Showing posts with label BPPT. Show all posts
Showing posts with label BPPT. Show all posts
0

108,6 Ton Garam Ditabur Ke Awan Atasi Banjir Jakarta

Sejak digelarnya operasi modifikasi cuaca oleh BNPB bersama BPPT didukung BMKG dan TNI pada 26 Januari 2013 hingga hari ini sudah 108,6 ton bahan semai berupa NaCl (garam dapur yang sudah diolah menjadi tepung) disebarkan ke dalam awan. Dengan demikian, hujan bisa dialihkan ke tempat lain.

"Total sudah 36 sorti penerbangan untuk menaburkan bahan semai ke dalam awan. 24 sorti dengan pesawat Hercules C-130 dan 12 sorti dengan pesawat Casa 212-200," kata Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho, Minggu (10/2).

Berdasarkan evaluasi sementara menunjukkan bahwa upaya modifikasi cuaca ini telah berhasil mendistribusikan hujan. Dibandingkan dengan rata-rata hujan wilayah Jakarta, curah hujan yang terjadi selama pelaksanaan modifikasi cuaca lebih kecil. Berarti ada penurunan curah hujan di Jakarta dan sekitarnya.

Target awal adalah hujan berkurang 30 persen daripada hujan normalnya. Evaluasi menyeluruh akan segera dilakukan untuk menentukan apakah operasi diteruskan atau dipindah ke daerah lain yang rawan banjir.

"Rencana awal operasi hingga 25 Maret 2013 dengan disesuaikan kebutuhan di lapangan," kata Sutopo.

Hari ini dilakukan 3 sorti penerbangan. Sorti pertama pada pukul 10.56-12.53 WIB menggunakan pesawat Hercules. Penyemaian dilakukan pada sel-sel awan Cumulus pada ketinggian 11.000-13.000 kaki di Timur Jatiluhur sampai Lembang dan di daerah Laut Utara Pantai Indramayu dengan bahan 4 ton.

Sorti kedua pukul 11.28-12.57 WIB menggunakan pesawat CASA 212-200. Penyemaian dilakukan pada sel-sel awan Cumulus dengan ketinggian 13.000 - 14.000 feet di daerah Cikotok. Ketinggian penyemaian 10.000 feet dan menghabiskan bahan semai 1 ton.

"Sorti ketiga dengan pesawat Hercules A-1323 pada pukul 14:45 - 16:06. Penyemaian dilakukan di daerah Purwakarta, Cikampek dan Subang pada ketinggian 10.000 feet. Di darat telah dilakukan pengoperasian GBG dengan 23 flare di 13 lokasi, dan GBG sistem larutan di 3 lokasi selama masing-masing 6,5 jam," kata Sutopo.(mdk/ian)


  ● Merdeka  
0

Modifikasi Cuaca untuk Seluruh Indonesia

Ilustrasi
Banjarmasin Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) memastikan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) tidak hanya digunakan untuk mengatasi bencana banjir di DKI Jakarta saja. Menristek Gusti Muhammad Hatta menegaskan, seluruh daerah di Indonesia berhak memanfaatkan teknologi itu.

Gusti menuturkan, uji coba penggunaan teknologi itu memang bertepatan dengan musibah banjir di Jakarta. "Tapi sejatinya, daerah-daerah lain juga bisa memanfaatkannya," tutur dia di kampus Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Sabtu (9/2).

Mantan Menteri Lingkungan Hidup itu memastikan jika pihaknya hanya menyiapkan sumber daya teknologi dan manusianya saja. "Untuk anggaran, silahkan pemda meminta ke BNPB," tutur Gusti.

Dari hasil uji coba lalu, Gusti mengaku puas dengan penggunaan teknologi itu. Dia mengatakan tim TMC bisa merekayasa hujan ketika gumpalan awan masih di atas laut. Jadi, dengan cara ini resiko hujan lebat di daratan dan berpotensi banjir tidak terjadi.

Sementara itu, pihak BNPB menyatakan tidak bermasalah dengan usulan Menristek terkait pengadaan TMC di seluruh daerah di Indonesia. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menuturkan, BNPB masih memiliki alokasi dana siap pakai untuk darurat bencana. "Jadi sebenarnya anggaran BNPB tidak ada masalah," jelas Sutopo kepada Jawa Pos.

Meski begitu Sutopo menekankan, tidak semua daerah yang mengajukan bantuan TMC, akan segera dikabulkan. Pihaknya akan memfokuskan pada sejumlah daerah yang terkena bencana. Di samping itu, ada persoalan lain yang juga perlu segera ditangani. Sutopo memaparkan, hingga saat ini, SDM dan sarana pendukung di BPPT masih terbatas.

"Yang jadi masalah itu ya SDM dan sarana pendukungnya. Jadi TMC juga memiliki keterbatasan dalam hal pelaksanaannya. Apalagi di Indonesia yang menguasai TMC hanya ada di BPPT. Itu pun personilnya kurang dari 50 orang,"tegasnya.

Karena itu, hampir tidak mungkin jika TMC dilakukan di dua hingga tiga tempat sekaligus. Terbatasnya jumlah personil yang menguasai TMC di BPPT, membuat pelaksanaan TMC di tiga lokasi tidak mungkin dilakukan.

"Apalagi intensitas pengerahan SDM sama seperti di Jakarta. Sulit dilakukan di tiga lokasi atau lebih bersamaan," imbuh dia. (wan/ken)


 ● JPNN 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgooV1VxZtEsH4vI20hI-r2oQ16VSeAVhaU051orN-_f14Dy4r7Abm-QuaFrw4Y1yHdzPjiTzcgMX9SJi0KfjrQRJwsPhAAscD9wCxqg1CxOhldL5FQjlgoagk76DSQbpmT__OEVvhDSXM/s35/cinta-indonesia.jpg
0

Komandan Skadron Udara 31 Siap Dukung TMC

http://www.majalahpotretindonesia.com/images/--10hhh.jpgKOMANDAN Skadron Udara 31 Letkol Pnb Andrian Damanik menegasakan Skadron Udara 31 sebagai pelaksana teknis dilapangan siap melaksanakan perintah Dari komando atas untuk membantu pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) oleh BPPT bekerjasama dengan BNPB Jumat, 8/02 di Taxy Way Echo Lanud Halim.

