0

36 Tahun PTDI, bangun, jatuh, dan bangun lagi

Bandung (ANTARA News) - PT Dirgantara Indonesia (Persero), akrab disebut ringkas PTDI, adalah salah satu industri kedirgantaraan terkemuka Asia yang berpengalaman dan berkompetensi dalam rancang bangun, pengembangan, dan manufaktur pesawat terbang.

Agustus ini PTDI memasuki usia 36 tahun. Usia yang seharusnya membuat satu perusahaan sukses.

Namun karena sejumlah faktor, diantaranya krisis moneter 1997-2000, PTDI harus menjalani keadaan jatuh bangun. Bukan hal mudah mempertahankan keberadaan sebuah perusahaan, apalagi perusahaan kedirgantaraan.

PTDI resmi berdiri pada 23 Agustus 1976, namun aktivitas pembuatan pesawat terbang telah berlangsung setahun setelah Indonesia merdeka, ditandai dengan tdibentuknya Biro Rencana dan Konstruksi Pesawat pada Tentara Republik Indonesia (TRI) tahun 1946.

Semula berkedudukan di Madiun, aktivitas itu kemudiann dipusatkan di Bandung. Lalu, pada 1953, mendapat wadah baru bernama Seksi Percobaan. Empat tahun kemudian menjadi Sub-Depot Penyelidikan, Percobaan dan Pembuatan Pesawat Terbang.

Pada 1960, ditingkatkan menjadi Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP).  Lima tahuh setelah itu berubah menjadi Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang (KOPELAPIP).

Pada 1966 KOPELAPIP digabungkan dengan PN Industri Pesawat Terbang Berdikari menjadi Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR) dengan produk yang dihasilkan antara lain pesawat Sikumbang, Belalang 85/90, Kunang, Super Kunang, Gelatik / PZL-Wilga (lisensi dari Ceko–Polandia).

Tahun 1975, PT Pertamina membentuk Divisi Advanced Technology dan Teknologi Penerbangan (ATTP) untuk menyiapkan infrastruktur bagi industri kedirgantaraan Indonesia.

Berdasarkan Akte Notaris No.15 tanggal 24 April 1976, berdirilah PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang dipimpin Prof. Dr. Ing. B.J.Habibie dengan menggunakan aset gabungan LIPNUR dan ATTP, berupa dua hanggar, beberapa mesin konvensional dan sekitar 500 karyawan.

Program utamanya memproduksi Helikopter NB)-105 (lisensi MBB) dan NC212(lisensi CASA Spanyol).

Perusahaan ini resmi didirikan pada 23 Agustus 1976 oleh Presiden Republik Indonesia.

Tiga tahun kemudian, bersama-sama CASA Spanyol, perusahaan ini merancang pesawat baru CN235 yang kini dioperasikan banyak negara di dunia, termasuk jenis pesawat serba bisa tidak mengenal tua yang mampu berperan pada segala zaman seperti C-130 buatan Lockheed, Amerika Serikat.

Pada April 1986, melalui Keputusan Presiden (Kepres) no.15/1986 dan Rapat Umum Pemegang Saham, nama PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio diganti menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

Pada priode ini, IPTN secara mandiri telah berhasil membuat rancang bangun pesawat terbang N-250.

Didesak perubahan lingkungan eksternal, perusahaan mereorientasi bisnisnya dengan diantaranya mengubah nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Nama baru ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada 24 Agustus 2000.

Dengan visi perusahaan menjadi perusahaan kelas dunia dalam industri dirgantara berbasis teknologi tinggi dan mampu bersaing di pasar global mengandalkan keunggulan biaya, PTDI membangun bisnisnya dalam beberapa penggolongan pekerjaan, Aircraft Integration, Aerostructure, Aircraft Services, Teknologi dan Pengembangan,

 Pengakuan di tengah keprihatinan

Kemampuan dan keberhasilan PTDI dalam menguasai teknologi yang diterapkan dalam bidang desians, manufaktur, jaminan kualitas, dukungan produk, pemeliharaan dan overhaul pesawat terbang, membuat PTDI memperoleh berbagai sertifikasi pengakuan dari pihak otoritas , baik dalam negeri maupun luar negeri.

Penguasaan teknologi dan pengakuan dunia telah membuat peran PTDI dalam pembangunan nasional sangat terasa dengan diproduksi dan dipasarkannya produk-produk dan jasa pesawat terbang ke pasar global.  Ini menghasilkan devisa dan pajak bagi negara.

PTDI juga menghasilkan SDM kedirgantaraan profesional yang berdampak positif pada industri lainnya.

PTDI juga secara nyata telah memberi kontribusi pada kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

PTDI masih terus memproduksi pesawat CN235 sebagai produk unggulan, di samping NC212 dan helikopter (Superpuma dan Bell 412), dan membangun produk terbaru N-219 yang berkapasitas 19 orang penumpang yang dirancang untuk melayani kebutuhan penerbangan perintis.

Untuk meningkatkan prospek bisnisnya, PTDI bekerjasama dengan Airbus Military untuk memproduksi dan memasarkan C295 di Asia Pasifik.

Pesawat ini basisnya adalah CN-235 sehingga pengerjaannya tidak mmemerlukan upaya lebih.

amun menginjak umur 36 tahun, PTDI boleh disebut belum mampu berdiri tegak karena dibelik banyaknya persoalan.

