0

Ribuan Produk Tak Layak Serbu RI

 Dari produk obat kuat sampai elektronik. Berbahaya bagi tubuh.   

Jakarta Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan risau. Sepanjang 2012 ribuan produk tak layak pakai membanjiri pasar Indonesia. Jumlahnya berlipat tajam, akibat tingkat konsumsi masyarakat Indonesia yang tinggi.

Kecemasan Gita Wirjawan memiliki dasar. Pada 2011 lalu, Direktorat Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan mencatat hanya ada 28 produk tidak berkualitas yang ditemukan, termasuk obat kuat dan jamu yang tidak jelas asal usul, dan mengandung zat kimia berbahaya bagi tubuh.

Sedangkan pada 2012, saat ia menjabat sebagai Menteri Perdagangan, tercatat lebih dari 3.000 produk tidak layak pakai masuk Indonesia, termasuk barang elektronik yang tidak punya kartu garansi, ataupun layanan purna jual di Indonesia. Barang-barang itu masuk ke Indonesia secara ilegal.

Banyaknya produk tak layak tersebut disebabkan tingginya tingkat konsumsi masyarakat Indonesia. Hal itu menggoda para importir dan produsen untuk memasukkan barang-barangnya ke Indonesia. Termasuk barang yang bermutu rendah.

Bagi produsen, prinsipnya satu, barang tersebut dapat dijual murah dengan kuantitas yang banyak. Pada 2013, Gita tidak ingin kebobolan lagi. Mantan Kepala BKPM ini meresmikan Sistem Pengawasan Perlindungan Konsumen (SISWAS-PK) dan Layanan Informasi Perlindungan Konsumen.

Kedua program ini, dikembangkan untuk meningkatkan pelayanan publik, terutama para konsumen akhir. "Sistem perlindungan konsumen harus disebarluaskan kepada masyarakat," ujar Gita Wirjawan, didampingi Dirjen Standardisasi dan Perlindungan Konsumen, Nus Nuzulia Ishak, di Kemendag, Jakarta, Rabu 16 Januari 2013.

Gita bersama dirjen SPK menemukan tiga ribu produk tidak layak pakai di pasar Indonesia. Produk-produk tersebut mengandung formalin, gampang pecah, dan mudah terbakar. Untuk itu, dirasa perlu memberikan perlindungan terhadap konsumen.

Kemendag, menurut dia, juga mendapat dukungan dari Dewan Perwakilan Rakyat dalam hal peningkatan perlindungan konsumen, mengembangkan suatu sistem perlindungan konsumen seperti SISWAS-PK yang menjadi akses konsumen untuk mengadukan produk-produk yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan pelaku usaha.

Selain itu, sistem ini diharapkan dapat memudahkan konsumen untuk melakukan pengaduan barang dan jasa yang dipakai, digunakan, atau dimanfaatkan yang tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, meningkatkan pemahaman konsumen terhadap barang dan jasa yang sesuai, dan tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Termasuk, meningkatkan pemahaman mengenai hak dan kewajiban konsumen, memudahkan pelaksanaan pengawasan barang yang beredar dan jasa, serta memudahkan monitoring dan evaluasi tindak lanjut pengaduan konsumen.

Bagaimana caranya? masyarakat yang ingin mengadukan barang-barang dengan kualitas buruk dapat mengakses situs http://siswaspk.kemendag.go.id. Konsumen yang dirugikan mengisi formulir yang telah disediakan dan Kemendag menjamin kerahasiaan identitas. Setelah formulir masuk maka sistem akan mengelompokkan pengaduan konsumen dan didistribusikan kepada dinas terkait.

Sementara itu, Layanan Informasi Perlindungan Konsumen digunakan sebagai sarana edukasi dan akses informasi para mahasiswa serta masyarakat mengenai penyelenggaraan perlindungan konsumen di Indonesia.

"Sering kali kemasan komunikasi salah kaprah. Peran kawan-kawan perguruan tinggi penting sekali membantu menjembatani komunikasi," ujar Gita.

Kemendag menunjuk delapan universitas di Indonesia untuk meresmikan Layanan Informasi Perlindungan Konsumen, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Islam Indonesia, Universitas Tarumanegara, Institut Pertanian Bogor, Universitas Katolik Parahyangan, Universitas Diponegoro, Universitas Padjajaran, dan Universitas Hasanudin.

Gita menjelaskan, pemilihan tempat di perguruan tinggi merupakan sarana yang tepat manfaat sebagai agen komunikasi jika dilihat dari eksistensi, fungsi, dan pengaruhnya di lingkungan. "Sebagai masyarakat yang well educated, mahasiswa diharapkan menjadi jembatan untuk memotivasi lingkungannya agar menjadi konsumen cerdas yang well informed," tuturnya.

