0

Kemampuan Orang Indonesia Tak Kalah dengan Luar Negeri

 Ingin Ciptakan Banyak Wiraswastawan


Ilustrasi. (Foto: Corbis)
Ilustrasi (Foto Corbis)
JAKARTA - Ketua Komite Tetap Riset dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Kadin Indonesia Benny Ranti mengatakan, di Indonesia kenyamanan bagi para pelaku Teknologi Informasi (TI) kurang. Perlu ada pemahaman yang jelas baik dari sisi regulasi maupun sisi hukum dan pelaksanannya.

"Banyak orang Indonesia yang kemampuannya tidak kalah dengan orang-orang luar negeri. Sayangnya mereka kurang didorong untuk berdaya di negerinya sendiri," katanya di Jakarta, Rabu (27/6/2012).

Benny menambahkan, kurangnya keberpihakan pemerintah maupun perusahaan pengguna jasa TI lokal terhadap penyedia jasa TI lokal, harus mendapat perhatian serius. Di Negara-negara lain, sudah terfokus pada satu titik, China misalnya konsen pada perangkat keras, sementara India pada parangkat lunak.

"Padahal pemerintah menginginkan sebanyak mungkin tercipta wiraswastawan lokal," tegasnya.

Peneliti Teknologi Media Digital ITB Agung Harsoyo mengungkapkan bahwa dalam sejumlah kasus hukum teknologi informasi, seringkali auditor tidak paham atas apa yang di audit-nya.

"Proses pengadaan sistem IT itu tidak sama denga pengadaan barang, karena kalau barang itu berwujud fisik yang bisa dengan mudah dinilai rupiahnya, sehingga diperlukan adanya lembaga auditor khusus Teknologi Informasi yang terdiri dari pakar-pakar di bidang ini." ucapnya.

Dekan Fakultas Teknologi Industri, Universitas Trisakti,  Indra Surjati banyaknya masalah-masalah belakangan ini yang terkait dengan teknologi informasi yang berujung pada masalah hukum.

"Banyak yang tidak paham dan mengerti kenapa masalah seperti itu bisa terjadi, apakah karena masalah peraturan, atau karena pengadannya. Supaya lebih jelas kita mengadakan seminar ini," tegasnya

Indra menambahkan ini bentuk kepedulian para civitas akademik terkait dengan munculnya kasus hukum pada penerapan Teknologi Informasi, seperti pada kasus Sisminbakum dan terakhir Dirut PLN.

"Padahal dengan adanya TI, bisa mempermudah dan mempercepat semua akses, sekarang kondisinya justru banyak masalah," ungkapnya. (ade


0

Pers Asing Nilai Indonesia Negara Penting

Jakarta - Pers asing menilai Indonesia sebagai negara penting di Asia Pasifik yang sangat kaya sumber berita politik, ekonomi, agama, konflik dan bencana. Indonesia juga berpeluang menjadi negara super power atas kekuatannya yang luar biasa.

Demikian pendapat Kepala Biro Al Jazeera Network Sohaib Ali Jassim dan kalangan pers Barat; France 24 (TV 5 dan Radio Canada) Jean-Baptiste Chauvin pada Seminar Komunikasi Internasional "Kontribusi Wartawan Media Asing dalam Pemberitaan tentang Indonesia di Mata Dunia", di Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) di Jakarta, Selasa (26/6).

Bagi dunia Arab, kata wartawan senior media yang berpusat di Qatar itu, Indonesia sebagai negara demokrasi baru yang besar dan memiliki kekuatan yang sedang tumbuh, bisa menjadi pelajaran berharga bagi dunia Arab yang sedang berubah secara politik.

Sementara di kalangan pers Barat, menurut kacamata jurnalis France 24 (TV 5 dan Radio Canada) Jean-Baptiste Chauvin, Indonesia belum terlalu dikenal di Eropa, tapi memiliki kekuatan yang luar biasa dan potensial menjadi "Super Power". (ant) 


0

Mengapa mobil listrik itu mahal ?

Minibus Listrik LIPI-BPPT
Jakarta (ANTARA News) - Mobil listrik tidak murah karena baterai kendaraan itu sangat mahal.

