0

Dua lagi perusahaan BUMN yang tahun ini melejit melampaui batas negara

 Garuda Kalahkan MAS, bahkan sudah lebih besar dari Air France dan BatanTek Meng-Asia  


Manufacturing Hope 30

VIVAnews - Dua lagi perusahaan BUMN yang tahun ini melejit melampaui batas negara: PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dan PT Batan Teknologi (Persero).

Garuda, secara mengejutkan, saat ini sudah lebih besar dari Malaysia Airlines (MAS) dan Thai Airways, Thailand. Bahkan sudah lebih besar dari Air France! Value Garuda kini sudah mencapai Rp18 triliun. Sudah sekitar Rp1 triliun lebih besar dari MAS dan Thai. Dengan demikian untuk Asia Tenggara kini Garuda tinggal kalah dari Singapore Airlines.

Memang tidak ada alasan bagi Indonesia untuk serba kalah dari sesama negara ASEAN. Di antara 10 negara Asia Tenggara kekuatan ekonomi Indonesia sudah mencapai 51% sendiri. Baru yang 49% dibagi 9 negara lainnya.

Di bawah direksi Garuda yang sekarang dengan Dirut Emirsyah Satar, prestasi itu akan terus bisa dipacu. Inilah direksi yang dari segi umur relatif masih muda-muda. Inilah direksi yang berada di puncak antusias dan gairahnya. Iklim seperti itu secara otomatis akan menjalar dan mewabah ke jajaran di bawah dan di bawahnya lagi.

Ekonomi Indonesia yang terus membaik memang bisa menjadi ladang yang subur bagi Garuda. Penambahan pesawat yang terus dilakukan, termasuk yang kelas 100 tempat duduk, akan membuat Garuda terbang kian tinggi.

Langkah terbarunya untuk bisa dipercaya Kanada sebagai pusat perawatan pesawat Bombardier se Asia Pasifik, memberikan hope yang lebih besar lagi. Dengan demikian GMF AeroAsia, salah satu anak perusahaan Garuda, akan menjadi perusahaan kelas dunia juga. Ini karena pembuat mesin pesawat terkemuka di dunia lainnya, GE dari USA juga sudah mempercayakan perawatan mesin GE ke GMF AeroAsia.

PT Batam Tek
Dua Pemikir Batan

Seperti tidak kalah dengan prestasi Garuda dan enam BUMN kelas dunia lainnya (BRI, Bank Mandiri, Telkom, BNI, PGN, dan Semen Gresik) kini muncul si cabe rawit: PT Batan Teknologi.

Tahun ini di bawah Dirut baru Dr.Ir.Yudiutomo Imardjoko, BatanTek tidak hanya bisa bangkit dari kuburnya bahkan begitu bangkit langsung bisa berlari dengan kencangnya. Larinya pun ke mana-mana termasuk ke puluhan negara Asia.

Padahal tahun 2010 lalu BatanTek sudah dicabut nyawanya. Ini gara-gara ada larangan internasional untuk melakukan pengayaan uranium tingkat tinggi. Ini dikhawatirkan bisa disalahgunakan menjadi senjata nuklir.

Sejak itu PT BatanTek berhenti memproduksi radioisotop. Tim BatanTek sudah berusaha mengubah proses pengayaan uranium menjadi tingkat rendah, tapi tidak mampu. Bahkan BatanTek sudah mendatangkan ahli dari USA untuk menularkan pengetahuan proses uranium tingkat rendah. Tapi juga gagal.

Akibatnya rumah-rumah sakit yang selama ini menggunakan radioisotop dari BatanTek memilih membeli dari sumber lain. Semua pelanggan marah dan memutuskan hubungan. BatanTek praktis mati.

Untunglah Dr Yudiutomo datang dan menjadi dirut baru. Anak Maospati, Magetan, lulusan Fakultas Teknik Nuklir UGM ini memang bukan sembarang orang. Dia meraih gelar doktor di bidang nuklir di Iowa State University USA.

Dr Yudiutomo mengajak ahli nuklir sealmamater di UGM, Dr.Ing Kusnanto untuk menjadi direktur produksi. Dr Kusnanto meraih gelar doktor nuklir dari Aachen, Jerman.

Karena PT BatanTek masih dalam keadaan sulit, sejak awal dua ahli nuklir ini memilih menghemat: menyewa satu rumah untuk dihuni berdua. Keluarga ditinggal di Yogya.

