Akhirnya Indonesia bisa ekspor manggis ke Australia
Peneliti Unipa temukan tiga jenis pandan baru
"Ditemukan tiga jenis baru dari "Freycinetia" di areal pengendapan "tailing" yakni "Freycinetia megaauriculata Sinaga&Utteridge", "Freycinetia frutonumerata Sinaga, Keim&Purayatmika", dan "Frecinetia ultrapedicellata Sinaga, Keim&Purayatmika"," ujar Nurhaidah di Jakarta, Selasa.
Lahan "tailing" adalah kawasan pengendapan pasir sisa tambang. Sedangkan "Freycinetia" adalah jenis tumbuhan pemanjat yang selalu memerlukan inang untuk ditumpangi.
Nurhaidah mengatakan terdapat 18 jenis dari Freycinetia di kawasan pengendapan pasir sisa tambang itu.
"Saya sendiri bingung, mengapa ditemukan dan bisa hidup di kawasan itu," katanya.
Dia menduga, hal itu karena didukung oleh tiga faktor yakni tanah, iklim, dan vegetasi dari ekosistem sekitar yang masih baik. "Bahkan, di kawasan itu saya juga menemukan terdapat jenis Freycinetia yang tidak bisa hidup di alam terbuka, namun bisa hidup di lahan "tailing"," tambah dia.
Jenis Freycinetia itu adalah "Freycinetia Oblanceolata Grup".
Hasil penelitian tersebut adalah salah satu dari 16 penelitian yang terangkum dalam buku hasil penelitian Unipa dan PT Freeport.
Bahkan salah satu hasil penelitian menyebutkan bahwa spesies-spesies tanaman asli dapat tumbuh kembali secara alami di tanah yang mengandung "tailing".
Hasil penelitian juga menunjukkan proses perkembangan suksesi alami telah menghadirkan 117 spesies burung, 42 spesies herpeto fauna, 93 spesies kupu-kupu dan 10 spesies mamalia yang kemudian menjadikan area suksesi alami lahan tailing sebagai habitat mereka.
Kawasan pengendapan tailing yang tidak lagi dialiri dalam kurun waktu 8-20 tahun, telah terjadi proses pedogenesis nyata yang mengindikasikan perkembangan tailing membentuk tanah pada tahap awal.
Kondisi itu membantu perkembangan vegetasi yang hadir secara alami, sehingga lahan tersebut bisa dikelola menjadi hutan alami atau lahan budidaya pertanian.(I025/Z003)
Peneliti LIPI Temukan Anggrek Baru asal Kinabalu
Menurut keterangan tertulis yang dikirim Destario melalui surat elektronik di Bandung, Minggu (1/7), peneliti itu menemukan jenis anggrek baru yang diberi nama 'Cleisocentron kinabaluense Metusala & J.J.Wood. Epithet' secara tidak sengaja saat dia mengobservasi lebih dari 2.000 spesimen herbarium anggrek yang berasal dari kawasan Sabah.
Destario menyebut penemuan itu menjadi kejutan bagi taksonom anggrek di Kew karena mereka tidak menyangka masih ada jenis baru dari kumpulan spesimen yang sebenarnya telah diobservasi berulang kali untuk pembuatan karya ilmiah.
Anggrek 'Cleisocentron kinabaluense' tumbuh secara epifit dan batangnya dapat mencapai 20 sentimeter (cm). Kuntum bunga berukuran panjang 2,2 cm-3 cm dan lebar 1 cm-1,2 cm, sedangkan dalam satu perbungaan tersusun atas 8 sampai 12 kuntum bunga.
Secara morfologi, anggrek ini dekat dengan 'Cleisocentron gokusingii' dan 'Cleisocentron merrillianum', namun berbeda terutama pada kalus yang berada di pangkal bawah bibir bunganya yang menyerupai kantung, serta cuping samping bibir bunga yang tidak bertoreh.
Spesimen jenis baru ini dikoleksi pada 1961 dari dataran berketinggian 2.400 m-3.000 m. Sejak itu belum pernah diketemukan kembali, baik itu koleksi hidup maupun koleksi herbariumnya.
Temuan baru Destario itu dipublikasikan di Malesian Orchid Journal yang terbit di pertengahan 2012. (Ant/OL-15)
IPB diminta siapkan ahli silvikultur handal
"Usulan menanam kembali agar hutan kita lestari, budi daya bagaimana membangun hutan secara `well manage` menjadi tantangan tersendiri bagi para ahli silvikultur," kata staf pengajar Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB Dr Ir Supriyanto melalui kantor Humas IPB, Minggu.
Menurut dia, hutan di Indonesia terbagi pada hutan negara dan hutan rakyat, di mana keduanya membutuhkan ahli silvikultur dimaksud.