Sejak dicanangkan Posko Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca pada akhir Januari lalu, hingga Hari ini Jumat (8/2), Lanud Halim Perdanakusuma yang dikomandoi oleh Komandan Lanud Halim Marsma TNI A. Adang Supriyadi, SE; sebagai perpanjangan tangan Mabes TNI telah melaksanakan beberapa kali penerbangan.

Setiap pagi sebelum penerbangan dilaksanakan briefing untuk perkiraan penentuan lokasi penaburan garam di daerah mana, koordinat berapa dan di ketinggian berapa dilanjutkan pelaksanaan yaitu setiap hari dua sorti penerbangan berdasarkan perencanaan dari BPPT. Untuk redistribusikan curah hujan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya kerjasama BPPT dan BNPB didukung oleh Pemerintah Kota DKI Jakarta, TNI dan BMKG.

Seperti yang diberitakan selama ini, sejak adanya surat pernyataan darurat bencana banjir yang dikeluarkan oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Serta adanya permintaan bantuan penanggulangan banjir oleh Jokowi kepada BNPB. Maka BNPB menggandeng BPPT bersama TNI Angkatan Udara untuk menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca yang direncanakan sampai akhir Maret.

Menurut Komandan Skadron Udara 31 Letkol Pnb Andrian Damanik, TNI tentu saja sangat mendukung kegiatan kemanusiaan ini dengan mempersiapkan pesawat Hercules C-130 yang memiliki daya angkut cukup besar untuk menyebarkan berton-ton garam dapur (Natrium Klorida) melalui udara yang hingga hari ini, Jumat hampir 68 ton garam dapur yang sudah ditabur.

Pada bagian lain Ketua Penanggungjawab Lapangan BPPT, Dr Tri Handoko Seto, Msc, yang juga Kepala Bidang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan BPPT menjelaskan bahwa “Realisasi TMC ini berubah-ubah tergantung kondisi cuacanya”. Ujarnya kepada media.

“Ada dua jenis teknik TMC yakni dengan teknik kompetisi dan teknik mempercepat hujan di daerah sebelum masuk di wilayah Jakarta atau mengurangi curah hujan yang jatuh di DKI” tegasnya.

Lebih jauh dikatakan, Teknologi Modifikasi Cuaca ini harus memiliki tiga unsur yakni, pesawat, bahan semai dan Flight Scientist. Disamping menggunakan pesawat, BPPT juga memiliki sistem Ground Base Generator yang terletak di daerah Puncak Jawa Barat.

Diharapkan Penduduk DKI Jakarta tetap waspada dengan turut serta dengan disiplin seperti membuang sampah pada tempatnya, namun juga harus optimis, sebab segala daya upaya telah dilakukan oleh pemerintah bersama TNI dalam menanggulangi bencana banjir ini. Kesiap-siagaan Lanud Halim Perdanakusuma dengan Skadron Udara-nya patut dibanggakan.

Keterangan gambar: Komandan Skadron Udara 31 Letkol Pnb Andrian Damanik bersama Ketua Penanggungjawab Lapangan BPPT, Dr Tri Handoko Seto, Msc saat mengecek garam yang akan dimasukan ke pesawat untuk ditabur. (Foto: Pentak Lanud Halim P).


  Majalah Potret Indonesia  
0

UAV Baru yang dapat membuat Hujan Buatan

UAV (Unmanned Aerial Vehicle) atau Pesawat Tanpa Awak. Kali ini Indonesia akan mengembangakn UAV terbaru untuk melindungi hutan 

Jakarta | Menteri Riset dan Teknologi Indonesia, Gusti Muhammad Hatta mengatakan Indonesia akan membangun skuadron pesawat tak berawak pada tahun 2013 untuk misi khusus dan pertahanan nasional.

Perkembangan pesawat tak berawak skuadron merupakan salah satu tujuan utama dari Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, yang akan diadakan tahun ini.

Pesawat tak berawak Skuadron juga akan mampu menciptakan hujan buatan, kata menteri.

"pesawat tanpa awak skuadron akan mampu menciptakan hujan buatan. Hal ini dapat digunakan untuk memantau gunung berapi aktif dan tidak aktif, dan ilegal logging, "kata menteri.

Kementerian akan bekerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk membangun pesawat skuadron.

"LAPAN telah membangun satu drone kecil, sementara BPPT telah mengembangkan tiga kelas drone: kecil, menengah dan besar," katanya, menambahkan bahwa kementerian pertahanan membutuhkan dana untuk membangun pesawat skuadron.


Iuvsa
0

BNPB Klaim Modifikasi Cuaca Berhasil Cegah Banjir Jakarta

http://akualbana.files.wordpress.com/2009/12/bnpb1.jpgJakarta | BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengklaim, upaya modifikasi cuaca yang dilakukan BNPB dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), sejak 26 Januari lalu untuk mengantisipasi banjir di Jakarta, berhasil dilakukan.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, curah hujan yang jatuh di wilayah Jakarta dan sekitarnya berkurang secara signifikan.

"Ada dua faktor yang menyebabkan hujan berkurang. Pertama adalah pengaruh modifikasi cuaca, yang mampu menjatuhkan awan-awan menjadi hujan sebelum masuk Jakarta,"kata Sutopo dalam pernyataan tertulisinya, Sabtu (2/2).

Menurutnya, hingga saat ini, sudah dilakukan 14 sorti penerbangan dengan pesawat Hercules C-130 dengan kapasitas sekali terbang 4 ton bahan semai dan 1 kali dengan Casa 212-200 membawa 800 kg bahan semai. Pembakaran flare untuk menghambat pertumbuhan awan dilakukan di 25 lokasi.

Faktor kedua, menurut Sutopo, adalah kondisi cuaca regional yang kurang mendukung terjadinya hujan ekstrem di sekitar Jakarta. Dikatakan Sutopo, tidak adanya siklon tropis di selatan Indonesia, dan tidak adanya pengaruh seruak dingin (cold surge) dari Siberia Selatan yang masuk ke wilayah Indonesia menyebabkan tidak adanya hujan ekstrem di sekitar Jakarta.