Dua orang inilah yang tidak henti-hentinya berpikir bagaimana agar BatanTek bisa melakukan pengayaan uranium tingkat rendah. Siang malam dua ahli ini terus berdiskusi. Keputusan untuk tinggal satu rumah membuat diskusi mereka berlanjut setelah jam kantor sekalipun. Di rumah kontrakan itulah mereka bisa berdiskusi sampai jam 2 dini hari.

Hasilnya luar biasa: mereka menemukan cara baru mengayakan uranium tingkat rendah. Bukan cara yang sudah dikenal di dunia sekarang ini, tapi cara baru yang untuk mudahnya saya beri saja nama "Formula YK" (Yudiutomo Kusnanto).

Formula YK ini menggunakan prinsip electro plating. Menggantikan cara lama sistem foil target. Prinsipnya, sebelum dimasukkan reaktor nuklir uranium itu di-plating dengan rumus tertenu. Cara ini meski kelak diketahui oleh ahli lain pun akan sulit ditiru. Rumus angka-angkanya tidak akan diungkap.

Masalahnya: dari mana perusahaan dapat tambahan modal? Reaktor nuklirnya sih bisa tetap menggunakan reaktor milik Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) yang di Serpong itu, tapi banyak peralatan PT BatanTek yang harus diperbaharui atau diperbaiki.


Satu-satunya di Asia

"Perlu berapa?" tanya saya saat rapat dengan dua ahli nuklir itu di Serpong.

"Cukup besar pak, Rp 85 miliar," jawab Dr Yudiutomo.

"Saya carikan!"

Saya pun menghubungi Bank Rakyat Indonesia. Saya memang sangat kagum dan terharu melihat kejeniusan dua ahli ini. Saya bisa merasakan getaran semangatnya yang meluap. Dan saya juga melihat kilatan matanya yang menyiratkan keinginan untuk maju. Inilah ilmuwan yang memiliki kemampuan manajerial yang handal. Intelektual sekaligus entrepreneur!

Dengan penemuan baru Formula YK ini Indonesia berhasil menjadi satu-satunya negara di Asia yang mampu memproduksi radioisotop. Kini seluruh negara Asia datang ke BatanTek untuk membeli radioisotop!

Radioisotop adalah bahan yang sangat penting untuk pemeriksaan kesehatan di rumah sakit. Radioisotop adalah bahan yang tidak bisa dipisahkan dengan kedokteran nuklir. Dengan radioisotop organ-organ di dalam badan bisa dilihat secara berwarna dan tiga dimensi.

Ini sudah beda dengan radiologi yang hanya bisa hitam putih dan dua dimensi.

Maka pemeriksaan melaui MRI, CT, gamma camera, serta operasi yang menggunakan pisau gamma mutlak memerlukan radioisotop. Jepang pun tidak memproduksinya sehingga pasar radioisotop kita amat besar. Apalagi Tiongkok.

Waktu saya mendampingi Presiden SBY makan siang dengan Presiden Hu Jintao di Beijing yang lalu, saya pun promosi radioisotopnya BatanTek. Kebetulan saya berada di sebelah menteri perdagangan Tiongkok. Selama makan siang itu saya terus minta agar Tiongkok membeli radioisotop kita.

Dengan kemampuan Dr Yudiutomo dan timnya menembus pasar Jepang, Tiongkok, Malaysia, dan negara-negara Asia lainnya, maka masa depan PT Batan Teknologi amat cerah. Tahun ini omsetnya langsung bisa mencapai Rp 200 miliar. Tidak mustahil bakal bisa mencapai Rp 1 triliun dan kemudian Rp 3 triliun di kemudian hari.

Amerika dan Australia, meski mampu membuat radioisotop, mereka bukan pesaing kita. Umur radioisotop ini hanya 60 jam. Setelah itu daya radiasinya habis. Untuk kebutuhan Tiongkok 10 curie, misalnya, Tiongkok harus membeli 60 curie. Yang 50 curie hilang di jalan. Karena itu pengirimannya harus dengan pesawat. Harus dihitung waktu pengirimannya sejak dari Serpong ke bandara dan seterusnya.

Saya tentu ingin dua ahli kita ini tidak berhenti di radioisotop. Keduanya juga optimis pengetahuannya akan sangat berguna untuk pertanian dan pengeboran minyak.

Tapi biarlah BatanTek maju dulu. Jadi raja Asia dulu. Dua tahun lagi kita bicara nuklir untuk mengamankan pangan kita.