Ia mengemukakan, mengapa Indonesia perlu banyak tenaga ahli silvikultur, karena tenaga mereka dibutuhkan untuk dapat membangun hutan-hutan di Indonesia dengan manajemen yang baik.
Supriyanto memberi contoh bahwa luas hutan negara yang mencapai 130 juta hektare, ternyata 43 juta hektare di antaranya belum terjamah.
Di samping itu, kata dia, praktik pembalakan liar (ilegal logging), juta telah mengakibatkan rusaknya hutan-hutan yang ada.
"Karena itulah ahli silvikultur sangat dibutuhkan," katanya.
Sementara itu, staf pengajar Fahutan IPB lainnya Dr Ir Ricky Avensora MScF mengatakan, pengembangan "integrated silvopastural" diyakini mampu menekan laju kerusakan hutan hingga 30 persen per tahun, serta mampu pula merehabilitasi hutan ataupun lahan secara mudah dan mandiri.
"Dalam konteks teknis, jika saja ada satu kabupaten di provinsi yang kaya seperti di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Kalimantan Timur, dalam tiga tahun mau fokus menggunakan Rp500 juta/tahun dari anggaran belanja mereka untuk mengembangkan `integrated silvopastural` misalnya, akan mampu menekan laju kerusakan hutan hingga 30 per tahun," katanya.
Dalam pandangan Ricky Avenzora, dengan pengembangan "integrated silvopastural" tersebut, maka secara matematis mudah dihitung dan diyakini bahwa pada akhir tahun ketiga di sebuah kabupaten tersebut, akan mampu mempunyai industri peternakan.
Ia mengemukakan, berbagai turunan industri hilirnya setidak-tidaknya mampu mengurangi 20 persen angka pengangguran, nyata ataupun terselubung, di kabupaten tersebut per tahun.
Selain itu, juga akan mampu menekan laju kerusakan hutan hingga 30 per tahun serta mampu pula merehabilitasi hutan ataupun lahan secara mudah dan mandiri pada akhir tahun keenam.(A035/N005)
Menristek canangkan Sulawesi pusat riset kakao
"Indonesia kaya sekali. Produksi kakao kita nomor tiga di dunia, tapi kita masih mengekspornya mentah-mentah tanpa mengolahnya lebih dulu, juga rumput laut," kata Menteri Ristek Gusti Muhammad Hatta pada Rapat Koordinasi SDM dan Iptek Koridor Sulawesi antara Kemristek, para pejabat badan litbang di Sulawesi dan peneliti Universitas Hasanuddin di Makassar, Jumat.
Menteri mengatakan, Struktur ekonomi Indonesia saat ini masih terfokus pada pertanian dan industri yang mengeksploitasi hasil alam, sedangkan industri yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah produk masih terbatas.
Padahal ketersediaan sumberdaya alam tidak tanpa batas, sementara kebutuhan pembiayaan untuk pelaksanaan pembangunan terus meningkat.
"Jika sumber daya alam sudah habis, ekonomi kita akan bertumpu pada impor. Defisit sumber daya alam ini dapat menimbulkan permasalahan besar," katanya.
Ia menyesalkan, eksploitasi sumberdaya alam masih terus berlangsung baik kekayaan hutan yang kayunya diekspor tanpa diolah, batubara yang diekspor mentah-mentah, termasuk aluminium.
"Padahal aluminium yang kalau diekspor mentah hanya menghasilkan sekali, kalau diolah dulu sebelum diekspor nilai tambahnya jadi delapan kali dan kalau diolah lebih panjang lagi bisa 30 kali lipat," katanya.
Jadi, ujarnya, harus segera ada upaya meningkatkan SDM dan Iptek untuk menghasilkan nilai tambah dari kekayaan alam yang ada dan membuat kita tak selalu tergantung pada alam.(D009)
• ANTARA News
Peneliti: pohon jambu bisa berbuah cengkeh
![]() |
| Ilustrasi - Komoditas Cengkeh (FOTO ANTARA/BASRUL HAQ) |
"Tekhnologinya cukup sederhana, antara lain jambu yang sudah relatif besar dipotong dahannya, setelah bertunas muda langsung disambungkan dengan pucuk cengkeh. Setelah 21 hari entris akan menyatu, maka akan muncul sebatang cengkeh yang siap berbuah cengkeh," kata Rasmi R, di Padang, Rabu.
Menurut dia, penyambungan pohon jambu --yang dimanfaatkan sebagai batang bawah-- itu dengan pucuk cengkeh, nantinya akan memproduksi cengkeh tanpa repot-repot menanam dari awal.
Sedangkan buah cengkeh sendiri, katanya, bernilai komersial karena merupakan salah satu komoditas non migas berskala ekspor ketimbang buah jambu.