"Kombinasi antara upaya manusia dan alam inilah yang menyebabkan Jakarta aman dari banjir besar hingga saat ini,"ujar Sutopo.

Dia menerangkan, hari ini, Sabtu (2/2), cluster awan sudah terbentuk sejak pagi di barat laut menuju wilayah Jabodetabek. Sorti pertama dengan Hercules membawa 4 ton NaCl terbang pukul 09.39-11.33 Wib mencegat awan-awan di sekitar Teluk Jakarta hingga sebelah barat Lampung.

Pantauan radar menunjukkan awan target jatuh menjadi hujan. Sorti kedua pada 14.25-15.40 Wib dengan Hercules dengan 4 ton NaCl menyemai di atas Pandeglang, Serang, Cilegon dan utara Merak.

Sorti ketiga dengan Casa membawa 800 kg menyemai sekitar Pandeglang pada ketinggian 15 ribu kaki. Di bawah dioperasikan ground based generator (GBG) dengan membakar 36 flare di 13 lokasi dan GBG sistem larutan diaktifkan di 3 lokasi selama 5 jam. "Hasilnya hujan berkurang di Jabodetabek,"katanya.


Jurnas
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgooV1VxZtEsH4vI20hI-r2oQ16VSeAVhaU051orN-_f14Dy4r7Abm-QuaFrw4Y1yHdzPjiTzcgMX9SJi0KfjrQRJwsPhAAscD9wCxqg1CxOhldL5FQjlgoagk76DSQbpmT__OEVvhDSXM/s35/cinta-indonesia.jpg
0

TNI AU Terlibat dalam Misi Modifikasi Cuaca bersama BPPT

BNPB dan TNI AU Lakukan Misi Teknologi  Modifikasi Cuaca di wilayah Jakarta dan Sekitarnya Jakarta HARI ini (27/12013) diperkirakan akan muncul pasang surut air laut dan curah hujan tinggi yang berpotensi banjir di Jakarta.

Untuk mengurangi resiko itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan TNI Angkatan Udara melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Jakarta dan sekitarnya menggunakan Hercules C-130 dan Skadron Udara 31.

Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC ini bertujuan mengurangi hujan sehingga banjir dapat diredam.

“Ada dua upaya yang dilakukankan yaitu menghambat pertumbuhan awan, dan menjatuhkkan hujan di luar daerah rawan banjir,” ujar Ketua pelaksana rekayasa cuaca Dr Tri Handoko Seto,

Pertama “mempercepat proses awan menjadi terhadap awan-awan yang sedang tumbuh di daerah ‘upwind’ yang bergerak memasuki Daerah Aliran Sugai (DAS).

Kedua mengganggu proses pertumbuhan awan di dalam DAS yang bergerak meninggalkan DASagar awan tidak menjadi hujan di dalam DAS.

“Lanud Halim sebagai pelaksana operasional siap melaksanakan tugas dan membatu apaun yang bisa” ujar Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI A. Asep Adang Supriyadi, saat menyaksikan loading 4 ton garam di Taxy Way Echo Lanud Halim Perdanakusuma .

Pesawat yang digunakan dalam kondisi siap dan baru selesai dimodifikasi khusus untuk rekayasa cuaca.

“Awak pesawatnya sudah professional,” tegasnya.

Ia berharap. mudah-mudahan selama pelaksanakan rekayasa cuaca ini dapat berjalan dengan aman dan lancar karena kita berkerja dan berbuat untuk kepentingan masyarakat, Negara dan bangsa.
0

Radar Cuaca BPPT Sudah Dipindahkan dari Monas

Radar Cuaca BPPT Sudah Dipindahkan dari Monas
Pekerja dari BPPT memasang alat pantau cuaca di Monas, Jakarta
Jakarta Radar cuaca Multi Parameter Radar (MPR) milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kini telah dipindahkan kembali ke Serpong. Sebelumnya radar itu dipasang di Monumen Nasional, Jakarta Pusat selama empat hari, pada 18-21 Januari 2013.

Manajer Laboratorium Teknologi Sistem Kebumian dan Mitigasi Bencana BPPT, Fadly Syamsudin, mengatakan, radar itu digunakan untuk memantau cuaca selama banjir yang melanda Ibu Kota pada pekan lalu. "Dipasang di sana memang hanya sementara, stasiun permanennya berada di Serpong," ujar Fadly ketika dihubungi, Jumat, 25 Januari 2013.

Dia mengatakan, kinerja radar untuk memperkirakan cuaca di wilayah Jakarta tak akan terganggu meski kini terpasang di Serpong, Tangerang Selatan. Soalnya radar tersebut dapat membaca pergerakan angin dan curah hujan dalam radius 170 kilometer. "Jadi wilayah yang bisa dibaca termasuk Jabodetabek, Selat Sunda, dan Teluk Jakarta," kata Fadly.

Berdasarkan pantauan radar tersebut, Jakarta dan wilayah sekitarnya diperkirakan tak akan mengalami cuaca ekstrem seperti yang terjadi pekan lalu. "Curah hujan masih tinggi, tetapi dengan intensitas yang normal di waktu musim hujan," ujar dia. Soalnya, angin musim timur laut atau northeasterly monsoon surge dari Laut China Selatan sudah tak bertiup ke arah Jakarta.

Angin itulah yang membawa awan-awan yang mengandung uap air tinggi pada pekan lalu. Akibatnya, Jakarta dan wilayah sekitarnya diguyur hujan deras dengan durasi panjang yang pada akhirnya menyebabkan banjir besar di Ibu Kota.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgooV1VxZtEsH4vI20hI-r2oQ16VSeAVhaU051orN-_f14Dy4r7Abm-QuaFrw4Y1yHdzPjiTzcgMX9SJi0KfjrQRJwsPhAAscD9wCxqg1CxOhldL5FQjlgoagk76DSQbpmT__OEVvhDSXM/s35/cinta-indonesia.jpg
0

Modifikasi Cuaca Bisa Kurangi Curah Hujan 30 Persen

Modifikasi Cuaca Bisa Kurangi Curah Hujan 30 Persen  
Alat pemantau cuaca Campbel Stokes. TEMPO/Tony hartawan
Jakarta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memodifikasi cuaca untuk menutup peluang besar terjadi banjir pada pertengahan Januari-Februari. Cuaca akan dimodifikasi dengan cara mengurangi curah hujan berlebih yang turun di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

"Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) diperkirakan mengurangi curah hujan di Jakarta lebih dari 30 persen," ujar Kepala Bidang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan, Tri Handoko Seto, Sabtu, 26 Januari 2013.