(*) Dahlan Iskan adalah Menteri BUMN
0

Dasep Ahmadi Berlomba Melawan Waktu untuk Selesaikan Mobil Listrik Nasional

 Bikin Tiga Varian agar Harga Terjangkau Rakyat 

Dasep Ahmadi
Dasep Ahmadi, satu di antara lima anak negeri yang kini bersiap melahirkan mobil listrik nasional. Bersama tim, Dasep harus bekerja keras untuk menyelesaikan proyeknya itu dalam tiga bulan ke depan sebagaimana ditargetkan oleh Presiden SBY.

AHMAD BAIDHOWI, Jakarta

BANGUNAN di pinggir Jalan Jatimulya, Kampung Sawah, Depok, itu tidak terlalu besar untuk ukuran sebuah pabrik, hanya sekitar 20 x 40 meter persegi. Di tembok depan yang bercat biru terdapat papan nama perusahaan: PT Sarimas Ahmadi Pratama.

Masuk ke bangunan utama, terdapat ruang tamu sederhana dengan meja kaca dan empat kursi. Di samping kiri terdapat sebuah ruang pertemuan. Di sisi kanan adalah ruangan yang difungsikan untuk kantor. Beberapa karyawan yang rata-rata berusia muda dengan seragam abu-abu tampak serius bekerja di depan layar komputer.

Di ruang tamu tampak penuh dengan piagam penghargaan yang diterima Dasep. Misalnya, Teknopreneur Award 2009, Penghargaan Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie 2009 dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan Adhicipta Rekayasa 2010 dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

Ada satu lagi penghargaan yang cukup mencolok dengan foto Dasep menerima ucapan selamat dari Presiden SBY. Yakni, Penghargaan Rintisan Teknologi 2010 dari Kementerian Perindustrian RI.

"Di tempat inilah kami mendesain dan mengembangkan mobil listrik nasional," ujarnya mengawali pembicaraan dengan Jawa Pos Senin (28/5) lalu.

Kesan pertama yang bisa ditangkap dari sosok Dasep, dia tampak cerdas. Gaya bicaranya cepat, tapi tetap runtut dan detail. Sepintas agak mirip dengan gaya bicara mantan Presiden B.J. Habibie, namun dengan aksen Sunda yang masih terdengar.

Dasep yang oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan dijuluki "Putra Petir" itu lalu bercerita tentang perjalanan hidupnya. Lahir dan besar di Sukabumi 46 tahun silam, Dasep mengaku sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau sains. Pelajaran kimia dan fisika yang biasanya menjadi momok bagi kebanyakan siswa justru menjadi kegemaran Dasep. Karena itu, tidak mengherankan bila nilai sempurna (10) sering dia raih untuk dua mata pelajaran eksakta itu.

Cita-cita Dasep mendalami ilmu sains makin besar tatkala diterima di Jurusan Teknik Mesin, Institut Teknologi Bandung (ITB), dengan spesialisasi robotik. "Di ITB saya banyak belajar tentang ilmu mekanika dan elektronika," cerita dia.

Salah satu prestasi yang berhasil diukirnya semasa kuliah adalah ketika memimpin tim Pusat Teknologi Tepat Guna (Pustena) Masjid Salman ITB meraih gelar juara I Lomba Inovasi Robotika Tingkat Nasional 1987.

Lulus pada 1990, Dasep kemudian bekerja di PT Pindad. Di BUMN yang memproduksi alat perang itu Dasep masuk sebagai staf engineer di bagian machine tool production otomation. Tak lama kemudian, pada 1992, Dasep pindah ke PT Astra International sebagai senior engineer.

Karir di raksasa otomotif Indonesia tersebut mengantarkan Dasep mendapat beasiswa untuk menuntut ilmu mekanika dan otomotif di Trumpf Maschinenfabrik, Stuttgart, Jerman. Beasiswa itu berasal dari VODEMA, gabungan industri dan pabrik asal Jerman.

Pada akhir 1994, Dasep kembali ke Indonesia dan masuk ke Daihatsu Astra Motor sebagai chief engineer. Di perusahaan itulah Dasep beberapa kali mendapat kesempatan belajar teknik pembuatan mesin mobil ke Tada Plant Daihatsu Motor Corporation di Osaka, Jepang. "Pada 1998, saya keluar dari Daihatsu karena meneruskan perusahaan orang tua di bidang produksi mesin pertanian," ujar laki-laki yang mahir berbahasa Inggris, Jerman, dan Jepang itu.

Gairah untuk terus berkreasi akhirnya mendorong Dasep mendirikan perusahaan sendiri, PT Sarimas Ahmadi Pratama, pada 2004. Melalui perusahaan itu, Dasep memproduksi mesin-mesin industri. Misalnya, mesin perancangan dan pembuatan jig serta special purpose machine untuk perusahaan otomotif PT Astra Daihatsu Motor.

