0

Mobil Listrik Nasional

 Apa saja Tantangannya?

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/07/16/163520_dahlan-iskan-coba-mobil-listrik_209_157.jpgTak cuma memperkenalkan, Dahlan juga menunggangi dari Depok-Jakarta.

Anak negeri ini kian banyak yang kreatif. Juga cerdas. Sesudah mobil Esemka dari Solo beberapa waktu lalu, kali ini ada mobil listrik dari Depok Jawa Barat. Bikinan warga bernama Dasep Ahmadi. Mobil listrik itu sesungguhnya sudah lama dibicarakan orang. Senin 16 Juli 2012, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan secara resmi memperkenalkan mobil ini.

Tidak sekedar memperkenalkan kepada khayalak ramai, Dahlan juga menunggangi mobil itu. Dari pabriknya di Jatimulya, Cilodong, Depok, ke kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jalan MH Thamrin, Jakarta. Hampir semua media massa nasional mengirim wartawan meliput perjalanan uji coba ini.

Melaju dari Cilodong itu, Dahlan didampingi Dasep, sang pembuat mobil itu. Perjalanan dimulai pukul delapan pagi. Rombongan melewati Jalan Kalimulya Raya, Grand Depok City, Jalan Kartini, lalu Jalan Margonda lurus hingga Pasar Minggu dan Pancoran. Dahlan Melewati Jalan Gatot Subroto dan memutar di Semanggi kemudian lewat Jalan Sudirman. Sampai BPPT tepat pukul 10.40. "Daya power-nya cukup. Setirnya juga nyaman," kata Dahlan.

Meski sedikit mengalami masalah sebab mobil sempat mogok, namun ini sebuah keberhasilan. "Ini hari pertama mobil listrik nasional," kata Dahlan dalam catatan uji coba ini. Proses uji coba ini berhasil.

Mobil Ahmadi ini bisa menempuh 150 km untuk sekali setrum. Jarak ini setara Jakarta-Bandung. Mobira -- begitu namanya dan merupakan singkatan dari mobil rakyat -- diperkuat baterai lithium ion sebanyak 36 buah dengan kapasitas baterai yang mencapai 21 kWh.

Mobil ini sangat fleksibel dan bisa melakukan pengisian di rumah dengan tegangan 220 V. Hanya membutuhkan waktu 4-5 jam hingga baterai tersisi penuh. Sementara dengan cara sistem cepat dengan daya tinggi hanya membutuhkan waktu 30 menit.

 Tantangan

Mobil listrik saat ini memang menjadi salah satu fokus pemerintah, khususnya guna mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Guna pengembangannya, pemerintah diminta terus mendorong dengan memberikan insentif-insentif yang dibutuhkan industri.

Dasep, menegaskan, sebagai industri baru, keterbatasan komponen di dalam negeri sangat terasa. Saat ini sekitar 50 persen komponen mobil listrik masih diimpor dari luar, seperti baterai, inventer, motor listrik, charger, dan beberapa komponen lainnya. "Tarifnya PPN-BM itu sekarang 10 persen," ujar Dasep di Jakarta 16 Juli 2012.

Bila ingin berkembang, seharusnya pemerintah sudah menerapkan tarif nol dalam Pajak Pertambahan Nilai (PPN) terhadap komponen impor tesebut.

Selain masalah pajak, pemerintah diharapkan harus mulai berpikir memberikan subsidi atau insentif kepada masyarakat agar menarik minat beralih ke mobil listrik. Subsidi itu bisa diberikan dalam bentuk langsung atau pembebasan pajak kendaraan. "Di beberapa negara seperti di Amerika dan Jepang sudah menerapkannya," katanya.

Dasep mengakui pengembangan mobil listrik ini takkan berhasil jika pemerintah belum mampu mempersiapkan infrastruktur yang diperlukan masyarakat. "Pokoknya kemudahan -kemudahan yang memicu pertumbuhan mobil listrik biar berkelanjutanlah," kata Dasep penuh harap.

Infrastruktur penunjang yang dibutuhkan itu di antaranya ketersediaan stasiun pengisian bahan bakar listrik. Penunjang lainnya adalah tempat parkir khusus mobil listrik serta berbagai sarana pendukung lainnya. "Itu perlu fasilitas colokan agar bisa parkir sambil mengisi," kata dia.

Dasep mengaku optimistis dengan pengembangan mobil listrik di tanah air. Bahkan dia memprediksi kendaraan dengan bahan bakar energi alternatif ini akan menjadi salah satu kendaraan yang diandalkan pada beberapa tahun mendatang. Optimisme Dasep tersebut didasarkan pada penguasaan teknologi dari sumber daya manusia (SDM) di tanah air yang tak tertinggal jauh dibandingkan negara lain.

Dari sisi konsumen, Indonesia merupakan negara yang memiliki pangsa pasar cukup besar. "Saya optimistis, industi ini dapat berjalan secara mandiri, bahkan 2014 saya sanggup memproduksi 5.000 sampai 10.000 unit," kata dia.

Dasep hanya mengingatkan agar semua pihak bergandengan tangan mengembangkan mobil listrik tersebut. "Istilahnya Indonesia ini jalan bareng lah ya jadi kita tidak dari awal lagi," ujar dia.

 Singapura dan Vietnam

Walau terlambat dibandingkan negara-negara maju, Indonesia ternyata tak terlalu ketinggalan dalam mengembangkan mobil listrik di tingkat Asia Tenggara. Salah satu negara tetangga, Singapura, diketahui baru memulai program mobil listrik yang khusus dikembangkan di dalam negeri.

Dikutip VIVAnews dari laman Channel News Asia, salah satu perusahaan lokal Singapura, Mayton Automotive telah menjalin kerjasama pengembangan mobil listrik dengan menggandeng mitranya dari China dan Amerika Serikat.

Mayton rencananya akan menyuntikkan modal 10 juta dolar Singapua untuk pengembangan proyek tersebut. Dana untuk lima tahun itu akan digunakan untuk menunjang kelangsungan pusat kegiatan penelitian dan pengembangan mobil listrik.

Dalam jangka panjang, perusahaan yang baru mengumumkan program mobil listrik akhir pekan lalu itu berencana mengetes sekitar 200 mobil listrik di Punggol, salah satu kawasan di Singapura. Target ini sejalan dengan serangkaian tes yang akan dilakukan institusi milik pemerintah Singapura.

Sementara itu, laman evwind.es melaporkan, pengembangan mobil listrik Singapura ini merupakan salah satu inisiatif entrepreneur asal China, Yan Wei. Lewat Lihe Investment Holding, Yan Wei bersama kedua mitranya itu berencana menyuntikan modal dengan total anggaran US$300 juta dalam tiga tahun ke depan.

Pusat pengembangan mobil listrik Singapura ini ditetapkan di Hengshui, salah satu kota di belahan utara provinsi Hebei, China.

Lihe Investment dalam pernyataannya menegaskan bahwa pemilihan Singapura sebagai negara pengembangan lantaran lokasinya yang cocok untuk ujicoba mobil listrik. Aturan menyebutkan, batas maksimal jarak tempuh mobil listrik dalam kondisi baterai terisi penuh adalah 150-250 kilometer. Sementara rata-rata jarak tempuh pengguna kendaraan di Singapura hanya berkisar 55 kilometer.