Berawal dari krissis moneter yang menimpa Indonesia pada 1997,  dilanjutkan dengan Letter of Intent (LoI) pemerintah Indonesia dan IMF pada 1998, membuat Indonesia salah satunya tidak boleh lagi berdagang pesawat sehingga pemerintah tidak boleh lagi mengucurkan dana kepada PTDI yang saat itu bernama PT IPTN).

Padahal saat itu PTDI telah menerima order milyaran dolar AS untuk produksi pesawat N250.

Sejumlah teknologi dan peralatan sudah didatangkan, semua siap memproduksi N250 (pesawat hasil rancang bangun karyawan-karyawati PTDI), bahkan prototipe N250 juga sudah dibuat dua buah dan diterbangkan, siap jual serta tinggal menunggu proses sertifikasi saja.

PTDI juga telah merekrut karyawan begitu banyak sehingga total karyawan menjadi 17.000 karyawan. Ini total karyawan yang pantas untuk sebuah perusahaan dirgantara yang memang padat SDM. Sebagai perbandingan, Boeing memiliki personil sangat besar, 150.000 orang.

Namun kesepakatan dengan IMF itu menghancurkan mimpi. Proyek N250 batal, sementara perusahaan harus memikirkan cara menghidupi karyawan yang terlanjur direkrut itu.

Akibatnya manajemen PTDI menawarkaan pensiun atas permintaan sendiri (APS).

Priode 1999 - 2001, PTDI berusaha bangkit dengan mengembangkan unit-unit bisnis, agar perusahaan tetap menjalankan roda bisnisnya. Pada priode ini, PTDI sempat menikmati keuntungan usaha.

Namun kemudian kian besarnya demonstrasi membuat kinerja PTDI merosot drastis, dan citra pun terkikis.

Pada 2003, manajemen PTDI memutuskan mengambil upaya penyelamatan dengan merumahkan seluruh karyawan, kecuali sebagian kecil yang benar-benar dibutuhkan.

Beberapa bulan kemudian karyawan dipanggil untuk bekerja kembali namun melalui saringan ujian tes tulis dan tes kompetensi.

 Tahun 2004), sebanyak 6.561 karyawan di-PHK.

Berkurangnya karyawan, tidak membuat perusahaan menjadi efisien dan efektif. Hal tragis terjadi pada September 2007 ketika PTDI dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta. Namun Desember tahun itu juga, statud pailit itu dicabut. Akal sehat bangsa ini ternyata masih logis.

Pada 2008 - 2009, PTDI berusaha bangkit kembali. Penjualan senilai Rp 557 milyar pun diraup.

Hingga 2010, nilai penjualan PTDI meningkat kurang lebih Rp 1 trilyun. Tapi PTDI sejatinya masih merugi. Keuntungan yang didapat belum bisa menutupi pengeluaran.

Sampai akhir 2011, jikaa tidak didukung dana talangan pemerintah, PTDI diprediksi mengalami defisit arus kas senilai Rp 675 milyar akibat beberapa faktor seperti kesulitan likuiditas untuk membiayai pekerjaan yang sudah terkontrak dan tekanan beban operasional.

Itulah, serentetan masalah yang dialami PTDI dalam masa surut demi mempertahankan diri sebagai industri kebanggaan Indonesia tercinta ini.

 Bangun kembali

Hingar bingar PTDI terdengar sampai ke wilayah terpencil. Demontrasi eks karyawan PTDI untuk menjatuhkan perusahaan selalu menjadi headline suratkabar-suratkabar terkemuka.

Begitu juga kerasnya suara beberapa wakil rakyat yang menginginkan PTDI dibubarkan karena terus merugi.

Namun semua itu mampu dilalui PTDI dengan penuh sabar dan kerja keras. Semua usaha yang dapat menghasilkan duit telah dilakukan.

Hasilnya, PTDI bangkit kembali.  Masa sulit telah dilewati.

Pemerintah juga mulai serius melihat PTDI dengan menunjuk PT. PPA (Perusahaan Pengelola Aset) untuk merestrukturisasi dan merevitalisasi PTDI.

Sayap bisnis kembali mengepak untuk terbang membawa PTDI menjadi perusahaan yang sehat dan stabil.

Di balik gerakan bangun kembali ini, berdiri kokoh jajaran manajemen puncak, menengah dan bawah dengan idealisme tinggi membangun PTDI.

Sambil menunggu turunnya dana program restrukturisasi dan revitalisasin sekitar Rp2 trilyun  --tahap pertama Rp1 trilyun pada 2012 dan sisanya tahun 2013-- beberapa pekerjaan tuntas dikerjakan.

 Menunjukkan kemajuan

Pada periode ini PTDI diam-diam mencatat satu demi satu keberhasilan bisnis, diantaranya mengirimkan 2000 komponen Airbus A320/A321, pesanan empat unit pesawat intai maritime canggih CN235 Korean Coast Guard, mengirimkan tailboom MK II EC725 / EC225 ke EuroCopter dan kontrak kerjasama dengan Airbus untuk pembuatan sembilan unit pesawat transportasi militer C295 untuk TNI AU.

