0

★ 5 Pesawat Tanpa Awak Buatan Indonesia

Pesawat tanpa awak yang duji dapat untuk kepentingan sipil / militer

5 Pesawat tanpa awak dipamerkan di Bandara Halim Perdanakusuma. Boleh berbangga karena pesawat-pesawat ini asli buatan Indonesia.

Pesawat-pesawat itu merupakan hasil riset Balitbang Kemenhan yang bekerjasama dengan BPPT. Pesawat-pesawat ini berfungsi antara lain sebagai pesawat pengintai, pemotretan udara pada area yang sangat luas, pengukuran karakteristik atmosfer, dan pemantauan kebocoran listrik pada kabel listrik tegangan tinggi. Pesawat-pesawat ini cocok digunakan di daerah perbatasan.

Kelima pesawat tanpa awak itu baru prototipe dan baru akan diproduksi.

"Setelah teruji kita akan serahkan ke industri. Bisa dimodifikasi tetapi kaidah desainnya harus sama. Saat ini ada PT DI dan LAPAN, yang akan memproduksinya," kata insinyur rekayasa di BPPT, Ir Adrian Zulkifli.

Adrian sangat berharap pesawat ini diproduksi oleh pabrikan teknologi BUMN dan bukan swasta. "Karena kita akan mengontrol pembuatannya," kata dia.

Berapa harganya? "1 Pesawat harganya kira-kira 2 miliar. Dan riset ini menggunakan dana DIPA. Untuk engine, kita ambil dari Jerman. Kalau kamera bisa pakai dari Taiwan," imbuh Zulkifli.

Prototipe pesawat itu dipamerkan dan 1 pesawat Wulung telah diuji coba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2012). Lima pesawat ini adalah:

 1. Puna Sriti


Pesawat ini berwarna putih. Sriti adalah wahana udara nirawak jarak dekat dengan konfigurasi desain playing wing menggunakan catapult (pelontar) sebagai sarana take off dan jaring sebagai sarana landing.

"Sriti untuk surveilance. Karena bisa take off dengan peluncuran dan landing di jaring maka bisa dipakai untuk melengkapi Angkatan Laut pada peralatan di KRI. Sriti ini bisa melihat ke depan sejauh 60-75 km. Jadi bisa dikatakan sebagai mata KRI," papar Chief Engineer BPPT, Muhamad Dahsyat di lokasi.

Yang kedua, imbuh Dahsyat, untuk memenuhi kebutuhan pengamanan lokal area seperti bandara. Bisa juga dipakai untuk tindakan SAR di gunung-gunung, jadi lebih efektif.

Spesifikasi pesawat:
- wingspan  2.988 mm
- MTOW (Maximum Take Off Weight) 8,5 kilogram
- cruise speed 30 knot
- endurance 1 jam
- range 5 nautical mile
- altitude 3.000 feet
- catapult 4.500 mm
- catapult bungee chords.

 2. Puna Alap-alap


Pesawat ini bermotif loreng dengan warna hijau tua dan hijau muda tentara. Alap-alap adalah wahana udara nirawak jarak menengah dengan konfigurasi desain inverted V-tail dan double boom menggunakan landasan sebagai sarana take off.

"Alap-alap didesain long race. Untuk kebutuhan surveilance saja," kata Dahsyat.

Spesifikasi pesawat:
- wingspan 3.510 mm
- MTOW (Maximum Take Off Weight) 18 kilogram
- cruise speed 55 knot (101,86 km/jam)
- endurance 5 jam
- range 140 kilometer
- altitude 7.000 feet
- payload = gymbal camera video.

 3. Puna Gagak


Pesawat ini bermotif loreng dengan warna oranye dan putih.

Gagak adalah wahana udara nirawak jarak jauh dengan konfigurasi desain V-tail, low wing dan low boom, menggunakan landasan sebagai sarana take off - landing.

"Puna Gagak ini sama dengan Pelatuk tetapi berbeda misi. Kalau Gagak untuk misi rendah-naik-rendah lagi. Dan bisa digunakan untuk Angkatan Laut," tutur Dahsyat.

Spesifikasi pesawat:
- wingspan 6.916 mm
- MTOW (maximum take off weight) 120 kilogram
- cruise speed 52 - 69 knot (96,3 - 127,8 km/jam)
- endurance 4 jam
- range 73 km
- altitude 8.000 feet
- payload=gymbal camera video.

 4. Puna Pelatuk


Pesawat ini bermotif loreng dengan warna putih, abu-abu dan krem.

