Showing posts with label TNI AU. Show all posts
Showing posts with label TNI AU. Show all posts
0

108,6 Ton Garam Ditabur Ke Awan Atasi Banjir Jakarta

Sejak digelarnya operasi modifikasi cuaca oleh BNPB bersama BPPT didukung BMKG dan TNI pada 26 Januari 2013 hingga hari ini sudah 108,6 ton bahan semai berupa NaCl (garam dapur yang sudah diolah menjadi tepung) disebarkan ke dalam awan. Dengan demikian, hujan bisa dialihkan ke tempat lain.

"Total sudah 36 sorti penerbangan untuk menaburkan bahan semai ke dalam awan. 24 sorti dengan pesawat Hercules C-130 dan 12 sorti dengan pesawat Casa 212-200," kata Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho, Minggu (10/2).

Berdasarkan evaluasi sementara menunjukkan bahwa upaya modifikasi cuaca ini telah berhasil mendistribusikan hujan. Dibandingkan dengan rata-rata hujan wilayah Jakarta, curah hujan yang terjadi selama pelaksanaan modifikasi cuaca lebih kecil. Berarti ada penurunan curah hujan di Jakarta dan sekitarnya.

Target awal adalah hujan berkurang 30 persen daripada hujan normalnya. Evaluasi menyeluruh akan segera dilakukan untuk menentukan apakah operasi diteruskan atau dipindah ke daerah lain yang rawan banjir.

"Rencana awal operasi hingga 25 Maret 2013 dengan disesuaikan kebutuhan di lapangan," kata Sutopo.

Hari ini dilakukan 3 sorti penerbangan. Sorti pertama pada pukul 10.56-12.53 WIB menggunakan pesawat Hercules. Penyemaian dilakukan pada sel-sel awan Cumulus pada ketinggian 11.000-13.000 kaki di Timur Jatiluhur sampai Lembang dan di daerah Laut Utara Pantai Indramayu dengan bahan 4 ton.

Sorti kedua pukul 11.28-12.57 WIB menggunakan pesawat CASA 212-200. Penyemaian dilakukan pada sel-sel awan Cumulus dengan ketinggian 13.000 - 14.000 feet di daerah Cikotok. Ketinggian penyemaian 10.000 feet dan menghabiskan bahan semai 1 ton.

"Sorti ketiga dengan pesawat Hercules A-1323 pada pukul 14:45 - 16:06. Penyemaian dilakukan di daerah Purwakarta, Cikampek dan Subang pada ketinggian 10.000 feet. Di darat telah dilakukan pengoperasian GBG dengan 23 flare di 13 lokasi, dan GBG sistem larutan di 3 lokasi selama masing-masing 6,5 jam," kata Sutopo.(mdk/ian)


  ● Merdeka  
0

Komandan Skadron Udara 31 Siap Dukung TMC

http://www.majalahpotretindonesia.com/images/--10hhh.jpgKOMANDAN Skadron Udara 31 Letkol Pnb Andrian Damanik menegasakan Skadron Udara 31 sebagai pelaksana teknis dilapangan siap melaksanakan perintah Dari komando atas untuk membantu pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) oleh BPPT bekerjasama dengan BNPB Jumat, 8/02 di Taxy Way Echo Lanud Halim.

Sejak dicanangkan Posko Penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca pada akhir Januari lalu, hingga Hari ini Jumat (8/2), Lanud Halim Perdanakusuma yang dikomandoi oleh Komandan Lanud Halim Marsma TNI A. Adang Supriyadi, SE; sebagai perpanjangan tangan Mabes TNI telah melaksanakan beberapa kali penerbangan.

Setiap pagi sebelum penerbangan dilaksanakan briefing untuk perkiraan penentuan lokasi penaburan garam di daerah mana, koordinat berapa dan di ketinggian berapa dilanjutkan pelaksanaan yaitu setiap hari dua sorti penerbangan berdasarkan perencanaan dari BPPT. Untuk redistribusikan curah hujan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya kerjasama BPPT dan BNPB didukung oleh Pemerintah Kota DKI Jakarta, TNI dan BMKG.

Seperti yang diberitakan selama ini, sejak adanya surat pernyataan darurat bencana banjir yang dikeluarkan oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Serta adanya permintaan bantuan penanggulangan banjir oleh Jokowi kepada BNPB. Maka BNPB menggandeng BPPT bersama TNI Angkatan Udara untuk menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca yang direncanakan sampai akhir Maret.

Menurut Komandan Skadron Udara 31 Letkol Pnb Andrian Damanik, TNI tentu saja sangat mendukung kegiatan kemanusiaan ini dengan mempersiapkan pesawat Hercules C-130 yang memiliki daya angkut cukup besar untuk menyebarkan berton-ton garam dapur (Natrium Klorida) melalui udara yang hingga hari ini, Jumat hampir 68 ton garam dapur yang sudah ditabur.

Pada bagian lain Ketua Penanggungjawab Lapangan BPPT, Dr Tri Handoko Seto, Msc, yang juga Kepala Bidang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan BPPT menjelaskan bahwa “Realisasi TMC ini berubah-ubah tergantung kondisi cuacanya”. Ujarnya kepada media.

“Ada dua jenis teknik TMC yakni dengan teknik kompetisi dan teknik mempercepat hujan di daerah sebelum masuk di wilayah Jakarta atau mengurangi curah hujan yang jatuh di DKI” tegasnya.

Lebih jauh dikatakan, Teknologi Modifikasi Cuaca ini harus memiliki tiga unsur yakni, pesawat, bahan semai dan Flight Scientist. Disamping menggunakan pesawat, BPPT juga memiliki sistem Ground Base Generator yang terletak di daerah Puncak Jawa Barat.

Diharapkan Penduduk DKI Jakarta tetap waspada dengan turut serta dengan disiplin seperti membuang sampah pada tempatnya, namun juga harus optimis, sebab segala daya upaya telah dilakukan oleh pemerintah bersama TNI dalam menanggulangi bencana banjir ini. Kesiap-siagaan Lanud Halim Perdanakusuma dengan Skadron Udara-nya patut dibanggakan.

Keterangan gambar: Komandan Skadron Udara 31 Letkol Pnb Andrian Damanik bersama Ketua Penanggungjawab Lapangan BPPT, Dr Tri Handoko Seto, Msc saat mengecek garam yang akan dimasukan ke pesawat untuk ditabur. (Foto: Pentak Lanud Halim P).


  Majalah Potret Indonesia  
0

Dislitbangau Berhasil Uji Coba Parasut Terjun Freefall

Dislitbangau Berhasil Uji Coba Parasut Terjun Freefall DINAS Penelitian dan Pengembangan TNI AU (Dislitbangau) berhasil meneliti, membuat dan menguji coba parasut (payung) untuk terjun Freefall. Ujicoba dilaksanakan belum lama ini di Pangkalan TNI AU Suryadarma, Kalijati, Subang  dengan menggunakan dua Pesawat Helikopter EC 120 Colibri dari Skadron Udara 7 dan personel Paskhasau dari Wing 3 Paskhas Bandung sebagai penerjun. 

Menurut Kolonel Tek Christian Shahmo, Kasubdis Matsus Dislitbangau, selaku Kalakgiat mengatakan pembuatan payung tersebut Dislitbangau bekerjasama dengan PT Langit Biru Parasut Bandung  dan berhasil di uji coba dengan hasil baik dan memuaskan sehingga layak untuk diterbitkan sertifikat uji coba oleh Kadislitbangau, Marsma TNI Edy Yuwono.

Dijelaskan Kolonel Tek Christian uji coba dilakukan sebanyak tiga sorty dengan dua pesawat Helikopter EC 120 Colibri yang diawaki Letkol Pnb Daan Sulfi, Kadisops Lanud Suryadarma, Lettu Pnb Kadek, Mayor Pnb Anggit Budi W, Lettu Pnb Trio Agung dan  penerjun dari Wing 3 Paskhas, Pelda Rusli, Serka Petrus, Serka Almustofa (Juru Kamera)  dan Pelda Dwijo sebagai Jump master.

Sorty Pertama uji coba dilakukan dengan menggunakan dummy seberat 95 kg dan berhasil mengembang dan mendarat dengan baik, akhirnya sorty ke dua dan ketiga dilaksanakan uji coba langsung oleh penerjun dengan sistem HAHO dan HALO dari ketinggian diatas 7000 feet.