Di luar itu Dasep memasok mesin yang diperlukan untuk proses produksi mobil di PT Honda Prospect Motor (HPM), Yamaha Group, dan PT Yamaha Part Manufacturing Indonesia. Selain memasok keperluan industri, Dasep menyuplai kebutuhan mesin untuk praktik di Politeknik Negeri Jakarta serta beberapa sekolah menengah kejuruan (SMK).

Tak puas di dalam negeri, Dasep mengembangkan sayap bisnisnya ke mancanegara. Langkah fenomenal dicapai pada 2006. Dia berhasil mengekspor mesin untuk pembuatan mobil kepada Perodua Engine Manufacturing Sdn Bhd. Perodua adalah perusahaan otomotif lokal Malaysia. Meski lokal, Perodua bukan perusahaan sembarangan. Perusahaan itu memproduksi dan mendistribusikan beberapa produk Daihatsu di Malaysia. Perusahaan tersebut juga merupakan mitra lokal Daihatsu dan Toyota di Malaysia.

Hingga kini, Dasep sudah berkali-kali mengekspor mesin perkakas ke Perodua. Pekan lalu dia juga mengunjungi pabrik Perodua untuk mengecek kondisi mesin-mesin produksinya. "Mesin yang kami kirim pada 2006 hingga sekarang kondisinya masih baik lho," ujarnya, lantas tersenyum.

Lalu, kapan mulai menggeluti mobil listrik? Dasep mengatakan, sejak 2007 dirinya mulai merancang dan membuat produk otomotif seperti mobil gokar. Selain itu, dia pernah membuat prototipe (purwarupa) mobil jenis city car dengan kapasitas mesin 150 cc. Mobil tersebut diberi nama Mobira (Mobil Rakyat). Namun, Dasep baru mulai menggarap mobil listrik pada 2010. Itu pun masih berupa ide.

Menurut Dasep, ada banyak alasan mengapa dirinya tertarik mengembangkan mobil listrik. Pertama, mobil listrik belum dikembangkan di Indonesia, bahkan di negara-negara ASEAN yang lain. Kedua, mobil listrik ramah lingkungan karena bebas polusi atau emisi karbon. Ketiga, hemat bahan bakar. Jika dibandingkan dengan biaya untuk membeli BBM, biaya mobil listrik hanya 1/5 (seperlima) dari mobil ber-BBM.

Soal perawatan, mobil listrik juga lebih mudah. Sebab, mobil listrik tidak membutuhkan banyak onderdil berupa filter sebagaimana mobil BBM. Selain itu, mobil listrik lebih sedikit fast moving part (onderdil yang mudah aus). "Ibaratnya, kalau mobil BBM setiap 10 ribu kilometer harus ke bengkel, mobil listrik mungkin baru ke bengkel setelah 50 ribu kilometer," jelasnya.

Dasep menyebutkan, teknologi mobil listrik yang menggunakan baterai juga unik. Misalnya, saat menanjak, mobil akan menyerap energi dari baterai. Namun, begitu menurun, mobil listrik punya kemampuan mengubah energi potensial mekanis (energi gerak) menjadi energi listrik.

Tak hanya itu, saat akselerasi (kecepatan bertambah), mobil listrik akan menyerap energi dari baterai. Namun, ketika kecepatan mobil berkurang, gerak perlambatan itu bisa diubah menjadi energi yang masuk ke baterai. Baterai yang digunakan memiliki kapasitas daya 21 kilowatt hour (kwh). "Itu yang membuat mobil listrik sangat hemat energi," ujarnya.

Bagaimana pengisian baterainya? Menurut Dasep, ada dua cara pengisian. Pertama, pengisian melalui alat charger yang di-install di rumah, pabrik, atau kantor. Setiap pengisian membutuhkan waktu 4-5 jam. Itu mampu digunakan untuk jarak tempuh sekitar 140 kilometer.

Selain itu, ada sistem fast charging atau pengisian baterai dengan waktu singkat, hanya 30 menit. Bahkan, ada teknologi yang lebih singkat lagi, 10 menit. Jika mobil listrik berkembang, instalasi fast charging bisa dipasang di beberapa titik tempat publik sehingga bisa diakses oleh pemilik mobil listrik.

Dasep juga menuturkan, prototipe mobil listrik membutuhkan sepuluh tahap. Yakni, pengembangan front body, side body and door, rear body, upper body, interior, bracket (motor and transmission), finishing, assembling, inspection, dan test drive. "Nah, sekarang mobil kami memasuki tahap akhir assembling," ujarnya.

