0

Jakarta Akan Miliki Tiga Megabandara

 Kapasitasnya bisa mencapai di atas 200 juta penumpang per tahun

Ilustrasi Bandara Soekarno Hatta di Tangerang, Banten.
Bandara Soeta di Tangerang, Banten. (sumber: Antara)
Ibukota Jakarta akan memiliki tiga megabandara.

Setelah ekspansi Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) selesai pada 2014, pemerintah segera membangun bandara baru di Kertajati, Kabupaten Karawang, sekelas Bandara Soetta yang mampu menampung 100 juta penumpang.

Selain itu, Pemda DKI Jakarta tengah mengembangkan konsep pengembangan bandara di Kepulauan Seribu.

Bila tiga bandara itu terwujud, kapasitasnya bisa mencapai di atas 200 juta penumpang per tahun. Ini belum termasuk Bandara Halim Perdanakusumah.

Dengan demikian, Jakarta akan memiliki jaringan bandara terbesar di Asean.

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono menegaskan, bandara di Karawang pasti akan dibangun untuk melengkapi Bandara Soetta yang sudah kelebihan kapasitas.

Saat ini studi lokasi sudah dilakukan dengan bantuan Pemerintah Jepang.

Akhir tahun ini masuk studi kelayakan dan tahun depan digelar tender dengan skema public private partnership (PPP).

“Rencana ini sesuai dengan arah pengembangan Jabodetabek ke wilayah barat dan timur. Untuk di timur Jakarta, keberadaan bandara di Karawang bisa memfasilitasi permukiman dan industri di sisi timur Jakarta seper ti Cikarang dan Karawang,” kata Bambang kepada Investor Daily di Jakarta.

Saat berbicara pada for um Indonesia International Infrastr ucture Conference and Exhibition 2012, kemarin, Bambang juga menyinggung rencana pembangunan bandara di Karawang.

Dia menegaskan, bandara Karawang harus segera dibangun karena Bandara Soetta sudah kelebihan kapasitas sedangkan untuk perluasan terkendala pembebasan lahan.

“Jakarta harus memiliki sistem bandar udara yang beragam, tidak hanya bergantung pada Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng,” kata Bambang.

 Bandara Karawang

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Herry Bhakti Singayudha Gumay mengungkapkan, bandara di Karawang akan dibangun pada 2015, setelah selesai perluasan Bandara Soetta.

Bandara baru ini akan berkapasitas 100 juta penumpang, namun untuk tahap pertama berkapasitas 30 juta penumpang per tahun.

Kelak akan dibangun jalan tol dan jalur kereta dari bandara Karawang ke Jakarta.

Herr y mengakui ada beberapa investor dari dalam dan luar negeri yang tertarik untuk ambil bagian dalam pembangunan bandara Karawang ini.

Bandara Karawang mengusung konsep ecoairport, karena lahan untuk mendirikan bandara tersebut merupakan wilayah hutan milik Perum Perhutani.

 “Untuk itu, kita akan bahas dengan pemerintah daerah setempat, Kementerian Kehutanan, dan Perhutani,” paparnya.

Bambang Susantono dan Herry Bhakti mengakui bahwa kehadiran bandara Karawang menjadi komplemen bagi Bandara Soetta yang sudah overcrowded.

Itu sebabnya, Bandara Soetta diperluas dengan investasi Rp 26 triliun, yang pemancangan tiang pertamanya dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2 Agustus lalu.

Bandara internasional berwawasan Aerotropolis ini diharapkan mampu mengungguli bandara-bandara internasional lain seperti Changi Singapura, KLIA Malaysia, dan HKIA Hong Kong.

Dalam perluasan ini, kapasitas Terminal 3 akan dinaikkan dari 4 juta menjadi 25 juta pergerakan penumpang per tahun.

Sedangkan Terminal 1 yang kapasitasnya 9 juta ditingkatkan menjadi 18 juta per tahun dan Terminal 2 dinaikkan dari 9 juta menjadi 19 juta penumpang per tahun.

Dengan demikian, Bandara Soetta mampu menampung kapasitas 62 juta penumpang pada 2014.