Pada hari ini, berangkat dari Lanud Halim Perdana Kusuma, BPPT akan menguji coba teknologi ini dengan menggunakan pesawat milik Angkatan Udara.

Ada dua metode yang akan digunakan BPPT dalam memodifikasi cuaca. Pertama, mempercepat proses awan menjadi hujan (jumping process). "Awan akan turun jadi hujan sebelum masuk Jakarta," ujar Tri Handoko. Dengan metode ini, proses hujan pada awan bisa dipercepat agar tak sempat jadi awan besar penimbul potensi hujan lebat. Proses percepatan ini membutuhkan bahan bubuk semai sejenis garam yang dibawa dengan pesawat.

Metode kedua dilakukan jika awan sudah masuk wilayah daerah aliran sungai (DAS) Jakarta. Awan akan "diganggu" proses pertumbuhannya dan disingkirkan dari DAS. Eksekusi metode ini bisa dilakukan dengan peralatan darat, yakni ground-based generator. "Fungsinya membangkitkan partikel halus yang ciptakan efek agar awan sulit berkembang," ujarnya.

Hingga saat ini, persiapan rekayasa cuaca masih dilakukan di Lanud Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. BPPT sejak pukul 08.00 WIB terlihat sibuk mempersiapkan kelengkapan eksekusi. Sebelum terbang dengan pesawat Hercules siang nanti, BPPT akan memberi penjelasan teknis mengenai teknologi ini kepada wartawan.

Tri Handoko kepada Tempo kemarin mengatakan, kunci metode modifikasi cuaca ini terletak pada pemanfaatan arah angin dan letak awan. "Jadi besok (hari ini), kami akan lihat sebaran awan dan arah anginnya seperti apa," ujar dia.

Saat ini BPPT juga masih melakukan survei wilayah yang bisa menjadi sasaran turunnya hujan. "Masih kami petakan. Kalau Waduk Jatiluhur masih bisa menampung air, tentu bisa dialihkan ke sana agar menjadi cadangan air," katanya. Namun, untuk saat ini, pilihan paling aman untuk memindahkan hujan terletak di laut.


Tempo.Co
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgooV1VxZtEsH4vI20hI-r2oQ16VSeAVhaU051orN-_f14Dy4r7Abm-QuaFrw4Y1yHdzPjiTzcgMX9SJi0KfjrQRJwsPhAAscD9wCxqg1CxOhldL5FQjlgoagk76DSQbpmT__OEVvhDSXM/s35/cinta-indonesia.jpg
0

★ Kementerian Riset dan Teknologi Rancang Pesawat Angkut

Cutaway N219 (Weapons Technology)
Jakarta | Kementerian Riset dan Teknologi sedang merancang pesawat angkut jenis N-219 yang akan digunakan untuk penerbangan ke daerah terpencil.

"Dana untuk pembuatan pesawat sudah disediakan. Apabila rancangan desainnya sudah selesai kami akan serahkan ke PT Dirgantara Indonesia untuk segera dibuat," kata Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta di Jakarta, Kamis.

Kementerian bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan menyelesaikan rancangan pesawat angkut itu tahun ini.

"Pesawat N-219 merupakan buatan kita sendiri. Berbeda dengan rencana pembuatan pesawat tempur yang saat ini rancangannya sedang dibuat bekerja sama dengan Korea Selatan," ujar dia.(R028)


Antara
0

★ Kemenristek Akan Buat Skuadron Pesawat Tanpa Awak

http://img.antaranews.com/new/2012/10/small/20121011Pesawat-Tanpa-Awak-111012-wsj-7.jpg
PUNA Wulung
Jakarta | Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta mengatakan pada tahun 2013 pihaknya akan membuat satu skuadron pesawat tanpa awak untuk kepentingan mata-mata sistem pertahanan nasional.

"Kementerian Pertahanan meminta untuk dibuatkan satu skuadron pesawat tanpa awak. Setidaknya pembuatannya untuk keperluan memata-matai," kata Menristek Gusti Muhammad Hatta, di Jakarta, Kamis.

Gusti Muhammad Hatta mengatakan pesawat tanpa awak merupakan salah satu fokus pengembangan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) yang akan dilakukan lembaganya tahun ini, selain rencana pembuatan roket serta satelit.

Menurut dia, selain untuk keperluan pertahanan pesawat tanpa awak juga dapat berfungsi membantu menghasilkan hujan buatan dan keperluan pengamatan di daerah berbahaya.

"Pesawat tanpa awak dapat masuk menembus awan untuk menabur garam membuat hujan buatan, serta untuk mengamati gunung berapi yang berbahaya apabila dilakukan pesawat berawak. Selain itu juga dapat digunakan untuk mengamati praktik `ilegal fishing` dan `ilegal logging`," kata dia.

Gusti mengatakan di luar negeri pesawat tanpa awak sudah digunakan untuk kepentingan perang. Di Israel misalnya, pesawat tanpa awak dilengkapi dengan senjata untuk menembak.

Sejauh ini Indonesia melalui Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah menghasilkan sejumlah pesawat tanpa awak. Ia mengatakan bahwa dalam pembuatan skuadron pesawat tanpa awak, Kemenristek kembali akan menggandeng dua lembaga tersebut.

"Sejauh ini LAPAN sudah membuat satu pesawat tanpa awak ukuran kecil. Sedangkan BPPT sudah mengembangkan tiga kelas pesawat tanpa awak yakni ukuran kecil, sedang dan besar," kata dia.

Pendanaan pesawat tanpa awak menurut dia akan disediakan oleh Kementerian Pertahanan.(R028)


Antara
0

★ Pesawat Tanpa Awak Produksi Lokal Dioperasikan 2013

PUNA Wulung
Sampit, Kalteng | Pesawat tanpa awak yang dikendalikan remote kontrol buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan dioperasikan pada 2013 mendatang, kata Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta.