"Standar parasut baik dan layak untuk digunakan” Kata dua penerjun uji coba Rusli dan Petrus ketika mendarat setelah beberapa menit melayang di udara.

Hadir dalam uji coba tersebut sebagai penilai Kolonel Tek Andi PS, Dislambangjaau, Kolonel Tek Hadi Purnomo dan Kolonel Tek Didik Bangun, Dislitbangau, Letkol Pnb Agung Nugroho, Sopsau,Letkol Tek Iwan Tahandi, Srenaau dan beberapa Pamen dari Koharmatau, Korpaskhasau, Dispotdirga dan Depohar 70.(red)



0

TNI AU Terlibat dalam Misi Modifikasi Cuaca bersama BPPT

BNPB dan TNI AU Lakukan Misi Teknologi  Modifikasi Cuaca di wilayah Jakarta dan Sekitarnya Jakarta HARI ini (27/12013) diperkirakan akan muncul pasang surut air laut dan curah hujan tinggi yang berpotensi banjir di Jakarta.

Untuk mengurangi resiko itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan TNI Angkatan Udara melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Jakarta dan sekitarnya menggunakan Hercules C-130 dan Skadron Udara 31.

Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC ini bertujuan mengurangi hujan sehingga banjir dapat diredam.

“Ada dua upaya yang dilakukankan yaitu menghambat pertumbuhan awan, dan menjatuhkkan hujan di luar daerah rawan banjir,” ujar Ketua pelaksana rekayasa cuaca Dr Tri Handoko Seto,

Pertama “mempercepat proses awan menjadi terhadap awan-awan yang sedang tumbuh di daerah ‘upwind’ yang bergerak memasuki Daerah Aliran Sugai (DAS).

Kedua mengganggu proses pertumbuhan awan di dalam DAS yang bergerak meninggalkan DASagar awan tidak menjadi hujan di dalam DAS.

“Lanud Halim sebagai pelaksana operasional siap melaksanakan tugas dan membatu apaun yang bisa” ujar Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI A. Asep Adang Supriyadi, saat menyaksikan loading 4 ton garam di Taxy Way Echo Lanud Halim Perdanakusuma .

Pesawat yang digunakan dalam kondisi siap dan baru selesai dimodifikasi khusus untuk rekayasa cuaca.

“Awak pesawatnya sudah professional,” tegasnya.

Ia berharap. mudah-mudahan selama pelaksanakan rekayasa cuaca ini dapat berjalan dengan aman dan lancar karena kita berkerja dan berbuat untuk kepentingan masyarakat, Negara dan bangsa.
0

Dislitbangau Ujicoba Bom Anti Personal

Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Dislitbangau) akan mengadakan uji coba bom anti personel di Lanud Iswahjudi. Uji coba bom ini guna mengurangi ketergantungan terhadap produk-produk luar negeri dan sebagai wujud kemandirian terhadap industri pertahanan di tanah air.

Terkait uji coba bom tersebut, Tim dari Dislitbangau, sebelum pelaksanaan uji coba bom, memaparkan terlebih dahulu produk yang akan di uji coba, serta menyamakan persepsi terhadap hasil penelitian dan pengembangan dengan satuan pengguna.

Tim yang dipimpin oleh Kolonel Tek Agus Rudi Supriyadi iterima langsung oleh Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna, S.E., didamping Komandan Wing 3, Kolonel Pnb Teddi Rizalihadi dan para pejabat Lanud Iswahjudi, di Ruang Briefing Teddy Kustari, Kamis, 17 Januari 2013.

Dalam paparan tersebut, Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna, S.E., merasa bersyukur dan bangga atas hasil yang dicapai Dislitbangau dalam kaitan dengan keterbatasan anggaran. "Diharapkan produk yang dihasikan Dislitbangau ini kedepan dapat dikembangkan sehingga dapat menghemat anggaran," Ungkap Marsma TNI Yuyu.

Lebih lanjut, Danlanud berpesan agar pelaksanaan uji coba bom ini dikaji sedetail mungkin, ikuti prosedur yang ada serta koordinasikan sebaik-baiknya dengan pihak-pihak terkait, dan yang tidak kalah pentingnya utamakan keamanan dan keselamatan dalam rangkaian uji coba bom tersebut, sehingga dapat berjalan dengan lancar, aman dan sukses.

Sementara, Tim Dislitbangau memaparkan hasil penelitian dan pembuatan Blast Effect Bom Anti Personel yang merupakan bom yang dirancang khusus untuk menghasilkan serpihan yang disesuaikan dengan sasaran, dan akan diuji coba akhir bulan Januari 2013 dengan menggunakan pesawat F-16/Fighting Falcon di ASR Pandanwangi, Lumajang Jawa Timur.


● Pentak Lanud Iswahjud
0

★ Upaya Menjadikannya Elang Pengintai

Pensiunnya pesawat tempur A-4 Skyhawk, meninggalkan pula berbagai peralatan yang sejatinya masih bisa dan layak digunakan. Salah satunya adalah pod kamera pengintai Vicon 70. 

Dengan telah berakhirnya masa operasional pesawat A4 Sky Hawk, maka berakhir pula pengoperasian kamera pod Vicon 70. Hal tersebut berdampak pada menurunnya kemampuan TNI-AU dalam hal pengamatan udara.


Akan tetapi, bukan TNI-AU namanya kalau tidak kreatif. Pod kamera yang ada oleh Dislitbang TNI-AU kini sedang diteliti agar bisa dimanfaatkan di pesawat Hawk 109/209. Proses penelitian itu sendiri diantaranya mempelajari sistem wiring kamera pod Vicon 70 dan sistem wiring pesawat Hawk 109/209, memperbaiki dan mengoperasikan kembali kamera pod vicon 70, mempelajari sistem penempatan kamera pod vicon 70 pada pesawat Hawk 109/209 dan membuat simulasi aerodinamika kamera pod. Selain itu, turut dibuat pula switch on-off pengoperasian kamera pada kokpit pesawat.

Vicon 70 sendiri merupakan kamera pengintai yang biasa digunakan oleh pesawat tempur subsonik. Meski berusia lumayan tua, Vicon 70 sudah menganut konsep modular. Isi dari pod bisa diganti berbagai tipe kamera sesuai kebutuhan. Standarnya, Vicon 70 total mempunyai 4 kamera. Yaitu sebuah kamera oblique ke depan, 2 buah kamera vertikal serta sebuah kamera panoramic.


Diduga, sampai saat ini Pod kamera tersebut belum diuji terbang di pesawat Hawk 109/209. Jika upaya ini berhasil, maka TNI-AU kembali mampu mengoperasikan Elang Pengintai. BRAVO TNI-AU..!!



© ARC
0

Pesawat Latih KT-1B TNI AU Bertambah

Bandung - Pangkalan Udara Utama TNI AU Adisutjipto, Yogyakarta, mendapat tambahan satu pesawat latih baru jenis KT-1B Wong Bee buatan Korea Selatan yang dirakit PT Dirgantara Indonesia, Bandung.

"Dengan penambahan pesawat tersebut diharapkan program pembinaan penerbang TNI AU dapat lebih baik," kata Komandan Pangkalan Udara Utama TNI AU Adisutjipto, Marsekal Pertama TNI Abdul Muis, di Yogyakarta, Rabu.

Dengan demikian, menurut dia, kebutuhan penerbang dapat terpenuhi secara ideal dan berlanjut. Hal ini juga merupakan upaya pimpinan TNI AU dalam penyediaan sumber daya manusia penerbang yang profesional dan andal dalam setiap pelaksanaan tugas.

"Di Sekolah Penerbang di sini, pesawat jenis itu dipakai sehari-hari untuk kegiatan latih lanjut dan digunakan Jupiter Aerobatic Team (JAT) karena keandalannya," katanya.

Ia mengatakan kedatangan pesawat itu merupakan realisasi pemesanan pemerintah Indonesia kepada pemerintah Korea Selatan dalam hal ini Korean Aerospace Industries.

"Kedatangan pesawat KT-1B itu merupakan tahap terakhir pada 2012. Pesawat itu diterbangkan Komandan Skuadron Pendidikan102, Letnan Kolonel Penerbang Dedy Susanto, dari perusahaan yang merakitnya PT Dirgantara Indonesia, Bandung," katanya.