Catatan istimewa, sejak 2011 PTDI telah disertakan dalam pekerjaaan rancang bangun oleh Airbus Industries dalam proyek pesawat komersil berbadan lebar untuk masa depan, Airbus A350.

Juli lalu, PTDI bersinergi dengan PT Merpati Nusantara (Persero) untuk pembuatan 20 unit pesawat NC212-400.

Sebelumnya, PTDI menandatangani nota kesepahaman pembelian 20 unit N219 dengan PT NBA yang meski menghasilkan pesawat kelas kecil tetapi punya arti strategis, baik bagi kepentingan negara 17.000 pulau ini, maupun bagi PTDI.

Catatan istimewa lain dalah kesertaan PTDI sebagai pembuat tunggal komponen penting sayap A380, pesawat komersil bertingkat dua dan terbesar dunia sekarang ini.

Catatan keberhasilan ini berlanjut dengan dipesannya tujuh unit helikopter NBell 412 versi militer di mana dua unit sudah bertugas untuk TNI AD dan satu lainnya oleh TNI AL.

Juga, kerjasama jangka panjang untuk membangun pusat unggul bidang pertahanan dan dirgantara bersama NSI (Nusantara Secom Interface) dan Dessault Systems Perancis, kontrak pembelian tiga unit CN235 oleh TNI AL, CN235 MPA yang telah diserahterimakan kepada TNI AU dan penyerahan CN235-220 AT VIP ke Senegal Air Force, kerjasama dengan Iberia Maintenance Spanyol dalam bidang perawatan, pemeliharaan dan operasi serta pekerjaan-pekerjaan komponen pesanan Boeing untuk B777 and B787.

Last but not least, langkah besar sampai puluhan tahun ke depan ini berpijak pada fondasi-fondasi yang dibangun PTDI berupa program pesawat temput supercanggih masa depan yang sementara ini dinamai KF-X.  Pesawat ini berkelas jauh di atas F-16 bahkan Sukhoi-30.

Selain itu mengirimkan personil-personil dan kader ke Korea Selatan, mendirikan pusat rancang bangun KF-X di Bandung yang berhubungan instan dengan gedung pusat KF-X di Daejon, Korea Selatan.

Semoga ini menunjukkan PTDI mampu membuktikan sebagai salah satu industri strategis yang benar-benar andalan bangsa, khususnya dalam penyediaan alut sista dirgantara.

Semua upaya ini tercepai berkat perhatian dan dukungan penuh pemerintah, kerja keras dan dedikasi ikhlas seluruh jajaran PTDI.

Dirgahayu 36 tahun PTDI
(*) Departemen Komunikasi PTDI

(Antara)
0

Ini Cara RIM "Panen Untung" di Indonesia

JAKARTA – Tak dapat dipungkiri jika sejumlah pengguna BlackBerry mulai berpindah haluan untuk menggunakan smartphone besutan vendor lain. Meskipun demikian Research in Motion (RIM) masih bisa merasakan manisnya keuntungan, kali ini perusahaan yang masih mengunggulkan layanan pesan BlackBerry Messenger (BBM) nampaknya punya strategi khusus untuk mempertebal pundi-pundi uangnya di Tanah Air.

Beberapa waktu yang lalu, RIM meluncurkan smartphone yang menyasar kalangan menengah ke bawah, sebut saja BlackBerry Curve 9220 dan BlackBerry 9230. Ternyata kedua produk itu pun mendapat sambutan baik dipasaran.

“Bisa dikatakan ke depan kami akan memenuhi kebutuhan masyarakat agar dapat memiliki produk BlackBerry yang terjangkau, hal ini terlihat dari antusiasme masyarakat akan kehadiran BlackBerry Curve 9220 dan 9230 yang cukup diminati pasar,” tutur Director of Marketing RIM Indonesia Eka Anwar.

Melihat dari kebutuhan itu, RIM pun memperkenalkan program “BlackBerry Terjangkau” melalui program ini, RIM berharap seluruh masyarakat di Indonesia dapat menggunakan BlackBerry.

“Kami membuat program ini untuk menyediakan BlackBerry yang terjangkau kepada masyarakat Indonesia, sehingga seluruh masyarakat dapat menggunakan smartphone besutan kami,” imbuh Eka.

Program “BlackBerry Terjangkau” dapat dimanfaatkan oleh seluruh  kalangan, karena dalam program ini sistem pembayaran dapat menggunakan kartu kredit non-kredit dari Adira Kredit.

Bagi pelanggan yang mendapatkan persetujuan kredit dari Adira Kredit akan memperoleh produk yang diinginkannya melalui mitra resmi BlackBerry seperti Erafone, Okeshop, dan Selular Shop.

Selain itu, RIM juga telah bekerja sama dengan beberapa bank terkemuka di Indonesia seperti BCA dan BII yang memberikan cicilian nol persen jika mereka membeli produk BlackBerry menggunakan kartu kredit dari bank tersebut.

Sementara itu, strategi RIM untuk memperluas pemasaran BlackBerry tak putus hanya mengeluarkan BlackBerry Terjangkangkau. Seperti yang diketahui banyak orang beralih ke smartphone besutan vendor lain karena fitur yang ditawarkan RIM tidak variatif. Menyadari hal itu, RIM pun terus mengembangkan fitur-fiturnya dengan memperbanyak jumlah aplikasi yang terdapat di platform BlackBerry App.