Pelatuk adalah wahana udara nirawak jarak jauh dengan konfigurasi desain V-tail inverted high wing dan high boom, menggunakan landasan sebagai take off - landing.

"Kalau Pelatuk itu low-high-low, menukik ke bawah, kemudian naik lagi," jelas Dahsyat.

Spesifikasi pesawat:
- wingspan 6.916 mm
- MTOW (Maximum Take Off Weight) 120 kilogram
- cruise speed 52 - 69 knot (96,3 - 127,8 km/jam)
- endurance 4 jam
- range 73 km
- altitude 8.000 feet
- payload=gymbal camera video.

 5. Puna Wulung


Pesawat ini bermotif loreng hijau tosca dan abu-abu.

"Wulung ini medium. Terbang bisa mencapai waktu 4 jam. Dan muatannya cukup hingga bisa dipakai untuk membuat hujan buatan maupun penyebaran benih," tutur Dahsyat.

"Kalau Wulung ini misi terbangnya itu high-high-high. Ke depan kita akan eksplorasi lagi untuk kebutuhan lain," imbuh dia.

Spesifikasi pesawat:
- wingspan 6.360 mm
- MTOW (maximum take off weight) 120 kg
- cruise speed 60 knot (111.12 km/jam)
- endurance 4 jam
- range 120 KM
- length 4.320 mm
- height 1.320 mm

0

★ Skuadron Pesawat Tanpa Awak BPPT

 Menhan Bentuk Skuadron Pesawat PUNA

Jakarta – Indonesia boleh berbangga sudah mampu menciptakan pesawat pengintai tanpa awak (nir awak) buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang sukses diuji coba di Base Ops Halim Perdana Kusuma, Kamis (11/10) pagi.

Keberhasilan uji coba pesawat Unimaned Aerial Vechile (UAV) atau Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) ini membuat Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro bertekad membangun sebuah skuadron PUNA guna pengamanan daerah perbatasan.

“Kita hentikan penelitian karena akan terjadi pembengkakan biaya. Lebih baik kita langsung membangun satu skuadron pesawat tanpa awak,” urai Purnomo usai menyaksikan uji coba PUNA di Halim PK. Turut hadir Menristek Gusti Muhammad Hatta, Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat dan Kepala BPPT Marzan A. Iskandar.

Menurut Menhan, pembuatan pesawat PUNA secara masal ini diserahkan kepada PT Dirgantara Indonesia (DI). Kebutuhan pesawat PUNA untuk TNI Angkatan Udara (AU) harus memperhatikan kebutuhan dari TNI sendiri. Pasalnya, pembangunan skuadron PUNA ini untuk tahap awal hanya untuk pengintaian saja.

Kedepannya, kata dia, PUNA buatan dalam negeri ini akan digunakan perang dan dipersenjatai, atau menggantikan pesawat tempur yang disebut dengan Unmaned Combat Aerial Vehicle (UCAV).

Purnomo mengatakan, produksi dalam negeri memang agak mahal harganya. Namun, dalam pemenuhan Alutsista TNI harus dicari harga yang ekonomis.

Menurut dia, kegunaan PUNA dalam perang dapat digunakan sebagai pesawat Kamikaze atau pesawat bunuh diri yang ditabrakkan ke kapal perang, seperti ketika Jepang menyerang pangkalan Amerika Serikat di Pearl Harbour.

PUNA juga dapat digunakan sebagai pesawat target, seperti apa yang dilakukan oleh pesawat Amerika Serikat ketika menyerang Irak. “Pesawat tanpa awak Amerika diterbangkan menjadi target persenjataan anti kapal Irak dan di belakangnya pesawat bombing yang langsung mengebom Irak,” imbuhnya.

Selain kegunaan dalam perang, kata dia, PUNA dapat juga digunakan sebagai pesawat pembuat hujan buatan, pemetaan lokasi, dan mengatasi kebakaran di hutan.

“Kegunaan PUNA sangat banyak dan dapat menjangkau daerah yang tidak dapat dijelajah manusia,” tuturnya.

Lebih lanjut Purnomo mengatakan, UU Industri Pertahanan (Inhan) sangat membantu dalam pengembangan PUNA sebagai industri. “Dengan majunya Inhan melalui PUNA, kita akan membantu perekonomian nasional,” tegasnya. (aby/dms)

FOTO : Menhan Purnomo Yusgiantoro menyaksikan uji coba pesawat tanpa awak PUNA di Halim PK, Kamis. Turut hadir Menristek Gusti Muhammad Hatta, Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat dan Kepala BPPT Marzan A. Iskandar. (aby)

 Pesawat Tanpa Awak Jadi "Pasukan Kamikaze" TNI

Pesawat tanpa awak ini akan dipersenjatai. 