Saat ini, jumlah penumpang di Bandara Soetta sudah melampaui 51 juta per tahun, padahal desainnya hanya mampu menampung 22 juta penumpang.

Ke depan, Angkasa Pura II selaku pengelola Bandara Soetta berencana membangun landasan pacu baru (ketiga) dan Terminal 4.

Penambahan ini sekaligus dapat meningkatkan kapasitas menjadi 87 juta pergerakan penumpang per tahun dan 234 pergerakan pesawat per jam.

 Multiefek Luar Biasa

Tentang bandara di Kepulauan Seribu, Bambang Susantono menyatakan hal itu harus dikaji dulu, terutama kesesuaian tata ruang, amdal, dan sebagainya.

Bandara di Kepulauan Seribu merupakan konsep yang digagas Pemda DKI Jakarta. Seperti diungkapkan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo saat berkunjung ke Investor Daily beberapa waktu lalu, bandara ini akan diintegrasikan dengan rencana pembangunan pelabuhan Marunda dan tanggul raksasa di pesisir utara Jakarta sepanjang 50 km yang membentang dari sisi barat ke timur.

Di atas tanggul akan dibangun jalan tol dan MRT.

Direktur Transportasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bambang Prihantono membenarkan bahwa Jakarta akan dikelilingi tiga megabandara.

Setelah perluasan Bandara Soetta, ada rencana pembangunan bandara baru Kertajati di Karawang dan bandara baru di Kepulauan Seribu.

Untuk bandara di Kepulauan Seribu, kata Bambang, pembangunannya menjadi tanggung jawab Pemda DKI.

Namun, sejauh ini Pemda DKI belum mengusulkan kepada pemerintah pusat.

0

Pembangunan Bandara Kuala Namu Tahap II Butuh Rp 5 Triliun

Pada tahap pertama, bandara yang dibangun melalui dana APBN ini akan menampung 8 juta penumpang. 

Bandara Kuala Namu, Medan.
Bandara Kuala Namu, Medan. (sumber: Antara)
Bandara Kuala Namu tahap I ditargetkan mulai beroperasi pada Maret 2013.

Pemerintah Daerah Sumatera Utara bahkan sudah mulai mengundang investor untuk melakukan pembangunan tahap kedua yang diperkirakan membutuhkan investasi Rp 5 triliun.

"Pembangunan bandara Kuala Namu Tahap satu hampir rampung dan akan beroperasi maret 2013. Kita undang investor untuk  melakukan pembangunan bandara Kuala tahap kedua yang kira-kira kebutuhan investasinya mencapai Rp 5 triliun," ujar Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Utara, Johannes Toruan Hasiholan di Jakarta, hari ini.

Menurut Johannes, bandara ini akan menjadi bandara kedua terbesar di Indonesia, setelah Bandara  Soekarno Hatta. Pada tahap pertama, bandara yang dibangun melalui dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) ini akan menampung 8 juta penumpang.

Johannes mengatakan, bandara Kuala Namu nantinya akan mengatasi kejenuhan yang  terjadi di bandara Polonia Medan. Saat ini, jumlah penumpang Kuala Namu sudah mencapai 7 juta penumpang per tahun. Padahal kapasitasnya hanya menampung 900.000 penumpang.

Sementara itu, pembangunan bandara Kuala Namu tahap kedua, menurut dia, rencananya akan meningkatkan kapasitas penumpang di bandara tersebut menjadi 16 juta penumpang.  

0

Menristek: Riset Diharapkan Penuhi Kebutuhan Industri

MENTERI Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta mengharapkan riset dapat memenuhi kebutuhan industri untuk menghasilkan produk barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan publik.

Riset juga diharapkan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat maupun lembaga pemerintah untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanan publik.

“Dalam rangka membangun kemandirian bangsa, teknologi yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan dengan dukungan potensi sumber daya yang ada,”ujarnya dalam siaran pers terkait perigatan Hari Teknologi Nasional (Harkenas).