Menurut dia, sejak 2003 Korsel mengekspor pesawat KT-1B, yang merupakan modifikasi KT-1, kepada TNI AU dan perakitannya dipercayakan kepada PT Dirgantara Indonesia.

Pesawat KT-1B merupakan pesawat kecil dengan baling-baling bermesin turbo, cukup lincah, dan bisa bermanuver dalam banyak formasi. Pesawat itu lebih besar dari pesawat Maserati.

"Korsel mengirimkan beberapa unit pesawat KT-1B ditambah komponennya ke Indonesia. Pada 2003 TNI AU telah mendapat tujuh pesawat, selanjutnya pada 2007 memperoleh lima pesawat, dan pada 2012 mendapatkan lima pesawat," katanya.


0

★ Litbag TNI AU Kembangkan Prototipe Smart Bomb JDAM

Indo Defense 2012

Jakarta - Divisi Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Dislitbang AU), pamerkan berbagai macam produk hasil penelitiannya di Indo Defence Expo and Forum 2012. Salah satu produk andalannya adalah smart bomb.

Seperti namanya, smart bomb merupakan bom pintar karena telah dilengkapi peralatan sensor elektronik berupa guidance kit. Guidance kit yang terletak di bagian ujung belakang bom ini dilengkapi GPS yang siap dioperasikan oleh pilot.

Menurut petugas jaga stand Dislitbang AU, Mashuri, sirip bom yang berwarna orange ini dapat berubah posisi sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan baterai.

"Pilot akan mengendalikan dengan langsung menentukan berapa koordinat sasaran. Sehingga tingkat akurasi jatuhnya bom lebih tepat," terangnya dalam pameran yang digelar di JIE, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (8/11/2012).

Bom yang memiliki panjang lebih dari 1 meter ini adalah buatan Jerman dan telah digunakan pada pesawat NATO dan Hawk. Namun sayangnya belum pernah dilakukan uji coba di Indonesia.

"Kami baru melakukan penelitian. Memang tahun ini sasarannya prototype dulu," ucap Mashuri.

Walau mengusung kata 'smart' yang berarti pintar, produk ini juga masih memiliki keterbatasan yakni belum mampu digunakan untuk sasaran yang bergerak. Sebab kendalinya disetting sebelum bom diluncurkan. Sehingga ketika koordinat sasaran berubah, bom ini belum mampu mendeteksi pergerakannya.

Menurut Mashuri, smart bomb akan diuji coba tahun depan. Selanjutnya akan dibuka tender untuk produksi bom baru ini.


© Detik
0

Indonesia Bakal Dapat Bantuan Pesawat Militer dari Australia

 Bantuan Pesawat Militer dari Australia

C-130 TNI AU (Gambar Sinang Aribowo)
Jakarta, Pagi ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertolak ke Australia dalam rangka kunjungan kerja. Sebelum berangkat, SBY mengabarkan bahwa Australia akan memberikan bantuan pesawat jenis Hercules C130 kepada pemerintah Indonesia. Namun, untuk mendapatkannya, Indonesia harus mengeluarkan biaya.

"Sore ini ada agenda yang dihadiri oleh menteri pertahanan kita dan menteri pertahanan Australia tentang pengadaan pesawat Hercules C130 yang kita bahas beberapa saat lalu, yang akan kita adakan dari Australia, dengan format hibah. Tapi tentu ada biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia, jadi sebetulnya setengah hibah, setengah kita beli," ujar SBY di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Senin (2/7/2012).

SBY menjelaskan, Indonesia saat ini tidak lagi menerbangkan pesawat jenis Fokker 27. Oleh karena itu, diperlukan alat transportasi udara dengan muatan yang lebih banyak seperti pesawat transport militer menengah CN295. Selain itu, pengadaan pesawat C130 ini diharapkan bisa menjadi solusi sebagai guna memenuhi kebutuhan TNI Angkatan Udara (TNI-AU).

"Pesawat udara transport itu, diperlukan policy yang telah kita keluarkan kemarin. Kita tidak menerbangkan lagi Fokker 27 dan kita memerlukan sarana angkut yang lebih banyak lagi. Alhamdulilah program CN295 telah berjalan dan akan menjadi pengganti dari Fokker-27, bahkan dengan kapasitas yang lebih besar. Di samping itu kita juga menghidupkan kembali pesawat C130 dengan sparepart baru, termasuk pengadaan yang akan kita laksanakan dari Australia," jelasnya.

Seperti diketahui, pagi ini SBY bertolak ke Darwin, Australia. Agenda utama kunjungan kerjanya adalah mengikuti pertemuan konsultasi tahunan antara pemerintah RI dan Australia. Selain melakukan evaluasi atas tindak lanjut kesepakatan hasil pertemuan pertama di Bali, fokus pertemuan Presiden SBY dengan PM Julia Gillard adalah peningkatan kerjasama bilateral di bidang ekonomi.

Turut hadir dalam rombongan presiden menuju Australia tersebut, Ani Yudhoyono, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Perekonomian Hatta Radjasa, Mensesneg Sudi Silalahi, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Kepala BKPM Chatib Basri, Ketua Kadin Bambang Suryo Sulistio, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, KSAU Marsekal Imam Sufaat, Wamenkum HAM Denny Indrayana dan Kepala BNPB Syamsul Maarif.(mok/mok)(Detik)

 Indonesia Terima Hibah 5 Pesawat C130 dari Australia

Hercules Australia (Foto Airliners,net)
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah Indonesia akan menerima hibah lima pesawat C130 dari Pemerintah Australia. Penerimaan hibah ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Indonesia untuk memperkuat alutsista TNI. Proses hibah ini dilakukan pada kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Darwin, Australia, 2-4 Juli 2012.

"Tetap ada biaya yang dikeluarkan Pemerintah Indonesia. Jadi sebetulnya setengah hibah, setengah beli," kata Presiden di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (2/7/2012).

Presiden melakukan kunjungan kerja ke Darwin, Australia, pada 2-4 Juli 2012. Presiden juga mengatakan, Pemerintah Indonesia akan menghidupkan kembali pesawat C130 dengan suku cadang baru. Terkait pengadaan suku cadang baru, pemerintah akan menggandeng Pemerintah Australia.

Peremajaan C130 ini dipandang penting, terutama setelah Pemerintah Indonesia memutuskan untuk tidak menerbangkan pesawat Fokker 27-500 yang salah satu di antaranya jatuh pada 21 Juni 2012. Pada kunjungan kali ini, Pemerintah Indonesia-Australia juga akan membahas kerja sama di bidang penegakan hukum dan keamanan, utamanya dalam menghadapi kejahatan transnasional, pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Pemerintah kedua negara juga akan membahas peningkatan kerja sama di bidang ekonomi.(Kompas)

 Indonesia-Australia Tanda Tangani MOU Hibah 4 Hercules

Darwin (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia dan Australia menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) hibah empat pesawat Hercules tipe C-130 H dari Australia.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya Eris Haryanto dan Panglima Angkatan Bersenjata Australia David Hurley menandatangani MoU tentang hibah pesawat tersebut di RAAF Darwin, Australia, Senin.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan koleganya, Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith, menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman hibah yang dilakukan di depan pesawat Hercules yang akan dihibahkan itu.

Dalam sambutannya, Smith mengatakan Australia sudah mendapat persetujuan Amerika Serikat (AS), sebagai produsen pesawat Hercules, untuk menghibahkan ke Indonesia. Ia menambahkan pemberian hibah produk-produk militer asal AS harus seizin negara tersebut.

Menteri Purnomo Yusgiantoro mengatakan hibah pesawat Hercules itu dibutuhkan Indonesia, terutama untuk mendukung operasi-operasi militer bukan perang seperti penanganan bencana.

"Atas nama pemerintah, saya sangat mengapresiasi hal ini," katanya.

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, empat pesawat hibah tersebut tidak bisa langsung dibawa pulang karena akan direnovasi terlebih dulu.