Menurut Dasep, dua tahap selanjutnya, yakni inspection dan test drive, tidak akan membutuhkan waktu lama. Karena itu, dia berani menargetkan Juli nanti semua sudah selesai. "Target kami Agustus nanti sudah bisa dilakukan test drive resmi," ucapnya.

Dasep kemudian mengajak Jawa Pos ke ruang bengkel di bangunan bagian belakang untuk melihat prototipe mobil listrik kreasinya. Namun, dia mewanti-wanti agar tidak memublikasikan foto prototipe mobil itu karena memang masih rahasia dan bakal di-launching pada saat test drive resmi Agustus mendatang.

Enam mekanik berseragam abu-abu tampak mengelilingi mobil bercat dasar hijau muda. Mereka sibuk meng-install beberapa peralatan dan mesin dalam mobil. Sekilas bentuknya mirip Toyota Avanza, namun lebih kecil. Sebagai gambaran, Toyota Avanza memiliki dimensi panjang 4,120 mm, lebar 1,630 mm, dan tinggi 1,695 mm. Sedangkan mobil listrik kreasi Dasep memiliki dimensi panjang 3,450 mm, lebar 1,490 mm, dan tinggi 1,600 mm.

Dasep mengatakan, mobil listriknya memang didesain sebagai city car dengan empat tempat duduk (empat seat), sehingga bentuknya lebih kecil. Untuk dapur pacu, Dasep akan membenamkan mesin dengan kekuatan 50 horse power (HP) continue, atau setara dengan mesin berkapasitas 900 cc. "Dengan mesin itu, mobil ini bisa melaju hingga 100 atau 120 kilometer per jam," ujarnya bangga.

Rencananya, Dasep merilis tiga varian mobil listrik. Yakni, varian standar, grand, dan lux. Warna yang dipilih hitam dan putih, serta satu warna lagi dirahasiakan. "Mobil ini nanti tidak dijual mahal. Makanya, kami bikin tiga varian agar bisa menjangkau lebih banyak konsumen," katanya.

Dasep memperkirakan, bila mobil karyanya secara resmi diterima pemerintah, dirinya perlu waktu dua tahun lagi untuk menyiapkan produksi masal. Itu berarti pada 2014 mobil listrik tersebut sudah bisa dinikmati masyarakat.

Untuk mendukung obsesinya itu, Dasep menyiapkan dua pabrik di Depok dan Bogor. Selain itu, sekitar 300 perusahaan anggota Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMA) siap mendukung pengembangan mobil listrik itu. "Kebetulan, saya ketua GAMA," ujarnya.

Dasep optimistis, mobil listrik bisa sukses dikembangkan di Indonesia. Meski demikian, dia tetap membutuhkan support dari pemerintah, terutama dalam hal regulasi maupun insentif pajak. Sebab, masih ada beberapa komponen yang belum bisa diproduksi di dalam negeri sehingga harus diimpor.

Karena itu, dia sangat gembira ketika Menteri BUMN Dahlan Iskan memberikan dukungan penuh atas proyek mobil listriknya. Bahkan, Dasep mendapat kesempatan mempresentasikan karyanya di hadapan Presiden SBY dan para menteri di Jogjakarta pekan lalu. "Pak Dahlan sendiri sudah dua kali berkunjung ke pabrik kami," katanya.

Menurut Dasep, jika proyek mobil listrik sukses, itu merupakan lompatan besar dalam sejarah industri otomotif Indonesia. "Mudah-mudahan mobil listrik ini benar-benar bisa menjadi mobil nasional. Apalagi, diproduksi di dalam negeri oleh putra-putri sendiri," tandas dia. (*/c4/ari)
 
 
Jpnn
0

Membuat Plastik dari Gadung

http://202.46.15.98/file/gallery/2012/06/gadung.png
Umbi gadung (Dioscorea daemona) dikenal enak dan renyah dibuat keripik. Namun, siswa SMA Hidayatus Salam, Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, justru memanfaatkan sari pati umbi gadung menjadi plastik ramah lingkungan.

Salah satu siswa, Angela Sastri Hidayani, akhir Mei, menuturkan, umumnya plastik terbuat dari senyawa polimer dari minyak bumi. Plastik macam itu sulit terurai. Adapun plastik berbahan gadung lebih elastis dan mudah terurai sehingga ramah lingkungan.

Selama ini ada juga uji coba plastik yang mudah terurai dari kentang dan singkong. ”Kami ingin mencoba membuat plastik dari umbi gadung. Ini masih perlu diteliti lagi tingkat keekonomiannya,” kata Angela.