Untuk meningkatkan gairah para developer untuk membuat aplikasi di platform-nya, RIM merangkul para developer lokal untuk membuat aplikasi di perangkat RIM. Baru-baru ini perusahaan yang bermarkas di Kanada tersebut mengadakan “BlackBerry Dev 10 Jam World Tour”, dalam acara tersebut RIM memperkenalkan sebuah sistem teranyar kepada para developer dan membuka pintu bagi mereka untuk membesut berbagai jenis aplikasi untuk perangkat BlackBerry masa depan.

“Kami saat ini fokus merangkul para developer lokal untuk mengajak mereka membuat aplikasi di platform kami. Bahkan baru-baru ini kami mengundang sejumlah developer untuk hadir dan mengenal sistem terbaru besutan kami, sehingga pada kemudian hari mereka dapat membuat aplikasi di perangkat yang menjalankan sistem operasi BlackBerry 10,” kata Eka.

Menurut data RIM, saat ini terdapat 99.500 aplikasi di BlackBerry App World, dengan jumlah unduhan perbulan mencapai 177 juta. Sampai Januari 2012 RIM mencatatkan  2 miliar unduhan. Kemudian RIM menjanjikan USD 10 ribu kepada para developer yang dapat menghasilkan aplikasi dengan kategori “good application”.
(fmh)

(Okezone)
0

LIPI Masuk 100 Lembaga Riset Terbaik Dunia

JOHANNESBURG, KOMPAS.com - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) masuk dalam daftar 100 besar lembaga riset terbaik versi Webometrics. LIPI masuk di urutan 99 di antara 7532 lembaga riset lain yang ada di dunia.

Peringkat yang diraih LIPI adalah hasil pemeringkatan Webometrics yang dipublikasikan pada bulan Juli 2012 ini. Situs tersebut memublikasikan pemeringkatan dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Januari dan Juli.

Pemeringkatan Webometrics disusun berdasarkan 4 kategori penilaian, yakni Size, Visibility, Rich Files serta Scholar.

Kategori Size, berbobot 10 persen, menilai berdasarkan jumlah laman yang bisa diakses lewat search engine. Visibilitas melihat tautan ke situs lembaga riset tersebut (50 persen). Rich Files dilihat dari file tipe pdf, doc, ppt dan ps yang bisa diakses (10 persen). Scholar dilihat dari paper yang terindeks di Google Scholar, berbobot 30 persen.

Berdasarkan pemeringkatan tersebut, LIPI ternyata juga menjadi satu-satunya lembaga riset di Asia Tenggara yang masuk daftar 100 besar lembaga riset versi Webometrics.

LIPI mengalahkan lembaga riset Malaysia dan Singapura yang mungkin memiliki dana riset lebih besar. Agency for Science, Technology and Research Singapore berada di urutan 228. Di Asia sendiri, lembaga riset negara yang masuk 100 besar antara lain Jepang dan India.

Pemeringkatan Webometrics menunjukkan bahwa lembaga riset Amerika serikat masih mendominasi. Urutan pertama ditempati national Insitute of Health sementara peringkat kedua adalah National Aeronautics and Space Administration (NASA).

Selain LIPI, lembaga yang juga masuk pemeringakatan Webometrics adalah badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian, Kementerian Pertanian, yang berada pada urutan nomor 290.

Webometrics menyusun pemeringkatan ini dengan tujuan mempromosikan publikasi riset lewat internet. Dengan cara itu, pengetahuan bisa diakses lebih banyak orang, di-review lebih banyak orang dan akan meningkatkan kualitas publikasi lembaga riset itu sendiri. Publikasi di internet juga lebih murah.

Webometrics adalah inisiatif Cybermetrics Lab, kelompok riset milik Consejo Superior

(Kompas)
0

Mobil Esemka Akhirnya Lulus Uji Emisi

MOBIL Esemka buatan para pelajar SMK 2 Surakarta dinyatakan lolos uji emisi oleh Balai Thermodinamika Motor dan Propulis (BTMP) di Serpong, Tangerang. "Mobil Esemka lolos uji emisi. Tapi dengan catatan harus menurunkan berat mobil dari 2,4 ton menjadi 1,2 ton," kata Wakil Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, (Rudy) di Solo, Kamis.

Ia mengatakan, untuk menurunkan berat mobil Esemka tersebut tidak masalah dan ini bisa dilakukan dengan baik. "Body mobil nantinya akan dikurangi dengan bahan lain yang lebih ringan. Namun demikian juga tidak akan mengurangi kenyamanan dan keamanan mobil," kata dia.

Dengan lolosnya uji emisi, dalam waktu dekat ini Mobil esemka itu akan di bawa pulang ke Solo Technopark (STP). Selanjutnya, bersama seluruh mobil buatan para pelajar di Jawa akan di kumpulkan di Solo untuk dikirab keliling kota pada, 16 Agustus. "Ini sekaligus untuk memeriahkan Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia," kata Rudy.