Sanksi berat

Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Husna Zahir, menyambut baik langkah Kementerian Pergadangan. Tindakan pemerintah akan membuat masyarakat memiliki berbagai akses pengaduan konsumen.

"Ini juga mendorong berbagi institusi ataupun perusahaan lainnya untuk membuka akses masyarakat menyampaikan keluhannya," katanya saat dihubungi VIVAnews.

Ia mengakui belum tahu bagaimana sistem pengawasan dan perlindungan konsumen milik Kemendag ini bekerja, namun ia menyarankan agar masyarakat diberikan feedback setelah melakukan pengaduan.

"Pemerintah harus transparansi dalam menangani dan menjelaskan sejauh mana pengaduan masyarakat dilanjuti oleh pemerintah," katanya.

Ia juga setuju dengan langkah Gita Wirjawan yang menggandeng mahasiswa dalam pengawasan perlindungan konsumen dengan membuka Layanan Informasi Perlindungan Konsumen di delapan universitas di Indonesia.

"Mahasiswa mempunyai peran besar untuk meneruskan dan mengedukasi masyarakat terkait hak-hak dan perlindungan mereka sebagai konsumen," katanya.

Ia berpesan agar semua laporan dari masyarakat ditindaklanjuti dengan memberikan hukuman berat bagi oknum nakal yang secara sengaja memasukkan barang bermutu rendah dalam pasar Indonesia. Hukuman itu akan memberikan efek jera kepada oknum nakal yang merugikan konsumen.

"Jika ada sanksi hukum yang menjerakan, hal yang merugikan konsumen akan turun," katanya.(np)


© VIVA.co.id
0

Menteri Hatta Rayu Raksasa Korea Investasi di RI

Doosan unggul dalam teknologi pengolahan air dan pembangkit listrik.

Jakarta Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap tinggi dan stabil di tengah krisis ekonomi global, membuat Indonesia sebagai salah satu tempat investasi yang menarik. Berbagai perusahaan berlomba-lomba investasi di Indonesia.

Salah satu perusahaan yang minat adalah raksasa industri Korea Selatan, Doosan. Dalam pertemuan Chairman Doosan dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa, Doosan grup memuji pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Ini sangat diapresiasi chairman Doosan," ujar Deputi Menko Perekonomian Bidang Kerja Sama Ekonomi dan Pembiayaan Internasional, Rizal Affandi Lukman, di kantornya, Jakarta, Rabu 16 Januari 2013.

Hatta, kata Rizal, telah menawarkan Doosan beberapa proyek. Ia mencontohkan, Indonesia saat ini membutuhkan investasi besar dalam bidang listrik karena permintaan konsumsi listrik Indonesia untuk menopang perekonomian Indonesia sebesar 3.000 megawatt per tahunnya.

Doosan saat ini tengah melirik untuk masuk dalam proyek-proyek infrastruktur Indonesia, terutama proyek pembangkit listrik di Cirebon bersama Marubeni, perusahaan asal Jepang.

Selain itu, katanya, Doosan dikenal unggul dalam teknologi desalinisasi air. Desalinisasi adalah suatu teknologi yang mengubah air laut menjadi air tawar. Proses yang menggunakan elektrolisis itu menghasilkan air bersih yang bisa dikonsumsi.


© VIVA.co.id
0

DKI akan bikin instalasi pengelolaan air limbah

Jakarta Untuk mengatasi kelangkaan air bersih, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pembangunan IPAL dilakukan karena sungai-sungai di Jakarta banyak tercemar oleh air limbah, tak terkecuali seperti Sungai Sunter.

"Kalau kita buat IPAL mungkin. Kan sekarang ini dikaji juga sungai-sungai kita banyak air," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Balai Kota Jakarta, Rabu (16/1).

Menurutnya, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) seharusnya mempunyai pengelolaan limbah. "Kalau tidak mau tercemar semua sungai ini kita oleh pembuangan-pembuangan itu," katanya.

Ahok menjelaskan, hanya dua persen sungai di Jakarta yang limbahnya bisa diolah. Salah satunya yang bisa diolah limbahnya adalah di Sungai Pesanggerahan. "Yang lain hampir susah diolah," ujarnya.