Selain Singapura, rencana pengembangan mobil listrik kini juga sedang dilakukan Vietnam. Dikutip dari Vietnamnet, sebuah perusahaan produsen mobil, Yo Auto, telah menandatangani perjanjian kerjasama pembangunan pabrik mobil listrik bersama salah satu mitra lokal negara tersebut.

Kabar itu tentu saja memberikan angin positif bagi industri otomotif Vietnam yang terancam ditinggalkan pabrikan besar dunia. Seorang sumber kepada Dat Viet mengatakan, Yo Auto nantinya bakal menjadi perusahaan dengan spesialisasi produk mobil listrik hybrid. Pabrik itu sendiri bakal memiliki kapasitas produksi hingga 100 ribu unit per tahun.

Semula investasi pembangunan pabrik itu akan dilaksanakan pada Mei 2012. Namun dengan berbagai alasan, rencana itu terpaksa dimundurkan menjadi awal 2013.

Senior Eksekutif Toyota Vietnam, Pham Anh Tuan menilai rencana investasi mobil listrik di Vietnam untuk saat ini, masih terlalu dini. Terlebih lagi jika melihat penguasaan teknologi Vietnam. Rencana itu bahkan sulit terealisasi meski pemerintah memberikan insentif bagi perusahaan otomotif.

© VIVA.co.I'd

 Produksi Mobil Nasional Semester Pertama Mencapai 533 Ribu Unit

Mobil listrik dalam negeri bisa diproduksi secara massal tahun 2013.

http://www.beritasatu.com/media/images//medium/17072012093050.jpgProduksi mobil di dalam negeri sepanjang semester I-2012 men- capai 533.429 unit. Angka ini masih jauh lebih besar, dibandingkan impor mobil utuh (completely built up/CBU) yang sekitar 53.371 unit.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto menjelaskan, produksi mobil pada semester I tahun ini mencapai 533.429 unit, atau 88.904 unit per bulan.

Produksi tersebut melampaui kapasitas produksi rata-rata per bulan yang hanya 75.000 unit, dari total kapasitas terpasang 900.000 unit per tahun.

“Artinya, ada kenaikan 18,54 persen dari rata-rata produksi normalnya. Kenaikan ini berkat peningkatan permintaan di dalam negeri maupun ekspor yang semakin besar,” kata Jongkie di Jakarta.

Karena produksi bulanan di atas rata-rata, agen tunggal pemegang merek (ATPM) harus menambah jam kerja untuk mendorong produksi yang lebih besar.

“Penambahan produksi sudah terjadi sejak akhir tahun lalu dan ATPM harus menambah jam kerja, meskipun dengan biaya produksi yang meningkat, karena kapasitas total pabrikan otomotif sudah melampaui target,” ungkapnya.

Jongkie memaparkan, produksi mobil pada April 2012 tercatat sebanyak 84.322 unit, sedangkan permintaan 87.145 unit.

Sementara pada Mei 2012, produksi meningkat menjadi 97.308 unit, dengan penjualan 95.541 unit. Produksi kembali naik pada Juni 2012 menjadi 103.000 unit dengan penjualan mencapai 101.743 unit.

Kenaikan produksi tersebut, lanjut dia, juga sejalan dengan peningkatan ekspor mobil CBU. Ekspor CBU semester per tama tahun ini melonjak 78,12 persen dibandingkan semester I-2011.

“Pada semester I-2012, ekspor CBU diperkirakan mencapai 89.063 unit, melampaui realisasi sepanjang 2010 yang hanya 85.796 unit,” ujar dia seperti dilansir Antara.

Angka produksi dan ekspor mobil nasional tersebut masih lebih tinggi, dibandingkan impor mobil ke Indonesia. Tercatat, impor kendaraan CBU pada semester I-2012 hanya 53.371 unit. Angka ini naik 28,15 persen dibandingkan periode sama tahun lalu 41.646 unit.

“Berdasarkan kondisi tersebut, industri otomotif menjadi salah satu sektor yang berkontribusi cukup positif pada neraca perdagangan di tengah penurunan kinerja beberapa sektor lain,” tuturnya.

Sementara itu, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, mobil listrik buatan dalam negeri sudah bisa diproduksi massal pada awal 2013.

“Kalau infrastruktur  sudah siap, kami pastikan sudah dapat diproduksi massal dengan 5.000 unit per tahun,” ujar Dahlan.

Dia mengungkapkan, dalam tiga bulan ke depan, aturan mengenai teknis hingga komersial sudah harus dirumuskan, sehingga dapat diproduksi massal dan diterima masyarakat.

Sumber : BeritaSatu
0

Kementerian BUMN dan DRN sinergikan hasil riset

http://img.antaranews.com/new/2012/07/small/20120716DRN.jpgJakarta (ANTARA News) - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan meminta Dewan Riset Nasional (DRN) mengumpulkan berbagai pemikiran dan hasil risetnya untuk disinergikan dengan sektor industri nasional di bawah kementeriannya.

"Kalau ada penemuan untuk masyarakat yang bisa diterapkan di BUMN sampaikan saja," kata Dahlan Iskan usai berbicara di depan seratusan ilmuwan pada Dialog Nasional "Mainstreaming Iptek dalam Pembangunan Nasional" pada Sidang Paripurna DRN di Jakarta, Senin.

Untuk saat ini, ujar Dahlan, pihaknya lebih memprioritaskan pengembangan produk beras, sorgum, gula, sagu dan peternakan sapi, sehingga riset-riset tentang hal-hal tersebut menjadi fokus penerapan.

Dalam kesempatan itu, Dahlan mengingatkan bahwa saat ini 51 persen kekuatan ekonomi ASEAN ada di Indonesia, 49 persen lainnya dibagi rata di antara ke-9 negara ASEAN lainnya, termasuk Singapura yang meski pendapatan perkapita penduduknya mencapai 40 ribu dolar AS namun jumlah penduduknya hanya 2,5 juta jiwa.

"Sebanyak 130 juta penduduk Indonesia masuk di kelas menengah, karena itu segala kebutuhan kelas menengah Indonesia harus makin menjadi perhatian para peneliti juga, misalnya soal kemacetan. Itu berarti transportasi," katanya.

Sementara itu, Ketua DRN, Prof Dr Andrianto Handojo, berharap hubungan riset dengan industri bisa lebih erat. DRN adalah suatu organisasi independen tempat berkumpulnya para pakar yang tugasnya memberi nasihat kepada Menteri Ristek.

"Untuk tahap awal mengkaitkan dengan industri di bawah BUMN yang jumlahnya lebih dari 100 perusahaan dan kebanyakan belum memiliki "link" dengan lembaga riset. Jika sudah ada kontak, maka usulan akan lebih mudah," katanya.

Sementara itu Deputi Menristek bidang Kelembagaan Prof Dr Benyamin Lakitan mengatakan, kontribusi iptek dalam pembangunan nasional masih rendah.