PUNA-nIndonesia melalui kerjasama Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertahanan dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berhasil menciptakan lima jenis pesawat tanpa awak atau Pesawat Udara Nir Awak (PUNA).

Pesawat-pesawat yang terdiri dari Puna Sriti, Puna Alap-alap, Puna Pelatuk, Puna Gagak, dan Puna Wulung ini ini akan menambah kekuatan dan daya tempur TNI khususnya Angkatan Udara.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang turut menyaksikan uji coba pesawat terlihat begitu sumringah. Dia berjanji akan memprioritaskan anggaran untuk pengembangan pesawat-pesawat perang tersebut.

"Saya senang, sampaikan selamat kepada yang membuat, peneliti, dan yang mendesain ini. Nanti saya on top-kan pengembangannya," kata SBY.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyebut kelima pesawat ini nantinya dapat digunakan sebagai "pasukan bunuh diri" ala Kamikaze Jepang dalam Perang Dunia II melawan Amerika Serikat.

Menurut dia, saat itu, tentara Jepang dengan sangat heroik menabrakkan pesawat pilot tunggalnya ke Pangkalan AS di Pearl Harbour, Hawaii. "Ke arah situ. PUNA ini juga akan kami persenjatai," kata Purnomo saat uji coba pesawat di Base Operasional, Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

© VIVA.co.id, Poskota
0

Dahlan Iskan: RI Kini Bagaikan Gadis Cantik Incaran Investor

Bagi Menteri BUMN itu, kini saatnya kurangi utang sebanyak mungkin

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, segera menindaklanjuti instruksi Presiden terkait peningkatan peran perusahaan milik negara dalam membiayai infrastruktur. Pasalnya, seperti gadis cantik, Indonesia sedang jadi incaran banyak investor sehingga ini harus jadi momentum yang tidak boleh disia-siakan.

Menurut Dahlan, perusahaan plat merah akan didorong untuk dapat membiayai proyek-proyek infrastruktur yang secara ekonomis dapat memberikan kontribusi dalam penerimaan negara.

"BUMN siap mengarap infrastruktur," ujar Dahlan di Gedung DPR, Jakarta, Kamis 11 oktober 2012.

Dahlan menegaskan, pihaknya akan mengurangi pembiayaan dari utang luar negeri. Namun jika diperlukan, nantinya kerjasama pembiayaan tersebut akan dilakukan secara bisnis to bisnis dengan lembaga keuangan ataupun investor luar negeri.

Hal tersebut dilakukan agar realisasi proyek dapat dipercepat dengan proses yanng mudah. "Tidak usah lewat pemerintah, prosedurnya lebih cepat," ungkapnya.

Terkait pinjaman luar negeri, Dahlan mengaku telah membatalkan beberapa perjanjian pinjaman luar negeri untuk proyek di perusahaan BUMN. Hal tersebut dikarenakan proses yang berbelit sehingga ahirnya proyek tersebut terkatung-katung.

"Kurangi pokoknya pinjaman luar negeri sebanyak mungkin. Sekarang Indonesia jadi gadis cantik, jadi incaran investor mengalirkan uang ke Indonesia," ujarnya.

© VIVA.co.id
0

Dahlan: BUMN Siap Beli Newmont

Keuangan BUMN, bahkan siap untuk merealisasikan hal tersebut.

Dahlan: BUMN Siap Beli Newmont
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyambut baik jika diberi amanat pemerintah untuk membeli divestasi saham PT Newmont Nusa Tenggara (NTT). Keuangan BUMN bahkan siap untuk merealisasikan hal tersebut.

"Saya sedang memikirkan usulan itu dan dari segi kemampuan BUMN, mampu. Dari segi kebaikan, rasanya BUMN juga baik membeli itu. Saya pikirkan dengan serius, usul itu sangat positif, daripada misalnya itu tidak diambil," kata Menteri BUMN, Dahlan Iskan, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis 11 Oktober 2012.

Dia menjelaskan, idealnya hal tersebut dilakukan oleh perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang keuangan. Sebab, saham yang akan dimiliki adalah saham minoritas.