Di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah, Sabtu Gusti Muhammad Hatta mengatakan, kemampuannya tidak diragukan lagi karena telah diuji coba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta pada Kamis, 11 Oktober 2012.

"Pesawat tanpa awak yang diberi nama Wulung tersebut dirancang khusus dan sangat canggih sehingga memiliki kemampuan yang luar biasa dibandingkan dengan pesawat-pesawat yang ada," kata Menristek, Gusti Muhammad Hatta.

Selain bisa menjadi pesawat mata-mata, pesawat tersebut nantinya juga dapat dipergunakan untuk pemotretan wilayah dari udara dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Pesawat ini memiliki kemampuan terbang selama 4 jam tanpa henti dan bisa digunakan untuk membuat hujan buatan.

Jarak tempuh maksimalnya 70 kilometer, dengan kecepatan jelajah 52--69 knot. Puna Wulung bisa dikendalikan dengan jarak 73 kilometer dari remote control. Wulung mampu terbang hingga ketinggian 12 ribu kaki, dan yang sudah diujikan sejauh 8.000 kaki.

BPPT membuat lima pesawat serupa, dan biaya yang dikeluarkan untuk lima pesawat serupa berkisar antara Rp 6 miliar-Rp 8 miliar.

Wulung memakai mesin 2 tak dan untuk mendapatkan tenaga yang optimal, bahan bakar yang dipergunakan adalah pertamax.

Bahan material pesawat tanpa awak tersebut menggunakan komposit (komposisi serat kaca, fiber, karbon) sehingga mendapatkan struktur pesawat yang ringan.

"Dengan adanya pesawat tersebut nantinya pemadaman kebakaran hutan dan pembuatan hujan buatan tidak perlu lagi menaburkan garam pada awan dan kami telah menemukan bahan penggantinya, yani bernama pleer," katanya.

Setiap satu kilogram pleer sama dengan satu ton kilogram garam dan pesawat Wulung mampu membawa delapan kilogram pleer


Antara
0

Kiprah BPPT di Tahun 2012

Menjelang tutup tahun, seperti sebuah perusahaan, BPPT juga mengeluarkan laporannya, atas semua pekerjaan yang telah diselesaikan di tahun 2012. Dalam catatan kali ini, terutama di bidang Hankam, BPPT menorehkan setidaknya 3 prestasi.

Kiprah BPPT di Tahun 2012


Dalam bidang teknologi pertahanan dan keamanan telah menghasilkan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA), dimana salah satunya yaitu Puna Wulung BPPT akan masuk jajaran Squadron TNI AU.

Pesawat Udara Nir Awak (PUNA)

PUNA ini sendiri telah diujicoba dan disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan serta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Lanud Halim Perdana Kusumah, Oktober lalu. Meski masih banyak kekurangan, menurut publikasi BPPT, TNI-AU tetap akan mengadopsi PUNA buatan dalam negeri ini berdampingan dengan UAV asal Philipina yang akan segera tiba.

Aerodinamika 2 model KFX/IFX (model C102 dan C2012)

Selain itu, BPPT juga ternyata berperan mendukung program kerja sama Indonesia-Korea Selatan dalam Pengembangan Pesawat Tempur KFX/IFX. Dukungan itu diwujudkan dalam uji Aerodinamika 2 Mei hingga September 2012.

 komputer mortir balistik terpadu (KOMBAT)

Lalu, MEPPO (Balai Mesin Perkakas, Teknik Produksi, dan Otomasi) BPPT juga bersama Pussenif serta Meppo mengembangkan komputer mortir balistik terpadu (KOMBAT). Alat ini mampu mempercepat waktu penghitungan penembakan mortir secara akurat, mudah dan cepat. Tahun 2013, peralatan ini diharapkan akan diproduksi di PT.Pindad.



ARC
0

BPPT Siapkan Platform Angkutan Umum Murah 1.000 cc

Kendaraan jenis ini akan menjadi bagian transportasi pedesaan.

Ilustrasi
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tengah mempersiapkan platform angkutan umum murah nasional dengan kapasitas mesin di bawah 1.000 cc.

Kendaraan jenis ini akan menjadi bagian transportasi pedesaan.

"Awalnya kita siapkan platform, setelah itu komponen-komponennya, dan kemudian engine-nya," kata Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Industri dan Rancang Bangun BPPT, Erzi Agson Gani pada Pertemuan tentang Catatan Akhir Tahun BPPT 2012 di Jakarta, Jumat (21/12).

Dia mengatakan, platform angkutan umum murah industri dalam negeri ini seperti halnya dilakukan Proton di Malaysia. Untuk tahap awal di 2012, Kementerian Perindustrian telah mendanai Rp 50 miliar.

"Ini kelanjutan platform komodo yang dibuat BPPT, berupa bus gandeng yang digunakan busway dan sudah diproduksi oleh PT Asia Auto International (AAI) di Sentul dan PT Inka Madiun," katanya.

Erzi menjelaskan, melalui kerjasama Kemperin dan industri dalam negeri, akan dibuat embrio industri otomotif nasional, sehingga diharapkan bisa menjadi motor penggerak industri nasional lainnya.

Saat ini, kata Erzi, omzet bisnis otomotif mencapai Rp 300 triliun dengan pasar 1 unit kendaraan roda empat per tahun. Sayangnya, meski potensi pasar besar, namun mayoritas diisi kendaraan impor meski sebagian dirakit di dalam negeri.

BPPT, lanjut Erzi, pada 2012 juga telah mendesain pabrik gula berkapasitas 10.000 ton tebu per hari dalam rangka program revitalisasi industri gula nasional untuk mencapai swasembada gula tahun 2014.

Sementara jika desain industri gula dibuat sendiri, maka industri komponen seperti boiler, turbin, stasiun penggilingan juga diproduksi di dalam negeri.

"Kita harus mulai membuat desain pabrik sendiri agar bisa menciptakan berbagai komponen dan mesin pabrik sendiri. Kelemahan kita senang membeli desain pabrik dari luar, padahal begitu kita menggunakan desain misalnya dari China, maka mesin, komponen dan lainnya juga harus datang dari China," katanya.


