeteksi dan memperkuat sinyal itu.

”Itu sebabnya negeri sebesar Indonesia, yang terdiri dari banyak pulau, memerlukan radar yang banyak dan canggih guna mendeteksi apa pun yang berseliweran di udara dan di laut. Mata telanjang mungkin tidak bisa melihat, apalagi dengan teknologi yang semakin canggih, pesawat bisa melintas tanpa meninggalkan suara. Semua itu bisa dideteksi agar Indonesia aman,” tambah Liem.

Akan tetapi, berbicara mengenai Indonesia, Liem lebih banyak diingatkan dengan sejumlah kawan lama yang sudah sekian puluh tahun berpisah. ”Tiba-tiba saja saya teringat teman-teman lama, seperti Soewarso Martosuwignyo, Krisno Sutji, dan lainnya. Saya tidak tahu, mungkinkah saya bertemu mereka lagi?” ujarnya sambil menerawang jauh melalui jendela kaca di perpustakaan pribadinya

• Kompasiana
0

Hino Pasok Sasis untuk Kendaraan Militer Nasional

JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk memperluas pasar, PT Hino Motor Manufacturing Indonesia menjajaki segmen baru, yakni kendaraan militer. Merek yang berada di bawah bendera Toyota ini, berencana memasok sasis untuk kendaraan militer Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Gunadi Shinduwinata, Ketua Umum Asosiasi Industri Pertahanan Otomotif (AIPO) semalam mengatakan, saat ini seluruh anggota asosiasi tengah melakukan pengembangan kendaraan khusus militer. Untuk prototipe digunakan sasis Hino produksi lokal.

"Ini bukan masalah Hino saja, lebih tepatnya seluruh anggota AIPO. Hino dipilih karena memiliki kandungan lokal 70 persen," ujar Gunadi. Dijelaskan pula, asosiasi juga menggandeng PT Pindad dan perusahaan karoseri nasional untuk memenuhi kebutuhan TNI tersebut. Menurut Gunadi, terdapat sekitar 9-12 varian yang akan diciptakan.

"Untuk menciptakan satu prototipe, sudah menghabiskan dana Rp800 juta per unit. Ini kendaraan berat. Biayanya akan berkurang seiring tumbuhnya permintaan," papar Gunadi.

Dengan adanya kerjasama ini, diharapkan kebutuhan kendaraan militer yang masih mengandalkan produk impor secara perlahan dialikan ke industri lokal. “Potensi pasar kendaran militer nasional mencapai 3.000 unit per tahun,” ungkap Gunadi.



• Kompas