Mobil Esemka buatan para pelajar SMK ini nantinya juga akan digunakan sebagai mobil dinas Wali Kota Surakarta dan Wakil Wali Kota Surakarta, yang diharapkan sudah bisa diluncurkan 17 Agustus 2012, sekaligus untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Antara

(Jurnas)
0

SBY: Konektifitas Asia 5 Tahun Lagi

http://www.beritasatu.com/media/images//medium/29062012114849.jpg
Ilustrasi wisatawan di bandara
Sebelum konektivitas Asia terbangun, langkah pertama yang perlu disiapkan Indonesia adalah mempersiapkan ASEAN Economic Community.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan, konektivitas di kawasan ASEAN, Asia Timur dan Asia Tengah diharapkan terealisasi dalam 5-10 tahun mendatang.

"5-10 tahun mendatang konektivitas tersebut sudah benar-benar terbangun," kata SBY saat memberikan sambutan saat menghadiri acara pemancangan tiang pertama (groundbreaking) pengembangan Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, hari ini.

Dia mengatakan, sebelum konektivitas Asia terbangun, langkah pertama yang perlu disiapkan Indonesia adalah mempersiapkan ASEAN Economic Community pada 2015 mendatang.

Dalam konsep ini, ekonomi negara-negara kawasan terintegrasi satu dengan yang lainnya. "Hal ini tentu mendorong daya saing yang tinggi bagi setiap negara. Oleh karena itu, Indonesia juga harus menyiapkan diri," kata dia.

Untuk mengantisipasi hal itu, Presiden menyatakan, pemerintah mengembangkan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta menjadi sebuah kawasan Aerotropolis. "Sebelum membangun konektivitas tersebut ke negara-negara lain, konektivitas domestik harus dipastikan terbangun dengan baik," kaat SBY.

Dengan sarana perhubungan udara yang memadai, SBY menambahkan, dapat membuka celah bagi dunia bisnis dan investasi. Dempak lebih lanjut, akan tercipta akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan dukungan infrastruktur.

”Bisa dengan transportasi darat, laut dan udara. Ini peluang besar. Yang dilakukan oleh PT. Angkasa Pura II menjadi bagian untuk meningkatkan konektivitas,” kata SBY.

SBY mengatakan, saat ini Indonesia menduduki urutan 15 ekonomi dunia dengan perolehan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) US$ 1 triliun. Dengan fundamental ekonomi yang kokoh, permintaan kebutuhan sarana infrastruktur makin meningkat, termasuk jasa penerbangan. "Apalagi kelas menengah Indonesia memiliki pertumbuhan terbesar di Asia," kata dia.

Usai memberikan sambutan, SBY membunyikan sirene sebagai tanda diresmikannya pembangunan pengembangan Bandara Soekarno-Hatta di Terminal 3.

SBY juga melakukan peninjauan maket yang didampingi oleh Menteri Perhubungan EE. Mangindaan, Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Tri Sunoko. Turut hadir dalam acara groundbreaking ini Wakil Presiden Boediono, jajaran menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, Gubernur Banten Ratu Atut Choisiyah dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

 Bandara Soekarno Hatta Dipermak Habis-Habisan

http://www.beritasatu.com/media/images//medium/21102011204409.jpgPegawai Angkasa Pura sedang merawat tanaman di Bandara Soekarno Hatta

Semenjak turunnya persetujuan tersebut, kami terus bekerja secara marathon sambil terus mengupayakan untuk mempertahankan kualitas pelayanan di Bandara Soekarno-Hatta

Rencana induk pengembangan Bandara Soekarno-Hatta, yang diselesaikan dalam waktu dua tahun, memfokuskan pada pengembangan landasan, peningkatan kapasitas, dan pembangunan kawasan komersil.

Sebagaimana diketahui, grand design atau rencana induk baru Bandara Soekarno-Hatta telah mendapatkan persetujuan pemerintah dalam rapat yang dipimpin Wakil Presiden Boediono pada tanggal 24 Oktober 2010.

Pada saat itu, Wapres Boediono juga menegaskan bahwa program revitalisasi Bandara Soekarno-Hatta ditetapkan sebagai prioritas nasional yang harus didukung oleh semua pihak. Berbekal persetujuan tersebut, sebagai upaya tindak lanjut, PT Angkasa Pura II langsung membuat desain teknis rinci atau detail engineering design (DED).

”Semenjak turunnya persetujuan tersebut, kami terus bekerja secara marathon sambil terus mengupayakan untuk mempertahankan kualitas pelayanan di Bandara Soekarno-Hatta. Hanya dalam 2 tahun, rancangannya bisa selesai dan groundbreaking bisa dilakukan hari ini. Bila dibandingkan sejumlah bandara sekelas di beberapa negara yang pernah kami datangi untuk studi banding, ada percepatan atau lompatan, karena mereka umumnya mendesain hingga 4 tahun," ungkap Tri Sunoko, direktur utama PT Angkasa Pura II, hari ini.

Dalam pengembangan Bandara Soekarno-Hatta, untuk tahap awal ini akan  dimulai pembangunan peningkatan kapasitas Terminal 3 dari saat ini 4 juta penumpang menjadi 25 juta penumpang yang didahului dengan pembangunan apron.

Berkaitan dengan grand design Bandara Soekarno-Hatta, terdapat lima agenda besar yang akan menjadi fokus PT Angkasa Pura II dalam melakukan tahapan pengembangan. Fokus pertama adalah optimalisasi runway untuk meningkatkan kapasitas pergerakan pesawat pada landasan pacu 1 dan 2.