"Cengkeh atau `eugenia aromatica` merupakan tanaman yang berasal dari pulau Zanzibar ini pernah menjadi primadona pada hasil perkebunan di Indonesia," katanya, namun kini pamor cengkeh relatif menurun lebih disebabkan oleh monopoli tataniaga, kuota dan serangan hama atau penyakit tanaman.
Ia mengakui dengan merosotnya komoditi cengkeh, penelitian terhadap komoditas itu juga menjadi tidak menarik, mulai dari budidaya, hama dan penyakit.
Hal ini, katanya lagi, juga dipengaruhi adanya kecenderungan penelitian dilakukan pada hal-hal terkini atau yang menjadi populer.
Sementara tanaman jambu sendiri juga masuk genus eugenia dan famili eugenaceae. Genus ini memiliki banyak spesies seperti eugenia jambula (jambu ), eugenia sp (jambu keling) dan jambu air (eugenia sp. ), daun salam dan lainnya.
Setiap spesies ini mempunyai kelebihan dan keunikan tersendiri. Mulai dari ketahanan terhadap tekanan lingkungan, kemampuan adaptasi yang tinggi, ketahanan terhadap hama, penyakit serta pertumbuhan yang cepat.
"Sebagai dasar dalam ilmu budidaya tanaman dan ilmu biologi menjelaskan bahwa tanaman yang satu genus bisa dilakukan penyambungan (enten ), tempelan (okulasi ), susuan dan lain-lain," katanya.
Karena itu pilihan dalam melakukan rekayasa budidaya ini tergantung dengan keahlian yang dimiliki karena mempunyai kelemahan dan kelebihan tersendiri.
Sedangkan jambu yang paling tinggi daya tahannya adalah jambu keling, yang buahnya berwarna hitam kalau sudah tua yang ukurannya sebesar ibu jari tangan.
"Tanaman ini banyak tumbuh di daerah padang alang-alang Kabupaten Solok, walau sudah puluhan kali terbakar di bawahnya dia tetap hidup dan batangnya relatif besar. Kalau jambu air juga cukup banyak tumbuh liar di lereng tebing, tepi sungai, dan Ngarai Sianok Bukittinggi," katanya.(F011)
Mengkudu Kurangi Kanibalisme Lele
BOGOR--MICOM: Tim mahasiswa Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor melakukan penelitian mengenai buah mengkudu yang mampu mengurangi sifat kanibalisme ikan lele.Rilis Humas IPB di Bogor, Rabu (28/12) menyebutkan penelitian itu dilakukan oleh Ikbal Hadi sebagai ketua, dengan anggota Asep El Qusairi, Ruly Ratannanda, M Hasyim Al Abror, dan Rezi Hidayat.
Penelitian bertema "Efektivitas Pemberian Ekstrak Buah Mengkudu Morinda Cirtifolia L Melalui Pakan Alami Terhadap Sifat Kanibalisme Benih Ikan Lele Clarias sp Pada Sistem Budidaya Intensif" itu dilakukan di bawah bimbingan dosen pendamping Ir Harton Arfah MSi.
Ikbal Hadi menjelaskan, ikan lele adalah salah satu komoditas ikan air tawar yang masih menjadi primadona di Indonesia. Budi daya yang diperlukan dalam memenuhi tingginya tingkat kebutuhan ikan lele ialah usaha budi daya yang dilakukan secara intensif.
Namun, kata dia, masalah yang sering muncul pada usaha budidaya secara intensif ikan lele ialah tingginya tingkat mortalitas benih ikan lele akibat sifat kanibalisme dalam kegiatan pembenihan. "Riset yang dilakukan oleh Hseu JR, pada juvenil ikan kerapu membuktikan bahwa kanibalisme dipengaruhi oleh tingkat konsentrasi hormon serotonin pada otak," katanya.
Ikbal Hadi menjelaskan, peningkatan hormon serotonin ini juga diduga mampu mengurangi kecenderungan sifat agresif benih ikan lele untuk kanibal. Melalui riset intensif yang dilakukan oleh para ilmuwan di laboratorium, mengkudu menunjukkan keunggulan luar biasa.
Mengkudu mengandung zat scopoletin yang berguna dalam peningkatan kegiatan kelenjar peneal di dalam otak, yang merupakan tempat dimana serotonin diproduksi dan kemudian digunakan untuk menghasilkan hormon melatonin. (Ant/OL-04)
• MediaIndonesia
LIPI Uji Tanam Massal Jati Berlian
TEMPO.CO, Cibinong - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Sabtu (17/12) pagi tadi melaksanakan uji tanam skala massal benih jati hasil pemuliaan genetik penelitinya di kawasan Cibinong Science Center, Cibinong, Jawa Barat. Sebanyak 2.000 bibit jati (Tectona grandis) yang diberi nama Jati Berlian itu ditanam di areal seluas 2 hektare.Penanaman benih jati yang diprakarsai oleh Dharma Wanita Persatuan di lingkungan LIPI ini bertepatan dengan kegiatan Bulan Menanam Pohon selama Desember ini yang dicanangkan oleh pemerintah. Kegiatan penanaman pohon yang mengangkat tema 'Bakti DPW LIPI untuk Pertiwi' itu melibatkan seluruh anggota Dharwa Wanita Persatuan LIPI yang datang dengan keluarganya.