Untuk mengatasi limbah di sungai, Pemprov DKI akan membicarakan kepada pemerintah pusat. "Kita bicara dengan pusat karena hari ini dijadwalkan ketemu Pak Wapres," tandasnya.(mdk/has)


0

FT UNS Kembangkan Pengolah Limbah Mobile

Solo Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berhasil mengembangkan pengolah limbah batik yang bisa dipindahkan (mobile) yang mereka namakan Upal-RE. Dengan teknologi ini, air limbah pewarnaan batik bisa diolah sehingga menjadi air baku.

Teknologi tersebut cocok digunakan untuk sentra batik yang berada di perkampungan karena simpel dan mudah dipindahkan. Selain itu, biaya operasionalnya juga sangat murah yakni Rp 3.000 untuk sekali pengolahan 250 liter.

''Limbah pewarnaan batik adalah yang paling sulit untuk dinetralkan jika menggunakan pengolahan secara biologis, fisika maupun kimiawi. Namun dengan reaktor elektrokimia, limbah bisa diproses sehingga menjadi air baku yang aman,'' kata peneliti Upal-RE Ir Budi Utomo MT.

Budi memaparkan, alat yang bentuknya sangat ringkas, dilengkapi dengan genset dan kereta dorong tersebut terdiri atas bak dari bahan fiber yang dilengkapi peralatan elektrokimia dari logam dan besi untuk memproses limbah pewarnaan batik. Untuk menggunakannya juga sangat mudah yakni limbah batik dimasukkan ke dalam bak berkapasitas 250 liter tersebut lalu tinggal menekan tombol on. Setelah menyala, larutan elektrolit akan menimbulkan gelembung udara (flok) sehingga membawa partikel mengambang.

Dalam waktu 40 menit, reaktor elektrokimia tersebut akan mengurai zat pewarna yang mengambang di bagian atas dan air yang ada bagian bawah. Air yang sudah terurai dari zat pewarna sudah berubah warna menjadi lebih bening dan tinggal dialirkan dari katup di bagian bawah.

Penemuan teknologi ini tak hanya menghasilkan air yang lebih jernih tetapi juga mengurangi kandungan bahan berbahaya yang terkandung dalam limbah. ''Air tersebut sudah memenuhi standar untuk disebut air baku karena sudah memenuhi batas baku mutu air,'' kata Budi.

Setelah air dilirkan ke katup, endapan yang mengambang di atas air akan menjadi keras, menjadi seperti lempeng berwarna gelap. Lempeng tersebut bisa dimanfaatkan untuk campuran bahan bangunan dan lainnya, namun memerlukan proses lebih lanjut.

Budi mengemukakan, pemrosesan air limbah pewarna yang sintetis maupun warna alami prosesnya sama. Perbedaannya pada hasilnya dimana untuk zat pewarna alami efisiensinya mencapai 85 persen, sedangkan zat pewarna sintetis hanya 75 persen.

Dengan kata lain, pewarna alami lebih mudah proses penguraiannya. Alat ini menggunakan sumber listrik bertegangan litrik 220 volt dan membutuhkan daya sekitar 4.000 watt. Untuk mengantisipasi supaya tidak menyulitkan untuk pasokan daya listriknya, alat ini juga sudah dilengkapi genset bertenaga 50.000 watt.

Untuk prototipe alat tersebut, Budi mengaku menghabislan dana sebesar Rp 35 juta. Ia berharap bisa menekan biaya produksi dan meningkatkan kapasitas pengolahan limbah sehingga pelaku industri kecil seperti perajin batik mampu membeli alat pengolah limbah tersebut, minimal secara berkelompok.(Evie Kusnindya / CN34 / JBSM )


0

Semen Indonesia Kembangkan Semen Siap Pakai

SSG Prima Beton pada akhir 2013 akan operasikan 10 semen siap pakai.

Jakarta | PT Semen Indonesia Tbk melalui anak perusahaannya, PT SGG Prima Beton (SGGPB), meresmikan pabrik semen siap pakai (ready mix) atau yang lazim disebut batching plant di Serpong, Tangerang Selatan.

“Peresmian batching plant ini adalah bagian dari rencana penambahan sembilan unit batching plant pada tahun ini dengan nilai investasi sekitar Rp70 miliar," ujar Dirut Semen Indonesia, Dwi Soetjipto, Selasa 15 Januari 2013.

Ia menjelaskan, sesuai road map perseroan, SGGPB akan memiliki sepuluh batching plant pada akhir 2013. Setelah batching plant Serpong beroperasi, akan segera menyusul di Cikarang dan Balaraja pada Maret 2013.

Dwi menjelaskan, kapasitas batching plant Serpong adalah 75 meter kubik per jam. SGGPB saat ini juga telah memiliki empat mesin batching plant siap pasang. Dua di antaranya adalah mobile batching plant dengan kapasitas 100 meter kubik per jam. Alat tersebut akan disiapkan untuk melayani proyek-proyek besar.

