0

Pakar ITS Temukan Banyak Bahan Baku Semen dalam Lumpur Lapindo

Lumpur Lapindo

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA - Pakar fisika zat mampat dari ITS Surabaya Prof Dr Darminto MSc menemukan kandungan semen hingga 59 persen dalam lumpur di kawasan eksplorasi PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

"Kita memiliki zat mampat yang belum dimanfaatkan secara optimal atau hanya dimanfaatkan sebagai bahan mentah. Padahal, bila dioptimalkan akan bernilai jual tinggi, seperti pasir besi, batu kapur atau silika, bahkan lumpur di Sidoarjo," katanya di Surabaya, Senin.

Menjelang pengukuhan dirinya sebagai guru besar ke-101 ITS pada Rabu (13/7) mendatang, guru besar dari Jurusan Fisika F-MIPA ITS itu mengatakan, pihaknya telah menggandeng Balai Teknologi Permukiman PU Jatim untuk meneliti lumpur di Sidoarjo itu.
"Hasilnya, lumpur Lapindo, terutama yang sudah kering, ternyata mengandung unsur semen 59 persen dan saat dicoba pada industri paving block justru memiliki kekuatan dua kali lipat semen," katanya.

Namun, kata alumnus ITB Bandung itu, hasil penelitian itu belum ditindaklanjuti dalam skala industri. "Yang jelas, kandungan semen pada lumpur Lapindo cukup tinggi yakni 59 persen lumpur dicampur bahan baku bangunan akan setara dengan 61 persen semen dicampur bahan baku bangunan," katanya.

Perbandingan yang setara itu akan membutuhkan biaya yang jauh lebih murah bila menggunakan semen. "Jadi, paving block yang biasanya menggunakan semen, pasir dan kerikil, nantinya semen dapat diganti lumpur," katanya.

Saat ini, pihaknya juga sedang melakukan penelitian skala laboratorium untuk pasir di Sidoarjo yang diduga memiliki kandungan semen yang cukup tinggi juga.

Menurut ayah dari dua anak yang juga guru besar ketujuh di FMIPA ITS itu, zat mampat (cairan yang padat) lainnya berupa pasir besi, batu kapur, atau silika juga dapat dioptimalkan seperti halnya lumpur Lapindo itu. "Misalnya, pasir hitam yang mengandung besi itu bila dijual untuk bahan bangunan seperti apa adanya akan bernilai jual sangat murah, tapi bila diolah dengan teknologi sederhana akan bernilai jual tinggi," katanya.

Pasir besi, katanya, dapat dipisahkan menjadi magnit dan bukan magnit dengan alat sederhana, kemudian magnit yang dihasilkan dijual ke indutsri alat sensor, "load speaker", dan sebagainya.
"Kalau berupa pasir, maka satu truk akan berharga Rp40 ribu, tapi kalau magnit yang ada dalam jumlah satu sak bisa berharga Rp35 ribu," katanya.

Untuk memisahkan magnit dari pasir besi, lanjut dia, pihaknya sudah merancang alat sederhana yang dapat dilakukan masyarakat awam, termasuk penambang pasir di sungai.


Republika
0

Indonesia Perlu Tingkatkan Penguasaan Sains dan Penelitian

Peneliti Nanoteknologi Bidang Farmasi Kosmetik BPPT, Dr Etik Mardlyiati, M.Eng. TEMPO/Seto Wardhana

TEMPO Interaktif, Jakarta - Utusan Khusus Sains Amerika Serikat, Bruce Alberts, mengatakan Indonesia masih lemah dalam penguasaan sains dan teknologi. Hal itu membuat pembangunan ekonomi Indonesia terus dibayang-bayangi permasalahan pelik, seperti perubahan iklim, pandemi, ketahanan pangan, dan energi.

Indonesia harus memajukan pembangunan kapasitas sumber daya manusia jika ingin mempertahankan kemajuan. "Ekonomi semakin baik sehingga menjadi saat yang tepat bagi Indonesia memajukan pendidikan sains dan penelitian," kata Alberts kepada Tempo pada Jumat, 9 Juli 2011.

Pembangunan ilmu dasar dan penelitian memberi kontribusi signifikan dalam menyelesaikan masalah pembangunan. Negara yang bergerak ke arah kemajuan akan menghadapi masalah kompleks sehingga membutuhkan sumber daya manusia yang pintar menemukan solusi. "Siswa dengan pengetahuan sains baik bisa menyelesaikan masalah dengan cara-cara baru," ujar dia.

Pada saat bersamaan, Indonesia juga membutuhkan sistem penelitian yang efektif bagi peneliti. Ia menganjurkan lembaga penelitian menerapkan sistem pengucuran dana riset berbasis manfaat. Dengan demikian, terjadi kompetisi yang membuat peneliti terpacu membuat penelitian lebih baik dibandingkan rekan peneliti lainnya. Oleh karena itu, dibutuhkan panel independen yang menguji dan memilih proposal penelitian.

Infrastruktur penelitian juga harus ditingkatkan. Ia prihatin terhadap fasilitas penelitian di perguruan tinggi ternama yang sangat terbatas dan ketinggalan zaman. Hal ini berkaitan dengan porsi dana penelitian di Indonesia yang baru sebesar 0,06 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Porsi ini jauh dari angka ideal yang banyak dicapai negara-negara dengan pembangunan berkelanjutan sebesar 1,5 persen. Indonesia bahkan ketinggalan dibanding negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi lainnya, seperti Cina, yang mencadangkan dana penelitian hingga 3 persen PDB.