"Kemenristek memiliki divisi khusus yang akan meneliti baterai seperti bagaimana batangan baterai dapat menyimpan tenaga lebih lama sehingga lebih efisien," kata Menteri Riset dan Teknologi Republik Indonesia Gusti Muhammad Hatta. Dia mengemukakan hal itu saat peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Jakarta kemarin.

Dalam kesempatan itu, Kemenristek memamerkan bus nasional berbasis listrik buatan Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Bus yang memiliki nama Hevina (Hybrid Electric Vehicle Indonesia) menggunakan 100 buah baterai lithium (LiFe Po4) 320 VDC/24 A dan dapat mencapai 147 Hp dengan kecepatan maksimal 5000 rpm, torsi 300 Nm sehingga mampu melaju dengan kecepatan 100 km/jam dan daya jelajah 100 km.

"Semua komponen bis ini asli lokal hanya baterai harus import dari Amerika Serikat," kata Kepala Penelitian LIPI untuk bis listrik Abdul Hapid.

Hapid mengatakan ada dua tipe baterai listrik yaitu baterai kering seperti lithium dan baterai basah. Perbedaanya, baterai basah memiliki harga lebih murah hanya tapi daya kekuatannya hanya sebentar dan daya tempuhnya tidak terlalu jauh.

Sebaliknya, baterai kering jauh lebih mahal dan daya jangkaunnya lebih jauh dan dapat bertahan lama. "Baterai basah yang memiliki berat 570 kg dijual sekitar 20 jutaan dan jarak tempuhnya sekitar 70 km," kata Hapid.

Dana Rp. 1.2 miliar yang dikucurkan Kemenristek untuk pembuatan bus listrik itu, harga baterainya memakan sepertiga atau 30 persen.(adm) 


0

Penerbangan Indonesia Butuh 4.000 Pilot

 Sekolah penerbangan nasional belum dapat memenuhi kebutuhan akan pilot

(VIVAnews/Tri Saputro)
VIVAnews - Pesatnya industri penerbangan di Indonesia dan pemberlakuan kebijakan ASEAN Open Sky pada 2015 mendatang hingga kebijakan pasar penerbangan tunggal di ASEAN pada 2020 membuat Indonesia membutuhkan 4.000 pilot, 7.500 teknisi dan 1.000 pengontrol lalu lintas udara.

Presiden Asosiasi Pengatur Udara Nasional di Indonesia (INACA) Emirsyah Satar menjelaskan, sektor penerbangan nasional tumbuh sangat pesat, dengan perkembangan pesawat baru sekitar delapan persen per tahun.

Namun, menurut Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk itu, sekolah penerbangan di Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan akan pilot, teknisi, dan petugas pengontrol lalu lintas udara.

"Dengan populasi mencapai 240 juta orang, Indonesia hanya mempunyai 13 sekolah penerbangan. Dibandingkan dengan negara lain seperti Amerika Serikat yang mempunyai 1.076 sekolah dan Uni Eropa yang mempunyai 369 sekolah," kata Emirsyah.

Untuk itu, Emirsyah menuturkan, INACA bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan membuat konferensi internasional yang fokus pada pelatihan penerbangan untuk kebutuhan Indonesia bertajuk Indonesia Aviation Training & Education Conference (IATEC).

Menurutnya, IATEC akan menjadi sarana ideal menyelenggarakan pelatihan oleh ahli penerbangan ternama di dunia seperti Vice President Commercial Flight Services Boeing, Sherry Carbary dan Presiden Association of Flight Training Professional (IAFTP), Robert Barnes. (asp)

0

Indonesia tempati peringkat ke-46 dalam kemajuan teknologi

Surabaya (ANTARA News) - Indonesia menempati peringkat ke-46 di dunia dalam bidang kemajuan teknologi, kata anggota tim Tekno-Meter Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Kuncoro Budy Prayitno, di Surabaya, Rabu.

Penilaian pemeringkatan itu, menurut dia, berdasarkan pada tingkat kesiapan teknologi (TKT) yang antara lain meliputi inovasi teknologi dan teknologi siap pakai.