Ini dapat dilihat dari laporan World Economic Forum 2012 yang menyatakan kesiapan teknologi Indonesia hanya menempati ranking 94 dari 142 negara. Kalah dibanding Malaysia (44), Thailand (84), Vietnam (79) bahkan Filipina (83), ujarnya.

"Laporan ini menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih didorong oleh sektor konsumsi dengan potensi pasarnya yang sangat besar, dan pertumbuhan daya serap pasar yang tinggi," katanya.

Karena itu, menurut dia, era perdagangan bebas yang makin membuka peluang masuknya arus produk luar negeri ke pasar Indonesia harus disikapi dengan mendorong industri di dalam negeri memenuhi kebutuhan pasarnya sendiri.

"Caranya selain melindungi industri nasional dengan peraturan pembatasan impor, kebijakan fiskal serta insentif bagi usaha dalam negeri, juga dengan peningkatan daya saing industri nasional dengan pemanfaatan hasil-hasil riset," ujarnya.(D009)

Sumber : Antara
0

Haier Group Masuk Indonesia, Siapa Menyusul?

ADB memproyeksikan perekonomian Indonesia akan tetap bersinar.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/02/02/142322_haier-transparan-tv_209_157.jpgSalah satu produk Haier, Haier Transparan TV

VIVAnews - Haier Group melalui anak perusahaannya, PT Haier Sales Indonesia, resmi memasuki pasar peralatan elektronik rumah tangga di Indonesia. Haier telah menyelesaikan proses transisi atas akuisisi terhadap seluruh divisi usaha white goods Sanyo Electric Co. Ltd.

Direktur Asia Pasifik Haier Group, Shi Zhiyuan, dalam awal keterangan tertulisnya, Sabtu 14 Juli 2012 mengatakan, proses akuisisi senilai US$100 juta atau setara Rp950 miliar itu merupakan bagian dari strategi pertumbuhan global yang dilakukan Haier.

"Akuisisi ini meliputi produk alat pendingin, mesin cuci serta peralatan rumah tangga elektrik lainnya di wilayah Asia Tenggara yaitu Jepang, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Indonesia," kata Zhiyuan dalam keterangan tertulisnya.

Termasuk dalam proses akuisisi ini adalah operasional dari Sanyo Electric, layanan pelanggan dan layanan purna jual di masing-masing negara. Di Indonesia, akuisisi ini menjadikan PT Sanyo Indonesia dan PT Sanyo Sales Indonesia menjadi bagian dari Haier Indonesia.

Perusahaan ini memiliki lebih dari 1.000 karyawan dan pusat produksi kulkas dengan kapasitas 600 ribu unit per tahun serta mesin cuci dengan kapasitas 150 ribu unit per tahun.

Haier Group adalah perusahaan asal China berbasis di Qingdao, Shandong, yang beroperasi sejak 28 tahun lalu. Saat ini, perusahaan menjadi pemegang pangsa pasar dunia, yaitu 7,8 persen untuk bidang white goods sejak 2009 dan 2011 mencatat pendapatan US$23,3 miliar.

Ramai-ramai Masuk Indonesia

Sebelum Haier, ada beberapa perusahaan yang telah melakukan hal tersebut, meski tidak persis sama. Perusahaan keuangan asal Singapura, DBS Group Holdings Ltd. misalnya, mengumumkan telah menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan Fullerton Financial Holdings Pte Ltd (FFH, anak usaha Temasek Holding) untuk mengambilalih 100 persen saham FFH pada Asia Financial Indonesia Pte Ltd (AFI).

Melalui AFI, DBS akan menguasai 67,37 persen saham pada PT Bank Danamon Indonesia Tbk (berkode saham BDMN) dengan nilai transaksi Rp45,2 triliun atau setara Sin$6,2 miliar.

Namun, hingga kini Bank Indonesia sampai saat ini belum bisa memberikan izin akusisi atau merger bagi investor yang ingin membeli bank di Indonesia. Alasannya, BI tengah menggodok aturan terkait kepemilikan saham mayoritas. Sebelum aturan terbit, BI menolak semua investor yang ingin membeli bank di Indonesia.

Perusahaan furnitur raksasa asal Swedia, Inter IKEA System BV juga akan masuk pasar Indonesia. IKEA menggandeng PT Hero Supermarket Tbk untuk pengembangan bisnis waralaba di Indonesia.

IKEA adalah perusahaan yang bergerak pada pengembangan mebel dan perabotan rumah tangga, serta waralaba internasional untuk penjualan eceran.

Dalam perjanjian yang ditandatangani 22 Maret 2012 itu disebutkan IKEA memberikan hak dan kewajiban kepada Hero untuk membuka dan mengoperasikan toko IKEA. Untuk setiap toko IKEA yang dibuka berdasarkan perjanjian pengembangan waralaba itu, Hero dipersyaratkan mengikuti sejumlah prosedur.

Di antaranya, mendapatkan izin dan persetujuan dari pemerintah untuk pengembangan serta pengoperasian dari setiap toko IKEA. Berdasarkan perjanjian itu, Hero diharuskan untuk mendirikan toko IKEA dalam jumlah yang sudah disepakati di lokasi tertentu.

Periode pengembangan toko IKEA tersebut dimulai sejak 2014 hingga 2021. Namun, perseroan tetap dimungkinkan untuk menambah jumlah toko IKEA yang akan dioperasikan atau didirikan setelah berakhirnya periode tersebut.

Di sektor otomotif, perusahaan India, Tata Nano, juga siap memasuki pasar mobil murah di Indonesia. Tata Nano LX didaftarkan di Kementerian Perindustrian oleh importir PT Java Motors, sebagai kendaraan penumpang 4x2, 624cc, sebanyak satu unit untuk keperluan uji tipe dengan nomor 632/IUBTT/TPT/3/2012.

Pada tahap awal, Tata Nano akan hadir dengan berstatus CBU (completely built-up), atau datang satu unit utuh diimpor dari India. Namun, jika respon di tanah air cukup positif, Tata Motors siapa membuka pabrik perakitan di Indonesia.

Tata Nano pertama kali diluncurkan pada 2008 di India. Mobil ini dijual seharga Rp23 juta. Dengan label mobil termurah sejagat, popularitas Nano terus meroket. Menurut pendiri Tata Motors, Nano dibuat untuk masyarakat yang menggunakan sepeda motor.

Meningkatnya perusahaan asing masuk Indonesia tentu tidak terlepas dari proyeksi kinclongnya perekonomian di Indonesia. seperti yang dilansir Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) dalam Asian Development Outlook Edisi Juli 2012.

Di tengah krisis global ADB justru memberikan apresiasi positif bagi negara-negara Asia Tenggara. Kawasan ini diprediksi tetap mengalami pertumbuhan ekonomi seiring masih tingginya konsumsi domestik dan rekonstruksi pasca banjir di Thailand.  Perekonomian kawasan Asia Tenggara diyakini bakal tumbuh 5,2 persen pada 2012 dan 5,6 persen di 2013.

Perhatian khusus diberikan ADB pada perekonomian Indonesia. Negara kepulauan ini diyakini bakal bersinar kendati krisis ekonomi dunia tengah menghantam.