Kepala SMA Hidayatus Salam Ahmad Misbah Abidin menjelaskan, pembuatan plastik berbahan gadung menjadi ajang pembelajaran untuk siswa. Paling tidak masyarakat menjadi tahu ada plastik yang ramah lingkungan. ”Kami berharap nantinya bisa diproduksi massal,” kata Ahmad.

Menurut M Arif Lukman, siswa yang ikut membuat plastik berbahan gadung, cara pembuatannya sangat mudah. Umbi gadung dikupas dan dirajang. Kandungan racunnya (dioscorin dan diosgenin) dihilangkan dengan direndam air garam semalam dan dialiri air mengalir. Setelah itu dihaluskan dengan blender.

Ekstraknya dibiarkan mengendap. Kemudian pati gadung diambil dan dikeringkan. Setiap 2,5 gram pati gadung dicampur 25 mililiter (ml) air dan dipanaskan. Dalam proses pemanasan ditambahkan 3 ml asam cuka (HCl) dan 2 ml gliserin 50 persen sambil diaduk-aduk.

Adonan yang mulai mengental dibiarkan dingin, lalu dinetralkan dengan soda api (natrium hidroksida/NaOH). Adonan diberi warna sesuai keinginan, kemudian dituang ke dalam cetakan atau aluminium foil dan diratakan. ”Hasilnya dijemur di bawah matahari dan berbentuk plastik elastis,” kata Lukman.

 Mudah terurai 

Siswa lain, Miftahul Qowim, menambahkan, dari hasil uji coba selama ini, plastik berbahan gadung lebih mudah terurai. Dalam 1-2 bulan, plastik sudah terurai sehingga mampu menekan kerusakan lingkungan akibat sampah plastik yang selama ini sulit terurai.

Tim sekolah itu meneliti gadung untuk dibuat plastik karena terinspirasi dari SMA 48 Jakarta yang membuat plastik dari sari pati kentang yang disebut bioplastik.

Sari pati kentang dicampur asam cuka, gliserin, serta air dan dipanaskan. Setelah mengental seperti gel ditetesi soda api dan ditempelkan di kertas lakmus warna merah muda.

Jika kertas lakmus berwarna merah, perlu ditambahkan soda api sampai kertas lakmus berwarna biru atau hijau. Jika gel sudah hijau atau biru siap dituangkan ke cetakan menjadi plastik. Setelah itu dijemur hingga kering dan menjadi plastik bening.

”Setiap bahan yang mengandung pati dan karbohidrat memungkinkan dibuat plastik,” kata Qowim. (Kompas, 8 Juni 2012/ humasristek)
0

Pemerintah Akan Beli Listrik dari Malaysia 50 MW

Ilustrasi
TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah berencana membeli listrik dari Sarawak, Malaysia, sebesar 50 megawatt untuk memenuhi kebutuhan listrik di perbatasan. Namun, pembelian ini rencananya baru direalisasikan jika peraturan teknis tentang jual beli listrik antarnegara sudah diundangkan.

“Peraturan teknisnya akan segera selesai,” kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jarman, Rabu, 4 April 2012.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2012 tentang Jual Beli Listrik Lintas Negara. Dalam peraturan itu disebutkan jual beli listrik dimungkinkan jika pasokan dalam negeri telah terpenuhi.

Pasal 4 beleid itu menyatakan ada tiga syarat penjualan tenaga listrik. Ketiga syarat itu adalah kebutuhan tenaga listrik setempat dan wilayah sekitar sudah terpenuhi, harga jual tenaga listrik tidak mengandung subsidi dan tidak mengganggu mutu serta keandalan penyediaan tenaga listrik setempat.

Jarman menyatakan di seluruh wilayah Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia, hampir semua pembangkit memakai bahan bakar fosil. Pembelian dari Sarawak bertujuan untuk menekan biaya operasional.

“Kami yakin bisa lebih murah,” ucapnya. Dia menyatakan, untuk saat ini, baru daerah Kalimantan saja yang berencana untuk melakukan pembelian listrik dari negara tetangga.

Ia menjelaskan secara bertahap pihaknya akan mengupayakan pembangkit listrik tenaga uap untuk menggantikan pembangkit listrik dengan BBM. Penggantian sumber pembangkit tenaga listrik ini juga bakal menciptakan kemandirian energi di perbatasan.