"Untuk mengukur kesiapan teknologi atau mewujudkan teknologi siap pakai perlu Tekno-Meter," katanya dalam pelatihan TKT untuk perguruan tinggi dan instansi pemerintah dan swasta di Jawa Timur.

Dalam pelatihan yang diselenggarakan Kementerian Riset dan Teknologi RI dan BPPT itu, fasilitator pelatihan lainnya, Drs Dedi Suhendri MSi, mengatakan pengukuran TKT terdiri atas beberapa level.

"Pembagian itu mulai dari level satu hingga sembilan. Setiap level terdapat beberapa persyaratan sebagai bahan pertimbangan pemenuhan level tersebut," katanya.

Ia menjelaskan, pengukuran level satu hingga tiga TKI meliputi riset dasar, serta konsep dan dasar teknologi yang akan dikembangkan.

"Suatu teknologi dapat dinyatakan dalam level empat hingga enam bila teknologi tersebut telah dalam bentuk prototipe," katanya.

Pada level enam sendiri merupakan titik kritis yang di dalamnya terdapat peranan penting dari pemerintah serta swasta yang berpengaruh terhadap produksi teknologi.

Penilaian level tujuh hingga sembilan sendiri diberikan bila penerapan teknologi dinilai sudah matang dan siap untuk aplikasi, sudah bisa dikomersialisasikan dan ada investasi yang cukup.(E011)


0

Indonesia masuki pertumbuhan Internet gelombang 2

Ilustrasi
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia memasuki potensi pertumbuhan Internet gelombang kedua dari peningkatan pengguna berusia dewasa dan pertumbuhan pengguna di sejumlah kota besar Indonesia, demikian hasil survei Yahoo! TNS Net Index.

"Pertumbuhan itu bisa dilihat dari persentase pengguna Internet di usia 30 hingga 50 tahun sejak 2009 hingga 2012," kata Penasehat Klien Lembaga Riset TNS Indonesia, Jhoni Tuerah, dalam jumpa pers di Jakarta hari ini.

Riset kerjasama TNS dan Yahoo! itu menunjukkan pengguna internet usia 30 - 34 tahun mengalami peningkatan dari 2009 sebesar 16 persen menjadi 54 persen pada 2012.

"Persentase pengguna internet berusia 35 hingga 39 tahun melonjak dari 13 persen pada 2009 ke 52 persen pada 2012," kata Jhoni.

Sedangkan pengguna Internet berusia 40 hingga 50 tahun pada 2009 sebesar sembilan persen menjadi 24 persen pada 2012.

"Selain demografis, pertumbuhan Internet dari sisi geografis juga meningkat di tiga kota besar di Indonesia yaitu Semarang, Palembang, dan Makassar," kata Jhoni.

Sejak 2009 hingga 2012, pertumbuhan pengguna Internet di Semarang meningkat 28 persen, Palembang 38 persen, dan Makassar 43 persen.

Survei Yahoo! Net Index melibatkan responden sebanyak 3.365 orang yang diambil dari media non-Internet dan 1.762 orang dari media Internet.

Para responden berasal dari Jakarta, Bogor-Depok-Tanggerang-Bekasi (Bodetabek), Surabaya, Bandung, Medan, Semarang, Palembang, Makassar, Yogyakarta, dan Denpasar. (I026)


0

BPPT ikut kembangkan alat penerjemah suara

Jakarta (ANTARA News) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ikut mengembangkan alat penerjemah suara yang disebut "VoiceTra4U-M".

"Aplikasi ini merupakan mesin penerjemah suara atau wicara-ke-wicara," kata Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT, Hammam Riza, pada acara Peluncuran ICT Outlook dan Kreasi Inovasi Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, aplikasi itu akan memudahkan orang di dunia saling berkomunikasi tanpa halangan penguasaan bahasa asing.

"Aplikasi ini memungkinkan lima orang untuk berkomunikasi secara simultan dalam 23 bahasa yang berbeda-beda," katanya serta menambahkan aplikasi itu ditargetkan sudah bisa dinikmati masyarakat Indonesia awal tahun 2013.