Hari Teknologi Nasional ditetapkan pada tanggal 10 Agustus 1995 oleh Presiden Republik Indonesia melalui Keppres Nomor 71 Tahun 1995, sebagai tonggak sejarah penerbangan perdana pesawat terbang N-250 Gatotkaca. Pesawat ini dibuat anak-anak bangsa dari Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang kini menjadi PT Dirgantara Indonesia.

Peringatan Harteknas ke-17 ini diharapkan menjadi titik awal bagi iptek untuk membangun bangsa, karena hanya dengan iptek sajalah Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara lain dan pada akhirnya menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan bangsanya.

Hatta mengatakan, peringatan Harteknas ke-17 tahun ini diselenggarakan dalam rangka mewujudkan visi untuk menanamkan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai strategis dan pentingnya peranan iptek dalam membangun peradaban dan kesejahteraan bangsa.

Tema yang diangkat adalah "Inovasi Untuk Kemandirian Bangsa" agar penelitian dan pengembangan iptek lebih bertumpu pada kebutuhan riil masyarakat, mencari solusi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mendorong pemenuhan kebutuhan riset yang lebih aplikatif.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan menghadiri acara puncak Peringatan Hari Teknologi Nasional, Kamis (30/8) pukul 10.00 WIB di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat.

Rangkaian kegiatan peringatan Harteknas ke-17 dipusatkan di Bandung pada Bulan Agustus yang diisi dengan berbagai kegiatan yaitu Pameran Ritech Expo, Karnaval Kreatif Iptek, Rangkaian Workshop dan Talkshow serta kegiatan bertaraf internasional yaitu The 10th Triple Helix International Conference.

0

Kemristek beri lima anugerah iptek peringati Hakteknas

Bandung - Kementerian Riset dan Teknologi memberi Penghargaan Anugerah Iptek 2012 kepada pemerintahan provinsi, institusi litbang, wanita peneliti, duta iptek dan masyarakat dalam puncak Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-17 yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Anugerah ini atas sumbangsihnya dalam ikut memajukan budaya iptek di Indonesia," kata Menristek Gusti M Hatta pada peringatan Hakteknas 2012 yang dihadiri juga Menhan Purnomo Yusgiantoro dan Mendikbud M Nuh di Gedung Merdeka Bandung, Kamis.

Lima kategori itu yakni Anugerah Iptek Budhipura untuk Kategori Pemerintahan Provinsi diberikan kepada Pemprov Kaltim atas bidang sumberdaya iptek, Sumsel untuk kelembagaan iptek dan Sulsel untuk bidang jaringan iptek.

Anugerah Iptek Labdha Kretya untuk Kategori Kreativitas dan Inovasi Masyarakat kepada Tunggul Dian Santoso yang membuat alat elektronik pengusir hama padi, Ahmad Syaikhu atas teknologi pembuat pupuk dan pestisida hayati dan I Nyoman Damai atas pemanfaatan tanaman obat.

Sedangkan Anugerah Iptek Prayogasala untuk Kategori Pranata Litbang diberikan kepada Puslitbang Ketenagalistrikan PLN, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, Jember, dan Balitbang Provinsi Jawa Tengah.

Sedangkan Anugerah Iptek Widyasilpawijana untuk Kategori Duta Iptek diberikan kepada Eniya Listiani Dewi PhD dari BPPT yang meneliti tentang pemanfaatan hidrogen sebagai sumber energi.

Sementara itu, Anugerah Iptek untuk Kategori Peneliti Wanita diberikan kepada Ines Atmosukarto dari LIPI di bidang genetika molekuler untuk pengobatan, Fenny M Dwivany dari ITB bidang biomolekuler untuk hortikultura, Made Tri Penia dari ITB bidang bioproses untuk obat spesifik dari sel punca dan Sidrotun Naim dari ITB bidang biomolekuler penyakit udang.

Usai penganugerahan itu dilakukan juga penyerahan cetak biru riset dan pengembangan produk peralatan pertahanan dan keamanan oleh Menhan Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro kepada Presiden Yudhoyono sebagai acuan dalam pengembangan peralatan hankam.(D009)

0

SBY Janji Kenaikan Tunjangan Peneliti Berlaku September

http://www.beritasatu.com/media/images//medium/29082012163845.jpgPara peneliti Lapan sedang mempersiapkan satelit Lapan A2 di Bogor, Jawa Barat.