Naiknya penjualan ritel seiring bertambahnya konsumsi dalam negeri ditambah kuatnya kepercayaan konsumen, telah mendorong ekonomi Indonesia.  Hal itu ditunjang dengan langkah pemerintah yang tetap mempertahankan kebijakan moneter yang lebih longgar serta stimulus fiskal.

© VIVA.co.id
0

PLTN Layak Dibangun di Bangka Belitung

KABUPATEN Bangka Barat dan Bangka Selatan, di Propinsi Bangka Belitung, sementara ini, layak jadi lokasi pembangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Berdasarkan hasil studi prakelayakan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), kedua kabupaten tersebut tidak terletak di daerah rawan bencana alam.

"Hasil studi prakelayakan Batan pada 2009 hingga 2011 di Kabupaten Bangka Barat dan Bangka Selatan, menyimpulkan aspek geografi, geologi, geoteknik, gunung api dan gempa cukup baik jika dibandingkan wilayah di Pulau Jawa dan Sumatera," ujar Kabid Energi Dinas Pertambangan dan Energi, Pemerintah Propinsi Bangka Belitung, M.Taufik, Senin.

Ia menjelaskan, studi prakelayakan akan dilanjutkan studi kelayakan pada 2012 hingga 2013, sehingga data-data yang diperoleh lebih valid dan terinci untuk kelayakan pembangunan PLTN tersebut. "Hasil studi kelayakan nanti, apakah layak atau tidak untuk pembangunan PLTN itu tergantung keputusan pemerintah pusat," ujarnya.

Namun, ia mengakui, kegiatan studi kelayakan ini ditolak masyarakat karena mereka menilai kegiatan sekarang sudah tahap pembangunan PLTN. "Masyarakat menolak kegiatan studi kelayakan ini karena salah mendapatkan informasi dari pihak-pihak yang tidak berkompeten dan tidak mengetahui prosedur dalam pembangunan PLTN," ujarnya.

Menurut dia, pembangunan PLTN di suatu wilayah membutuhkan waktu cukup lama, misalnya studi kelayakan, tapak dan lainnya yang membutuhkan waktu 15 hingga 20 tahun. "Saat ini, sedang dilakukan beberapa pemboran pembangunan tapak di Kabupaten Bangka Barat sebanyak delapan pemboran dan Bangka Selatan tiga pemboran dan pelepasan balon untuk mendapatkan data-data meteologi dan lainnya," ujarnya.

Ia mengatakan, pada kegiatan studi ini akan didata 17 aspek seperti topografi, geografi, geologi, geofisika, geoteknik, kegempaan, kegunungapian, visionografi, hidrologi, meteologi, lepas pantai, budaya masyarakat dan lainnya yang mengunakan peralatan yang mahal dan canggih. Antara

Sumber : Jurnas

 Bangka Barat, Bangka Selatan Aman untuk Bangun PLTN

Kabupaten Bangka Barat dan Bangka Selatan di Provinsi Bangka Belitung dianggap layak untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) karena tidak terletak di daerah rawan bencana alam. 

"Hasil studi prakelayakan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) pada 2009 hingga 2011 di Kabupaten Bangka Barat dan Bangka Selatan, menyimpulkan aspek geografi, geologi, geoteknik, gunung api dan gempa cukup baik jika dibandingkan wilayah di Pulau Jawa dan Sumatra," ujar Ketua Bidang Energi Dinas Pertambangan dan Energi Pemprov Bangka Belitung M Taufik di Pangkalpinang, Senin (16/7). 

Ia menjelaskan, studi prakelayakan akan dilanjutkan studi kelayakan pada 2012 hingga 2013 sehingga data yang diperoleh lebih valid dan terinci untuk kelayakan pembangunan PLTN. "Hasil studi kelayakan nanti, apakah layak atau tidak untuk pembangunan PLTN itu tergantung keputusan pemerintah pusat," ujarnya. 

Menurut Taufik, penolakan yang dilontarkan sejumlah warga karena masyarakat mengira sekarang sudah tahap pembangunan PLTN. "Masyarakat menolak kegiatan studi kelayakan ini karena salah mendapatkan informasi dari pihak-pihak yang tidak berkompeten dan tidak mengetahui prosedur dalam pembangunan PLTN," ujarnya. 

Menurut dia, pembangunan PLTN di suatu wilayah membutuhkan waktu cukup lama, misalnya studi kelayakan, tapak dan lainnya yang membutuhkan waktu 15 hingga 20 tahun. "Saat ini, sedang dilakukan beberapa pemboran pembangunan tapak di Kabupaten Bangka Barat sebanyak delapan pemboran dan Bangka Selatan tiga pemboran dan pelepasan balon untuk mendapatkan data-data meteorologi dan lainnya," ujarnya. (Ant/OL-04) 

Sumber : Media Indonesia

 Pembangunan Bangka Selatan terkendala ketersediaan listrik

Upaya Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung (Babel) dalam melakukan pembangunan menghadapi kendala terbatasnya ketersediaan listrik.

"Saat ini, ketersediaan arus listrik untuk kebutuhan masyarakat belum memadai, bahkan ada dua kecamatan sama sekali belum tersentuh listrik PLN," ujar Sekda Kabupaten Bangka Selatan, Ahmad Damiri di Toboali, Senin.

Ia menjelaskan, dua kecamatan dari tujuh kecamatan di Kabupaten Bangka Selatan yang belum dialiri listrik PLN yaitu Pulau Besar dan Lepar Pongok, serta puluhan desa terpencil lainnya di Kecamatan Toboali, Tukak Sadai, Simpang Rimba, Payung dan Air Gegas.

"Keterbatasan ketersediaan listrik ini tentu menghambat pembangunan daerah di sektor parawisata, pertanian, perikanan, pendidikan, industri, infrastruktur dan investasi," ujarnya.

Ia mengatakan, dalam memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, Pemkab Bangka Selatan telah menyalurkan ratusan genset.

"Kami telah menyalurkan ratusan genset ke desa-desa terpencil yang belum dialiri listrik, karena listrik ini merupakan kebutuhan utama masyarakat untuk meningkatkan perekonomian, pendidikan dan lainnya," ujarnya.

Menurut dia, bantuan genset ini kurang efisien karena untuk mengerakan mesin genset, masyarakat membutuhkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, bensin dan biaya perawatan yang cukup besar.

"Kami berusaha seoptimal mungkin, agar kebutuhan listrik untuk masyarakat terpenuhi dengan terus melobi kepada pemerintah pusat, pemerintah provinsi agar pihak PLN segera membuka sambungan arus listrik baru ke desa-desa terpencil tersebut," ujarnya.

Ia mengatakan, selama ini, pertumbuhan pembangunan dan perekonomian di Kabupaten Bangka Selatan masih rendah jika dibandingkan daerah kabupaten lainnya seperti Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, Belitung, Belitung Timur dan Kota Pangkalpinang.

"Ketersediaan listrik di daerah kabupaten lainnya sudah cukup memadai, sementara Bangka Selatan masih kurang sekali, bahkan untuk ketersediaan listrik di Kantor Bupati Bangka Selatan masih dibantu diesel dan genset," ujarnya.