Amerika Serikat sendiri mengungkapkan komitmen pembangunan sistem penelitian berbasis manfaat bagi peneliti ilmu dasar dan rekayasa. Program bernama Partnerships for Enhanced Engagement in Research (PEER) mendapat alokasi dana sebesar US$ 7 juta dan digunakan untuk pengembangan penelitian energi alternatif, perubahan iklim, penyakit berbahaya, ilmu kelautan, dan genetika padi.

Indonesia juga bisa mendorong perusahaan-perusahaan internasional mendirikan pusat penelitian tingkat tinggi di Indonesia. "Membuka pusat penelitian berarti penyediaan lapangan kerja baru bagi peneliti sains," katanya.[ANTON WILLIAM]


TEMPOInteraktif
0

Komunitas-komunitas Lokal Dorong Industri Digital

WWW.ID-BYTE.COM

KOMPAS.com — Setahun terakhir ini Jakarta dipenuhi dengan ajang kumpul-kumpul para pelaku industri digital mulai dari yang santai sampai yang serius. Mulai dari sekadar diskusi ringan, sampai yang membuahkan gerakan sosial yang nyata.

Meskipun para pelaku industri digital ini lebih banyak berinteraksi secara online, kebutuhan untuk bertemu dan bertatap muka secara langsung masih tetap menjadi utama. Biarpun aktif di berbagai forum, komentar di status Facebook atau mention di Twitter berderet, tapi tetap terasa ada yang kurang sehingga keakraban ini harus dilakukan juga di dunia nyata.

Selain karena alasan mendasar bahwa manusia merupakan makhluk sosial, alasan lainnya adalah sosialisasi melalui media digital memang terkadang banyak kurangnya. Status yang terbatas 140 karakter tidaklah cukup menyatakan pendapat atau menyampaikan emosi secara menyeluruh. Hal inilah yang mendorong kebutuhan untuk melakukan "kopi darat". Ketika itu pula cikal-bakal munculnya banyak komunitas berbasis online terbentuk.

Salah satunya adalah komunitas FreSh (Freedom of Sharing). Pitra Satvika, salah satu inisiatornya, menceritakan bagaimana komunitas ini terbentuk dari sebuah obrolan yang ingin mencari wadah untuk berbagi mengenai online dan kreativitas. Pertemuan pertama kali pun hanya dihadiri sekitar dua puluh orang. Tetapi, ketika pertemuan itu mendapat tanggapan positif, para inisiatornya bersemangat meneruskan program ini secara konsisten. Hingga kemudian, forum ini berkembang di kota-kota lain yaitu di Surabaya dan Semarang.

Tidak cuma di Jakarta, fenomena "kopdar" ini juga berlanjut ke kota-kota lain di Indonesia. Di Bandung, beberapa programmer yang mengawali diskusi mereka di Twitter sepakat untuk bertemu dan berbagi pengalaman mereka pertama kali pada 18 Februari 2010. Di bawah nama Forum Web Anak Bandung (Fowab), Yohan Totting, Reza Prabowo, Anggi Khrisna, bersama beberapa rekan lainnya menjadikan ajang kumpul-kumpul ini sebagai wadah bagi sesama rekan-rekan yang berkecimpung di dunia digital untuk saling berkolaborasi dan berbagi.

Bukan hanya sekadar diskusi, para programmer ini pun berani memberikan solusi nyata untuk membantu kemajuan komunitas mereka, salah satunya dengan menyediakan ruang publik kreatif yang dinamai Hackerspace Bandung. Hackerspace bertujuan berbagi dan memberikan pengarahan sejak dini kepada anak muda di bangku sekolah yang ingin terjun ke dunia kreatif, membuka perspektif mereka akan potensi industri digital.

Selain Jakarta dan Bandung, tentu saja kita tidak bisa melupakan Yogyakarta, salah satu penghasil talenta-talenta terbaik di industri digital Tanah Air. Teman-teman di sana juga memiliki wadah yang tidak kalah solidnya. Diawali dengan inisiatif beberapa developer, komunitas bernama Bancakan 2.0 berdiri pada 24 Februari 2010. Meskipun terdiri dari developer, mereka tidak melulu hanya membahas soal teknis, tetapi juga sisi bisnis dan pemasaran; bagaimana menghasilkan karya yang baik, dan tentunya bagaimana mengemasnya hingga menjadi produk layak jual.

Komunitas yang digagas oleh Fachry Bafadal, Fahmi Adib, Kristiono Setyadi, dan Faiq Fardian ini tidak hanya berkumpul untuk berdiskusi, tetapi juga bergerak untuk membantu para start-up di Yogyakarta agar mereka memiliki kesempatan bertemu dengan investor-investor yang tertarik mengembangkan usaha yang mereka miliki.

Selain Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, komunitas digital di Surabaya juga tumbuh secara signifikan. Brian Arfi dan Imam Muttaqin, dua orang developer berbagi kegelisahan yang sama. Berawal dari lambannya aktivitas pengembangan website di Surabaya, padahal sumber daya manusia serta fasilitasnya cukup memadai. Kondisi ini kemudian membuat mereka tergerak untuk membentuk komunitas yang bisa berkontribusi positif bagi perkembangan dunia internet di Surabaya. Surabaya Web Community (suWec) menjadi ajang berkumpul web developer, web marketer, web entrepreneur, maupun penggemar web secara umum.

Komunitas-komunitas ini tidak hanya berdiskusi, tetapi juga memberikan langkah kongkrit bagi kemajuan komunitas mereka. Semangat kebersamaan dan berbagi inilah yang akan terus memajukan industri digital di Indonesia.

Bersama dengan komunitas-komunitas ini, IDBYTE berkomitmen untuk menjembatani para pelaku industri menuju sebuah wadah yang lebih besar sehingga suara Indonesia akan lebih nyaring di tingkat internasional.