Perbaikan, termasuk pengecatan dan penggantian suku cadang, untuk pesawat yang dihibahkan membutuhkan dana sekitar 50 juta dolar Australia. (M041)(Antara)
0

Pesawat Fokker TNI AU Jatuh di Halim


 Pesawat Fokker TNI AU Jatuh di Halim, Beberapa Rumah Terbakar

Ilustrasi Fokker 27 TNI AU
Jakarta Pesawat Fokker TNI AU jatuh di sekitar landasan Bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta Timur. Pesawat itu menimpa beberapa rumah di dekat bandara Halim. Beberapa rumah terbakar.

Informasi seorang saksi mata kepada detikcom, pesawat itu jatuh pada pukul 14.45 WIB, Kamis (21/6/2012). Pesawat jatuh di sekitar landasan Bandara Halim Perdana Kusumah.

"Ada sekitar 6-8 rumah warga yang terbakar. Rumah itu berada di sekitar Jalan Beranjangan," kata saksi mata tersebut.

Hingga kini beberapa mobil pemadan kebakaran sudah tiba di bandara Halim Perdana Kusumah.(asy/gah)

 Pesawat Fokker TNI AU Jatuh di Halim Saat akan Mendarat

Jakarta Pesawat Fokker TNI AU jatuh di sekitar Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta Timur dan menimpa beberapa rumah warga. Pesawat itu jatuh saat akan mendarat.

"Pesawat Fokker jatuh saat akan mendarat. Proses pendaratannya terganggu," kata seorang saksi mata kepada detikcom, Kamis (21/6/2012).

Pesawat itu menimpa beberapa rumah warga di Kompleks Rajawali di Jalan Branjangan. Rumah-rumah itu akhirnya terbakar. Pesawat jatuh sekitar pukul 14.45 WIB.

Saat ini, beberapa unit mobil pemadam kebakaran sudah tiba di Bandara Halim.(asy/gah)

 Asap Mengepul dari Rumah yang Tertimpa Fokker

Jakarta Asap masih mengepul dari rumah yang tertimpa Fokker 27 di kawasan Lanud Halim Perdanakusumah, Jaktim. Percikan api juga sesekali masih terlihat.

"Pemadam kebakaran sudah berada di lokasi," kata warga sekitar, Yayan, saat dikonfirmasi, Kamis (21/6/2012) pukul 15.15 WIB.

Petugas pemadam juga berjibaku menjinakkan api. Sedang lokasi sudah dijaga petugas TNI. Warga tidak diperkenankan mendekat. Pesawat jatuh sekitar pukul 14.45 WIB.

"Warga juga sudah berkerumun, asap masih mengepul," jelasnya.

Hingga kini belum diketahui ada berapa korban jiwa yang jatuh akibat insiden ini. Rumah yang tertimpa pesawat milik TNI AU itu terletak di Kompleks Rajawali, Jl Branjangan.(ndr/nrl)

 Fokker Jatuh di Halim Dipiloti Mayor Hery & Kopilot Lettu Paulus

Jakarta Pesawat Fokker-27 milik TNI AU yang jatuh di kawasan Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, dipiloti Mayor Pnb Hery.

"Sampai saat ini diketahui pilotnya bernama Mayor Pnb Hery dan kopilot Lettu Paulus," kata Kapuspen TNI Laksamana Pertama Iskandar Sitompul saat dihubungi detikcom, Kamis (21/6/2012).

Iskandar mengatakan masih belum diketahui berapa penumpang yang berada di dalam pesawat. Pihaknya masih menyelidiki lebih lanjut.

"Masih pilot dan kopilotnya saja yang baru diketahui. Penyebab dan penumpang lainnya masih didalami lagi," jelasnya.

Pesawat itu menimpa beberapa rumah warga di Kompleks Rajawali di Jalan Branjangan, yang berdekatan dengan bandara. Rumah-rumah itu akhirnya terbakar. Pesawat jatuh sekitar pukul 14.45 WIB.

Saat ini, beberapa unit mobil pemadam kebakaran dan ambulans sudah tiba di Bandara Halim.(gus/nrl)

 RSAU Esnawan Halim Kirim 10 Ambulans Evakuasi Korban Fokker

Jakarta RSAU dr Esnawan Antariksa sudah mengirimkan semua ambulansnya untuk mengevakuasi korban pesawat Fokker-27 milik TNI AU yang jatuh di Komplek Rajawali, Jalan Branjangan, Halim, Jakarta Timur. Ambulans dan tim medis sedang melakukan evakuasi.

"Semua sudah dikirim ambulansnya. Posisi pesawat di Komplek Rajawali, Jalan Branjangan," jelas operator RS dr Esnawan Antariksa Halim Perdanakusumah, Serka Lisma, ketika dihubungi detikcom, Kamis (21/6/2012).

Berapa ambulans yang dikirim? "Ya sekitar 10-an kurang lebihnya," jawab Lisma.(nwk/nrl)

 Fokker TNI AU Jatuh, 10 Mobil Damkar Dikerahkan ke Halim

Jakarta Asap hitam mengepul di kawasan Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, menyusul jatuhnya pesawat Fokker milik TNI AU. 10 Mobil pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi.

"Kita sudah kirim 10 mobil pemadam ke Halim," kata petugas pemadam kebakaran, Sugiarto, kepada detikcom, Kamis (21/6/2012). Pesawat Fokker jatuh sekitar pukul 14.45 WIB.

Ia mengaku belum mengetahui kondisi selanjutnya. "Petugasnya belum pulang," ujarnya.(aan/vit)

 Sudah Ada Korban Pesawat Fokker yang Ditangani RSAU Halim

Fokker 27 TNI AU terbang oleng. (foto: Pasya)
Jakarta Sudah ada korban pesawat Fokker-27 yang ditangani di RSAU Dr Esnawan Antariksa Halim Perdanakusumah. Namun belum diketahui kondisi korban.

"Sudah, sudah ada yang ditangani. Tapi mohon maaf karena saya bukan humas, tidak bisa menjelaskan kondisinya. Sekarang sedang fokus menangani korban," jelas petugas UGD RSAU dr Esnawan Antariksa yang tidak mau menyebutkan namanya ketika dikonfirmasi detikcom, Kamis (21/6/2012).

Petugas UGD tersebut enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai jumlah dan kondisi korban yang sedang ditangani.

Pesawat Fokker-27 milik TNI AU jatuh pukul 14.45 WIB saat sedang latihan rutin. Pesawat jatuh menimpa 6-8 rumah di Kompleks Rajawali, Jl Branjangan, tak jauh Lanud Halim, saat hendak mendarat. Pesawat itu dipiloti oleh Mayor Hery dan Kopilot Lettu Paulus.(nwk/nrl)

 Ini Dia Penampakan Fokker Jelang Jatuh Hingga Timpa Rumah Warga 

(Foto: Pasya/pembaca detikcom)
Jakarta Pesawat Fokker 27 milik TNI AU jatuh di sekitar landasan Bandara Halim Perdana Kusumah Jakarta Timur sekitar pukul 14.45 WIB, Kamis (21/6/2012). Ini dia penampakan pesawat bercat loreng itu beberapa detik sebelum jatuh hingga jatuh menimpa sekitar 8 rumah warga di samping Bandara Halim.

Adalah Pasya, seorang warga yang saat itu berada di gedung Blue Bird Halim, menyaksikan pesawat Fokker TNI AU terbang rendah saat akan mendarat di Halim. "Kebetulan saya membawa kamera, jadi saya potret," kata dia kepada detikcom.

Dia mengirimkan foto-foto itu kepada detikcom. Dari fotonya tersebut, pesawat yang dipiloti Mayor Pnb Hery itu tampak terbang rendah di atas bandara Halim.

Beberapa detik kemudian, terlihat api berkobar dari beberapa rumah di perumahan Rajawali Jalan Branjangan. Rumah-rumah ini berada persis di samping bandara. Asap hitam mengepul hebat dari perumahan itu. Ternyata pesawat itu jatuh menimpa beberapa rumah warga.

Dipastikan ada korban dalam kecelakaan ini. Beberapa korban sudah dilarikan ke RSAU Esnawan untuk ditangani, meski belum diketahui apakah ada korban meninggal atau tidak. Namun, hingga kini belum ada informasi pasti dari TNI AU maupun pejabat berwenang mengenai korban.(asy/gah)

 Fokker-27 Jatuh Saat Latihan Rutin

Jakarta Pesawat Fokker-27 milik TNI AU jatuh saat sedang melakukan latihan rutin. Pesawat ini dipiloti Mayor Hery dan Kopilot Lettu Paulus.