Pihaknya belum memiliki rencana untuk melakukan penjualan tenaga listrik ke negara lain. Jarman menerangkan, saat ini Kementerian ESDM sedang fokus untuk memenuhi permintaan listrik dalam negeri. Dia tidak ingin, pasokan listrik dalam negeri belum terpenuhi tetapi sudah mengekspor listrik ke negara lain. “Ini kami hindari,” ujarnya.[I WAYAN AGUS PURNOMO]


0

Ada PLTU Paiton, Ratusan Dusun di Probolinggo Masih Gelap

foto
Warga mengontrol panel pembangkit listrik tenaga surya di Desa Tondongkura, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, Kamis (12/1). TEMPO/Kink Kusuma Rein
TEMPO.CO, Probolinggo - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Dewi Qorina, menjelaskan hingga kini sebanyak 137 dusun yang tersebar di sejumlah desa belum memperoleh aliran listrik dari PLN. Bahkan ada sejumlah dusun di Kecamatan Paiton, lokasi PLTU Paiton.

Menurut Dewi, sebagian dusun-dusun tersebut mengandalkan pasokan dari program listrik desa serta program listrik tenaga surya. Tahun 2012 sebanyak lima dusun mendapat listrik desa.

Dewi menuturkan sebagian besar dusun yang belum mendapatkan listrik PLN karena secara geografis letaknya jauh dari jangkauan jaringan listrik PLN. Bahkan ada yang berlokasi di lereng gunung. ”Faktor ini menjadi kendala bagi PLN,” kata Dewi, Senin, 11 Juni 2012.

Warga di Pulau Gili Ketapang juga masih banyak yang belum bisa menikmati listrik. Sejumlah dusun di pulau tersebut memang sudah dialiri listrik PLN, tapi hanya menyala selama 12 jam. Untuk mengatasinya tahun ini mulai dikerjakan proyek kabel bawah laut menuju pulau tersebut menggunakan biaya dari anggaran pendapatan dan belanja negara. ”Diharapkan tahun 2013 seluruh warga di Gili Ketapang sudah menikmati listrik 24 jam,” ucap Dewi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik, ketika meresmikan beroperasinya PLTU Paiton 3, Selasa, 5 Juni 2012, mengingatkan pihak perusahaan menggencarkan program community social responsibility (CSR), termasuk memberikan aliran listrik kepada masyarakat setempat.

Dalam acara tersebut Jero Wacik mendapat laporan bahwa masih banyak dusun di Paiton yang belum dialiri listrik. ”Perlu dicek dan dibuat daftar dusun-dusun mana saja yang masih gelap serta harus mendapat prioritas. Di Paiton ada pembangkit listrik yang bisa dinikmati warga di Jawa dan Bali, tapi di Probolinggo dan Situbondo masih ada dusun-dusun yang gelap,” tuturnya.[DAVID PRIYASIDHARTA]


0

40 Tim Ikuti Kompetisi Roket Indonesia

Kompetisi muatan roket tahun ini mencatat rekor. Sebanyak 35 roket berhasil diterbangkan.

Indonesia terus mengembangkan teknologi roket. (Dokumentasi Kemenhan)
VIVAnews – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar kompetisi muatan roket Indonesia 2012. Kompetisi ini digelar di Pantai Congot, Kulonprogo, Yogyakarta, dan diikuti oleh 40 tim dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia.

Dalam kontes muatan roket ini, masing-masing tim harus unjuk kemampuan roket hasil produksi mereka. Para peserta berlomba-lomba memasangkan teknologi ke dalam roket setinggi 1 meter itu, misalnya kamera pemantau, pengukur kecepatan, pengukur suhu, dan pengukur ketinggian.

Selanjutnya juri akan menilai kemampuan roket-roket buatan 40 tim itu saat roket diluncurkan, karena ketika diluncurkan itulah kecanggihan dan ketangguhan perangkat teknologi di dalam masing-masing roket dapat terlihat.

Juara kompetisi ini adalah roket yang berhasil terpisah dari roket peluncur dan dapat terbang maksimal setinggi 2 km, untuk kemudian berbalik menuju sasaran yang telah ditentukan. Lihat video kompetisi muatan roket itu di sini.

Kompetisi muatan roket tahun ini mencatat rekor karena dari seluruh tim yang ikut berlomba, ada 35 roket yang berhasil diterbangkan. Masyarakat sekitar pun mengapresiasi kompetisi ini. Mereka terkesan dengan teknologi buatan putra-putri bangsa yang membanggakan ini.
0

Indonesia kembangkan udang windu tahan virus

Udang windu (ANTARA/Irwansyah Putra)
Makassar (ANTARANews) - Peneliti Indonesia tengah mengembangkan bibit udang windu (Penaeus monodon) yang tahan penyakit terutama serangan virus sindrom bintik putih (white spot syndrome virus/WSSV).