Untuk itu, kata dia, kami mengharapkan PLN segera membuka sambungan listrik baru, agar masyarakat bisa merasakan pelayanan listrik milik negara tersebut.

"Apabila ketersediaan listrik sudah mencukupi, tentu investor tidak ragu lagi untuk menanamkan modalnya di Bangka Selatan yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk dikelola dan dikembangkan," ujarnya.

Sumber : Antara
0

40 mobil listrik sekelas Ferrari sudah dipesan

Jakarta - Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengatakan sampai sekarang jumlah pesanan mobil listrik sejenis mobil Ferrari buatan dalam negeri sudah mencapai 40 unit meski produk itu belum diluncurkan.

Sebelum menguji coba mobil listrik menempuh jarak sekitar 45 kilometer dari Depok (Jawa Barat) hingga Gedung Kementerian Riset dan Teknologi, Jakarta Pusat, ia mengatakan salah satu pemesan mobil listrik seharga Rp1,5 miliar per unit itu adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Ya, Presiden juga pesan satu unit. Yang lainnya, siapa sajalah, pokoknya siap diproduksi," katanya di Depok, Senin.

Dahlan, yang belakangan getol mendorong produksi mobil nasional, juga mengatakan dia merupakan pemesan pertama mobil listrik "Ferrari" tersebut.

Ia menjelaskan pula bahwa kecepatan mobil listrik itu bisa mencapai 240 kilometer per jam. Interior dan panel mobil pun katanya dirancang mewah.

"Pokoknya semewah Ferrari lah. Lihat saja nanti, pasti anda terkagum-kagum," katanya.

Ia menambahkan, prototipe mobil listrik itu akan diperkenalkan bulan Agustus mendatang dan mulai diproduksi massal pada awal 2013.

"Saat peluncuran, saya akan menjajal mobil listrik pesanan saya. Itu sudah saya bayar uang mukanya lho," ujarnya.

Dia juga mengatakan kementerian terkait harus segera menerbitkan ketentuan terkait penggunaan mobil listrik untuk mendukung pengembangan mobil listrik nasional.

"Dalam tiga bulan ke depan, sudah jelas aturan mengenai teknis hingga komersial sudah harus dirumuskan, sehingga dapat diproduksi massal dan diterima masyarakat," katanya.(R017)

Sumber : Antara
0

Ujicoba Mobil Listrik

 Menteri BUMN uji coba mobil listrik

http://img.antaranews.com/new/2012/07/small/20120713mobil-listrik.jpgDepok, Jawa Barat - Menteri BUMN Dahlan Iskan, Senin pagi, melakukan uji coba (test drive) mobil listrik hasil produksi anak bangsa.

Dahlan mengemudikan langsung mobil listrik tersebut dari bengkel di kawasan Jati Mulya, Depok, menuju Gedung Kementerian Ristek dan Teknologi, di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Didampingi Dasep Ahmadi, yang memproduksi mobil listrik tersebut, Dahlan melalui jalan non tol Margonda Raya, Lenteng Agung, Pasar Minggu, Pancoran, Gatot Subroto, Semanggi, Sudirman, hingga Gedung BPPT yang diperkirakan berjarak 48 kilometer.

Berbekal Surat Keterangan Jalan dari Kepolisian Resort Depok, Dahlan antusias untuk menguji langsung kehandalan mobil listrik bernama Ahmadi Mesin 5.0 ini.

"Saya mau menyetir sendiri. Kalau wartawan mau ikut silahkan," ujarnya sebelum berangkat dari bengkel Kali Mulya.

Dahlan mengungkapkan, dengan uji coba ini maka diharapkan pada awal tahun 2013 sudah dapat diproduksi massal.

"Kalau infrastrukturnya sudah siap, kita pastikan sudah dapat diproduksi massal dengan 5.000 unit per tahun," ujar Dahlan.

Ia menjelaskan, mobil listrik ini kan sebelumnya belum pernah ada di Indonesia.

"Ini bukan mobil, dan bukan motor, sehingga harus ada aturan jelas mengenai masalah STNK, BPKB, pajak, dan lainnya," ujarnya.(R017)

Sumber : Antara

 Dahlan Tekankan Pentingnya Kualitas

http://img.antaranews.com/new/2012/07/small/20120716Mobil-Listrik-160712-aw-3.jpgKUALITAS atau mutu harus menjadi prioritas dalam pengembangan mobil listrik, sebelum dibuatkan payung hukum serta infrastrukturnya. "Yang diutamakan dari kendaraan tersebut, pertama adalah mutu, ke dua mutu, ke tiga mutu, ke empat mutu dan ke lima juga mutu," kata Menteri BUMN, Dahlan Iskan, ketika akan melakukan uji coba mobil listrik di bengkel PT Sarimas Ahmadi Pratama, Kota Depok, Senin.

Di bengkel milik Dasep Ahmadi tersebut, Dahlan Iskan akan melakukan Test drive atau uji coba mobil listrik bersama Dasep. Dahlan gembira karena uji coba telah dilengkapi dengan surat jalan dari kepolisian setempat. "Uji coba resmi dan ada surat jalannya," kata Dahlan sembari bertepuk tangan.

Namun, Dahlan mengaku belum paham, apakah mobil listrik perlu dilakukan uji emisi, karena mobil listrik dibuat tidak ada emisinya, juga tidak ada kapasitas mesin atau CC.

Soal harga mobil listrik, mantan Dirut PLN tersebut berharap bisa lebih murah dari mobil biasa. "Harapan kita memang seperti itu, karena akan ada keringanan pajak ataupun insentif-insentif tertentu," ujarnya.

Sebelumnya, Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail, Jumat (14/7), melakukan uji coba mobil listrik dari bengkel PT Sarimas Ahmadi Pratama, Kampung Sawah, Depok, menuju Balaikota Depok sekitar 5 kilometer. "Bila sudah teruji, saya akan menjadi orang pertama yang pesan mobil ini dan akan menggunakannya pada 17 Agustus mendatang," katanya.

Mahmudi mengatakan, pemerintah kota Depok siap memberikan dukungan atas berdirinya pabrik mobil listrik di Kota Depok. "Kemunculan mobil listrik ini merupakan bukti kemandirian bangsa dan lahirnya industri mandiri yang kreatif dan mampu bersaing dengan negara-negara lain," katanya. Antara

Sumber : Jurnas

 Temui SBY, Dahlan Bawa Mobil Listrik Depok

Dia menjemput langsung mobil itu di pabriknya di Jatimulya, Depok.

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/07/16/163501_dahlan-iskan-bawa-mobil-listrik-buatan-depok_209_157.jpgDahlan Iskan bawa mobil listrik buatan Depok

Menteri BUMN, Dahlan Iskan, tiba di pabrik mobil listrik, PT Sarimas Ahmadi Pratama, Jatimulya, Depok, Jawa Barat dengan menumpang ojek motor, Senin 16 Juli 2012.

Dia tampak mengenakan kemeja putih, celana bahan hitam dan sepatu kets. Begitu tiba, mantan Dirut PLN itu langsung menyapa sejumlah awak media yang sejak pagi sudah ada di lokasi.

Dengan langkah setengah berlari, Dahlan memasuki ruang pembuatan mobil listrik karya warga Depok yang kerap disebut mobil rakyat atau mobira.