Selanjutnya, fokus kedua adalah melakukan pengembangan Terminal 3 serta merevitalisasi Terminal 1 dan 2 untuk menambah kapasitas pergerakan  penumpang. Fokus ketiga adalah melakukan pembangunan terminal kargo baru  (Cargo Village), dan fokus keempat adalah melakukan pengembangan fasilitas penunjang (aksesibilitas dan fasilitas lain seperti area bisnis dan komersial).

Kemudian, fokus yang kelima adalah membangun integrated building, yaitu  bangunan penghubung antara T1 dan T2 yang multifungsi dan berkonsep one  stop service.

Integrated building tidak hanya sekadar menjadi bangunan  penghubung, tetapi merupakan bangunan yang sarat dengan berbagai macam  fasilitas pelayanan untuk pengguna jasa. Sejumlah fasilitas yang berada  dalam bangunan tersebut antara lain stasiun kereta api, moda transportasi antar-terminal tak berawak (people mover system), terminal bus, mal, hotel, area parkir, dan lain sebagainya.

Terkait optimalisasi landasan pacu, Tri Sunoko menambahkan, upaya yang  dilakukan adalah melakukan rekonfigurasi runway 1 dan 2 dengan menambah  sejumlah taxi way serta memperluas kapasitas area parkir pesawat (apron)  dari 125 pesawat menjadi 174 pesawat. Sejalan dengan itu dilakukan pula  program redistribusi slot time maskapai agar tidak menumpuk pada jam-jam  tertentu, yang dibarengi dengan penambahan jam operasi hingga tengah  malam pada sejumlah bandara tujuan.

Saat ini, pergerakan pesawat di Soekarno-Hatta telah mencapai rata-rata  sebanyak 52 pergerakan per jam. Dengan mengoptimalisasikan kedua runway  yang ada, kapasitas pergerakan pesawat dapat ditingkatkan hingga 62 pergerakan per jam. Optimalisasi landasan pacu ini adalah sebagai upaya  mencapai ketercukupan daya tampung bandara sebesar 62 juta penumpang per  tahun yang ditargetkan dapat tercapai pada 2014.

Kemudian, setelah kapasitas ultimate 62 juta penumpang per tahun telah  tercapai, PT Angkasa Pura II juga akan merencanakan pembangunan landasan  pacu ketiga berikut terminal keempat yang dialokasikan di sisi utara  bandara. Pada awalnya, pembangunan runway ketiga dan terminal keempat  adalah sebuah opsi. Tetapi dengan melihat tren pertumbuhan yang terjadi  saat ini, maka pembangunan runway ketiga dan terminal keempat menjadi  sebuah keharusan.

”Dengan tambahan runway dan terminal yang baru, daya tampung Bandara  Soekarno-Hatta akan memiliki kemampuan untuk melayani hingga 87 juta  pergerakan penumpang per tahun dan 234 pergerakan pesawat per jam. Upaya-upaya awal telah kami lakukan, antara lain melakukan pembebasan lahan secara bertahap sesuai kebutuhan hingga mencapai 830 hektare,” ungkap Tri Sunoko.

Pengembangan Terminal 3 dari kapasitas empat juta pergerakan menjadi 25  juta pergerakan per tahun akan disusul dengan revitalisasi Terminal 1 dan Terminal 2. Terminal 1 yang saat ini berkapasitas sembilan juta pergerakan per tahun, akan dikembangkan hingga 18 juta pergerakan per tahun. Sedangkan kapasitas Terminal 2 akan dikembangkan dari sembilan juta pergerakan menjadi 19 juta pergerakan per tahun.

”Pengembangan Terminal 3 harus dilakukan lebih dulu agar operasional  penerbangan yang ada sekarang tidak terganggu. Karena nantinya sebelum T1 dan T2 dikembangkan, seluruh kegiatan operasionalnya akan dialihkan ke Terminal 3,” jelas Tri Sunoko.

(BeritaSatu)

 Bandara Soeta Bakal Punya Terminal Baru

"Upaya-upaya awal telah kami lakukan, antara lain pembebasan lahan."

VIVAnews - PT Angkasa Pura II selaku pengelola Bandar Udara Soekarno-Hatta berencana membangun landasan (runway) ketiga dan terminal keempat untuk mengimbangi pertumbuhan penumpang yang terus tumbuh setiap tahun.

Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Tri S Sunoko, menjelaskan, dengan tambahan runway dan terminal yang baru, daya tampung bandara Soekarno-Hatta akan memiliki kemampuan untuk melayani hingga 87 juta pergerakan penumpang per tahun dan 234 pergerakan pesawat setiap jamnya.

"Upaya-upaya awal telah kami lakukan, antara lain pembebasan lahan secara bertahap sesuai kebutuhan, sehingga mencapai 830 hektare," kata Tri di Cengkareng, Kamis 2 Agustus 2012.

Sementara itu, Direktur Bandara Kementerian Perhubungan, Bambang Cahyono, menuturkan, ada dua opsi dalam membangun landasan baru. Opsi pertama adalah close parallel runways, yang hanya akan membutuhkan lahan seluas 140 hektare. Untuk pembebasan lahannya, menurut dia, dibutuhkan dana hingga Rp 580 miliar.