"Saat ini telah berhasil dikembangkan bibit indukannya. Nantinya indukan ini akan diuji tingkat daya tahannya terhadap penyakit setelah berusia 18-24 bulan," kata Andi Parenrengi, peneliti yang menjadikan temuan ini sebagai bahan desertasinya.

Menurut Andi, bila penelitian ini berhasil dan terbukti bisa menjadi bibit unggul udang windu yang tahan WSSV, besar kemungkinan Indonesia akan kembali bisa menjadi produsen udang yang terbesar di dunia.

Udang windu, atau yang juga dikenal dengan sebutan giant tiger, adalah varietas udang asli Indonesia. Udang jenis ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi, terutama di pasar ekspor.

Namun akibat serangan WVVS yang demikian masif, banyak usaha tambak udang windu yang gulung tikar dan petambak pun beralih memelihara udang putih atau udang vaname (Pennaeus vannamei).

"Meskipun banyak petambak yang berhenti membudidayakan udang windu, kami tetap menjadikan penelitian bibit unggul udang windu tahan virus ini sebagai salah satu fokus pengembangan karena udang jenis ini adalah khas Indonesia," kata Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP), Dr. Rachmansyah di Maros, Sulawesi Selatan.

Masih menurut Rachmansyah, selain pengembangan bibit unggul, BPPBAP juga berhasil mengembangkan teknik Elisa untuk mendeteksi WSSV yang lebih cepat dan lebih murah di lapangan daripada uji di laboratorium.(E012)


ANTARA News
0

"Dreadout", "Game" Hantu Buatan Anak Bandung

capture game
BANDUNG, KOMPAS — "Dreadout" adalah sebuah game bergenre survival horror yang tengah dikembangkan oleh studio Digital Happiness yang beralamat di daerah Cigadung, Kota Bandung.

Bila nanti rampung, pemain bakal merasakan pengalaman bermain game horor dengan setting yang sangat Indonesia.

Permainan ini menempatkan pemain sebagai Linda, siswi SMA anggota klub fotografi yang bepergian bersama teman-teman satu klub untuk mendatangi sebuah kota yang sudah lama ditinggalkan.

Di sana, keanehan pun terjadi, seperti satu per satu temannya menghilang tanpa jejak, menyisakan Linda seorang diri. Linda ternyata memiliki kemampuan paranormal untuk melihat penampakan makhluk halus melalui media kamera yang dipegangnya.

"Plotnya memang terdengar klise, tapi kami menyiapkan beberapa twist pada ceritanya," ujar Pendiri Digital Happiness, Rachmad Imron, saat ditemui di Bandung, Jumat (8/6/2012).

Secara sepintas, permainan ini memang menggabungkan beberapa elemen dari game survival horror yang sudah ada di pasaran, seperti "Silent Hill" dengan setting kota yang ditinggalkan maupun "Fatal Frame" dengan penggunaan kamera sebagai alat untuk melihat hantu.

Dari grafis memang tidak bisa dibandingkan dua judul sebelumnya yang digarap oleh studio besar seperti Konami maupun Tecmo, "Dreadout" menggunakan engine grafis Unity 3D, dan masih terlihat berkotak-kotak.

Namun, konten yang cukup menjanjikan adalah isi game-nya. Tokoh protagonis digambarkan dengan pelajar SMA menggunakan baju putih abu-abu dan berlarian di gedung tua bergaya Belanda yang masih bisa ditemukan di beberapa tempat di Indonesia, cukup membuat suasana mencekam saat dimainkan.

Yang lebih khusus lagi adalah hantu-hantu yang ditampilkan sepanjang permainan. Terdapat pocong yang baru terlihat bila kita membidik dengan kamera.

Menurut Imron, contoh game yang sedang diperagakan adalah menunjukkan gameplay-nya sehingga hantu-hantu tersebut belum bisa diapa-apakan.

"Kami sudah menyiapkan beberapa jenis hantu dari Indonesia untuk ditampilkan dalam permainan ini," kata Imron.

Digital Happiness adalah satu dari 18 perusahaan rintisan atau startup yang menjadi peserta inkubasi Telkom di Bandung Digital Valley. Di sana, mereka bakal mendapatkan pendampingan teknis maupun manajerial selama enam bulan agar produknya lebih siap dijual.

Imron mengatakan, "Dreadout" direncanakan rampung enam bulan ke depan. Selain versi PC, pihaknya juga menyiapkan versi mobile dengan gameplay yang berbeda. (eld)