SGGPB juga telah memesan 75 unit mixer truck pada akhir 2012. Dari 75 unit tersebut, saat ini telah siap dioperasikan di batching plant Serpong sebanyak 15 unit. Sisanya sebanyak 60 unit masih dalam proses finishing di karoseri.

”SGG Prima Beton juga akan segera memesan 100 unit mixer truck pada tahun ini,” kata Dwi. Sehingga, dalam waktu dekat, SGG Prima Beton akan memiliki 175 unit mixer truck.

Dalam strategi perseroan, Dwi melanjutkan, SGG Prima Beton akan difokuskan untuk menggarap pasar Jabodetabek, Jabar, dan Banten. Penetrasi pasar itu akan memperkuat dan memperluas basis bisnis perseroan di Pulau Jawa.

Dwi menegaskan, kehadiran SGGPB tidak dimaksudkan untuk bersaing langsung dengan sesama pabrik ready mix pemakai produk Semen Indonesia. Ekspansi SGG Prima Beton dimaksudkan untuk mengimbangi tingginya permintaan ready mix berbahan produk Semen Indonesia, yaitu produk-produk dari Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa.

”Saat ini permintaan untuk produk ready mix sangat tinggi. Tren pasar sudah mulai mengarah pada kemudahan dan kepraktisan dalam menggunakan produk industri semen, sehingga ready mix cukup diminati," katanya.

Semen Indonesia sudah menyiapkan grand strategy agar kinerja penjualan perseroan terus meningkat, termasuk dengan meningkatkan porsi penjualan ready mix. Pembangunan batching plant untuk menjawab kebutuhan pasar ready mix itu.

SGG Prima Beton saat ini juga sedang dalam proses mengakuisisi PT Varia Usaha Beton, perusahaan ready mix yang telah beroperasi di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Varia Usaha Beton merupakan anak usaha PT Varia Usaha yang juga merupakan salah satu anak perusahan PT Semen Indonesia Tbk.

”Strategi yang dijalankan anak perusahaan tersebut bersinergi dengan kepentingan Semen Indonesia sebagai induk usaha. Kami memposisikan anak perusahaan sebagai strategic tools untuk ikut menopang bisnis inti perseroan,” ujarnya. (art)


© VIVA.co.id
0

Mahasiswa UMY Ciptakan Kunci Otomatis Bagi Tunanetra

Foto : Kharrik Ngibad Mukhlashin/UMYJakarta | Kejahatan timbul bukan hanya karena ada niat tapi juga terbukanya kesempatan. Untuk itu, salah satu bentuk proteksi yang dapat kita lakukan adalah menjaga pintu rumah maupun kamar yang berisi barang berharga selalu terkunci.

Namun, bagi tunanetra hal ini tidak mudah dilakukan. Sebab, mereka kesulitan untuk menggunakan kunci konvensional. Beruntung mahasiswa Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Kharrik Ngibad Mukhlashin menemukan solusi dengan menghadirkan "Alat Bantu Tunanetra Berbasis Micro Controller."

Kharrik berhasil mengembangkan alat bantu tunanetra dalam bentuk kunci pintu untuk mempermudah mereka membuka maupun menutup pintu. Pada alat tersebut terdapat pengendali mikro atau micro controller yang akan mengeluarkan suara.

Menurut Kharrik, sebenarnya kunci pintu ini sama dengan kunci pintu yang menggunakan micro controller lain yang sudah berkembang di tengah masyarakat. “Kami memang sengaja membuat inovasi baru dengan kunci pintu ini, karena memang tujuannya untuk para tunanetra, sehingga perbedaannya adalah alat ini akan mengeluarkan suara “membuka dan menutup” yang menandakan pintu itu sudah terbuka atau tertutup,” tutur Kharrik, seperti disitat dari situs UMY, Selasa (15/1/2013).

Selain itu, lanjutnya, alat ini dikembangkan dengan Radio Frekuensi ID (RFID). “Jadi dalam alat ini hanya terdapat satu ID yang telah tersistem dan akan dihubungkan dengan reader dari alat tersebut. Kemudian akan menuju sistem mikro, sistem mikro inilah yang nanti akan membaca perintah dan akan menghasilkan suara membuka atau menutup,” paparnya.

Kharrik menjelaskan, penggunaan dari alat ini pun begitu mudah dan sangat praktis. Alat tersebut cukup dipasang di dalam pintu. Kemudian pengguna hanya perlu mendekatkan ID dengan jarak 4 cm di depan atau di belakang pintu.