Berita Satu
0

★ Indonesia Akan Produksi 3 Macam Pesawat

Menristek: Indonesia Produksi Pesawat N219 pada 2014

Prototipe Desain N219
Jakarta Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, mengatakan, Indonesia akan memproduksi pesawat N219 pada 2014.

"Tahun ini masih dalam tahap desain, kemudian 2013 dibuatkan prototype dan 2014 akan diproduksi," ujar Menristek dalam lokakarya Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional di Jakarta, Kamis.

Pesawat yang mempunyai kapasitas 19 penumpang tersebut, akan melayani wilayah pegunungan dan sulit dijangkau.

Pesawat N219 adalah pesawat yang mempunyai dua baling-baling dan hanya membutuhkan landasan 500 meter.

"Angkutan udara memang diperlukan karena cepat, sarana mempersatu bangsa, menjangkau daerah terpencil, dan juga menunjang sektor lain."

Kemristek sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp 310 miliar yang digunakan untuk pembuatan prototype.

Untuk memproduksi pesawat tersebut melibatkan sejumlah lembaga seperti Lapan, PT DI, dan BPPT, katanya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Bambang S Tejasukamana, mengatakan bahwa pada tahun 2013 akan diproduksi empat pesawat prototype yang digunakan untuk uji terbang dan uji struktur.

"Hampir 70 persen bandara di Indonesia mempunyai landasan di bawah 800 meter," ujar Bambang.
 
Pesawat N219 tersebut, lanjut dia, sudah dipesan oleh sejumlah maskapai penerbangan sebanyak 50 unit. Namun sebelum dijual, kata Bambang, pihaknya akan melakukan sertifikasi terhadap pesawat tersebut.

Bambang mengatakan, pesawat yang dibuat tersebut lebih murah dibandingkan pesawat sejenis yang diproduksi negara lain.

Selain itu, pada tahun 2016 juga menargetkan akan memproduksi N245 dan pada 2017 memproduksi N270, katanya.(rr)

Lapan Siapkan 4 Prototype Pesawat Perintis N 219 Seharga Rp 310 M

Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) akan membuat empat buah pesawat prototype pesawat perintis N 219 pada awal tahun depan. Untuk proyek itu, Kementerian Riset dan Teknologi RI mengucurkan dana sebesar Rp 310 miliar.

"N 219 dikerjakan Lapan dan DI (PT Dirgantara Indonesia), proses power on sudah selesai dan sekarang menuju ke prorotyping," ujar Kepala Lapan, Bambang S Tejasukmana di Gedung BPPT, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (20/12/2012).

Dengan dana Rp 310 miliar, akan dihasilkan empat prototipe pesawat N 219. "Akan dibangun 4 prototype. Yang diujiterbangkan 2, diuji struktur 2 (tanpa mesin). Uji struktur seperti uji tabrakan," lanjutnya.

Pesawat berkapasitas 19 penumpang ini dinilai akan menjawab kebutuhan daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki akses transportasi darat.

"Dia bisa mendarat di landasan pendek. Di lapangan rumput dan tanah juga bisa mendarat," jelas Bambang.

Hal ini diamini oleh Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta. "Yang mengerjakan Lapan, yang mengujinya BPPT, kita ristek yang mengkoordinir semuanya," kata Hatta.

"Untuk penumpang saja, tapi bisa sekalian barang juga," imbuhnya.

Pesawat ini ditargetkan selesai sertifikasi pada tahun 2014 mendatang. (sip/rmd)

0

★ PT Dirgantara Rancang Peluru Balistik

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/03/07/1841475p.jpgJakarta PT Dirgantara Indonesia merancang peluru balistik hingga peluru kendali, untuk memperkuat pertahanan Indonesia.

Sonny Saleh Ibrahim dari Humas PT Dirgantara Indonesia (DI), di sela-sela seminar Hubungan TNI AL dan Industri Pertahanan di Jakarta, Rabu (19/12/2012), mengatakan bahwa pihaknya mengembangkan peluru balistik, peluru jarak jauh, dan peluru kendali penuh yang mampu menjangkau jarak 200 kilometer.

"Untuk peluru balistik dan diluncurkan dari multilaras, memiliki jarak jangkau 14 kilometer, 23 kilometer, dan terjauh 36 kilometer," kata Sonny.

Persenjataan tersebut dikembangkan bersama dengan lembaga terkait, seperti PT Pindad, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan sejumlah industri strategis. Dalam beberapa tahun mendatang produk itu diharapkan sudah digunakan oleh TNI.


Kompas

0

BPPT: Teknologi Zero Delta Q Kurangi Risiko Banjir

http://www.investor.co.id/media/images/medium2/20121128111629804.jpg
Banjir Jakarta. Karikatur Investor Daily
Jakarta � Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mempersiapkan teknologi Zero Delta Q (teknologi penyerapan air) yang lebih baik dibanding membangun sarana drainase konvensional untuk mengurangi risiko banjir.

"Prinsip zero Delta Q adalah keharusan setiap bangunan tidak mengakibatkan bertambahnya debit air ke sistem saluran drainase atau sistem aliran sungai. Idealnya, setiap bangunan menyerap air hujannya masing-masing," kata perekayasa Pusat Teknologi Sumberdaya Lahan, Wilayah dan Mitigasi Bencana BPPT Budi Rahayu di Jakarta, Selasa.

Pada Workshop Pengurangan Risiko Banjir Jakarta Berbasis ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Partisipasi Masyarakat tersebut, Budi mengatakan, prinsip zero Delta Q atau "tak ada penambahan debit air" sesuai dengan PP no 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang wilayah Nasional di pasal 106.

Banjir, menurut dia, disebabkan oleh air yang tidak meresap ke tanah karena terlalu banyak melimpas ke selokan, sungai dan sistem drainase yang tak mampu menampung air hujan. Karena itu sangat penting dikembangkan teknologi peresapan air untuk masing-masing bangunan.

Teknologi zero Delta Q yang telah dikaji BPPT tersebut mencakup biopos (biopori plus pengomposan) untuk perumahan kota, lubang galian (jogangan) untuk perkampungan yang masih memiliki pekarangan luas, disain teknologi sumur resapan dan sumur injeksi untuk perkantoran dan pertokoan.