Selama 11-14 Juli 2011 IDBYTE akan menghadirkan berbagai nama besar seperti Google, Facebook, dan LinkedIn. Mereka akan berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para pengembang, pebisnis, pemasar, dan komunitas digital di Indonesia. IDBYTE menjadi wadah yang tepat untuk saling menghubungkan komunitas-komunitas ini ke dalam satu kesatuan jaringan yang lebih besar.

IDBYTE mengajak komunitas-komunitas digital yang tersebar di berbagai tempat untuk datang dan meramaikan event digital terbesar di Indonesia ini. Dengan berkumpul dan menjalin hubungan secara intens, tidak hanya bermanfaat bagi komunitas-komunitas itu sendiri, tapi ke depannya dapat lebih memajukan industri digital Indonesia sehingga bisa menjadi salah satu pemain digital yang berpengaruh di ranah global.

Penulis: Yansen Kamto, Executive Director IDBYTE, dengan latar belakang dari industri digital advertising; saat ini juga menjalankan bisnis digital di bidang gaming dan sepakbola.


KOMPAS
0

Peluang Indonesia di Industri TIK Besar

Tifatul Sembiring

JAKARTA, KOMPAS.com - Menkominfo Tifatul Sembiring menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai pemain utama bagi industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Hal ini disampaikannya pada pidato pembukaan Konferensi & Eksibisi ID-BYTE, Senin (11/7/2011), di Pacific Place, Jakarta.

"Kini, pemain-pemain besar dunia TIK juga berubah. Dulu didominasi oleh USA & Jepang, saat ini muncul China, India, Swedia, Korea, Taiwan, dan lain-lain," ujar Tifatul.

Indonesia menurut Tifatul punya potensi besar, secara geografis terdiri dari 17.508 pulau, lebar wilayah lebih 5400 km, dan ada 237 juta penduduk.

"Hal ini merupakan pasar besar bagi TIK. Saat ini, di Indonesia ada 200 juta pengguna HP, 45 juta pengguna internet, 30 juta pengguna social media, dan tahun 2009 volume bisnis TIK mencapai Rp 300 triliun/tahun," tambah Tifatul.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi,Indonesia semakin baik. Keamanan dalam negeri terjaga dan terkendali. Pada tahun 2011 pemerintah Indonesia optimistis meraih pertumbuhan ekonomi 6,5-7 persen. Saat ini, inflasi sekitar 6,5 persen, suku bunga 6,6 persen, kemiskinan 11,8 persen, dan pengangguran di bawah 10 persen.

"Kondisi makro ekonomi Indonesia semakin baik. Beberapa CEO international company bahkan berkunjung dan menyampaikan harapan dan optimisme terhadap ekonomi Indonesia. Ini bagus bagi pengembangan usaha," pungkas Tifatul.

Pada sisi lain, menurut Tifatul Indonesia memiliki banyak kreator di bidang IT. Ini terlihat dari kompetisi Indonesia ICT Award (INAICTA) yang diadakan oleh Kemenkominfo sekali setahun, menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia sangat kaya dengan talenta di bidang IT. Tinggal dikembangkan dan disambungkan dengan industri IT agar bisa berkembang.

"Saya sangat mengharapkan Indonesia bergerak menjadi pemain utama dalam industri TIK dunia. Kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dalam industri TIK. Untuk itu saya menghimbau kalangan industri TIK bersedia menjadi bapak asuh bagi para kreator," ujar Tifatul.

Diakhir sambutannya, Tifatul mengucapkan terima kasih kepada Shinta Dhanuwardoyo yang telah bersedia menjadi inisiator acara ID-BYTE. Acara ini diharapkan dapat memberikan atmosfer baru dalam pengembangan TIK di Tanah Air. Acara yang digelar 11-14 Juli 2011 berupa workshop dan konferensi yang akan dihadiri oleh banyak perwakilan TIK dunia seperti Javier Olivian (Facebook), Michelle Guthrie (Google), serta para petinggi Yahoo, Microsoft, dan perusahaan digital terkemuka lainnya.


KOMPAS
0

Indonesia Perlu Kembangkan Teknologi Kelola SDA

Institute Pertanian Bogor (istimewa)

Bogor (ANTARA News) - Bangsa Indonesia perlu mengembangkan teknologi di berbagai bidang, untuk mengelola kekayaan sumberdaya alam (SDA) demi meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup masyarakat.

Wakil Rektor I bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Yonny Koesmaryono, di Bogor, Senin, mengatakan bahwa sebagai bangsa yang besar Indonesia memiliki kebutuhan terhadap pengembangan teknologi.

"Indonesia sangat memerlukan pengembangan teknologi. Pengembangan teknologi dimaksudkan untuk meningkatkan taraf hidup dan kualitas kesejahteraan masyarakat," kata Prof Yonny.

Dikatakannya, bangsa-bangsa besar dunia pada umumnya menaruh perhatian besar pada pengembangan teknologi.

"Negara-negara maju di dunia dapat berkembang dengan pesat karena perkembangan teknologi yang mereka lakukan," ujar Prof Yonny.

Oleh karena itu, Prof Yonny mengajak semua pihak, terutama kalangan perguruan tinggi, agar mengembangkan "technopreneurship" alias usaha berbasis teknologi untuk memberdayakan secara optimum sumber daya alam di Indonesia yang kaya.

Prof Yonny Koesmaryono membuka "Seminar Nasional dan Ekspo Social Technopreneurship Indonesia" yang digagas Recognition and Mentoring Program (RAM-P) IPB.