Opsi kedua adalah membuat independent runway, yang membutuhkan lahan hingga 830 hektare, dan akan merelokasi 9.300 rumah. Dana yang dibutuhkan untuk relokasi hingga Rp 4,6 triliun.

"Dua opsi sedang dikaji rinci oleh AP II. Jika sampai 2015 pembebasan lahan sulit dilakukan, kami akan membangun bandara baru di timur Jakarta," katanya.

Kebutuhan untuk membangun bandara baru di sekitar Jakarta, menurut Bambang, sangat diperlukan, mengingat pada 2020 pergerakan penumpang akan mencapai 70 juta orang.

Sementara itu, untuk pengembangan Bandara Soekarno-Hatta, AP II akan mengeluarkan investasi hingga Rp 7,6 triliun.

Menurut Wakil Direktur AP II, Rinaldo J Aziz, perseroan mengalokasikan dana sebesar Rp 1,7 triliun untuk meningkatkan daya tampung terminal I Bandara Soekarno-Hatta dari 9 juta pergerakan menjadi 18 juta penumpang per tahun.

""Untuk revitalisasi Terminal 1C sudah selesai, sedangkan Terminal 1B sudah hampir selesai, tinggal menyediakan kursi. Kemudian, dilanjutkan untuk pengembangan terminal IA," ujarnya.

Untuk terminal II, dia melanjutkan, AP II mengalokasikan investasi hingga Rp 1,1 triliun guna menambah kapasitas penumpang dari sembilan juta orang per tahun menjadi 20 juta orang per tahun.

Sedangkan untuk Terminal III, AP II akan menggelontorkan dana sebesar Rp 4,8 triliun guna meningkatkan kapasitas dari empat juta penumpang per tahun menjadi 25 juta penumpang per tahun.

Untuk sumber dananya, Rinaldo mengungkapkan, pengembangan terminal III akan menggunakan kas internal. Selanjutnya untuk terminal I dan II, akan menggunakan sumber dana pihak ketiga.

"Kami masih mengkaji, karena perbankan menawarkan diri untuk memberikan pinjaman. Perusahaan sekuritas juga menawarkan diri untuk memfasilitasi penerbitan obligasi," ungkapnya. (art)

© VIVA.co.id
0

Monorel Serpong-Bandara Soeta 35 kilometer

Ilustrasi Monorel
Tangerang (ANTARA News) - Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Tangerang, Banten, Dendy Priyandana mengatakan bila panjang kereta api layang (Monorel) mulai dari Serpong, hingga Bandara Soekarno Hatta yakni 35 kilometer.

"Saat ini, proyek pembangunan monorel Serpong - Bandara sudah selesai sampai tahap pra Feasibility Study," kata Dendy Priyandana di Tangerang, Rabu.

Ia mengatakan setelah proses Pra Feasibility Study selesai, maka akan dilanjutkan dalam tahap Detail Engineering Design (DED) termasuk mengenai pembuatan setiap shelter.

Lalu, bila tidak ada hambatan dalam pembebasan lahan di Kota Tangerang Selatan dan Kota Tangerang, maka akan dilakukan ground breaking atau pelaksanaan pemancangan pertama pada awal Mei 2013.

Adapun pemancangan pertama akan dilakukan dari dekat Puspiptek melewati Muncul hingga ke Rawa Buntu.

"Jika seluruh rencana tersebut berjalan lancar maka pembuatan rangka akan diselesaikan pada tahun 2014," katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Banten, Husni Hasan sebelumnya pada hari Kamis (26/7) ditemui di Bandara Soekarno Hatta menuturkan pembangunan kereta api layang (Monorel) mulai dari Serpong, hingga Bandara Soekarno Hatta, menelan anggaran sebesar Rp6,5 triliun atau 700 juta dolar AS.

Dikatakan Husni, dalam pembangunan kereta api layang (Monorel) mulai dari Serpong hingga Bandara Soekarno Hatta, akan melibatkan PT INKA dan tujuh pengembang perumahan serta Banten Global Development sebagai inisiator.

Sementara itu, pembangunan monorel Serpong - Bandara Soekarno Hatta saat ini sudah memasuki tahap Feasibility Study dan ditargetkan selesai pada akhir tahun 2012.

Sedangkan untuk pengerjaan pembangunan konstruksi monorel, akan dilaksanakan pada awal tahun 2013. Sehingga, pada tahun 2014, rangka dari monorel sudah terbentuk.

Monorel Serpong hingga Bandara Soekarno Hatta akan melalui 14 shelter di dua wilayah yakni Kota Tangerang dan Tangerang Selatan.