"Suatu lahan dengan tutupan alami hanya melimpaskan (run-off) air 10%, suatu lahan dengan permukaan kedap air 10-20% akan melimpaskan air 20%, lahan dengan permukaan kedap air 35-50% akan melimpaskan air 30%, sedangkan permukaan dengan 75-100% kedap air akan melimpaskan air 55%," katanya.

Sementara itu, Peneliti Rehabilitasi Lahan BPPT Hasmono Soewandito mengatakan, pembuatan lubang resapan biopori di perumahan berpekarangan sebanyak 5.000 lubang per hektare atau 50 lubang untuk setiap lahan 100 m2, efektif mengurangi risiko banjir hingga 99,5% dan untuk pemukiman padat penghuni efektivitas 78,2%.

"Jika 10%-nya saja diterapkan yakni lima lubang per 100 m2 maka efektivitasnya menjadi 9,9% untuk yang pemukiman berpekarangan dan 7,8% untuk pemukiman padat. ini cukup bagus untuk mengurangi banjir," katanya.

Sementara itu Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Kementerian Pekerjaan Umum Imam Santoso mengatakan, penanganan lima sungai seperti Ciliwung, Buaran dan Cakung telah menurunkan 16 titik banjir dari 78 titik di Jakarta, misalnya titik Kelapa Gading.

Sedangkan penanganan sungai Pesanggrahan, Angke dan Sunter diharapkan juga bisa mengurangi 12 titik banjir di Jakarta.(ant/gor)


0

★ BPPT Terus Kembangkan PUNA Sriti

PARA peneliti di BPPT terus berupaya memperbaiki kinerja Pesawat Udara Nir Awak alias PUNA rancangan mereka. Kali ini, yang terkena sentuhan lanjutan adalah PUNA Sriti. Sejauh ini, PUNA Sriti dikenal sebagai pesawat nir awak jarak pendek, dengan jarak terbang jelajah 45 km dan daya tahan terbang kira-kira 1 jam.

Dari proyeksi kebutuhan dan visi pengembangan PUNA-Sriti ke depan, pesawat ini diharapkan mampu terbang dengan jarak jelajah lebih dari 70 km dan daya tahan terbang lebih lama. Salah satunya adalah melakukan Rekonfigurasi aerodinamika. Dengan berkurangnya hambatan udara disaat terbang, maka PUNA Sriti yang baru diharapkan mampu memenuhi target pengembangan.


Puna Sriti sendiri merupakan jenis UAV yang unik. Ia tidak memiliki roda untuk lepas landas pendaratan. Untuk menerbangkannya digunakan ketapel, sementara untuk mendarat dengan cara ditangkap. PUNA jenis ini sangat cocok dioperasikan oleh satuan Kavaleri atau Artileri. Dimana PUNA diterbangkan untuk mengintip pasukan musuh, lalu melaporkannya kepada satuan kawan. Seusai serbuan, PUNA juga bisa kembali diterbangkan untuk menilai hasil gempuran. Hanya saja, setelah mampu mengembangkan daya jelajah, harus juga dilakukan pengembangan alat pengintaian dan pengiriman data.



ARC

0

★ Modifikasi Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca

Kerjasama antara BPPT dan TNI AD telah dilaksanakan melalui penggunaan Pesawat Casa 212-200 milik TNI AD dalam operasi menaggulangi kebakaran lahan dan hutan di Jambi, di lanjutkan dengan operasi yang sama di Sumatera Selatan dan pesawat yang sama juga digunakan untuk mengatasi defisit ait di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum Jawa Barat,” ungkap Kepala BPPT Marzan A Iskandar dalam kunjungan kerjanya ke kantor Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) dalam rangka kerjasama pelaksanaan Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) (31/10).

Lebih lanjut Marzan mengatakan bahwa operasi TMC tersebut sangat berarti karena BPPT mendapat banyak permintaan dari daerah untuk mengatasi kekeringan dan kebakaran hutan. Bahkan akhir-akhir ini juga dilakukan untuk memindahkan lokasi hujan, seperti dalam rangka penyelenggaraan PON dan Sea Games. 

“Dari waktu ke waktu permintaan operasi TMC ini juga semakin meningkat seiring dengan semakin dipahaminya manfaat dari operasi TMC. Karena itulah kerjasama antara BPPT dan TNI AD ini diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan dan sinergis, agar operasi TMC ini bisa diperbesar skalanya dengan memanfaatkan juga fasilitas yang dimiliki TNI AD,” ujarnya.

Selain itu BPPT juga telah melakukan beberapa upaya modifikasi untuk semakin meningkatkan kualitas pelaksanaan operasi TMC. Diantaranya dengan pembuatan air scooper yang dipasang di pesawat Casa 212. Menurut Kepala Unit Pelaksanan Teknis Hujan Buatan (UPTHB) BPPT, F. Heru Widodo, air scooper yang dipasang di pesawat milik TNI AD tersebut direncanakan akan dikembangkan menjadi mekanisme seeding secara otomatis. “Sehingga sistem yang dulunya manual manjadi otomatis seeding,” ungkapnya.

Ke depan, Marzan berharap kerjasama antara BPPT dan TNI AD dapat ditingkatkan baik itu dalam penggunaan pesawat Casa 212, maupun dalam upaya pelatihan (training) pilot puspenerbad untuk pesawat pyper chayenne yang saat ini tidak memiliki pilot. “Saat ini kami juga sedang membicarakan kemungkinan untuk memasukkan pesawat Bravo dalam jajaran pesawat untuk operasi hujan buatan karena memiliki kapasitas lebih besar, kurang lebih 8 kali pesawat Casa,” terangnya.

Ditambahkan Heru bahwa Indonesia perlu bangga karena telah memiliki teknologi hujan buatan. “Tidak semua negara mempunyai TMC, beberapa negara memanfaatkan TMC selain untuk menambah curah hujan juga untuk mengatasi hujan es. Sementara itu di Indonesia, selain untuk menambah ataupun mengurangi curah hujan, TMC juga dilakukan untuk pengisian waduk baik untuk PLTA maupun pertanian, mengurangi banjir serta mengamankan PON dan Sea Games,” jelasnya.