Kegiatan tersebut dipusatkan di Cico Resort Bogor, Jalan Cimahpar- Sukaraja, Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor.


ANTARAnews
0

ITS Kembali Juara Mobil Irit Se-Asia

Mobil Sapu Angin 4 yang dibuat oleh tim dari Institut Teknologi 10 Nopember. Janson Lee Kok Wooi/Shell via AP

TEMPO Interaktif
, Kuala Lumpur - Institut Teknologi Surabaya mempertahankan gelarnya sebagai perancang mobil paling irit dalam Shell Eco-Marathon (SEM) Asia 2011 yang digelar di Sirkuit Internasional Sepang, Malaysia 7-9 Juli 2011.

Pada kategori Urban Concept, mobil "Sapu Angin 4" buatan mahasiswa ITS berhasil mengumpulkan nilai efisiensi 149,8 kmpl (kilometer per liter) mengalahkan tujuh tim lainnya yang bersaing di kelas tersebut.

"Kuncinya ada pada peningkatan power pada mobil rancangan kami. Di samping itu, beban mobil juga kami buat seringan mungkin," ujar manajer tim ITS 4, Eko Hardianto, yang ditemui Tempo setelah acara penerimaan hadiah, Sabtu, 9 Juli 2011.

Kemenangan tim ITS 4 dengan mobil Sapu Angin-nya kian lengkap setelah ditetapkan sebagai juara dalam kelas alternative-diesel fuel urban concept, karena menggunakan bahan bakar FAME (Fatty Acid Methyl Ester) atau biodiesel. "Kami menggunakan bahan bakar biodiesel karena lebih ramah lingkungan," kata mahasiswa jurusan Teknik Mesin tersebut.

Indonesia mendominasi kelas Urban Concept setelah mobil Cikal Nusantara karya mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mengukuhkan diri di tempat kedua dengan perolehan 116,7 kmpl. Sementara di tempat ketiga, tim ITS 3 dengan mobil Sapu Angin 3 melengkapi kemenangan Indonesia setelah membubuhkan 113 kmpl.

Sayang, pada kategori untuk kategori Futuristik (prototipe), mobil karya pelajar Indonesia masih tertinggal dari peserta negara lain. Di kategori mobil berbentuk kapsul luar angkasa ini, peserta asal Thailand, Luk Jao Mae Khlong Prapa, keluar sebagai juara setelah meraih 2.213 kmpl, sekaligus memecahkan rekor tahun lalu 1.522 kmpl yang dibuat tim asal Thailand lainnya, ATE 1.

Tim ITS 5 dengan mobil Sapu Angin 5 hanya berhasil mengumpulkan angka 353 kmpl dan berada di posisi 12. Disusul kemudian oleh tim Rakata dari Institut Teknologi Bandung yang meraih 244 kmpl di tempat ke-13.

Selain penilaian keiritan mobil di dua kategori tersebut, beberapa peserta asal Indonesia juga mendapat penghargaan dari panitia. Cikal Nusantara karya mahasiswa ITB meraih penghargaan pada kelas gasoline fuel award.

Sementara tim Semart 1 dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil memenangkan salah satu kategori bergengsi Technical Innovation Award. Dan tim Rakata dari ITB yang berhasil mendapatkan communication award.MASRUR (Kuala Lumpur)


TEMPOInteraktif

0

Kita Ingin Ubah Paradigma Indowebster Ilegal

Dalam 2 tahun ke depan, kemungkinan server Indowebster akan berlipat menjadi 600 server.

Juny 'Acong' Maimun, Pendiri situs Indowebster

VIVAnews
- Masih ingat dengan Acong? Ya, dialah mantan hacker yang insaf dan mendirikan sebuah situs web lokal perpaduan antara Rapidshare, ImageShack, dan YouTube: Indowebster.

Tahun lalu VIVAnews sempat mewawancarai pria pemilik nama asli Juny Maimun itu, untuk mengetahui bagaimana awalnya ia mendirikan Indowebster. Kini, setelah setahun berselang, banyak perkembangan yang terjadi pada Acong dan situs webnya itu.

Kini, Acong tak hanya telah menyiapkan berbagai opsi model bisnis yang bakal menghidupi Indowebster. Ia juga telah menyiapkan konsep bagi situsnya untuk bisa terus bersaing dengan situs ainnya, termasuk yang berasal dari luar.

AKhir pekan ini, VIVAnews kembali menjumpai pria 30 tahun itu untuk menggali lebih jauh strategi yang dipersiapkan Indowebster di tengah semakin ketatnya persaingan industri online. Berikut kutipannya.

Apa rencana redesign yang direncanakan Indowebster?

Kita ingin menyediakan hal yang baru. Di bidang musik, kita akan menyediakan musik legal dan ilegal secara bersamaan. Kita tampilkan penyanyi dan lagunya. Selain bisa didownload secara gratis, nanti lagu legalnya akan disediakan di sebelah kanan. Jadi ada yang legal dan ada yang ilegal, Keduanya kita sediakan berdampingan. Pengunjung bisa membeli lagu itu atau juga mengunduh secara gratis, yang notabene, tentu saja kualitasnya berbeda. Upaya edukasi inilah yang akan kita sebarkan kepada masyarakat.

Kalau di dunia online, user memang sebaiknya jangan dipaksa untuk membeli. Tapi bagaimana caranya agar mereka bisa rela untuk membeli. Kesadaran itu yang mau kita bangun. Semakin pintar seseorang, nalar kesadarannya akan lebih tinggi. Saya yakin, seseorang yang memiliki intelektual tinggi, otomatis dia akan lebih sadar untuk membeli. Ini konsep yang saya tawarkan

Apa harapan dari relaunching dan redesign situs?