"Bapak Presiden secara langsung telah menginstruksikan sejumlah menteri terkait untuk lebih fokus dalam berbagai hal, antara lain dari segi perizinan dan perumusan peraturannya. Karena mobil ini kan tidak menggunakan mesin, ia hanya mengandalkan motor dan tenaga listrik," kata Dahlan sambil melihat kondisi mobil yang akan dibawanya itu.

Dia menyebut, jika tidak ada halangan, mobira akan diproduksi secara massal awal 2013 nanti. Dahlan membeberkan yang menjadi pokok pembahasan adalah soal STNK. Sebab mobil buatan Dasep Ahmadi ini tidak memiliki CC.

"Lalu apa harus uji emisi, kan tidak ada karbon yang dikeluarkan. Untuk itulah presiden saat ini sedang menyusun peraturan terkait hal itu, dan Insya Allah tiga bulan ke depan selesai," ujarnya.

Gencarnya proyek pengadaan mobira, kata dia, karena berbagai faktor antara lain, pasokan BBM yang semakin menipis dan mahal, serta meningkatnya polusi udara khususnya di Ibukota. Masalah harga yang akan dibanderol belum dibahas.

Rencananya mobira akan diproduksi 5.000 hingga 1.000 unit per tahun. "Nantinya, di setiap SPBU Pertamina, pusat belanja, kantor pemerintahan dan swasta hingga tempat parkir akan menyediakan carger untuk pengisian tenaga mobil buatan anak Depok itu," tandasnya.

Usai melakukan sesi wawancara, Dahlan memasuki mobil mini warna hijau yang sebelumnya sempat dijajal Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail akhir pekan lalu. Tak butuh waktu lama, Dahlan kemudian tancap gas.

Dia akan menggunakan mobil listrik ke sejumlah tempat. Termasuk, menuju Bandara Halim Perdanakusumah untuk mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Solo dalam rangka kunjungan kerja.  (sj)

© VIVA.co.id

 Dari Depok, Mobil Listrik Dahlan Iskan Mogok

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/06/20/1230469p.jpgMenteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan.
Photo: KOMPAS/ALIF ICHWAN

JAKARTA - Akhirnya mobil listrik milik Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (Meneg BUMN) Dahlan Iskan resmi diuji coba. Namun, dalam perjalanan dari Depok menuju Jakarta, mobil listrik tersebut mogok.

Berdasarkan pengamatan Kompas.com, mobil listrik tersebut baru berjalan dari bengkel di Depok sekitar pukul 09.00 WIB. Sesampainya di Jakarta, mobil tersebut sempat mogok di depan Kedutaan Besar Jepang dekat Bundaran Hotel Indonesia, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat.

"Tadi waktu berangkat, baterai tidak sampai separuh. Menurut indikator baterai, berkurang tidak banyak. Setelah dicek teknisi, tidak apa-apa. Tapi di start lagi tidak bisa di Kedutaan Besar Jepang," kata Dahlan selepas mengendarai mobil listrik dan sampai di kantor Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) Jakarta, Senin (16/7/2012).

Perjalanan Dahlan mengemudi dari Depok ke Jakarta dengan rute sepanjang sekitar 50 km tersebut ditempuh dalam waktu sekitar satu setengah jam. Mobil listrik itu berhenti di Kedutaan Besar Jepang pukul 10.40 WIB. Karena baterai berkurang, maka mobil hanya bisa berjalan pelan. Dari Kedutaan Besar Jepang hingga kantor BPPT, perlu waktu sekitar 30 menit. Mobil listrik berhenti di depan kantor BPPT pukul 11.20 WIB. "Dari Depok ke sini karena lewat Pasar Minggu sempat macet. Maksimum 70 km/jam, seharusnya bisa lebih," kata Dahlan.

Dahlan mengendarai mobil listrik ditemani kreator mobil listrik Dasep Ahmadi. Mereka juga dikawal oleh mobil teknisi di belakang mereka.

Sumber : Kompas

 Dahlan Iskan: Mobil Listrik Bisa Segera Diproduksi Massal Asal...

JAKARTA---Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan, produksi massal mobil listrik optimistis dapat terlaksana pada awal 2013 asalkan infrastruktur soal aturan mobil listrik dapat diselesaikan.

"Mobil listrik ini kan sebelumnya belum pernah ada di Indonesia, jadi kalau diproduksi massal harus diikuti aturan yang jelas soal kendaraan ini," kata Dahlan, di Gedung BPPT, Jakarta, Senin.

Menurut Dahlan, selanjutnya untuk memproduksi massal harus didukung keseriusan semua instansi terkait.

"Ini bukan mobil karena tidak ada mesin silinder, tidak pakai bahan bakar minyak, dan bukan motor, sehingga harus ada aturan jelas mengenai masalah STNK, BPKB, pajak, dan lainnya," ujarnya.

Ada ketentuan yang harus diikuti dalam setiap memproduksi atau pun memiliki sebuah kendaraan bermotor.

Ia menjelaskan, untuk mendukung program mobil listrik ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah menginstruksikan instansi terkait seperti Menperin, Mendag, Menristek segera menyelesaikan aturan-aturan soal mobil listrik.

"Dalam 3 bulan ke depan (paling lambat akhir tahun 2012), sudah jelas aturan mengenai teknis hingga komersial sudah harus dirumuskan, sehingga dapat diproduksi massal dan diterima masyarakat," tegas Dahlan.

Usai melakukan uji coba mobil listrik dari bengkel di Kawasan Kali Mulya, Depok menuju Gedung Kemenristek, MH Thamrin Jakarta, Dahlan mengatakan, secara keseluruhan mobil listrik sudah siap produksi massal.

"Kalau ada kekurangan itupun hanya pada baterai, ya saja," ujarnya.

Diketahui prototipe empat mobil listrik lainnya sedang dalam tahap penyelesaian akhir.

Empat varian mobil listrik tersebut yaitu sekelas Carry, sekelas Avanza, Yaris, dan Ferrari yang "dikeroyok" lima orang putra bangsa yang disebut Dahlan sebagai "Pendawa Putra Petir".

Dahlan optimistis masa depan mobil listrik nasional menjanjikan, karena selain negara bisa menghemat bahan bakar minyak (BBM), juga harga kendaraan ini tidak akan terlalu mahal karena selalu akan ada temuan baru.

Sumber : Republika
0

Realisasi Mobil Listrik di Indonesia Bisa Lebih Cepat

http://www.beritasatu.com/media/images//medium/26062012174339.jpgPrototip minibus listrik membawa rombongan berkeliling saat digelar Fun Drive Mobil Listrik Nasional di halaman Gedung BPPT, Jakarta. FOTO: ANTARA/Ismar Patrizki

Kemungkinan bisa lebih cepat. Karena untuk produksi prototipe riset sesuai roadmap pada 2014

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan realisasi mobil listrik di Indonesia bisa cepat dari yang direncanakan diproduksi massal pada 2018.