"Sedang latihan rutin. Beberapa menit lalu baru jatuh," kata Kapuspen TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul saat dihubungi detikcom, Kamis (21/6/2012).

Sebelumnya Fokker ini jatuh di sekitar Kompleks Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur. Fokker ini jatuh menimpa sebuah rumah warga di sekitar bandara, tepatnya di Kompleks Rajawali, Jl Branjangan, Jakarta Timur.

Ada sekitar 6-8 rumah yang terbakar akibat ketimpa Fokker tersebut. 10 Unit pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api yang membakar rumah warga tersebut. Hingga kini masih belum diketahui korban jiwa akibat jatuhnya Fokker pada pukul 14.45 WIB ini.(gus/nrl)

 Ledakan Keras Terdengar Saat Fokker-27 Jatuh di Halim

(Foto Tribunnews)
Jakarta Ledakan keras terdengar saat pesawat Fokker-27 terjatuh di kawasan Lanud Halim Perdanakusumah, Jaktim. Asap hitam membumbung sesaat setelah pesawat itu jatuh.

"Ada ledakan cukup keras kemudian terlihat asap hitam," kata Pasya, seorang pekerja di kawasan Halim, Jakarta Timur, kepada detikcom, Kamis (21/6/2012). Pasya saat itu sedang mengambil foto burung-burung di angkasa dari kantornya di Gedung Bluebird Halim.

Di saat memfoto-foto itulah Pasya melihat ada pesawat Fokker terlihat oleng dan terbang cukup rendah. "Sesaat kemudian pesawat itu menghilang, lalu terdengar ledakan dan juga asap hitam," kata Pasya yang juga sempat mengabadikan pesawat yang oleng itu.

Tak berapa lama kemudian terlihat armada pemadam kebakaran menuju Halim. Menurutnya saat ini kepulan asap sudah tak setebal saat awal kecelakaan terjadi.

"Asapnya masih ada, tapi tak setebal tadi," katanya.(nal/nrl)

 TNI : Pilot, Kopilot & 1 Kru Fokker Meninggal Dunia

Jakarta TNI mengkonfirmasikan bahwa 3 awak yang ada di dalam pesawat Fokker F-27 meninggal dunia. Yang meninggal di dalam pesawat adalah pilot, kopilot dan seorang kru.

"Pilot, kopilot dan kru di RS, ini meninggal dunia," jelas Kapuspen Mabes TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul ketika dikonfirmasi detikcom, Kamis (21/6/2012).

Iskandar mengatakan nama pilot adalah Mayor Pnb Hery dan kopilot Lettu Paulus. Sedangkan kru yang meninggal adalah Lettu Fahroni.

"Pesawat Fokker-27 nomor ekornya A 2708," jelas Iskandar.(nwk/nrl)

 Ini Nama 7 Orang di Fokker yang Jatuh

Jakarta Pesawat Fokker F-27 milik TNI AU jatuh di Kompleks Rajawali di Jalan Branjangan, yang berdekatan dengan Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta. Pesawat tersebut berisi tujuh orang.

"Ada 7 orang di dalam pesawat itu," ujar Kadispen AU, Marsma Azman Yunus, saat dihubungi detikcom, Kamis (21/6/2012).

Berikut ini nama 7 orang yang berada dalam pesawat nahas tersebut:

1. Mayor Penerbang Ari Setyawan (pilot) - versi lain Hery
2. Letu Penerbang Paulus (kopilot)
3. Letda Penerbang Syahroni (kru) - versi lain menyebut Fahroni.
4. Kapten Teknik Agus
5. Serma Simulato
6. Serka Wahyudi
7. Sertu Purwo

"Informasi sementara itu. Korban tewas masih didata," kata Azman.

Dia menjelaskan pesawat itu take off pukul 13.10 WIB. Beberapa saat kemudian saat akan mendarat, pesawat jatuh pukul 14.45 WIB.

Sebelumnya, Kapuspen TNI AU Laksamana Muda Iskandar Sitompul menyebut 3 awak pesawat tewas yaitu pilot, kopilot dan 1 kru.(vit/nrl)

 TNI: Korban Tertimpa Fokker Sekitar 3 Orang, Bisa Bertambah

F27 TNI AU (foto Kaskus)
Jakarta Mabes TNI mengkonfirmasi sementara korban yang tertimpa Fokker-27 di Komplek Rajawali, Halim Perdanakusumah, sekitar 3 orang, di antaranya anak-anak. Korban ini bisa bertambah.

"Dari 8 rumah yang tertimpa (pesawat) ada korban 3 atau berapa, lagi didata. Korban yang ketimpa pesawat harus diidentifikasi secara tertib," jelas Kapuspen Mabes TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul ketika dikonfirmasi detikcom, Kamis (21/6/2012).

Belum diketahui kondisi korban yang tertimpa pesawat yang sedang ditangani di RSAU dr Esnawan Antariksa itu.

Iskandar membenarkan ada korban anak-anak dalam kecelakaan yang terjadi pukul 14.45 WIB itu. "Betul ada anak-anak 1, orang dewasa 2. Sementara akan didalami dulu, bisa bertambah," kata Iskandar.

Sebelumnya dia menjelaskan, 3 kru di pesawat tersebut meninggal dunia. Mereka adalah pilot Mayor Pnb Hery, kopilot Lettu Paulus. Sedangkan kru yang meninggal adalah Lettu Fahroni.(nwk/nrl)

 Ini Dia Bangkai Pesawat Fokker yang Jatuh di Halim

(Foto: Rio/detikcom)
Jakarta Pesawat Fokker 27 TNI AU yang jatuh menimpa beberapa rumah warga di samping landasan Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta Timur terbelah beberapa bagian. Sebagian gosong, sebagian masih utuh.

Pemantauan detikcom, Kamis (21/6/2012), pesawat itu terbelah dan teronggok di rumah warga yang hancur tertimpa pesawat tersebut. Sebagian badan pesawat gosong karena terbakar beserta rumah-rumah yang tertimpa. Sebagian bagian pesawat lainnya masih bisa dilihat jelas.

Di antara yang masih terlihat jelas adalah bagian sayap dan potongan badan pesawat. Roda pesawat yang sudah terlepas dari badan pesawat juga terlihat jelas.

Hingga pukul 16.45 WIB, bangkai pesawat tersebut masih belum dievakuasi. Beberapa petugas dari TNI AU masih tampak berada di lokasi untuk membicarakan bagaimana mengangkut bangkai pesawat itu.(asy/nrl)

 TNI AU: 6 Orang di Fokker Tewas, Kopilot Kritis

Jakarta Enam orang yang berada di perut Fokker-27 meninggal dunia. Satu orang lainnya, yakni kopilot Lettu Paulus dalam keadaan kritis.

"Lettu Paulus kritis. Itu kopilot," kata Kadispen AU Marsma Azman Yunus dalam jumpa pers di Halim, Kamis (21/6/2012). Berita ini juga meluruskan pernyataan Kapuspen TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul bahwa kopilot turut tewas dalam musibah itu.

Berikut nama korban tewas akibat kecelakaan ini:

1. Kapten Hery (pilot)
2. Letda Syahroni
3. Kapten teknis Agus
4. Serma Simulato
5. Serka Wahyudi
6. Sertu Purwo

Azman mendapat kabar 8 rumah hancur tertimpa pesawat tersebut. Dia juga mendengar ada korban sipil tetapi belum jelas keadaannya.

"Saya baru dapat kabar ada ibu-ibu yang kena. Tapi saya belum bisa memastikan keadaannya," tuturnya.(gah/nrl)

 Black Box Fokker-27 Sudah Diamankan TNI AU

Jakarta Black box Fokker-27 yang menyimpan data selama penerbangan sudah ditemukan anggota TNI AU. Kini alat yang sangat vital untuk menemukan penyebab kecelakaan itu sudah diamankan pihak berwenang.

"Saya kira black boxnya sudah diamankan," tutur Kasubdispenum TNI AU Kol Agung Sasongko Jati dalam jumpa pers di Gedung Air Tower Center of Indonesia, Jl Cendrawasih, Kompleks Rajawali, Halim, Jakarta Timur, Kamis (21/6/2012) malam.