Kami akan soft launch di 9 Juli 2011. Perkiraan saya akan stabil tanggal 1 Agustus. Jadi, nanti kita akan ada speed launching Indowebster di tanggal 17 Agustus, tepat pada hari kemerdekaan. Harapan saya, mudah-mudahan image yang saya bangun antara legal dan ilegal ini sama dengan arti kemerdekaan.

Jadi Anda pelan-pelan ingin mengubah mindset pengguna dari ilegal untuk beralih ke legal?

Iya betul, makanya tadi saya bilang, mudah-mudahan tiga tahun ke depan, tidak ada istilah legal dan ilegal. Yang ada hanya bagaimana kami bisa menyajikan sesuatu yang lebih baik ke user

Bila user diberikan pilihan antara legal dan ilegal bukankah mereka akan tetap memilih yang tidak perlu membayar?

Jadi ada satu hal. Contohnya e-Book. Bila seorang pengguna mengetahui manfaat dari sebuah e-Book. Lalu ia taruh di Indowebster, di mana berarti itu menjadi konten yang tidak berbayar atau orang menyebutnya ilegal. Karena pengguna ini merasa e-Book ini bermanfaat, tentu kemudian ia akan berpikir, kenapa saya tidak membeli saja. Jadi hal seperti ini yang ingin ditanamkan, bukan dengan cara memaksakan.

Kalau kita masih memaksakan untuk melakukan proteksi misalnya, saya pikir inia akan sulit dilakukan, karena informasi ini bergerak dengan sangat cepat. Anggap misalnya Indowebster kita tiadakan konten seperti ini, pasti nanti akan muncul di tempat lain. Makanya saya berpendapat untuk pelan-pelan menggiring mereka ke arah yang lebih baik, pertama dengan memberikan pilihan.

Saya yakin kok, seiring meningkatnya intelektual seseorang akan meningkatkan kesadaran mereka. Saat ini saya sudah mencoba untuk menerapkan sistem donasi dan sudah mulai. Jadi kalau memang ada value added yang kita berikan kepada user, mereka pasti akan berdonasi. Dan otomatis industri ini akan terbangun. Sebenarnya kalau kita bicara legal dan ilegal adalah bayar atau tidak bayar. Kenapa kita tidak melakukan sesuatu agar seseorang bisa memilih?

Di Indowebster ada sharing file, musik, foto dan video. Apa langkah awal menyediakan pilihan itu dilakukan melalui penyediaan musik legal terlebih dahulu?

Yang pertama kita sediakan justru antivirus. Kerjasama saya yang pertama itu dengan antivirus Avira. Kebetulan secara lisan kita sudah oke, tinggal tanda tangan MoU. Kita akan menjual software antivirus itu di website indowebster. Jika orang mencari antivirus Avira di kotak search, akan tersedia unduhannya dan disebelahnya akan ada button jual beli Avira.

Untuk konten musik legal, apa yang ditawarkan sehingga bisa membuat orang tertarik membeli file musik legal dibandingkan yang ilegal?

Kalau misalnya musik, teman-teman sudah banyak yang bicara dengan orang label, jadi saya tidak langsung ke label. Saya berencana agar ke depan musik itu kita buat juga seperti collection item. Kalau cuma jual file musiknya saja tidak akan begitu menarik. Harus ada bumbu.

Contohnya, kita bisa sediakan collection item-nya Peterpan. Kita sediakan packaging CD-nya dengan pernak-pernik yang bagus. Misalkan, dijual harganya 100 ribu. Saya pikir karena orang pasti ada yang suka,tentu ia akan membeli untuk koleksi. Dan, akhirnya ini akan jadi model keuntungan yang baru, yang bisa menguntungkan perusahaan-perusahaan souvenir. Seharusnyada ada perusahaan kreatif yang memikirkan masalah ini. Jadi seperti yang tadi saya bilang, istilah legal dan ilegal itu akan menghilang. Karena yang legal bisa dikemas secara lebih bagus.

Ini contoh yang ke depan akan saya terapkan. Akan lebih bagus daripada kita hanya menjual lagu yang legal dan ilegal tadi. Sama dengan contoh di Indowebster itu user bisa mendownload film. Ada berbagai jenis kualitas film, ada yang biasa, DVD, HD, dan Blue-ray. Nah kenapa kita tidak menjual Blue-ray di Indowebster.

Berarti nanti yang file-file film juga akan diterapkan model bisnis dengan penjualan collection item itu juga?

Ya sama juga. Secara teknis kita sudah siap untuk melakukan koneksi ke manapun. Jadi sudah bisa diintegrasikan dengan toko film, toko lagu, atau toko apapun.

Berarti, Anda sudah menyentuh ranah commerce?

Mungkin saya akan mengarahkan orang untuk berdagang file secara online di Indowebster. Itu sangat mungkin. Kebetulan, memang tipikal saya lebih sosialis. Sekarang saya sedang menggalakkan yayasan untuk inkubasi. Tempatnya di bekasi, namanya Research and Development Center di bidang IT khususnya di bidang security, dan itu sifatnya sosial.

Jadi, di sana kita mengajarkan mahasiswa. Sebelum mereka lulus, mereka dikasih tempat untuk belajar. Ada penanggung jawab yang setiap minggunya mengajarkan mereka. Jadi mereka sudah tahu industrinya seperti apa, begitu mereka lulus mereka sudah bisa langsung kerja. Karena ketika saya menerima karyawan baru dengan status fresh graduate, saya direpotkan dengan training ulang minimal 1-2 tahun.