"Sebaiknya begitu. Jadi, bukan Antam (PT Aneka Tambang Tbk) dan Timah. Pokoknya, bukan perusahaan BUMN pertambangan," katanya.

Meski tidak spesifik akan diamanatkan ke perusahaan pelat merah mana, Dahlan hanya menyebutkan beberapa yang dimungkinkan. Antara lain, PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI), PT Danareksa (persero), atau anak usaha perusahaan tersebut lainnya. (art)

© VIVA.co.id
0

Aceh Bakal Punya BP Migas Khusus Aceh

Dasar hukum pembentukan itu adalah pasal 160 UU Pemerintahan Aceh.

Aceh Bakal Punya BP Migas Khusus Aceh
Pemerintah bertekad untuk segera menyelesaikan rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) pengelolaan sumber daya alam minyak dan gas Bumi Aceh dalam tahun ini.

RPP tersebut akan mengatur pengelolaan SDA, salah satunya adalah membentuk badan pelaksana pengelola migas seperti BP Migas, namun khusus Aceh.

Hari ini, Gubernur Aceh, Zaini Abdullah didampingi Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA) Rudiyanto Yoesuf serta anggota Komisi VII DPR-RI, Teuku Rifky Harsya datang ke Kementerian ESDM untuk membahas RPP tersebut yang telah tertunda selama empat tahun.

RPP ini merupakan turunan dari Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

"Masih ada beberapa poin yang masih harus dibahas dan akan selesai pada akhir tahun ini," kata Teuku Rifky Harsya di Kementerian ESDM, Jakarta, 11 Oktober 2012.

Menurut Teuku Rifky, ada satu hal krusial yang akan dimasukkan dalam RPP tersebut, yaitu dibentuknya khusus BP Migas khusus Aceh. Dasar hukum pembentukan BP Migas khusus Aceh adalah pasal 160 UU Pemerintahan Aceh bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh menunjuk atau membentuk badan pelaksana dalam pengelolaan bersama sumber daya alam migas yang berada di darat dan laut wilayah kewenangan Aceh.

BP Migas khusus Aceh ini, tambahnya, memiliki tugas penting yaitu Kontrak Kerja Sama (KKS) berlaku jika seluruh isi kontrak disepakati bersama oleh pemerintah dan pemerintah Aceh. "Nanti tata cara negosiasi, pembuatan kerjasama, penentuan target migas, produksi yang dijual, bagi hasil itu akan ditentukan oleh BP Migas," katanya.

Pembentukan BP Migas khusus Aceh ini akan pararel dengan disahkannya RPP Pengelolaan SDA Migas Aceh yang disahkan pada awal 2013. Nantinya dalam RPP tersebut, bagi hasil akan diatur 70 persen untuk Pemda Aceh dan 30 persen pemerintah pusat.

Hal ini merupakan kesepakatan pasca ditandatanganinya nota kesepahaman perdamaian antara Pemerintah RI dengan GAM (MoU Helsinksi) pada 15 Agustus 2005.

"Saya yakin tidak akan terjadi kecemburuan dengan daerah lain karena latar belakang Aceh ini berbeda dengan daerah lain," katanya.(sj)

© VIVA.co.id
0

Polri Ungkap Penipuan Jual Beli Online Antarnegara

Tersangkanya orang Indonesia, sedangkan korban adalah warga AS

Seorang warga negara Indonesia diduga terlibat kasus penipuan terhadap seorang warga negara Amerika Serikat melalui penjualan online. Kasus ini terungkap setelah Markas Besar Kepolisian mendapat laporan dari Biro Penyelidik Amerika Serikat.

"FBI menginformasikan tentang adanya penipuan terhadap seorang warga negara Amerika yang berinisial JJ, yang diduga dilakukan oleh seorang yang berasal dari Indonesia," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Kamis 11 Oktober 2012.

Boy mengatakan seorang warga Indonesia itu menggunakan nama HB untuk membeli sebuah alat elektronik melalui pembelian online. "Jadi ini transaksi melalui online, tetapi lintas negara. Jadi transaksinya dengan pedagang yang ada di luar negeri, khususnya Amerika," kata Boy.

Dalam kasus ini, kata Boy, Mabes Polri telah menetapkan satu tersangka berinisial MWR. Dia memanfaatkan website www.audiogone.com yang memuat iklan penjualan barang.