Sementara itu bangkai pesawat buatan Belanda ini akan dievakuasi dulu. Saat ini petugas dari TNI AU sedang melakukan pendataan tentang kecelakaan.

"Saya kira black boxnya sudah diamankan dan bangkai pesawat akan dievakuasi besok setelah pendataan tentang kecelakaan ini selesai," terangnya.(gah/nrl)

 10 Orang Luka Ringan dan 2 Kritis Akibat Kecelakaan Fokker 

Jakarta Komandan Lanud Halim Perdanakusumah Marsekal Pertama TNI Asep Adang Supriyadi, mengatakan, ada 12 korban luka dalam kecelakaan pesawat Fokker-27. Dua di antaranya kritis.

"Total ada 12 korban luka dirawat di di RSUP AU Esnawan Antariksa, Halim, Jakarta Timur," kata Asep di Lanud Halim, Jakarta, Kamis (21/6/2012) malam.

Dari 12 korban luka itu, 10 mengalami luka ringan. "Keterangan identitasnya belum bisa disampaikan," ujarnya.

Pesawat Fokker-27 milik TNI AU yang jatuh di Komplek Rajawali, Jalan Branjangan, Halim, Jakarta Timur, pukul 14.45 WIB.

Pesawat itu bernomor register A 2708 buatan tahun 1977. Pesawat nahas itu dipiloti Mayor Pnb Hery dan kopilot Lettu Paulus. Pesawat jatuh saat latihan rutin.(rvk/nrl)

 Korban Tewas Pesawat Fokker 27 Jadi 10 Orang

Desmunyoto P. Gunadi / Jurnal Nasional
Jurnas.com | SEBELUMNYA dikabarkan, korban tewas akibat jatuhnya pesawat Fokker 27 dengan No RE A2708 sebanyak enam orang. Keseluruhan korban merupakan awak pesawat.

Dalam keterangan baru TNI AU, jumlah korban tewas bertambah menjadi 10 orang. Lettu (Pnb) Paulus, kopilot pesawat Fokker 27 yang sebelumnya dikabarkan kritis, akhirnya meninggal dunia di rumah sakit. "Dari 10 korban, tujuh orang merupakan awak pesawat. Sementara, tiga orang lainnya berasal dari sipil," ujar Kasubdis Penum AU Kolonel Agung Sasongkojati dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (21/6).

Tiga korban sipil tersebut adalah Bryan (6), Naflin (2), serta seorang pembantu rumah tangga. Bryan dan Naflin merupakan anak dan keponakan Mayor Johanes yang rumahnya hancur tertimpa pesawat. Selain anak dan keponakan, istri Johanes, Martina, juga ikut menjadi korban dan saat ini kondisinya dalam keadaan kritis.

Sementara tujuh orang awak pesawat adalah Mayor (Pnb) Heri Setiawan (instruktur), Lettu (Pnb) Paulus Adi, Letda (Pnb) Syahroni, Kapten (tek) Agus, Serma Simulato, Serka Wahyudi dan Sertu Purwo. Agung juga mengatakan, hanya ada satu rumah yang hancur, yaitu rumah Mayor Johanes.

"Delapan rumah lainnya hanya terbakar," katanya. Rumah yang terbakar diantaranya merupakan kediaman Letkol Sutarno, Mayor Muhlisin, Mayor Ali, Mayor Grahadi, dan Mayor Azwar. Sementara itu, penyebab terjadinya kecelakaan juga belum diketahui.

"Tidak ada yang mencurigakan, semua berjalan normal. Tiba-tiba saja peswat dikabarkan jatuh," ujarnya. Menurutnya, ini baru pertama kali terjadi seperti ini. Biasanya, kecelakaan pesawat latih terjadi saat pesawat dalam perjalanan terbang, bukan jatuh di tempat. Ia mengatakan, pesawat jatuh saat melakukan latihan touch and go.

"Mereka sedang latihan lepas landas sebentar kemudian take off. Diperkirakan pesawat jatuh di tengah-tengah proses tersebut," katanya menjelaskan. Ia menambahkan kontak terakhir pesawat dengan menara pengawas hanya permohonan izin landing dan take off.

Hingga saat ini, proses evakuasi bangkai pesawat masih dilakukan dan diperkirakan baru akan selesai esok hari. Kondisi pesawat sendiri hancur terbelah dua. "Saat ini kami masih mengumpulkan data dan bukti di lokasi kejadian sebagai bahan penyelidikan," katanya.

Kondisi pesawat masih bagus dan secara teratur dilakukan pengecekan. Pesawat Fokker 27 ini buatan Belanda tahun 1977 tersebut sudah mengoleksi 14.936 jam terbang. "Pesawat masih layak terbang, meskipun ada rencana untuk menggantikannya dengan peswat CN 25," ujarnya.

Rencananya, jenazah korban akan disemayamkan di hanggar Skaadron II, Halim Perdanakusumah. Tapi, masih harus menunggu proses autopsi di rumah sakit.
 ... Rest In Peace ...
detik
0

Tiga Pesawat Sukhoi Uji Coba Bom Buatan TNI AU dan Pindad

JAKARTA, KOMPAS.com - Tiga Pesawat tempur Sukhoi dari Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanudin Makassar, Sulawesi Selatan, melaksanakan uji dinamis Bom Tajam buatan Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU (Dislitbangau) bekerja sama dengan PT Pindad. Uji coba dilakukan di Lanud Iswahjudi dengan sasaran Air Weapon Range (AWR) Pandanwangi, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (22/2/2012).

Dalam siaran persnya, TNI AU menyatakan, ketiga pesawat Sukhoi tersebut menguji Bom Tajam Nasional (BTN)-250 dan Bom Latih Asap Practice (BLA P)-50, dengan tujuan untuk mengetahui daya ledak serta ketepatan sasaran. Kepala Penerangan dan Perpustakan (Kapentak) Kapentak Lanud Iswahjudi, Mayor Sutrisno, menuturkan jika uji coba Bom Tajam Nasional (BTN)-250 tersebut sukses sesuai dengan yang diharapkan, serta mendapat sertifikat kelaikan dari Dislitbangau, kemandirian di bidang alat utama sistem senjata atau alutsista akan terwujud.

"Sehingga pesawat TNI-AU, khususnya Sukhoi memiliki bom sendiri tanpa tergantung dari luar negeri," katanya.

Uji coba disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Udara (Kadislitbangau), Marsekal Pertama TNI Basuki Purwanto, mulai dari pemasangan bom di body maupun wing pesawat Sukhoi hingga pelaksanaan pengeboman di AWR Pandanwangi, Lumajang. (Nurmulia Rekso Purnomo)


KOMPAS.com
0

MUSEUM PUSAT TNI AU DILENGKAPI MINI THEATER

Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala yang terletak di Lanud Adi Sutjipto, Yogyakarta saat ini telah dilengkapi dengan sebuah Mini Theater yang menyajikan film yang terkait kedirgantaraan.

Mini theater merupakan salah satu fasilitas teknologi informasi dan multi media untuk memberikan informasi kepada para pengunjung melalui pemutaran film tentang berbagai hal terkait kedirgantaraan.

Museum pusat TNI AU dirgantara Mandala didak hanya dikunjungi wisatawan local saja, akan tetapi dikunjungi pula beberapa Kepala Staf Angkatan Negara Sahabat yang terkesan takjub melihat koleksi pesawat-pesawat yang ada di museum TNI AU.

Hal tersebut dikatakan Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP., pada peresmian Mini Theater Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala di Lanud Adi Sutjipto, Yogyakarta. Sabtu (28/1).

Dibangunnya Mini Theater bertujuan untuk menampilkan tayangan sejarah secara lebih menghibur, mendidik, informatif, sehingga diharapkan dapat mendorong animo masyarakat untuk mengunjungi museum.

Kedepan Museum Dirgantala Mandala akan dilengkapi dua buah simulator pesawat P-51 Mustang, sehingga pera pengunjung dapat merasakan bagaimana terbang dengan pesawat simulator, serta akan ditambah lagi koleksi pesawatnya berupa pesawat F-5 tiger dan helicopter.


tni-au.mil.id

0

Hasil Retrofit Hercules Masih Bermasalah

Malang (ANTARA News) - Hasil program peremajaan empat pesawat C-130 Hercules masih menyisakan permasalahan pada sistem avionik dan non avionik.