 September ini, para peneliti sudah dapat kesejahteraan yang lebih tinggi.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan peraturan presiden (Perpres) tentang tunjangan bagi peneliti akan segera ditandatangani sehingga pada September akan segera diberlakukan.

"Ada kabar gembira. Dalam perjalanan tadi saya menelepon Menteri Sekretaris Negara (Sudi Sillahi) dan Sekretaris Kabinet (Dipo Alam), sejauh mana peraturan presiden untuk kenaikan tunjangan peneliti. Berita baiknya sudah siap saya tanda tangani, mudah-mudahan minggu ini sudah saya teken," kata Presiden Yudhoyono saat memberikan sambutan dalam puncak peringatan Hari Teknologi Nasional ke 17 di Bandung, Kamis.

SBY menambahkan Perpres itu sudah akan diberlakukan mulai bulan depan. "September para peneliti sudah dapat kesejahteraan yang lebih tinggi," tegas dia.

Presiden dalam kesempatan tersebut mengatakan, inovasi dan teknologi sangat penting bagi keberlanjutan bangsa dan negara. Untuk itu, inovasi dan teknologi harus memiliki arah strategi dan agenda yang benar. "Bukan sekedar rancangan," tutur dia.

Presiden dalam perayaan Hari Teknologi Nasional (Harteknas) ke-17 kali ini juga berkesempatan menijau berbagai mobil ramah luingkungan hasil putra-putri bangsa yang dipamerkan di Jalan Braga, di samping Gedung Merdeka Bandung.

0

Akibat Embargo AS, Indonesia Gamang Berbisnis dengan Iran

Akibat Embargo AS, Indonesia Gamang Berbisnis dengan Iran
Wakil Presiden RI, Boediono
TEHERAN -- Wakil Presiden Boediono menilai ada kegamangan dari pengusaha Indonesia dalam upaya meningkatkan hubungan perdagangan dengan Iran. Itu dikarenakan Iran diembargo oleh Amerika Serikat dan sejumlah negara barat.

"Sebetulnya potensi kedua negara untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi sangat terbuka luas, tapi masih ada kegamangan," kata Wapres Boediono di depan masyarakat Indonesia di Teheran, Iran, Kamis.

Hal tersebut disampaikan Wapres usai melakukan kunjungan kehormatan dengan Wakil Presiden Iran, Mohammad Reza Rahimi, selama setengah jam. Acara digelar di sela-sela penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok (KTT GNB) di Teheran pada 30-31 Agustus 2012.

Boediono menyatakan Wakil Presiden Rahimi menyampaikan minatnya meningkatkan kerja sama berbagai bidang dengan Indonesia. Hal tersebut tentunya disambut baik, meskipun menghadang sejumlah hambatan untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi.

0

Roket dan Panser Indonesia Disukai Dunia

http://assets.kompas.com/data/photo/2010/01/15/1803441p.JPGIndonesia juga sudah mengembangkan industri pertahanan nasional. Panser Anoa buatan PT Pindad ini salah satu contohnya.(Foto: KOMPAS/DWI BAYU RADIUS)

Teknologi militer untuk pertahanan dan keamanan tidak lagi didominasi Amerika dan Eropa. Kini Indonesia pun sudah memproduksi sendiri persenjataan militer.

Penghujung Maret lalu, sebanyak 50 roket R-Han 122 diluncurkan di Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Darat Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan. Wakil Menteri Pertahanan dan Keamanan Sjafrie Sjamsoeddin, Deputi Bidang Relevansi dan Produktivitas Riset Kementerian Ristek Iptek Teguh Rahardjo, Wakil Gubernur Sumatra Selatan Eddy Yusuf, Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jenderal Nugroho Widyotomo, dan Komandan Kodiklat TNI-AD Letnan Jenderal Gatot Numantyo ikut hadir dalam peristiwa bersejarah itu karena untuk pertama kalinya diluncurkan roket militer buatan Indonesia.