"Kemungkinan bisa lebih cepat. Karena untuk produksi prototipe riset sesuai roadmap pada 2014, ternyata LIPI sudah selesai memproduksi sekarang," katanya kepada wartawan seusai mengisi kuliah tamu di Universitas Jember (Unej), Jatim, hari ini.

Menurut dia, harga mobil listrik itu bisa bersaing dengan mobil yang menggunakan bahan bakar minyak. Saat ini mobil listrik yang diproduksi LIPI untuk jenis bus itu sekitar Rp1,5 miliar.

"Itu biaya yang dikeluarkan untuk produksi penelitian. Kalau diproduksi secara massal bisa berkurang 30 persen. Padahal mobil bus dengan bahan bakar minyak menghabiskan Rp850 juta. Kan relatif sama nantinya," katanya.

Padahal, kata dia, mobil listrik itu kalau digunakan sangat irit untuk biaya operasionalnya karena tidak menggunakan BBM, termasuk oli. Mobil listrik juga ramah lingkungan dan tidak perlu ada uji emisi.

Saat kuliah tamu, Menristek mendapat pertanyaan dari seorang dosen Unej Prof Bambang Kuswandi, PhD mengenai masa depan mobil listrik. Bambang khawatir tidak berkelanjutan karena Indonesia tidak memiliki pengalaman panjang dengan teknologi otomotif semacam itu.

Mendapatkan pertanyaan semacam itu, Hatta mengatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serius untuk mengembangkan mobil listrik.

"Keseriusan Presiden itu dapat dilihat dengan mengundang pakar dari UI, ITB, ITS dan UGM. Terakhir juga melibatkan UNS. Kemudian sudah disusun roadmap, yakni 2013 prototipe riset, 2014 memproduksi prototipe riset, 2015 mulai produksi terbatas, yakni 15 unit. Baru 2018 diproduksi massal, yakni 10.000 unit per tahun," katanya.

Hatta mengemukakan bahwa saat bersamaan Menteri BUMN Dahlan Iskan memanggil sejumlah tenaga ahli otomotif Indonesia yang selama ini berkiprah di luar negeri. Di antara mereka ada juga yang ahli di bidang sepeda motor sehingga bisa memenuhi masyarakat yang menginginkan sepeda motor listrik.

Ia mengakui bahwa setelah program mobil listrik itu terwujud, maka perlu didukung infrastruktur, terutama untuk men-charge mobil listrik. Infrastruktur itu bisa dibangun di SPBU atai di mal.

Agar program itu tidak berubah ketika berganti kepemimpinan nasional, kata dia, maka perlu ada pengikat berupa undang-undang.

Sumber : Berita Satu
0

Mimpi Baru Kereta Layang Ibukota

 Proyek ini berbenturan dengan Mass Rapid Transit Koridor Barat-Timur?

http://us.media.viva.co.id/thumbs2/2012/07/12/163148_proyek-kereta-layang-hk_209_157.jpgHutama Karya mentargetkan pembangunan kereta dengan panjang rel mencapai 100 kilometer ini mulai konstruksi pada 2013,

Perusahaan konstruksi PT Hutama Karya menawarkan konsep baru untuk mengurai kemacetan di Ibukota. Kontraktor pelat merah itu berencana membangun kereta layang di median jalan tol yang tidak digunakan.

Kereta layang ini dirancang menjadi model transportasi intermoda yang terintegrasi, dari kereta listrik, busway hingga MRT.

Direktur Utama PT Hutama Karya, Tri Widjajanto Joedosastro, menjelaskan,  ada lima tahap proyek kereta layang yang diusulkan. Jurusan Bekasi-Slipi akan dikerjakan lebih dulu. Dilanjutkan dengan Bogor-Cawang-Slipi, Slipi-Serpong dan Serpong-Bandara Soekarno-Hatta.

Ide Hutama Karya mengembangkan jaringan jalan tol dengan kereta layang terintegrasi sudah muncul sejak 1988. Namun, ide itu redup kembali akibat krisis ekonomi yang menimpa Indonesia.

Seiring pertumbuhan kendaraan bermotor, kebutuhan transportasi massal yang nyaman di Jakarta menjadi kebutuhan. Ia mengungkapkan, saat ini jalan tol dilalui oleh 98 persen mobil pribadi, dan hanya dua persen oleh angkutan umum.

Untuk kereta layang jurusan Bekasi-Slipi, titik awalnya dimulai dari pusat perbelanjaan Bekasi Square, sehingga pengguna kendaraan pribadi dapat menitipkan kendaraannya di pusat perbelanjaan tersebut, lalu melanjutkan perjalanan menuju Jakarta dengan kereta layang.

Dalam konsep ini, Stasiun Cawang akan menjadi titik sentral bertemunya kereta dan Transjakarta. Kemudian Semanggi sebagai titik sentral kereta listrik dengan MRT.

Tri mengatakan, median jalan tol yang selama ini tidak dimanfaatkan sengaja dipilih sehingga pembangunannya tidak mengganggu pengguna jalan tol. Tri meyakini transportasi kereta listrik ini dapat mengangkut orang dengan jumlah banyak.

"Prinsipnya mengusulkan terobosan ini dengan memanfaatkan median tol untuk mengatasi kemacetan. Konsepnya, yang diangkut orangnya, bukan mobilnya," kata dia kepada VIVAnews.

Rencananya, kereta yang akan digunakan adalah kereta listrik atau kereta bertenaga matahari yang lebih ramah lingkungan. Dan ini, menurutnya, sudah lumrah dilaksanakan di negara-negara lain untuk mengatasi kemacetan di perkotaan. Hutama Karya akan menggandeng PT Kereta Api sebagai operator dalam proyek ini.

General Manager Divisi Pengembangan Hutama Karya, Wikumurti, menambahkan, untuk tahap awal disiapkan empat rangkaian kereta untuk melayani penumpang. Dalam satu rangkaian kereta terdapat empat gerbong. Idealnya, kata dia, dengan mengutamakan kenyamanan penumpang, dalam satu gerbong seluas 60 meter persegi dapat menampung hingga 180 orang.

Dalam satu hari akan ada 39 ritase atau perjalanan pulang pergi. Jika ditotal, dalam satu hari kereta layang akan dapat mengangkut penumpang hingga 112.896 orang.

Pada jam sibuk, yaitu pukul 05.30-09.30 WIB dan 16.00-20.00 WIB, perjalanan dapat diintensifkan hingga per 15 menit. Jumlah gerbongnya pun dapat ditambah hingga 12 gerbong dalam satu rangkaian.

Menurut Wikumurti, pada jam sibuk, kereta layang berjarak 22 kilometer itu dapat mengangkut penumpang hingga 69.120 orang. "Di negara maju seperti Jepang, rata-rata kereta mengangkut 70.000 penumpang pada jam sibuk," katanya.

Pada saat siang, kapasitas kereta kembali dikurangi menjadi empat gerbong dan jam perjalanan kereta dikurangi untuk menekan biaya operasional.

Dengan mengintensifkan waktu perjalanan di jam sibuk, diharapkan dapat mengurangi beban jalan tol yang saat ini dilalui oleh 357.838 orang atau 196.614 mobil pribadi dari arah Bekasi. "Rata-rata satu mobil mengangkut dua orang, kereta layang dapat mengangkut hingga 112 ribu orang, itu hampir separuh pengguna jalan tol," katanya.