Kadislog Pangkalan Udara Abdurahman Saleh Asfan Jauhari kepada Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, di Malang, Kamis mengatakan, beberapa permasalahan itu telah disampaikan kepada Singapura.

Pada 2005 Indonesia melakukan peremajaan terhadap empat pesawat C-130 Hercules tipe B yang ber"home base" di Skuadron Udara 32, masing-masing bernomor ekor A-1302, A-1305, A-1308 dan A-1312.

Dari empat pesawat itu, dua menjalani peremajaan di Depo Pemeliharaan 10 Pangkalan Udara Husein Sastranegara dan Depo 30 Pangkalan Udara Abdurahman Saleh.

Sedangkan dua lainnya di Singapura, yang mencakup perbaikan airframe (badan pesawat), modifikasi mesin dan modifikasi avionik.

Namun, lanjut Asfan, ada beberapa permasalahan yang masih tersisa dari hasil retrofit tersebut.

Masalah itu antara lain, auto pilot rusak dan adanya komponen penunjuk trafik pesawat yang tidak mencukupi jika mengalami kerusakan, katanya.

Pada program retrofit tahap II, ada lima pesawat sejenis yang akan diajukan yakni A-1303, A-1304, A-1309 dan 1310.

Kelimanya akan di-retrofit di Indonesia yakni di Depo Pemeliharaan 10 dan 30 TNI Angkatan Udara.

Pada kesempatan itu, Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin melakukan pemeriksaan terhadap satu unit Hercules hasil retrofit (A-1308) dan satu unit Hercules yang akan di-retrofit(ANT/A024)



ANTARAnews
0

Ardian Juara Lomba Kreativitas Prajurit TNI

PEKANBARU (Pos Kota) – Kapten Tek Ardian yang keseharian menjabat sebagai Kasisen Lanud Pekanbaru meraih juara pertama pada lomba Kreativitas Prajurit dan PNS TNI Karya Cipta Teknologi kategori Non Alutsista yang diikuti oleh 193 peserta dari ketiga matra TNI seluruh Indonesia.

Pada karya cipta kategori non Alutsista tersebut, Kapten Tek Ardian merancang suatu sistem yang dapat mendeteksi/memonitor keberadaan Alutsista bergerak setiap saat secara Realtime dengan judul “Perancangan Model System Pemantauan Alutsista TNI di Wilayah Kedaulatan NKRI Melalui Pendayagunaan Frekwensi Satelit 1575,42 Mhz Menggunakan Perangkat Global Positioning System (GPS)”. Rancangan ini menggunakan media radio frekwensi tertentu dengan memanfaatkan sinyal bebas yang dikelola oleh satelit yang dipadukan dalam suatu program dengan perangkat software dan hardware yang menjembatani data GPS yang diterima.

Keberadaan Alutsista bergerak tersebut akan terus terdeteksi posisinya setiap saat melalui tampilan objek berbentuk peta digital yang muncul di layar komputer. Peta yang digunakan dalam perangkat ini memanfaatkan modul dari Google Earth melalui proses pemrograman, sehingga program tersebut hanya mengeksekusi peta digitalnya saja dalam form software yang telah dirancang dan terintegrasi dengan sistem lainnya.

Satu terobosan yang diunggulkan adalah metode pemanfaatan semua jenis radio komunikasi yang melekat pada alutsista sebagai media transmisi data melalui proses modifikasi. Modifikasi yang dimaksud adalah dengan merancang struktur modulasi berjenis GFSK (Gaussian Frequency Shift Keying) yang dikenal handal dalam proses transmit-receive data secara real time.

Secara singkat, mekanisme kerja perangkat sebagai berikut : Alutsista bergerak dilengkapi dengan GPS dan perangkat yang dirancang, diintegrasikan dengan radio frekuensi dari modifikasi radio komunikasi yang dimiliki. GPS akan menerima data satelit dengan frekuensi 1575,42 MHz. Data yang masuk kemudian diproses dalam perangkat dan dikirimkan ke stasiun pemantau sesuai dengan radius komunikasi yang diterima. Di stasiun pemantau ini, pergerakan alutsista akan termonitor melalui peta digital.

Tantangan ke depan, menurut para juri adalah bagaimana akses data dari alutsista yang bergerak agar dikirim ke satelit (transponder TNI), sehingga pergerakan alutsista di seluruh Indonesia dapat dipantau secara langsung melalui stasiun pemantau khusus di Mabes TNI.

Atas keberhasilan ini Kapten Tek Ardian mendapatkan Piagam Penghargaan, Plakat dan uang pembinaan sebesar 10 juta rupiah dari Panglima TNI yang diserahkan oleh Asrenum Panglima TNI. (pentak lanud pekanbaru/syamsir)


PosKota
0

KSAU : Tidak Selamanya TNI AU Harus Bergantung Pada AS

CN 235 MPA produksi PT DI (Foto Kaskus Militer)

Yogyakarta
- Indonesia tidak bisa sepenuhnya bergantung pada Amerika Serikat (AS) dalam hal teknologi kedirgantaraan. Diperlukan Kerjasama dengan negara lain untuk mengurangi ketergantungan teknologi pada satu negara saja.

Demikian disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal Imam Sufaat dalam acara peringatan Hari Bakti TNI AU ke-63 di Akademi Angkatan Udara, (AAU) di Maguwo, Yogyakarta, Kamis (29/7/2010).

"Ada banyak tawaran kerjasama. Salah satunya kerjasama dengan pemerintah Korea Selatan dalam pembuatan pesawat. Diharapkan bisa dihasilkan pesawat tempur pada 2020 mendatang. Ada juga tawaran kerjasama dengan Pakistan untuk membuat pesawat tempur dengan kemampuan di atas F-16 buatan AS," kata Imam.

Diakui Imam, selama ini Indonesia membeli peralatan kedirgantaraan hanya dari Amerika Serikat saja. Namun beberapa pabriknya ada yang tidak memproduksi lagi. Kerjasama dengan Korea Selatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan.
"Rencana pembuatan pesawat tempur ini untuk spesifikasi teknologi pesawatnya lebih handal dibanding dengan F-16 buatan AS," katanya.

Dia menjelaskan kerjasama penguasaan teknologi pembuatan pesawat itu sudah ada dalam nota kesepahaman (MoU) yang telah dibuat oleh Departemen Pertahanan dengan cara penyertaan saham sebanyak 20 persen. Di luar kerjasama itu ada upaya
pembuatan pesawat tempur seperti yang dilakukan India-China. Dua negara ini sekarang sudah mampu menghasilkan pesawat tempur dengan kemampuan di atas pesawat tempur F16 buatan AS.

"Saat ini kita juga mendapatkan tawaran kerjasama dari Pakistan. Kalau membuat pesawat tempur sendiri kita bisa dapatkan break event poin untuk 200 produksi pesawat tempur," kata Imam.

Ditanya mengenai alat utama sistem persenjataan (alusista) yang dimiliki, Imam mengatakan sebenarnya kekuatan militer Indonesia sudah mampu untuk memproduksi bom maupun penguasaan teknologi roket dengan sasaran dari udara ke darat. Khusus untuk pengembangan roket sudah dilakukan oleh Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) yang berupaya meluncurkan roket sendiri.

"Namun untuk peluru kendali, Indonesia masih perlu transfer teknologi dan dukungan pengembangan teknologi dirgantara. Buatan PT Pindad sudah kita pakai. Soal isian kita tak mengalami masalah hanya untuk sistem pengendalian memang harus lebih kita kuasai," pungkas Imam Sufaat.(djo/djo)


detikNews.com

0

PESAWAT HERCULES A-1308 KEMBALI KE RUMAHNYA

Setelah enam bulan menjalani perbaikan dan perawatan di Lanud Husein Sastranegara Bangdung maka pesawat Hercules C-130 dengan nomor registrasi A-1308 milik Skadron Udara 32 Wing 2 Lanud Abd saleh kembali dapat beroperasi lagi (29/7).