Peluncuran roket berlangsung mulus. Roket R-Han 122 ini merupakan pengembangan roket sebelumnya D-230 tipe RX 1210 yang dikembangkan Kementerian Riset dan Teknologi, yang memiliki kecepatan maksimum 1,8 mach.

Perjalanan lahirnya roket militer R-Han 122 cukup panjang. Berawal pada 2007 saat Kementerian Riset dan Teknologi membentuk Tim D230 untuk mengembangkan roket berdiameter 122 mm dengan jarak jangkau 20 kilometer. Prototipe roket D-230 ini dibeli Kementerian Pertahanan dan Keamanan untuk memperkuat program seribu roket. Pemerintah membentuk Konsorsium Roket Nasional dengan ketua konsorsium PT Dirgantara Indonesia (DI), sebagai wadah memasuki bisnis massal. Ketua Program Roket Nasional Sonny R Ibrahim menjelaskan rencana pembuatan roket secara massal sudah ada sejak 2005. Namun, baru dikembangkan roket D-230 pada 2007 hingga terbentuk konsorsium tersebut.

Konsorsium itu beranggotakan sejumlah industri strategis yang mengerjakan bermacam komponen roket. Sony menyebutkan, di dalam konsorsium terdapat PT Pindad yang mengembangkan launcher dan firing system dengan menggunakan platform GAZ, Nissan, dan Perkasa yang sudah dimodifikasi dengan laras 16/warhead dan mobil launcher (hulu ledak). Kemudian juga PT Dahana menyediakan propellant, PT Krakatau Steel mengembangkan material tabung dan struktur roket. PT Dirgantara Indonesia membuat desain dan menguji jarak terbang.

Pendukung lain dalam konsorsium adalah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut menyediakan alat penentu posisi jatuh roket. ITB menyediakan sistem kamera nirkabel untuk menangkap dan mengirim gambar saat roket tiba di sasaran. Sejumlah perguruan tinggi lainnya, yakni UGM, ITS, Universitas Ahmad Dahlan, dan Universitas Suryadharma, ikut terlibat di dalam pengembangan roket tersebut. Nama D-230 kemudian diganti menjadi R-Han 122 karena sudah dibeli Kementerian Pertahanan.

Sistem isolasi termal untuk membuat roket militer tidaklah mudah. Para periset beberapa kali melakukan uji coba hingga menemukan kesempurnaan pada roket R-Han 122 itu.

Sonny menjelaskan, pada 2003 para periset menggunakan material kritis dengan ketebalan baja 1,2 mm, tetapi produk justru cepat jebol.

Kemudian para peneliti mulai memperbaiki sistem isolasi termal. Saat roket meluncur sempurna dibutuhkan suhu 3.000 derajat Celcius. Pembakaran dengan menghasilkan suhu tinggi bisa berakibat fatal apabila sistem isolasi termal tidak bekerja dengan baik. Karena itu, di ruang isolasi termal diberi karet atau polimer yang bisa menghambat panas. Untuk material roket, dipilih bahan yang ringan, yakni aluminium, karena bisa menghambat panas. Perubahan-perubahan itu ternyata menghasilkan roket yang tidak pernah rusak saat diujicobakan.

"Karena termalnya bekerja cukup baik, roket itu bisa terbang tepat sasaran dan tidak pernah rusak selama uji roket," imbuh Sonny yang mengatakan bahwa R-Han 122 berfungsi sebagai senjata berdaya ledak optimal dengan sasaran darat dan jarak tembak sampai 15 km.

Tidak hanya roket yang sudah dibuat di dalam negeri. Sebelumnya, PT Pindad telah memproduksi panser yang merupakan hasil pengembangan riset dari BPPT sejak 2003. PT Pindad meneruskan hasil riset BPPT khususnya untuk panser Angkut Personel Sedang (APS). PT Pindad dan BPPT akhirnya mengembangkan riset APS-1 sampai ke APS-3 yang punya kemampuan bermanuver di darat, perairan dangkal dan danau. Pengembangan riset tersebut akhirnya menghasilkan varian 4X4 dan disempurnakan untuk diaplikasikan kemampuan amfibinya pada varian 6x6.