Kemudian, kata Boy, MWR menghubungi JJ melalui email untuk membeli barang yang ditawarkan dalan website itu. "Selanjutnya kedua belah pihak sepakat untuk melakukan transakasi jual beli online. Pembayaran dilakukan dengan cara transfer dana menggunakan kartu kredit di salah satu bank Amerika," kata dia.

Setelah MWR mengirimkan barang bukti pembayaran melalui kartu kredit, maka barang yang dipesan MWR dikirimkan oleh JJ ke Indonesia. Kemudian, pada saat JJ melakukan klaim pembawaran di Citibank Amerika, tapi pihak bank tidak dapat mencairkan pembayaran karena nomor kartu kredit yang digunakan tersangka bukan milik MWR atau Haryo Brahmastyo.

"Jadi korban JJ merasa tertipu, dan dirugikan oleh tersangka MWR," kata Boy.

Dari hasil penyelidikan, MWR menggunakan identitas palsu yaitu menggunakan KTP dan NPWP orang lain. Sementara barang bukti yang disita adalah laptop, PC, lima handphone, KTP, NPWP, beberapa kartu kredit, paspor, alat scanner, dan rekening salah satu bank atas nama MWRSD.

Atas perbuatannya, tersangka dikenai Pasal 378 atau Pasal 45 ayat 2 junto Pasal 28 Undang-Undang nomor 11 tentang Informasi Transaksi Elektronik.

Selain itu, polri juga menerapkan Pasal 3 Undang-Undang nomor 8 tahun 2010 tentang Pencucian Uang. Selain itu, juga dikenakan pasal pemalsuan yaitu Pasal 378 dan beberapa pasal tambahan Pasal 4 ayat 5, dan pasal 5 UU no 8 tahun 2010. (ren)

© VIVA.co.id
0

TNI Anggarkan Rp 1,4 Triliun Untuk Amankan Blok Masela

Ilustrasi Satgas TNI
Jakarta - Mabes TNI memperkirakan anggaran untuk mengamankan proyek Lapangan gas Abadi di Blok Masela, Maluku sebesar Rp 1,4 triliun.

Dalam dokumen yang didapat Bisnis disebutkan Wakil Asisten Operasi Panglima TNI Laksamana Pertama TNI Widodo menyatakan dana sebesar itu akan digunakan untuk menggelar operasi permanen, operasional sehari-hari, dan pembangunan landasan pesawat.

Untuk pengamanan permanen Angkatan Darat, yang meliputi operasi sejumlah pos seperti koramil, markas batalion, dan markas kompi dibutuhkan dana minimal Rp 274 miliar dan gelar operasi Rp 1,5 miliar, sehingga total dana yang dibutuhkan sekitar Rp 276 miliar.

Angkatan Laut membutuhkan Rp139 miliar untuk gelar tetap dan Rp 18 miliar untuk biaya operasional, sehingga total biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 157 miliar.

Untuk gelar tetap Angkatan Udara dibutuhkan sedikitnya Rp 822 miliar dan biaya operasional Rp 72 miliar, sehingga jumlah yang dibutuhkan Rp 968 miliar.

"Dengan demikian kebutuhan untuk pengamanan Masela adalah Rp 1,4 triliun," tulis dokumen itu, mengutip pernyataan Widodo.

Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul menegaskan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) meminta Mabes TNI untuk membuat rencana pengamanan proyek tersebut sehingga keluar perkiraan anggaran sebesar Rp 1,4 triliun.

“Ini baru rencana ke depan, belum terlaksana tahun ini, tetapi untuk 20 tahun yang ada datang,” kata Iskandar kepada Bisnis hari ini.

Sarana keamanan di daerah tersebut masih kosong sehingga perlu dibangun. Mabes TNI perlu membangun lapangan terbang untuk operasi Angkatan Udara, pangkalan angkatan laut (Lanal), dan pendirian batalion untuk Angkatan Darat.

Iskandar menegaskan pengamanan di sekitar wilayah tersebut perlu disiapkan karena menyangkut daerah perbatasan dengan Australia. Namun hingga saat ini belum ada pembicaraan lebih lanjut dengan BP Migas mengenai hal itu.

Lapangan gas Abadi di Blok Masela, terletak di Laut Arafuru, sekitar 180 km sebelah Selatan Pulau Tanimbar. Daerah ini merupakan wilayah perbatasan dengan perairan Australia.

Pencarian migas di Blok Masela oleh Inpex Masela Ltd dimulai sejak November 1998 dan berhasil menemukan cadangan gas yang cukup ekonomis untuk diproduksikan pada Desember 2000.