"Setelah keluar suara “pintu terbuka” maka tandanya pintu tersebut tidak terkunci. Sebaliknya jika keluar suara “pintu tertutup” otomatis pintu tersebut sudah terkunci,” urai Kharrik.

Selain itu, alat bantu tunanetra dalam bentuk kunci ini hanya akan cocok dengan satu ID yang telah disesmatisasi khusus dengan alat tersebut. “Kalau ID lain yang digunakan, maka sistem mikro dalam alat ini tidak akan dapat membaca perintah dan menghasilkan suara “pintu terbuka” atau “pintu tertutup”. Jadi alat ini bisa membantu pemilik rumah khususnya tunanetra dalam menjaga barang-barang berharga di dalam rumahnya,” imbuhnya.

Penelitian ini menghabiskan waktu sekira enam bulan dari penelitian awal. Mulai dari melakukan penelitian di Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) Yogyakarta sampai alat ini berhasil digunakan. "Memang butuh waktu yang lumayan lama karena kita juga harus mencoba kembali saat alat ini belum bekerja sesuai harapan,” jelasnya.

Dia berharap, alat inovasinya ini bisa dimanfaatkan oleh tunanetra seluruh Indonesia dan juga bisa disempurnakan lagi. “Inovasi alat bantu kunci pintu ini masih perlu disempurnakan lagi. Untuk bisa digunakan pada lima hingga enam pintu lain cukup dengan menggunakan satu ID yang telah tersistem,” kata Kharrik.(mrg)


Okezone
0

Surya ciptakan kompor serbaguna berbahan bakar air

ilustrasi Kompor Berbahan Bakar Air Eddy Suprianto
Mataram | Lalu Mandra Rama Dwi Surya (41) Kota asal Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat berhasil menciptakan kompor serbaguna berbahan bakar air dengan titik didih mencapai 800 derajat celcius.

"Saya menciptakan kompor tersebut untuk membantu petani yang selama ini mengalami kesulitan bahan bakar minyak untuk oven tembakau virginia. Kalaupun ada mereka harus membeli dengan harga tinggi sejak dicabutnya subsidi bahan bakar minyak tanah," katanya di Mataram, Senin.

Ketika mendaftarkan hak paten kompor gas serbaguna berbahan bakar air di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Provinsi NTB, dia mengatakan, kompor tersebut tidak hanya bisa digunakan untuk oven tembakau, tetapi juga keperluan lain, seperti pengering gabah dan oven kopra.

Ia mengatakan, penemuan kompor berbahan bakar air itu membutuhkan waktu cukup lama, mencapai satu tahun. Uji coba dilakukan selama setahun sehingga bisa menghasilokan kalori cukup tinggi dengan titik didih mencapai 800 derajat celcius.

"Dari beberapa kali uji coba kompor tersebut bisa mendidihkan aluminium, karena titik didihnya cukup tinggi dan kalorinya bisa diatur sesuai dengan kebutuhan, sehingga bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan," ujarnya.

Menurut Surya, dengan 1 liter minyak dan 1,5 liter air kompor ciptaannya itu bisa menghasilkan kalori 800 derajat celcius, sehingga kompor tersebut cukup menguntungkan kalau digunakan untuk oven tembakau virginia.

Surya mengatakan, kalau menggunakan kompor biasa dibutukan dua setengah drum bahan bakar minyak tanah atau solar untuk mengoven tembakau dalam waktu empat hari. Sementara dengan kompor yang diciptakan hanya membutuhkan paling banyak satu drum bahan bakar.

"Dengan menggunakan kompor hasil ciptaan saya petani bisa mengurangi biaya bahan bakar hingga 50 persen. Karena bahan bakar yang digunakan lebih banyak air," katanya.

Dia mengatakan, kompor ciptaannya itu sudah diuji coba di hadapan petani tembakau virginia di Kabupaten Lombok Timur. Para petani menyatakan berminat untuk membeli dan menggunakan kompor tersebut, karena dinilai lebih menguntungkan.

Surya mengatakan, setelah melakukan uji coba, sekitar 100 orang petani memesan kompor tersebut. Namun bisa dilayani karena harus didaftarkan terlebih dahulu untuk mendapatkan hak paten.

Mengenai harga kompor serbaguna itu, Surya mengaku belum bisa memastikan harga, karena masih menghitung harga komponen bagan baku, namun diperkirakan tidak lebih dari Rp 1,5 juta per unit.