Komandan Lanud Abd Saleh A. Dwi Putranto menerima dan melihat langsung kedatangan pesawat Hercules A-1308 yang dipiloti sendiri oleh Komandan Skadron Udara 32 Letkol Pnb Wayan Superman dan berhenti tepat di lapangan Skadron Udara 32 Wing 2 Lanud Abd Saleh disaksikan para pejabat Lanud beserta Insub.

Selanjutnya Komandan melakukan mengguntingan pita di moncong pesawat sebagai tanda kembalinya pesawat hercules A.1308 ke hanggarnya. Dan sebagai ungkapan rasa syukur Komandan melakukan pemotongan tumpeng dan diberikan kepada anggota Skadron Udara 32.

Usai pemotongan tumpeng, Komandan menjelaskan bahwa Skadron Udara 32, yang salah satunya memiliki tugas dan kewajiban untuk mengoperasikan serta memelihara sampai tingkat sedang pesawat C-130 Hercules dalam mendukung tugas-tugas operasi TNI AU, dituntut pesawat yang ada harus dalam kondisi siap operasional.

Sejarah telah membuktikan bahwa selama ini pesawat Hercules sebagai pendukung operasi telah menunjukkan keberhasilan dalam berbagai operasi. Tidak hanya memberikan kontribusi bagi kepentingan operasi militer namun juga memberi andil pada berbagai operasi kemanusiaan di seluruh wilayah Indonesia, lanjutnya.

Mengingat jam terbang pesawat Hercules begitu besar, maka diperlukan perawatan berkala dan menyeluruh agar pesawat dapat beroperasi maksimal. Diharapkan tidak ada lagi adanya accident dan incident terhadap pesawat Hercules yang ada di Lanud Abd Saleh ini. Dan kepada air crew serta seluruh warga Lanud Abd Saleh untuk senantiasa menjaga dan memelihara pesawat yang ada di Lanud Abd Saleh ini, sehingga apabila sewaktu-waktu mendapat tugas operasi, kita akan selalu siap.


tni-au.mil.id
0

Hercules TNI-AU Jalani Pemeliharaan Berat di AS

Dubes AS Cameron R. Hume (kanan) didampingi Wakil KSAU Marsdya TNI Sukirno (tengah) menyematkan tanda misi penerbangan kepada salah seorang crew pesawat C-130 Hercules TNI-AU yang akan melakukan penerbangan ke Oklahoma, AS di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (13/7). (ANTARA/Saptono)

Jakarta (ANTARA News) - Satu unit pesawat angkut berat C-130 Hercules Tentara Nasional IndonesiaAngkatan Udara (TNI-AU) menjalani pemeliharaan berat dalam Programmed Depot Maintanance (PDM) di hangar perusahaan ARINC di Oklahoma, Amerika Serikat (AS).

Satu pesawat yang menjalani pemeliharaan berat di ARINC untuk kali pertama itu, bernomor register A-1323 dan dilepas oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau), Marsekal Madya TNI Soekirno, ke Oklahoma dalam sebuah upacara militer di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa.

"Program pemeliharaan PDM tersebut merupakan pemeliharaan tingkat berat untuk pesawat C-130 Hercules yang mengacu pada `technical order` yang dikeluarkan AS. Program ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan yang telah disepakati angakatan udara RI dan AS," kata Soekirno.

Ia mengemukakan, program pemeliharaan yang dibiayai dengan hibah AS itu bertujuan meningkatkan kemampuan dan kesiapan pesawat C-130 Hercules TNI Angkatan Udara.

"Pengerjaan pemeliharan itu akan dilangsungkan selama enam bulan, melibatkan sepuluh orang teknisi TNI Angkatan Udara dalam rangka alih teknologi. Ke-14 teknisi itu akan diberangkatkan besok," kata Soekirno.

Ia menambahkan, hibah bagi pemeliharaan C-130 Hercules TNI Angkatan Udara akan dilakukan bertahap. "Jika satu unit ini telah selesai dan berhasil ditingkatkan kemampuannya, maka dua unit pesawat angkut berat sejenis, juga akan menjalani pemeliharaan di Oklahoma," tutur Soekirno.

Teknisi TNI Angkatan Udara sebenarnya telah memiliki kemampuan untuk melakukan pemeliharaan pesawat C-130 Hercules seperti Depo Pemeliharaan 30 di Pangkalan Udara Abdurahman Saleh, Malang.

Hanya saja, pihak AS ingin melakukan pengecekan dan pemeliharaan secara menyeluruh dan teliti.(T.R018/P003)


ANTARANews
0

Ketergantungan Teknologi, Penyebab Tersendatnya Pembanguan TNI AU

Kekuatan Angkatan Udara merupakan salah satu komponen kekuatan yang dapat menjadi “Bargaining Power” dalam upaya menyelesaikan konflik antar Negara. Namun untuk dapat membangun sebuah angkatan Udara yang kuat, tidak mudah dan memerlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Keterbatasan anggaran Negara dan tingginya tingkat ketergantungan teknologi, menjadi salah satu penyebab tersendatnya upaya pembangunan TNI Angkatan Udara ke depan.

Hal tersebut disampaikan Kasau, Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Dinas Personel, Letkol Pnb Syamsul Rizal Selaku Irup pada upacara bendera 17-an, di lapangan Dirgantara Lanud Iswahjudi, Senin (17/5).

Lebih lanjut Kasau mengatakan, dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, tantangan yang dihadapi TNI Angkatan Udara akan semakin berat, kemajuan teknologi semakin pesat, peran kekuatan udara dalam perang modern semakin diperlukan meskipun bagi bangsa Indonesia, perang merupakan jalan terakhir, namun menyiapkan diri untuk siap perang, adalah langkah yang cerdas untuk menjamin situasi damai.

“Profesionalisme sumber daya manusia di bidang tugas masing-masing merupakan nilai yang harus dimiliki oleh setiap personel TNI Angkatan Udara dalam melaksanakan tugas pengabdiannya. Oleh karena itu semangat perubahan harus kita bangun secara bersama-sama, jangan pernah berhenti berpikir dan berbuat, demi terwujudnya visi dan misi TNI Angkatan Udara”, lanjut Marsekal Imam.

Mengakhiri sambutan, Kasau, mengatakan bahwa kunci sukses menuju kondisi yang diharapkan, sangat tergantung pada tingkat kepedulian dan kepekaan setiap personel TNI Angkatan Udara terhadap potensi yang dapat menjadi sumber penyebab, maka budaya pembangunan “Budaya Safety” di lingkungan penugasan merupakan hal yang tidak dapat ditawar.

tni-au
0

Kamera SRS 2000 Retina

Kamera SRS 2000 Retina

































SRS 2000 Retina (FOTO TNI AU)









SISTEM INTAI UDARA TAKTIS SRS Retina 2000 yang ditampilkan pada pameran Indo Defence & Indo Aerospace 2008 merupakan kamera pengintaian dan pengamatan udara yang dirancang dengan kemampuan mengidentifikasi suatu obyek dan merekamnya dari pesawat intai taktis TNI-AU CASA-212 dalam bentuk data foto udara digital dan video. Sistem kamera ini terdiri atas Gimbal yang berisi kamera foto, kamera Video dan Laser Finder (penentu jarak ke obyek). Pengendalian dilakukan melalui Master Control Unit .

Sistem ini merupakan upaya Departemen Pertahanan RI untuk mengembangkan peralatan pencitraan udara karya anak bangsa. Alat ini buah hasil utak-atik anggota Skuadron 4 yang bermarkas di Pangkalan Udara Abdurahman Saleh, Malang. Hasil kreativitas ini kemudian diserahkan kepada Balitbang Departemen Pertahanan (Dephan) untuk dikembangkan. Maka kerja sama Balitbang Dephan, Lembaga Elektronika Nasional (PT LEN), dan Skuadron Udara 4 berbuah Retina-SRS 2000, dengan biaya relatif kecil.

SRS Retina 2000 memiliki tingkat efisiensi yang tinggi dari segi pemeliharaan dan suku cadang karena dibuat di dalam negeri (PT LEN) sehingga faktor pemeliharaan tidak lagi tergantung dengan pihak luar.

Spec data:

- 4 Km Laser Range Finger

- Daylight CCD Camera

- 24 Zoom capability

- High Resolution (12Mp) Digital Stil Camera

- Ingrate Software

- Digital Video Recoder 12 GB Removable harddisk

(Sinar Harapan)