Lapangan gas Abadi memiliki cadangan 6,5 triliun kaki kubik (TCF) gas. Proyek yang menelan investasi US$5 miliar dengan kilang LNG terapung berkapasitas 2,5 juta ton per tahun (MTPA) ini diharapkan mulai berproduksi pada 2016.

BP Migas diminta mengajukan permohonan kepada Presiden, Kementerian Keuangan, atau Bappenas untuk menyisihkan sebagian penerimaan dari proyek Masela untuk pembangunan sarana pengamanan, tidak langsung semuanya masuk ke kas negara.

"Dengan adanya dana, pengamanan di sana akan lebih baik. Intinya kami siap mengamankan blok migas itu," tulis dokumen tersebut mengutip pernyataan Widodo.

Kesiapan untuk mengamankan blok gas tersebut juga diutarakan oleh Polda Maluku. Sayangnya, Direktorat Obyek Vital Nasional di Polda Maluku baru terbentuk, belum memiliki sarana, prasarana, serta personel yang optimal. Ditambah lagi kondisi geografi dan sosial masyarakat Maluku yang sangat kompleks.

Untuk memproduksi cadangan terbukti (P1) sebesar 6,05 TCF tersebut, Inpex berencana membangun berbagai fasilitas pendukung yang terkait dengan production integrator seperti pemasangan wellhead di dasar laut, flow line, riser, umbilical dan sub sea tool maintenance.

Selain itu, akan dibangun kilang terapung (FLNG) berupa ruang terbatas dengan dimensi panjang 360 meter dan lebar 80 meter, yang akan digunakan untuk mengolah gas menjadi LNG, fasilitas logistik berupa pelabuhan laut dan heli, kantor, gudang, bengkel perawatan, mes untuk transit, crew change dan supply base.

Seperti layaknya proyek migas lain, proyek Lapangan Abadi merupakan objek vital nasional (Obvitnas). Karena letaknya di jalur ALKI – III dirasa sangat rawan terhadap potensi ancaman.

Kebocoran pada fasilitas production integrator ataupun over pressure, misalnya dapat mengakibatkan masalah lingkungan yang akan mempengaruhi hubungan kedua negara, mengingat posisinya yang sangat dekat dengan garis perbatasan.

Situasi di perbatasan dapat berubah setiap saat dengan sangat cepat apabila tidak diantisipasi dengan baik. Hal ini dapat mempengaruhi pelaksanaan proyek yang masuk dalam kategori Obvitnas tersebut.

"Untuk mengantisipasi munculnya masalah-masalah tersebut, kami menganggap perlu adanya grand design pengamanan proyek pengembangan Lapangan Abadi di Blok Masela. Mekanisme pengamanan di kawasan itu merupakan upaya preventif, bukan seperti pemadam kebakaran. Saya kira hal ini juga sejalan dengan Renbang TNI di wilayah Timur Indonesia," tulis dokumen tersebut mengutip Widodo.

©
Bisnis
0

★ Ujicoba Pesawat Tanpa Awak BPPT

 Menhan Hadiri Uji Terbang Pesawat Tanpa Awak


Menhan Hadiri Uji Terbang Pesawat Tanpa Awak
Jakarta - Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro menghadiri uji terbang Pesawat Tanpa Awak (Unamed Aerial Vehicle) yang dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). 


Sesuai pantauan, Menhan Purnomo ketika sampai langsung melihat pesawat tanpa awak, sebanyak enam buah yang dipajang di Base Ops Pangkalan TNI AU, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (10/10/2012).

Menhan ditemani oleh Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat dan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta yang juga melihat bagaimana pesawat tanpa awak ini terbang.


Seperti diketahui, pesawat tanpa awak ini merupakan hasil pengembangan dalam negeri. Pesawat ini dapat dipergunakan untuk kepentingan militer dalam hal pengamatan wilayah.


Diharapkan pesawat tanpa awak ini dapat dikembangkan menggantikan pesawat tempur atau biasa disebut dengan Unamed Combat Aerial Vehicle (UCAV).


Pesawat terbang tanpa awak produksi BPPT ini, khususnya model Wulung, memiliki spesifikasi dan kemampuan yang tidak kalah dengan produk luar negeri.


Dengan bentangan sayap sepanjang 6,36 meter, panjang 4,32 meter, tinggi 1,32 meter serta berat 120 Kg ini sangat efektif untuk misi pemotretan udara pada area yang sangat luas serta pengukuran karakteristik atmosfer.