Karena saya memang orang technical, jadi kita akan melatih tekniknya supaya bagus untuk perusahan-perusahaan. Saya lihat banyak perusahaan yang kekurangan resources. Resources yang mereka punya itu tidak kapabel untuk membuat suatu alat. Akhirnya saya berpikir, ya sudah saya yang jadi ground level-nya untuk menciptakan lebih banyak orang yang bisa dikaryakan. Dan, saya juga ingin membangun lagi di daerah Jakarta selatan untuk mengembangkan konten.

Tampilan baru Indowebster

Bagaimana Perkembangan Indowebster saat ini ?

Pengunjung bertambah terus, sekarang user membership-nya sudah 1 juta lebih. Jumlah data file yang disimpan di sini juga sudah berkembang hingga 800 ribu lebih, atau hampir 900 ribu file, dengan kapasitas terpakai hampir 60 Terabita.

Berapa transfer data harian rata-rata yang terjadi di Indowebster?

Kalau harian saya kurang tahu. Saya kan ingin memerangi konten ilegal ini. Kalau saya sudah monitoring semuanya, berarti saya tahu mana file yang ilegal dan mana yang legal. Yang akhirnya saya akan dituduh, 'Kok ilegal? Kok tidak dihapus?'. Jadi saya mengatakan bahwa saya tidak bisa melakukan ini semua sampai benar-benar bersih semuanya. Karena itu, saya ingin membuat mekanisme yang saling menguntungkan antara yang label dan yang punya file. Intinya kalau kita ingin berbisnis online memang semuanya harus diperhatikan dengan cara yang berbeda.

Sekarang berapa karyawan Anda?

Kalau Indowebster tidak banyak, sekitar 20 orang. Tapi, kalau digabung dengan konten yang lain seperti Indogamers, karyawan kita ada sekitar 60 orang.

Kira-kira musik yang legal, nanti akan dikenakan tarif berapa?

Teman-teman saya ada pembicaraan kalau tidak salah tarif musik legal berkisar pada Rp 5000 per lagu. Untuk file lainnya, tentu tarifnya akan berbeda. Tapi untuk saat ini, baru musik yang digodok. Kebetulan kalau untuk file antivirus, saya senang sekali karena Avira bisa menjual software mereka di angka kurang lebih US$10 - US$12 dolar per tahun. Sangat murah. Saya juga masih menggodok tentang partnership full sharing. Jadi, saya beli dulu semuanya, lalu saya jual lagi. Itu mungkin harganya bisa lebih murah lagi, mungkin bisa di angka US$ 9. Berarti hanya sekitar Rp90 ribu untuk membeli antivirus selama setahun.

Untuk memerangi konten ilegal ini, kenapa Indowebster tidak langsung membuat mekanisme peraturan yang melarang pengunduhan file ilegal saja?

Kalau kita membatasi, saya mungkin harus menyiapkan 100 hingga 200 orang untuk menjaga ini dan itu sudah diluar dari kemampuan kita.

Kenapa tidak kita mengubah paradigma saja? Dan ini jadinya akan saling menguntungkan. Jadi, yang tadinya Indowebster itu berkesan seperti situs tempat jual beli file, diubah menjadi untuk promosi file legal. Misalnya, kalau di radio, kita putar lagu, di mana kita tidak perlu beli. Biasanya, itu memang labelnya sendiri yang minta diputar, malah dibayar lagi. Sedangkan di Indowebster, sudah dikasih gratis eh malah di image-nya salah. Paradigma ini yang harus diubah.

Selain memperkenalkan mekanisme legal dan ilegal di situs Anda, apa lagi konsep redesain dan relaunching Indowebster kali ini?

Indowebster ini dikonsepkan nantinya akan menjadi milik semua orang. Jadi, harapan saya adalah semua website bisa punya file sharing juga. Misalnya, kita ambil contoh seperti VIVAnews ingin punya file sharing sendiri, itu bisa terhubung ke Indowebster. Misalnya, Kaskus ingin punya file sharing sendiri, kita bisa sediakan. Jadi kita ingin menjadi seperti sentralnya file sharing. Kita ingin agar Indowebster menjadi milik semua orang. Secara teknis kita memang sudah siap untuk rencana itu.

Dengan adanya mekanisme baru di Indowebster ini, berarti Anda sudah tidak lagi mengandalkan unit-unit bisnis lainnya seperti warnet atau proyek yang lain?

Sebenarnya inilah main project yang sudah kita set up. Kebetulan saya tidak pernah mengagungkan Indowebster. Saya mengagungkan semua ciptaan atau ide saya. Saya selalu mengagungkan bagaimana konsep ini bisa digunakan oleh masyarakat banyak. Sebenarnya, saya juga terpaksa melakukan ini, melakukan supaya Indowebster bisa go legal. Tujuannya sebenarnya adalah supaya ada yang meniru. Mungkin banyak yang meniru tapi tidak berani menunjukkan muka karena takut dituntut. Dengan membuat satu contoh untuk orang lain, sebenarnya ini kan membuat model bisnis. Pemahaman saya, dengan saya melakukan semua ini, saya ingin non monopoli. Karena kalau saya ingin monopoli, berarti semua file sharing akan saya bunuh. Sebaliknya, malah saya ingin membuat contoh bagi semua orang

Berarti Anda sudah mempersiapkan begitu banyak server?

Ya, memang kita sudah menyiapkan banyak server, bahkan kita juga sudah siapkan relocation data-datanya di berbagai daerah, pastinya di kota-kota besar. Agar, distribusi file-nya juga semakin cepat. Saya kan dulu pernah bilang kepada VIVAnews bahwa saya akan menyiapkan 300 server, dan sekarang memang sudah 300 buar. Mungkin akan bertambah terus jadi dua kali lipat dari itu. Mungkin akan menjadi 600 server untuk 1,5 tahun sampai 2 tahun ke depan

Itu pasti cost besar sekali, Anda berarti sudah siap dengan model bisnis yang lebih matang?