Dua metode yang dilakukan dalam pelaksanaan TMC yaitu reducing hujan dengan jumping proses dan sistem kompetisi. Operasi TMC uga dilengkapi dengan radar, yang dapat mengamati dan menganalisa perkembangan dan pergerakan awan. Dalam proses penyemaian awan, BPPT menggunakan flare yang merupakan buatan BPPT bekerjasama dengan Pindad. 

Flare mempunyai tingkat efektivitas yang besar. Perbandingannya, satu ton garam sama dengan satu kilogram flare. Dan pesawat piper chayene ini biasanya dalam sekali terbang dapat mengangkut 24 flare. Jadi ekuivalen dengan 24 kali penerbangan pesawat Casa,” ujarnya.

Pengembangan selanjutnya yaitu penggunaan Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) yang dilengkapi flare dalam operasi TMC. “Kedepan akan segera dilakukan hujan buatan di Jawa Tengah untuk pengurangan curah hujan di lereng Gunung Merapi. Rencananya akan dilakukan Desember mendatang,” tutur Heru.

Pada kesempatan yang sama, diungkapkan Kasahli Kasad Mayjen TNI, Muktiyanto bahwa diharapkan BPPT tidak hanya mengembangkan TMC saja, namun bisa mengembangkan teknologi sumber air bersih dan listrik untuk daerah perbatasan maupun terluar. Karena problema yang ada saat ini belum semua daerah perbatasan dan terluar terjangkau oleh air dan listrik.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BPPT pun memaparkan bahwa BPPT sangat terbuka untuk bekerjasama dalam upaya mewujudkannya. “Kami telah lama mengembangkan teknologi pengolahan air bersih dan listrik dengan sumberdaya tebarukan. Selain itu disampaikan pula mengenai pengembangan teknoogi PUNA dan pangan darurat Biskuneo,” tutupnya.

Dalam kunjungan kerja Kepala BPPT yang didampingi oleh Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA), Ridwan Djamaluddin tersebut selain diagendakan untuk memberikan laporan kemajuan hasil pelaksanaan operasi TMC di Jambi, Sumsel dan Jabar dengan dukungan pesawat Casa Puspenerbad, juga untuk menyusun rencana kerjasama dalam penggunaan pesawat Casa Puspenerbad tersebut ke depan untuk uji terbang dalam rangka pengembangan mekanisasi seeding untuk operasi TMC dan kerjasama lainnya seperti pendidikan atau training pilot Puspenerbad untuk pesawat Piper Chayenne BPPT untuk operasi TMC.

TNI AD BANTU OPERASI HUJAN BUATAN BPPT

 

Penggunaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sangat bermanfaat untuk mengatasi kekeringan dan kebakaran hutan serta mengatasi titik api (hotspot). Bahkan akhir-akhir ini juga dilakukan untuk mencegah terjadinya hujan di suatu tempat, seperti saat Sea Games 2011 lalu dengan memindahkan lokasi hujan. 

Untuk tahun ini, Kepala Unit Pelaksanan Teknis Hujan Buatan (UPTHB) BPPT, F. Heru Widodo mengatakan bahwa operasi Hujan buatan sudah dimulai sejak tengah tahun ini di beberapa daerah, seperti Riau, Pontianak, Kalimantan Tengah, Jambi, Susel, Jatim, Kalimantan Selatan. Menurutnya, pergerakan operasi TMC ini banyak dibantu berbagai pihak, salah satunya TNI-AD yang telah meminjamkan pesawat CASA 212 dalam pelaksanaan operasi TMC.

“Awal kerjasama dengan TNI-AD adalah saat kami menerima banyak permintaan dalam mengatasi kekeringan dan kebakaran hutan. saat itu kami sangat kewalahan khususnya dalam hal pesawat terbang, sehingga kami meninta bantuan KASAD untuk meminjam pesawat Casa dalam pelaksaan operasi,” papar Heru.

BPPT sendiri, lanjut Heru, mempunyai 4 pesawat CASA dan sebuah pesawat pyper chayenne yang siap untuk mengatasi setiap permintaan masyarakat akan TMC baik dalam mengatasi kekeringan atau kebakaran hutan.  Menurut Heru, armada pesawat yang dimiliki rasanya belum cukup, oleh karena itu BPPT dan TNI-AD bekerjasama.

“Hasilnya secara umum bagus, kami dalam melaksanakan tugas ini juga dibantu oleh tim  monitoring dan evaluasi yang bertugas untuk membantu dan memberi masukan dalam pelaksanaan operasi. Seperti pencarian data daerah yang rawan banjir, longsor, atau daerah  yang jarang hujan,” papar Heru.

Menanggapi hal tersebut, Komandan Puspenerbad Brigadir Jenderal TNI Afifudin mengatakan bahwa TNI selain melaksanakan operasi militer perang juga melaksanakan kegiatan militer selain perang, seperti dalam hal penanganan bencana alam yang semuanya dilakukan atas dasar pengabdian pada masyarakat dan negara.

“Sesuai permintaan pemerintah melalui BPPT untuk menanggulangi kebakaran hutan dan mengatasi kekeringan, maka kami pun siap meminjamkan pesawat maupun bantuan personil  untuk memperlancar operasi TMC,” ungkapnya.

Menurut Brigjen Afifudin, pihaknya sudah menyiapkan 2 unit pesawat CASA 212 yang sudah dimodifikasi untuk pelaksanaan operasi TMC. “Selama kami punya sarana dan BPPT membutuhkan kami akan selalu mendukung karena hal ini untuk kepentingan rakyat,” pungkasnya saat penutupan Operasi TMC di Lanud Husein Sastranegara, Bandung (21/12).

Adapun operasi TMC kali  ini bertujuan pemenuhan kebutuhan irigasi pada lahan kekeringan seluas 27.206 ha dan untuk realisasi tanam pada lahan pertanian di Daerah Irigasi Jatiluhur seluas 250.456 ha. Guna mengatasi defisit air di Waduk Kaskade Citarum tersebut, Kementerian PU bekerjasama dengan BPPT, didukung oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), TNI AD dan TNI AU melaksanakan kegiatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah DAS Citarum, Jawa Barat.


© BPPT