Ujicoba panser APS-3 ini dilakukan awal 2007 dan pada 10 Agustus 2008 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Kementerian Pertahanan memberi nama APS3-ANOA. Sejak itu Pindad memproduksi 10 panser pertama APS-3 ANOA. Dalam perkembangannya, Pindad terus mengeluarkan seri-seri terbaru APS-3 ANOA ini. Selain varian kombatan, ANOA juga memiliki varian lain seperti untuk angkut medis, logistik, armored recovery vehicle (penderek ranpur yang sedang mogok) dan varian mortir.

Saat ini Kementerian Pertahanan telah memesan 100 panser ANOA yang ternyata disukai negara-negara tetangga. Salah satunya Malaysia yang sudah berminat membeli sejumlah panser ANOA dari PT Pindad. Dan tak kalah penting, panser buatan Indonesia ini juga dipakai untuk kelengkapan persenjataan Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon.

0

Sepeda Hibrid Ala UNS

http://image.tempointeraktif.com/?id=137201&width=200Surakarta--Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta sejak awal 2012 sudah mengembangkan sepeda yang memadukan tenaga manusia dengan tenaga listrik atau sepeda hibrid. Menurut dosen pembimbing sepeda hibrid UNS Muhammad Nizam, ide dasarnya seperti sepeda onthel yang dilengkapi dengan mesin berbahan bakar bensin.

"Bedanya, kami mengganti mesin berbahan bakar bensin dengan tenaga listrik," katanya kepada wartawan di kampus setempat, Rabu, 29 Agustus 2012. Ada 8 mahasiswa Diploma III Teknik Mesin UNS yang terlibat dalam proyek di atas.

Dia mengakui di pasaran sudah ada sepeda hibrid serupa. Hanya saja, di pasaran kebanyakan menggunakan rangka dasar sepeda motor. Sehingga kalau tiba-tiba ngadat, tidak ada jalan lain selain memperbaiki sumber energi listriknya agar bisa jalan. "Sementara sepeda listrik buatan kami, kalau listrik berhenti bekerja, masih bisa dikayuh layaknya sepeda onthel," ujarnya.

Dia mengatakan UNS masih mengimpor motor penggerak roda dan baterai litium ion. Keduanya memang tidak diproduksi di Indonesia sehingga harus mendatangkan dari negara lain. Tapi untuk bodi, "Kami membuat sendiri."

UNS membuat dua jenis sepeda hibrid, yaitu model downhill dan sepeda lipat. Model downhill memiliki berat sekitar 60 kilogram sedangkan model sepeda lipat bobotnya antara 45-50 kilogram. "Sepeda mampu menahan bobot pemakai maksimal 100 kilogram," katanya.

Sekali mengisi tenaga selama 3 jam, dia mengatakan sepeda mampu berjalan dengan tenaga listrik sejauh 40-50 kilometer dengan kecepatan 30-40 kilometer per jam. Untuk membuat purwarupa dua sepeda di atas, dia sudah menghabiskan anggaran Rp 6-7 juta untuk masing-masing sepeda.

Untuk pemakaian normal, dia mengklaim sepeda bisa dipakai antara 4-5 tahun. Sementara daya tahan baterai bisa untuk seribu kali pengisian. "Saat ini kami masih terus mengembangkan. Terutama agar nantinya benar-benar disuplai tenaga listrik dan tidak perlu tenaga manusia," ujarnya.

Nizam belum memikirkan soal produksi massal. Karena tergantung ketersediaan komponen dan suku cadang, serta kebijakan universitas. "Paling tidak kami menginginkan bisa dipakai di lingkup UNS dulu, sekaligus untuk evaluasi dan pengembangan. Setelah itu baru diproduksi massal dan dijual ke masyarakat umum," katanya.

Staf humas dan kerjasama UNS Bachtiar mengatakan sepeda hibrid UNS akan dipamerkan pada pameran Hari Teknologi Nasional yang diselenggarakan di Bandung pada 30 Agustus. "Kami juga memamerkan mobil listrik UNS, yang masuk dalam program nasional pengembangan mobil listrik," ujarnya.

(Tempo.Co)