Iya itu betul. Tapi saya yakin kok, kalau Indowebster sudah legal, revenue-nya akan lebih jelas. Karena selama ini sudah banyak advertiser yang ingin masuk, tapi problemnya adalah image Indowebster itu ilegal. Jadi, saya harus menciptakan image baru. Begitu advertiser masuk, keuntungan dari advertising ini bisa di-share. Sama halnya dengan mekanisme di Youtube. Misalnya, ada orang yang meng-upload video dan ternyata ramai dikunjungi, iklan yang ada di sana itu akan di share berapa persen ke si penyanyinya.

Sebenarnya bisnis model ini sudah saya pikirin jauh sebelum mereka buat. Memang tidak dapat disalahkan karena mungkin ini hal yang baru. Jadi, harus ada edukasi juga. Harusnya, kita bergabung dan bekerjasama untuk menjadi lebih baik. Saya ingin membuat ekosistem, micro industri untuk online dengan mengajak orang-orang. 'Ini ada bisnis model, coba deh kita gabungkan.' Ini yang lebih menyita perhatian saya daripada hanya soal urusin bagaimana membuat Indowebster lebih besar lagi.

Kebetulan, saya punya 8 warnet itu pertama kali saya buat itu untuk memberi contoh kepada warnet-warnet lainnya. Dulu ada yang bilang warnet dan game center tidak bisa digabung, tapi saya berhasil menggabungkan keduanya. Dan boleh dibilang, seluruh Indonesia saat ini telah menggabungkan keduanya. Itu yang saya lebih senang, untuk berkembang bersama ketimbang Indowebster itu menjadi nomor satu.

Itukah strategi Anda untuk berkompetisi dengan situs web file sharing lainnya seperti 4shared?

Jadi kalau 4shared atau situs web file sharing yang lain, kan memang imagenya ilegal. Nah, saya ingin mengubah paradigma itu di Indowebster bahwa situs ini legal. Bagaimana pun caranya, kita akan tetap go legal. Biarpun file yang di upload itu ilegal, tapi itu nantinya kita akan jadikan sebagai item promosi

Dengan redesign ini, Anda berharap Indowebster bisa segera berada di atas posisi kompetitor lain?

Saya tidak berani yakin untuk itu. Yang saya yakin adalah traffic growth Indonesia untuk dua tahun ke depan bisa 10 kali lipat dari sekarang. Jadi, saya tidak menjamin saya akan berada di atas mereka atau tidak. Tapi saya menjamin traffic saya akan lebih besar dari pada mereka. Jadi, saya sih tidak terlalu memusingkan siapa yang berada di atas.

Indowebster itu berbasis komunitas, lalu bagaimana cara untuk merawat komunitas ini?

Komunitas itu kan kumpulan dari orang. Asalkan kita bisa menyenangkan orang, harusnya mereka akan tetap setia. Itu yang image yang saya bangun dari awal. Saya yakin kok, orang-orang yang sudah pernah online, mereka biasanya setidaknya sudah mengenal apa sih itu Indowebster. Karena memang fungsi Indowebster memang dibutuhkan.

Kita sebisa mungkin tidak akan meninggalkan user, dan kita pun sebisa mungkin tidak akan mengecewakan label. Kalau kita bicara tentang komunitas, tidak boleh ada yang dikecewakan.

Saat ini, trend di industri online itu banyak diwarnai akusisi, atau masuknya investor dari luar. Pernah ada yang menawarkan investasi kepada Indowebster?

Pernah ada dari Jepang, Korea, lokal juga ada. Terakhir ada dari Amerika. Tapi kami tolak. Indowebster ini masih murni 100 persen Indonesia. Saya memang lebih senang kalau investor dari Indonesia yang datang. Supaya para investor Indonesia lebih melek. Investor dari luar itu sudah berbondong-bondong ingin masuk, tapi kok yang lokal ini kok tidak melek-melek. Saya sih open saja pada investor manapun untuk bergabung. Tapi, proyek inkubasi kebetulan yang lebih membutuhkan bantuan. Jadi, saya lebih mengarahkan mereka untuk membantu inkubasi ini. Mungkin sekarang ini kita perlu bantuan investor, tapi lebih baik lagi jika mereka bisa membantu anak-anak yang belum jadi

Misalnya Indowebster Anda jual, Anda akan bikin lagi di bidang apa?

Masih di bidang IT, saya itu masih punya ratusan ide yang belum tercurahkan. Saat ini saya masih disibukkan dengan yang seharusnya bukan tugas saya. Tugas saya itu cuma mencurahkan ide, dan ada yang mengerjakan. Karena masih membutuhkan orang yang mengerjakan hingga memikirkan model bisnis seperti ini supaya bisa terus hidup.

Berapa investasi yang sudah dikeluarkan untuk mengembangkan Indowebster?

Kemaren saya hitung-hitung itu sudah sekitar Rp 5 milyar yang sudah dikeluarkan. Kebetulan sudah ada juga yang sempat ingin acquire di angka 20, 10, ada yang 15. (sj)

VIVAnews
0

Industri Animasi Menjadi Sorotan

Para animator di PT Acintyarupa Karya Nayaga, Bandung, Jawa Barat, menyelesaikan proses pembuatan animasi di ruang kerjanya, Jumat (12/11/2010). Potensi masa depan animasi di Indonesia semakin maju dan didukung oleh sumber daya yang masih muda.