 SBY Tinjau Pesawat Tanpa Awak di Halim

Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tiba kembali di Jakarta setelah kemarin berada di Yogyakarta. Begitu turun dari pesawat, SBY dan Ibu Ani Yudhoyono menyempatkan diri meninjau uji coba pesawat tanpa awak di Bandara Halim Perdana Kusumah, Jakarta.


Pesawat Boeing 737-800 milik Garuda yang ditumpangi rombongan SBY tiba di Bandara Halim pada Kamis (11/10/2012) sekitar pukul 10.00 WIB. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro segera menyambut SBY dan Ibu Negara.


Purnomo lantas mengantar SBY dan rombongan ke lokasi uji coba Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau pesawat nir awak alias pesawat tanpa awak buatan BPPT. SBY mendatangi pesawat Wulung, satu dari 6 pesawat tanpa awak yang ada di lokasi.


Seorang petugas BPPT menjelaskan soal pesawat-pesawat itu kepada SBY. "
Saya merasa senang dan menyampaikan terima kasih kepada pihak yang terlibat," ucap SBY yang dibalut safari biru.

Hanya 10 menit meninjau pesawat-pesawat tersebut, SBY dan rombongan kemudian meninggalkan lokasi.(vit/asy)


 SBY Terkesima Lihat Pesawat Tanpa Awak


SBY Terkesima Lihat Pesawat Tanpa Awak
Jakarta - Pameran dan uji terbang Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) yang dilaksanakan di Base Ops Pangkalan TNI AU, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2012) bertepatan dengan kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


Kedatangan Presiden dari Yogyakarta, usai melantik Gubernur DIY, Sri Sultan X Hamengkubuwono ini memang tidak direncanakan. Presiden tiba di Landasan Udara Base Ops pangkalan TNI AU sekitar pukul 10.15 WIB.


Setelah mendarat, Presiden yang ditemani Ibu Negara, Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) Agung Laksono dan Menteri ESDM, Jero Wacik langsung melihat PUNA Wulung Yang terparkir di pinggir lapangan udara.


"Sudah diuji terbang?" tanya Presiden kepada Kepala BPPT, Marzan Aziz Iskandar yang tengah memberikan penjelasannya.


Menhan Purnomo yang juga berada di lokasi terlebih dahulu menjelaskan kepada Presiden, bahwa PUNA ini akan menjadi salah satu kekuatan pertahanan udara untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.


"Ini bagus. Saya ucapkan selamat kepada yang membuat, mendesain dan meneliti pesawat ini," kata SBY.


Presiden juga sempat menanyakan apakah masih cukup dana pengembangan PUNA ini. Marzan pun mengungkapkan dananya masih cukup.


"Nanti kalau masih kurang, di on top kan (diprioritaskan)," ucap Presiden.


 Menristek kritik pesawat tanpa awak BPPT terlalu bising


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRZ6ShliuyCUGLrtSlyAn0g_FLHBppcylSyT6WHuZFqJURmWOolcYePt1MqAlivW1oGxCyH4OWCFqQANVDOO7ch9tUwtZACcmZtcZirJkNUF4vUuiXB-qum3Ji8qtr9R-2GKhBcefRd2c/s1600/1.jpg
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta bangga menyaksikan uji coba kemampuan pesawat terbang tanpa awak hasil kerjasama Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Namun, sang menteri mengkritisi suara gas buang pesawat yang dinilainya terlalu bising.

"Masih bising, kalau mengintai di daerah musuh, baru dengar suaranya, musuh sudah sembunyi duluan," kata Gusti saat konferensi pers uji pesawat terbang tanpa awak di Lanud Base Ops Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (11/10).


Untuk itu, dia menyatakan, perlu pengembangan lebih lanjut jika pesawat tanpa awak itu ditujukan sebagai alat utama sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia (TNI).


Dalam prototype awal, pesawat tanpa awak memang diprioritaskan untuk keperluan sipil seperti memantau wilayah di Indonesia. Selain itu, Gusti juga mengkritisi bahan dasar badan pesawat yang terbuat dari serat fiber.


Dia berharap pada pengembangan selanjutnya, serat fiber dapat diganti dengan bahan dasar lain yang dapat menyembunyikan pesawat, tidak bisa tertangkap sinyal radar.


Namun demikian, Gusti mengaku akan mempromosikan pesawat tanpa awak tersebut mulai tahun depan, sebagai hasil karya bangsa Indonesia yang harus dibanggakan.