"Para petani berani membeli dengan harga tersebut, karena harga kompor yang selama ini mereka gunakan untuk oven tembakau mencapai Rp 5 juta per unit, lebih murah dari kompor ciptaan saya yang relatif irit bahan bakar," ujarnya.(ANT)


Antara
0

Mulai pencurian teknologi sampai cara mengemudi

http://klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2013/01/14/138241/250x125/mulai-pencurian-teknologi-sampai-cara-mengemudi-kolom-dahlan-iskan.jpgJakarta | Ini mirip dengan istilah "sengsara membawa nikmat". Kecelakaan ini, meski menimbulkan keributan yang bising, benar-benar memberikan pelajaran yang berharga.

Selama ini, secara ilmiah, memang terjadi perbedaan pandangan di antara lima putra petir yang menciptakan kendaraan/mobil listrik yang saya koordinasikan. Perbedaan pandangan seperti itu juga terjadi di luar negeri yang lagi sama-sama dikembangkan di seluruh dunia.

Ada yang berpandangan, mobil listrik tidak perlu menggunakan gear box. Untuk itu, power dari motor listrik langsung menggerakkan gardan/roda.

Tapi ahli kita seperti Ir Dasep Ahmadi MSc (alumni ITB), berpendapat mobil listrik harus menggunakan gear box. Ricky Elson, putra Padang yang melahirkan 14 paten motor listrik di Jepang, termasuk golongan ini. Demikian juga Ravi Desai (alumni Gujarat). Mereka setuju tidak harus pakai gear box, tapi harus hanya untuk mobil dalam kota (city car).

Kecelakaan mobil Tucuxi (baca: tukusi, nama sejenis lumba-lumba) yang saya kemudikan di dataran tinggi Tawangmangu-Sarangan Sabtu pekan lalu, memberikan pelajaran yang sangat penting mengenai pilihan-pilihan tersebut.

Saya memang tidak ingin menyatukan pendapat mereka. Ilmuwan perlu diberi kebebasan untuk mewujudkan ambisi keilmuannya. Apalagi saya menangkap sinyal para ahli kita itu memang ingin membuktikan kehebatan masing-masing. Saya sangat menghargai itu. Saya memilih bersikap memberikan otonomi yang luas kepada mereka.

Karena itu ketika Kang Dasep menciptakan mobil AhmaDI dengan menggunakan gear box saya dukung penuh. Dana talangan langsung saya kirim. Ketika mobil hijau itu jadi kenyataan, saya langsung mencobanya.

Sebenarnya, pada awalnya, saya dan Kang Dasep menanggung malu: begitu tiba di Jalan Thamrin Jakarta (dari Depok), mobil AhmaDI "mogok". Media meliputnya dengan besar-besaran. Saya malu sekali. Tapi saya minta Kang Dasep tidak menyerah. Setelah dianalisis, ternyata mobil itu tidak rusak, melainkan low batt. Indikator baterainya kurang sempurna sehingga "menipu".

Minggu berikutnya kami berdua masih menanggung malu: mobil listrik itu tidak kuat menaiki tanjakan. Padahal tidak terjal. Padahal perjalanan uji coba ini juga diliput langsung oleh media secara luas.

Sekali lagi saya minta Kang Dasep untuk tidak patah semangat.

Sebetulnya masih banyak "malu" yang lain. Tapi biarlah itu hanya kami berdua yang merasakan.

Tiga bulan kemudian, ketika mobil AhmaDI kian sempurna, rasa malu itu berubah menjadi bangga. Putra bangsa kita bisa menciptakan mobil listrik. Saya pun mencobanya secara sungguh-sungguh. Saya mengemudikan mobil tersebut hampir setiap hari hingga mencapai 1.000 km. Kang Dasep sendiri, di luar 1.000 km yang saya lakukan, mencobanya dari Bandung ke Jakarta melalui Puncak. Tidak ada masalah sama sekali. Tanjakan yang terjal dan turunan yang curam dilewati dengan mudah. Kang Dasep dengan ketekunan dan kecerdasannya boleh dikata berhasil gemilang.

Setelah itu saya minta Kang Dasep membuat mobil listrik jenis yang lebih besar. Sebesar Alphard. Tiga bulan lagi, insya-Allah, sudah bisa dilihat. Saya sudah setuju untuk membiayainya. Bahkan saya juga sudah minta Kang Dasep untuk membuat bus listrik.

Seminggu setelah mobil AhmaDI selesai dicoba sampai 1.000 km, mobil Tucuxi bikinan Mas Danet Suryatama (alumni USA) selesai dibuat. Saya pun bertekad untuk mencobanya dengan sungguh-sungguh sampai 1.000 km.