Pembangunan kereta layang ini, kata dia, bukan berarti akan menggerus pendapatan PT Jasa Marga Tbk. sebagai operator jalan tol. Namun, diharapkan dapat mengurangi pertumbuhan kendaraan pribadi, khususnya mobil, yang masuk ke jalan tol.

Wikumurti memaparkan besarnya pembengkakan subsidi akibat kemacetan dari konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sudah mencapai Rp10,7 triliun per tahun. Jika dana subsidi BBM ini dapat dialihkan untuk membangun kereta layang, masyarakat dapat beralih menggunakan transportasi massal dan mengurangi kemacetan.

"Pemerintah dapat mensubsidi harga tiketnya. Karena, perhitungan kami, harga tiket kereta layang Bekasi-Semanggi Rp10.000. Kalau pemerintah bisa subsidi setengahnya, menjadi Rp5.000 per tiket, pengguna kendaraan pribadi bisa beralih," katanya.

Hutama Karya mentargetkan pembangunan kereta dengan panjang rel mencapai 100 kilometer ini mulai konstruksi pada 2013, dan beroperasi pada 2015. Tahun ini perseroan akan fokus untuk membereskan aspek teknis, finansial, dan legal. Dari sisi aspek teknis akan berkoordinasi dengan PT Jasa Marga Tbk dan Badan Pengatur Jalan Tol.

Sementara itu, untuk aspek legalitas, menurut dia, saat ini sedang disiapkan dokumen proyek seperti study kelayakan (feasibility study), Detail Engineering Design (DED), dan proposal bisnis.

Untuk aspek finansial, Wikumurti melanjutkan, pihaknya sedang menjalin komunikasi dengan beberapa BUMN karya untuk membentuk Konsorsium Jabodetabek Integrated Transportation (JATRA) Corporation.

Dengan membentuk konsorsium ini, dia menjelaskan, diharapkan pemerintah tidak perlu lagi memberikan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan proyek ini dapat dilaksanakan secara business to business.

Dia memperkirakan proyek ini butuh dana investasi sebesar Rp300 miliar per kilometer dari target panjang lintasan 100 kilometer. Total investasi yang diperlukan mencapai Rp30 triliun.

Dari materi rencana, perusahaan memperkirakan total pendapatan yang bisa diraih dari jalur Bekasi-Semanggi bisa mencapai Rp406 miliar per tahun.

Pendapatan ini terbilang cukup tinggi, mengingat biaya operasional yang dibutuhkan untuk menjalankan kereta layang ini hanya sebesar Rp25,2 miliar per tahun. Biaya itu di antaranya digunakan untuk operasional Rp600 juta, biaya umum Rp1,2 miliar, dan biaya perawatan Rp300 juta.

Dengan nilai investasi sebesar Rp5,7 triliun untuk ruas Bekasi-Semanggi, Hutama Karya memperkirakan pengembalian investasi hanya akan memakan waktu 12 tahun. Sementara itu, tingkat pengembalian finansial (Internal Rate of Return/IRR) diperkirakan mencapai 22,5 persen.

Perusahaan asal Jepang, Mitsui Corporation, sudah melakukan pembicaraan awal untuk masuk sebagai salah satu investor. "Dari Jepang kemarin Mitsui sudah menyatakan minat untuk investasi, tapi berapanya kami belum tahu," ucap Wikumurti.

Pembicaraan dengan Mitsui ini baru tahap awal, dan akan diperdalam kembali seiring dengan perbaikan rencana kereta layang. Selain Mitsui, Hutama Karya juga membuka peluang bagi negara lain yang masuk sebagai investor.

Untuk pengembangkan proyek ini, perusahaan mengaku lebih mementingkan masuknya investor asing dibandingkan pinjaman dari bank asing lewat skema business to business. Dengan menjadi investor, maka diharapkan terjadi alih teknologi dari Jepang dan China.

Sementara untuk investor lokal, Hutama Karya memastikan akan menggandeng PT Jasa Marga Tbk mengingat lahan yang digunakan merupakan milik BUMN jasa tol tersebut. Secara teknis pun perusahaan pelat merah tol itu diklaim sudah menyetujui proyek kereta layang ini.

 Berbenturan dengan MRT

Pengamat Perkotaan dan Transportasi, Yayat Supriatna, menilai proyek itu tidak efisien karena akan berbenturan dengan Mass Rapid Transit (MRT) Koridor Barat-Timur yang sudah digagas oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Selain Jakarta, MRT Barat-Timur mengikutsertakan daerah sebelah barat Balaraja, Tangerang, dan Timur Cikarang Bekasi.

Seharusnya kata dia, sebelum membuat konsep ini PT Hutama Karya membuat kajian terlebih dahulu. Sehingga tidak bentrok dengan pengembangan pola transportasi makro yang sudah ada. "Kalau sebatas ide dan konteks bisnis memang bagus," kata Yayat.

Selain itu, kata dia, untuk merancang suatu konsep trasnportasi juga harus menyesuaikan dengan tata ruang. Kontraktor harus mendapat rekomendasi dari Kementerian Perhubungan terkait tata ruang Jabodetabek. Dan karena ini lintas wilayah, maka pembangunan disinergikan dengan konsep pengembangan transportasi Jabodetabek.

Menurutnya, saat ini tidak perlu konsep baru untuk mengatasi masalah macet di Jakarta. Sebaiknya konsep yang sudah ada dimatangkan. Dan kalau pun ada terobosan baru itu bisa menjadi penyempurna. "Jangan sampai konsep lama belum dijalankan tapi sudah ada ide baru lagi," ujarnya. Dia mencontohkan salah satu proyek yang sudah direncanakan tapi tidak berjalan yakni pembangunan monorel.

Saat ini pembangunan sarana pendukung MRT mulai dikerjakan. Pembangunan dimulai dengan pemindahan utilitas dan pelebaran jalan di sepanjang Jalan Fatmawati.

MRT yang berbasis rel rencananya akan membentang sekitar 110,3 kilometer, yang terdiri dari Koridor Selatan–Utara (Lebak Bulus-Kampung Bandan) sepanjang 23,3 kilometer dan Koridor Timur–Barat sepanjang 87 kilometer.

Pembangunan Koridor Selatan-Utara dari Lebak Bulus-Kampung Bandan dilakukan dalam dua tahap, yakni Tahap I yang akan dibangun terlebih dahulu menghubungkan Lebak Bulus sampai dengan Bundaran HI sepanjang 15,2 kilometer dengan 13 stasiun (tujuh stasiun layang dan enam stasiun bawah tanah). Ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2016.

Tahap II akan melanjutkan jalur dari Bundaran HI ke Kampung Bandan sepanjang 8,1 kilometer yang akan mulai dibangun sebelum tahap I beroperasi dan ditargetkan beroperasi 2018, dipercepat dari target awal 2020. Untuk tahap ini studi kelayakannya sudah selesai.

Koridor Barat-Timur saat ini sedang dalam tahap pre-feasibility study. Koridor ini ditargetkan paling lambat beroperasi pada 2024- 2027.

© VIVAnews