"Tahun depan, kami akan mempromosikannya, seperti mobil listrik," terangnya.



 Skuadron Pesawat Tanpa Awak Akan Pantau Perbatasan

Foto: Catur N/okezone
Jakarta - Keberhasilan uji coba pesawat Unimaned Aerial Vechile (UAV) atau Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), memukau para pengunjung acara tersebut.

Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro menuturkan, nantinya akan dibangun sebuah Skuadron PUNA guna pengamanan daerah perbatasan.

"Mulai saat ini, kita akan menyetop penelitian dan pengembangan pesawat PUNA dan kita akan memasuki pembuatan pesawat secara massal yang nantinya untuk memenuhi kebutuhan TNI, dengan membangun Skuadron PUNA," kata Purnomo, kepada wartawan, di Base Ops Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2012).


Menurutnya, pembuatan pesawat PUNA secara masal ini nantinya akan diserahkan kepada PT Dirgantara Indonesia (DI) untuk memproduksinya secara besar.


"Tentunya BPPT tidak bisa membuat secara massal, nantinya kami akan serahkan pembuatan kepada PT DI," tuturnya.


Purnomo menjelaskan, kebutuhan Pesawat PUNA untuk TNI Angkatan Udara (AU) harus memperhatikan kebutuhan dari TNI sendiri. Pasalnya, pembangunan Skuadron PUNA ini untuk tahap awal hanya untuk pengintaian saja.


Kedepannya, kata dia, PUNA buatan dalam negeri ini akan digunakan perang dan dipersenjatai, atau menggantikan pesawat tempur yang disebut dengan Unmaned Combat Aerial Vehicle (UCAV).


"Banyak manfaat dari pesawat ini, sebagai bombing, dan juga pesawat target," imbuhnya.


Purnomo mengatakan, produksi dalam negeri memang agak mahal harganya. Namun, dalam pemenuhan Alutsista TNI harus dicari harga yang ekonomis.



 Skuadron UAV Nanti Terdapat UAV Buatan Dalam Dan Luar Negeri

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwamZdlzmN7sZhqTWVpsx9ZTwZ3AIf6jDhiPfJ3eW_-DlDIlItREw2iwK_jTmJyVX85NjLC-OIL2-yPzmIFtPH_OnA5n0VEw7vXUrz4LFRHn9Y2hTYODwtzXO-M_7GQsVnM-oZcjxcawY/s1600/1.jpg
(Foto defenseindustrydaily)
Jakarta - Impian Kementrian Pertahanan Republik Indonesia bersama TNI AU untuk membentuk Skadron UAV hampir menjadi kenyataan.

Dalam waktu dekat, UAV asal Filipina yang perencanaan pengadaannya telah lama digodok, akan segera tiba.

"Telah disetujui DPR dan tanda bintang telah dicabut", jelas KSAU Marsekal Imam Sufaat, saat jumpa pers seusai menyaksikan demo terbang Pesawat Tanpa Awak buatan BPPT-Balitbang Kemhan, di Lanud Halim Perdana Kusumah Jakarta, Kamis 11 Oktober pagi.

Lebih jauh, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro juga menjelaskan, Skadron UAV itu nantinya berisikan campuran antara UAV buatan luar negeri dan dalam negeri, seperti yang tengah dikembangkan oleh BPPT. "Ibaratnya seperti TNI AU punya pesawat hercules yang memiliki kemampuan besar, namun juga punya yang lebih kecil seperti CN-235", kata Menhan menganalogikan.

Selain itu, pembelian UAV dari luar negeri juga dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan UAV buatan dalam negeri. Sesuai Undang Undang Industri pertahanan dalam negeri, maka setiap pembelian alutsista dari luar negeri diharuskan adanya alih teknologi.

Sesuai data yang dimiliki redaksi ARC, UAV asal filipina itu memiliki spesifikasi daya tahan terbang hingga 20 jam, jarak tempuh mencapai 300 km serta daya angkut 110 kg. Serta memiliki kemampuan terbang autonomus dan manual. Hingga saat ini Dinas penelitian maupun industri dalam negeri belum memiliki kemampuan seperti yang diinginkan TNI AU tersebut.

Menhan juga menambahkan Skadron UAV itu nantinya akan ditempatkan di perbatasan, namun lokasi pastinya dirahasiakan. Salah satu tugas Skadron UAV itu nantinya adalah berpatroli di sekitar Selat Malaka.


© Tribunnews, Detik, MerdekaARC