Ia menjelakan pula bahwa aplikasi tersebut merupakan hasil kerja sama riset internasional Universal Speech Translation Advanced Research Consortium (U-STAR) yang beranggotakan 26 lembaga dari 23 negara, termasuk BPPT.

Dia menambahkan, seluruh anggota U-STAR bekerjasama mengembangkan sistem penerjemah wicara multi-bahasa untuk menyediakan layanan penerjemah melalui aplikasi yang telah dirilis untuk umum.

"Peluncuran sementara pada 24 Juni lalu dirilis untuk iPhone tapi pada awal 2013 ditargetkan semakin luas," katanya.(W004)


0

Dosen Unsoed Kembangkan Padi Bernutrisi Tinggi

Dosen Unsoed Kembangkan Padi Bernutrisi Tinggi
Petani menanam Padi
REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Berbagai varietas unggul padi yang kini banyak dikembangkan petani saat ini, seperti IR 64, Logawa, Cisadane, dan varietas unggul lainnya, ternyata miskin zat gizi. Staf pengajar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof Dr Soewarto, menyebutkan varietas itu memang memiliki tingkat produktivitas cukup tinggi.

''Namun beras yang dihasilkan, miskin zat gizi,'' jelasnya dalam pidato pengukuhan dirinya sebagai guru besar Unsoed, Selasa (26/6). Dia menyebutkan, kandungan zat gizi yang sangat diperlukan bagi tubuh manusia, antara lain adalah kandung zat besi (Fe), Vitamin A dan Yodium. Salah satu zat gizi yang sebenarnya bisa ditingkatkan kandungannya dalam beras, adalah kandungan zat besi.

''Kenyataanya selama ini, kandungan zat gizi yang terdapat dalam varietas-varietas unggul padi yang banyak dibudidayakan petani, masih sangat rendah. Rata-rata masih dibawah 20 ppm,'' jelasnya.

Soewarto mengaku telah menemukan varietas padi baru yang selain memiliki tingkat produktivitas tinggi, juga memiliki kadar Fe cukup, yakni pada kisaran 22-29 ppm. Ketiga jenis padi tersebut, untuk sementara dia sebut varietas padi Unsoed Fe 2, Unsoed Fe 2, dan Unsoed Fe 37.

''Ketiga varietas ini, sedang kami ajukan ke Konsorsium Padi Nasional untuk diujicoba dan bila lolos ketentuan, bisa dilepaskan sebagai salah satu varietas unggul yang resmi dilepaskan oleh pemerintah yang bisa digunakan petani di Tanah Air,'' katanya.

Dia menyebutkan, verietas padi tersebut merupakan padi lahan basah (sawah) yang merupakan hasil persilangan antara tiga galur padi, yakni G-10, Cimelati dan IRRI. Ketiga jenis padi itu sendiri, memang memiliki kandungan Fe tinggi, terutama jenis G-10, namun memiliki tingkat produktivitas rendah.

Setelah dilakukan persilangan tersebut, Soewarto akhirnya menemukan jenis padi yang memiliki kandungan Fe tinggi, namun memiliki tingkat produktivitas yang tinggi, mencapai 8 ton per hektar. ''Tingkat produktivitas ini, sudah menyamai jenis varietas padi IR 64 yang banyak dibudidayakan petani,'' jelasnya.

Dia juga menyebutkan, varietas padi Unsoed Fe 2, Unsoed Fe 27 dan Unsoed Fe 37, memiliki sifat yang tahan hama. Antara lain, tahan hama wereng coklat dan hawar daun. ''Selain itu, rasa berasnya juga cukup pulen. Bahkan lebih pulen dari IR 64,'' tambahnya.

Dia berharap, bila jenis padi temuannya ini kelak dilepaskan pemerintah sebagai varietas yang bisa dibudidayakan petani, maka kebutuhan nutrisi masyarakat miskin mencakup kebutuhan zat Fe. Dengan demikian, kasus defesiensi gizi khususnya kasus kekurangan zat besi yang bisa menyebabkan anemia, bisa dapat diatasi.