Begitu tiba di Jakarta 19 Desember lalu, mobil Tucuxi (semula saya usul namanya Gundala, tapi mas Danet memutuskan nama ini) saya coba dari Pancoran ke Bandara Soekarno-Hatta. Mas Danet mendampingi saya. Sepanjang perjalanan sekitar 30 km itu saya merasakan apa saja yang menjadi kelebihannya dan apa saja kekurangannya. Mobil tiba di Cengkareng dengan kebanggaan penuh: Mas Danet hebat! Hari pertama ini tidak membawa malu.

Kalau toh ada kekurangannya hanya kami berdua yang tahu. Saya langsung menyampaikan kekurangan-kekurangan itu ke Mas Danet. Saya minta diperbaiki. Dua hari kemudian Tucuxi saya coba lagi di sekitar Stadion Utama Senayan. Dua jam lamanya. Tucuxi mengelilingi stadion berkali-kali. Beberapa wartawan secara bergantian ikut mencoba duduk di sebelah saya.

Semua yang menyaksikan terlihat bangga. Putra Indonesia ternyata hebat-hebat.

Beberapa kekurangan memang masih terasa. Tapi tidak mungkin diperbaiki di Jakarta. Maka saya minta Tucuxi dibawa kembali ke Jogja. Mas Danet lantas menuduh saya melakukan pencurian teknologi. Saya tidak begitu jelas teknologi apa yang saya curi dan untuk apa.

Syukurlah, dalam keterangan pers terbarunya akhir pekan kemarin, Mas Danet tidak lagi menyebut-nyebut soal pencurian teknologi. Yang dipersoalkan tinggal kesalahan cara saya mengemudi dan (menurut perasaannya) saya akan menyingkirkannya.

Setelah diperbaiki, mobil dicoba di sekitar Jogja. Tidak ada masalah. Termasuk sampai Kaliurang. Tapi suasana sudah kurang nyaman akibat isu pencurian teknologi yang sudah meluas.

Saya sendiri saat itu lagi keliling hutan jati milik BUMN di Randublatung, Blora, dan Purwodadi. Saya sedang mendesain pola kemitraan antara Perum Perhutani dan masyarakat miskin sekitar hutan. Saya bermalam di Semarang. Karena mau pulang ke Magetan, saya harus lewat Solo. Karena itu saya minta Tucuxi disiapkan di Solo. Untuk saya coba lewat medan yang berat.

Ini penting karena uji coba selama ini baru dilakukan di jalan yang datar. Sebagai mobil yang dibuat dengan biaya hampir Rp 3 miliar mobil ini harus dicoba di daerah yang sulit. Terutama melewati jalan yang menanjak. Pikiran saya selalu: bisakah mengatasi tanjakan. Apalagi sampai 1.300 meter seperti di Sarangan. Ricky Elson menemani saya.

Ternyata hebat sekali. Sepanjang jalan saya terus memuji Mas Danet. Luar biasa. Tarikannya, powernya dan kemampuan menanjaknya hebat sekali. Demikian juga kemampuan baterainya.

Baru ketika jalan mulai menurun dengan sangat tajamnya, dengan belokan-belokan yang berliku, saya mulai was-was. Saya harus menginjak rem sekuat tenaga. Saya tidak segera menyadari bahwa Tucuxi berbeda dengan AhmaDI. Saya tidak segera menyadari kalau Tucuxi ciptaan Mas Danet ini tidak menggunakan gear box. Untuk menahan laju Tucuxi, sepenuhnya hanya menggantungkan pada kekuatan rem. Tidak ada bantuan pengendalian dari gear box!

Tentu saya mencoba untuk sesekali mengendorkan rem agar tidak over heated. Ini juga disinggung dalam keterangan pers terbaru Mas Danet. Tapi setiap kali rem saya longgarkan mobil langsung melaju. Padahal jalan berkelok-kelok dengan jurang dalam di sisinya. Tentu saya tidak berani tidak menginjak rem kuat-kuat. Mungkin, seperti disebut Mas Danet, saya memang salah dalam cara mengemudi seperti itu.

Tapi, mengingat jurang-jurang yang dalam di kawasan itu, saya terus menginjak rem dengan kekuatan kaki sekuat-kuatnya. Untung otot kaki saya lumayan kuat karena setiap hari senam satu jam di Monas. Tapi bau menyengat akibat rem yang bekerja keras tak tertahankan. Saya memutuskan untuk berhenti. Sekalian mendinginkan rem. Penurunan tajam masih akan panjang dan berliku. Totalnya 15 km. Masih akan sampai di Ngerong.