KOMPAS.com — Pengembangan konten animasi adalah salah satu bidang industri digital yang bisa didorong di dalam negeri. Untuk memberikan inspirasi kepada pelaku pengembang konten animasi, sejumlah duta besar berbagi pengalaman pengembangan animasi di berbagai negara dalam Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI).

Bertempat di Cendrawasih 3 Jakarta Convention Center, acara yang diberi nama Ambassador Connect ini menghadirkan lima duta besar RI. Mereka adalah duta besar RI untuk Selandia Baru, Arab Saudi, Inggris, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Acara ini digelar pada Kamis (7/7/2011).

Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Agus Sriyono, menyampaikan kesuksesan film Avatar yang sarat dengan konten digital animasi dan efek visual. Selandia Baru menyerap tenaga kerja sekitar 7.000 orang, tidak termasuk tenaga kontrak jika ada film baru. Film Lord of The Ring menyerap tambahan 800 pekerja film dengan masa kerja 3-4 tahun. Film Avatar menyerap tambahan 900 pekerja film. Produksi film animasi The Hobbit dan Tintin tengah dikerjakan di Selandia Baru dan diperkirakan dirilis pada 2012.

Kerja sama produksi antara Indonesia dan Selandia Baru adalah melibatkan sumber daya manusia (SDM) di bidang animasi dalam produksi bersama film animasi sehingga memiliki pengalaman internasional atau jejaring kerja baru. Hasil lainnya adalah transfer teknologi sehingga SDM Indonesia dapat memproduksi sendiri untuk pasar Selandia Baru.

Adapun Duta Besar RI untuk Seoul, Nicholas T Dammen, menyampaikan bahwa perkembangan dunia animasi Korea Selatan juga terjadi karena pendidikan animasi mendukung para calon animator. Di Korea Selatan terdapat 100 universitas yang memiliki jurusan animasi. Ada juga 50 sekolah kejuruan animasi setingkat SMA.

Kisah sukses industri animasi Korea Selatan adalah The Magic of Pororo di mana penjualannya diperkirakan mencapai 35 juta dollar AS. Peluang bisnis bagi pengusaha animasi Indonesia adalah menjajaki peluang untuk mendapatkan porsi subkontraktor dari industri animasi Korea Selatan, juga mencari kemungkinan untuk kerja sama dengan industri Korea Selatan dalam membuat film animasi tiga dimensi khas Indonesia.

Sementara itu, Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Gatot Abdullah Mansyur, menyampaikan bahwa peluang pasar industri kreatif di Arab Saudi terdapat dalam bidang periklanan, arsitektur, barang kerajinan tangan, desain, fashion, permainan interaktif, penerbitan dan percetakan buku, kuliner, kosmetik, spa atau pijat refleksi, serta obat tradisional.

Adapun Konsulat Jenderal Indonesia untuk Chicago yang mewakili duta besar RI untuk Amerika Serikat menyampaikan bahwa industri animasi merupakan salah satu bagian industri kreatif di Amerika Serikat yang berkembang pesat dan terbesar di dunia, khususnya untuk sektor film layar lebar dan serial televisi. Industri animasi Amerika Serikat adalah salah satu industri yang tidak mengalami pengaruh dari krisis ekonomi Amerika Serikat. Bahkan salah satu sektornya, yakni sektor permainan (gaming) komputer atau video, mengalami peningkatan di masa krisis.

Beberapa faktor yang membuat industri animasi Amerika Serikat maju adalah teknologi perfilman, pembuatan karakter terhadap animasi, dan kemampuan individual para animator, serta dukungan Pemerintah Amerika Serikat yang memainkan peranan penting dalam mengembangkan industri ini. Peluang Indonesia adalah belajar bagaimana Amerika Serikat mengembangkan industri animasinya dan mengambil kesempatan bisnis outsourcing dari perusahaan-perusahaan animasi di Amerika Serikat.

Adapun kekuatan industri animasi Inggris menurut Duta Besar RI untuk Inggris, Yuri O Thamrin, adalah dari daya kreativitas, keunggulan di desain karakter dan cerita animasi anak-anak, kemampuan teknologi, infrastruktur pendidikan, adanya festival animasi kelas dunia, menguasai jejaring pemasaran dan produksi, juga karena keunggulan bahasa. Bentuk-bentuk peluang kerja sama yang bisa dimanfaatkan dengan Inggris adalah dalam penyelenggaraan festival tingkat dunia, jaringan produksi dan pemasaran, kekayaan ide, inovasi, dan kreativitas. Keunggulan kemampuan teknologi dan tingkat profesionalitas jug bisa dipelajari dari Inggris.

Menurut Yuri, diperlukan strategi yang komprehensif, efektif, dan terpadu dalam mengembangkan industri animasi nasional. Pembinaan dari awal merupakan faktor penting. Dukungan pemerintah dalam bentuk pembiayaan (grant), kuota jam tayang, pilot project atau prototipe, program inkubasi, insentif pajak, dan sebagainya sangat penting, khususnya dalam tahap pengembangan industri animasi nasional.

Pemerintah juga harus mengadakan festival dan kompetisi terkait industri kreatif dan animasi. Perlu penajaman peta kekuatan dan kelemahan industri animasi Indonesia, mencakup jumlah studio animasi, SDM, daerah-daerah unggulan, keunggulan teknologi, dan spesialisasi yang diandalkan, jumlah program pendidikan animasi yang ada, kurikulum pendidikan, dan sebagainya.

Dalam konteks pengembangan kerja sama di bidang animasi, perlu identifikasi atau insentif yang dapat ditawarkan secara konkret oleh Indonesia untuk industri animasi negara lain, misalnya Inggris, dalam rangka pengembangan industri animasi nasional.


KOMPAS