Shelter tersebut yakni Serpong - Griya Loka-St BSD Junction-St WTC-St Alam Sutera-St Gading Serpong-St Serpong Times Square- St Kota Modern-St Tangerang- St Mekar Wangi-St Garuda-St Terminal I-St Terminal II-Stasiun Terminal III, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. (AIF/R010)

(Antara)
0

Pertamina Kembangkan Infrastruktur BBG

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/01/04/1706074p.jpgIlustrasi. Antrean yang terjadi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di jalan Pemuda, Jakarta Timur (8/5/2011).(Foto: KONTAN/MURADI)

JAKARTA, KOMPAS.com --- PT Pertamina (Persero) akan mengembangkan infrastruktur penyediaan bahan bakar gas sebagai bagian dari program konversi bahan bakar minyak ke BBG.Untuk itu pemerintah akan menggulirkan dana sekitar Rp 2,1 triliun yang bersumber dari APBN.Menurut Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina Ali Mundakir, Rabu (1/8), di Jakarta, Pertamina siap menyukseskan program konversi BBM ke gas alam pada transportasi jalan yang akan mulai digencarkan pada tahun ini.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2012 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga BBG Untuk Transportasi Jalan, pemerintah telah menugaskan Pertamina untuk menyediakan dan mendistribusikan BBG jenis CNG atau compressed natural gas.

Dengan ketetapan ini, Pertamina siap menyukseskan program konversi BBM ke BBG untuk transportasi jalan yang akan digencarkan mulai tahun ini.

"Sejalan dengan Perpres, program konversi BBM ke BBG untuk transportasi jalan harus mulai berjalan tahun ini. Untuk itu, kami mempersiapkannya sebaik mungkin dengan penyediaan infrastruktur yang diperlukan untuk memastikan program tersebut berjalan dengan baik," kata Ali Mundakir.

Pertamina mulai tahun ini juga akan membangun sebanyak 5 mother station, 9 stasiun cabang (daughter station), 14 SPBG online dengan pipa gas berikut revitalisasi 6 SPBG yang sudah ada, serta 5 mobile refueling station, dan infrastruktur lain.

Pemerintah akan menggulirkan dana sekitar Rp2,1 triliun yang bersumber dari APBN untuk pembangunan infrastruktur tersebut.

"Sampai akhir tahun, Pertamina akan menyelesaikan pembangunan 4 SPBG online baik dari dana sendiri maupun APBN, berlokasi di DKI Jakarta," ujarnya.

Selain itu, PT Pertamina Gas (Pertagas, anak perusahaan Pertamina) akan menuntaskan satu proyek percontohakn infrastruktur (mother daughter system) di Bitung, Bekasi.

Adapun komitmen pasokan gas yang dibutuhkan untuk program ini telah diperoleh dari lapangan-lapangan Pertamina Hulu Energi, Pertamina EP dan pemasok lainnya.

Pada tahap awal, program ini akan diterapkan untuk angkutan umum, di mana pemerintah telah menganggarkan dana untuk pengadaan alat konverter bagi kendaraan sasaran program konversi tersebut.

(Kompas)
0

PLN Investasikan Rp 4,9 T Bangun PLTA di Papua

http://www.jurnas.com/fototmp/detail/52815-67846-3268818-0-313e129c5a9a2292382735b332444ce0.jpg?1343827842PERUSAHAAN Listrik Negara (PLN) mengalokasikan investasi sekitar Rp4,9 triliun untuk membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Baliem 2, di Wamena, Papua yang untuk tahap pertama berkapasitas 50 megawatt (MW). Pengerjaannya terdiri dari dua tahap, yaitu pembangunan akses jalan (access road) dan pembangunan utama (civil work, metalwork, electric mechanical work, transmission lines and sub stations).

"Total dana investasi yang dibutuhkan untuk kedua pekerjaan itu mencapai hampir Rp4,9 triliun yang menggunakan pembiayaan anggaran PLN atau APLN," kata Direktur Utama (Dirut) PT PLN (Persero) Nur Pramudji, di Papua, Rabu (1/8).

Dalam keterangan resmi PLN yang diterima Jurnal Nasional dijelaskan, awal pembangunan infrastruktur jalan menuju proyek PLTA Baliem 2 memanfaatkan jalan yang ada (existing road) sepanjang 20 km dengan menyusuri daerah lereng pegunungan. Selain membangun jalan akses, PLN juga akan membangun jaringan transmisi 70 kV sepanjang kurang lebih 35 kilometer (km) yang akan mengalirkan listrik dari PLTA Baliem ke Gardu Induk Wamena.

Selanjutnya ini akan disalurkan kepada pelanggan PLN yang ada di Wamena, Kurulu dan daerah sekitarnya. Listrik yang dihasilkanoleh PLTA Baliem 2 ini juga akan dapat dinikmati masyarakat di beberapa daerah sekitar PLTA.

Untuk mengalirkan listrik dari PLTA Baliem ke tujuh kabupaten lainnya, PLN akan membangun jaringan listrik 20 kV pula. Dengan kehadiran PLTM Walesi yang saat ini beroperasi untuk memasok listrik pada sistem kelistrikan Wamena dan nantinya PLTA Baliem 2 pada 2017.

"Ini merupakan upaya dan kerja keras PLN dalam melistriki Papua, khususnya Wamena dan kota-kota sekitarnya dengan sepenuhnya memanfaatkan potensi sumber daya air," imbuh Nur Pramudji.

Pembangunan PLTA ini merupakan upaya PLN untuk mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan BBM sebagai sumber penghasil listrik. "Dengan PLTA Baliem 2 ini tentunya rasioelektrifikasi akan terus tumbuh, masyarakat dapat memanfaatkan listrik untuk kegiatan perekonomian, pemerintah daerah dapat terbantu dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi daerah," ujar Nur Pamudji.

(Jurnas)