Waktu berhenti ini, semua orang yang mengerumuni Tucuxi membicarakan soal bau yang menyengat itu. Lantas berfoto-foto di ketinggian lereng gunung Lawu yang indah. Kabut tebal yang menyelimuti jalan dan dataran tinggi itu menambah keindahan pemandangan.

Seandainya waktu istirahat ini dibuat lama, sampai rem dingin, mungkin kecelakaan itu tidak terjadi. Tapi saya terikat janji dengan Dr Fachri Aly yang akan ke kampung saya sore itu. Dan malamnya kami masih akan sholawatan Maulid Nabi dengan Habib Syekh dari Solo di kampung saya itu.

Kami pun segera berangkat lagi. Tucuxi kembali harus menuruni jalan yang curam dan berliku. Kami masih belum menyadari bahwa tanpa bantuan gear box rem akan bekerja sendirian terlalu keras. Kekuatan kaki saya sepenuhnya untuk menginjak rem sedalam-dalamnya. Bau menyengat kembali menusuk-nusuk hidung.

Ketika akhirnya berhasil mencapai Ngerong saya pun lega. Tidak ada lagi penurunan yang curam dan berkelok. Jalan memang masih akan terus menurun tapi sudah tidak ekstrem.

Justru di saat hati sudah lega itulah saya merasakan rem Tucuxi tidak lengket lagi. Mobil melaju di jalan yang menurun tanpa bisa dihambat oleh rem. Saya coba angkat rem tangan. Sama saja. Mobil kian kencang. Tidak terkendali. Saya sadar sepenuhnya. Maka saya harus ambil keputusan cepat. Terlambat sedikit akan banyak memakan korban.

Saya segera memutuskan ini: lebih baik saya sendiri yang menjadi korban. Saya lihat ada tebing terjal di kanan jalan. Mumpung tidak ada mobil dari arah berlawanan, saya banting setir mobil itu untuk menabrak tebing itu. Braaak! Mobil hancur. Tidak ada lagi atap di atas kepala saya. Tapi saya tidak terpelanting. Saya tetap terduduk di belakang setir. Saya raba kepala saya: tidak ada darah. Saya raba muka saya: tidak ada luka. Saya gerakkan kaki-kaki saya: normal. Tidak ada yang terjepit.

Setelah mengucap syukur kepada Allah, saya kembali memuji Mas Danet. Konstruksi mobil ini tidak membuat saya mati terjepit atau menderita luka. Bahkan tergores sedikit pun tidak. Padahal, seperti kata polisi, kaca-kaca mobil ini bukan kaca fiber yang kalau pecah berubah menjadi kristal. Kaca-kaca ini jenis kaca yang pecahnya membentuk segitiga-segitiga kecil. Allahu Akbar!

Saya pun memperoleh pelajaran luar biasa hebat: pentingnya fungsi gear box. Karena itu, ke depan, masyarakat harus bisa memilih: beli mobil listrik yang pakai gear box atau yang tidak pakai gear box.

Mungkin saya akan menghadapi masalah hukum akibat pelanggaran saya ini. Itu akan saya jalani dengan seikhlas-ikhlasnya. Tapi pelajaran teknologi tadi akan menyelamatkan banyak orang di masa depan. Saya akan jalani konsekwensi itu, tapi ilmu pengetahuan harus tetap berkembang. Tidak boleh terhenti karena kecelakaan ini.

Mobil listrik harus jaya!

Baik Kang Dasep yang menggunakan gear box maupun Mas Danet yang tidak menggunakan gear box sama-sama hebatnya. Sama-sama sudah membuktikan dirinya menjadi putra bangsa yang membanggakan. Tucuxi akan dikenang sepanjang sejarah mobil listrik di Indonesia.

Mas Danet akan terus saya dorong untuk proyek berikutnya. Tentu kalau dia terbuka untuk mendiskusikan teknologinya.

Yang penting putra-putra bangsa harus menguasai teknologi mobil listrik. Saya terbuka untuk putra-putra petir yang lain. Mari berlomba untuk kebaikan negeri. Mumpung negara-negara maju juga baru mulai melakukannya. Kesalahan masa lalu tidak boleh terulang. Kalau mobil listrik tidak kita siapkan sekarang kita akan menyesal untuk kedua kalinya. Kelak, kalau dunia sudah berganti ke mobil listrik jangan sampai kita kembali hanya jadi pasar mobil impor seperti sekarang ini!

Mobil listrik made in Indonesia harus berjaya! Sekaranglah saatnya Indonesia punya kesempatan bisa bersaing dengan negara maju!

*Oleh Dahlan Iskan
Menteri BUMN
(mdk/rin)