Bambang Prasetya, Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI dalam sambutannya mengatakan, "Kegiatan ini merupakan sinergi antara Dharma Wanita Persatuan, LIPI, dan Korpri." Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Witjaksono mengatakan bibit Jati Berlian diperbanyak secara vegetatif dengan teknik in vitro (kultur jaringan) dari pohon atau klon unggul menggunakan metode bioteknologi mutakhir.
Menurut Witjaksono, banyak sekali keunggulan yang dimiliki Jati Berlian antara lain, memiliki perakaran yang kokoh (akar tunjang majemuk), daya tumbuh tinggi, pertumbuhan cepat--dalam waktu 5 tahun lingkar batang mencapai 95–105 sentimeter, batang tegak lurus dan cenderung tidak bercabang, dan kayu yang dihasilkannya berkualitas tinggi.
Kepala LIPI Lukman Hakim mengatakan, "Tidak hanya penanaman pohon jati, kegiatan ini juga akan meneliti efisiensi pengaplikasian empat tipe pupuk organik Beyonic (Beyond Organic)." Pupuk organik ini merupakan produk hasil penelitian Pusat Penelitian Biologi, Pusat Penelitian Bioteknologi, Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, dan Unit Pelaksana Teknis Balai Penelitian dan Pengembangan Biomaterial LIPI. Pada plot ini juga akan diteliti tentang pertumbuhan, fisiologi tanaman, fitokimia, siklus karbon dan sistem tumpang sari.
Hasil penelitian ini, kata Lukman, diharapkan dapat berguna untuk sosialisasi pohon jati di masyarakat. Jika proyek percontohan skala besar ini berhasil diharapkan masyarakat di masa mendatang dapat menanam jati ini untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, membantu penghijauan lahan kosong sekaligus menyerap CO2, menciptakan lapangan usaha (industri kerajianan) dan dapat pula mensuplai bahan baku untuk industri pengolahan plywood agar tidak menggunakan kayu dari hutan alam.(l dody)
• TEMPO.CO
Anggrek Sulawesi Terancam Tambang
KOMPAS/MARIA SERENADE SINURAT Anggrek Sulawesi ("Phalaenopsis amabilis var celebica") yang menjadi salah satu plasma nutfah khas Sulawesi, kini terancam punah oleh pertambangan nikel. Konservasi harus segera digalakkan untuk menghindari kepunahannya.
MAKASSAR, KOMPAS.com- Anggrek Sulawesi (Phalaenopsis amabilis var celebica) yang menjadi salah satu plasma nutfah khas daerah ini terancam oleh pertambangan nikel. Konservasi harus segera digalakkan untuk menghindari kepunahannya.
Phalaenopsis amabilis termasuk salah satu spesies anggrek asli atau lebih dikenal dengan nama anggrek alam. Di Sulawesi Selatan, spesies ini banyak tumbuh di hutan-hutan Sorowako, Luwu Timur. Spesies ini paling cocok tumbuh di Sorowako, sayangnya di kawasan itu juga ada pertambangan nikel.
"Yang dikhawatirkan, hutan tempat alami anggrek ini juga akan dikupas untuk tambang," kata Kepala Bidang Penelitian Pengkajian Sumberdaya Alam, Lingkungan dan Teknologi Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sulsel Muslih Radhi Abdullah di Makassar, Kamis (6/10/2011).
Menurut Muslih, spesies ini memiliki kelopak dan tajuk bunga berwarna putih bersih dan bibir bunga kuning atau kadang berbintik merah.
Tim Balitbangda sempat mengambil sampel anggrek ini untuk disimpan di Kebun Raya Puca di Maros. "Pelestarian habitat bagi Phalaenopsis amabilis var celebica seharusnya dilakukan bersamaan dengan konservasi. Tapi dukungan pemerintah minim karena pelestarian tidak menghasilkan uang secara instan," ucapnya.
Padahal bila dikembangkan, konservasi tanaman juga bisa bernilai ekonomis. Sejak tahun 2008, Balitbangda mencatat 216 spesies tumbuhan yang menjadi plasma nutfah di Sulsel. "Kalau mau diseriusi, kita bisa m engembangkannya seperti bagaimana Tulip bisa bernilai ekonomis dan tetap terjaga keberadaannya," lanjutnya.
Di Indonesia ada enam ekotipe Phalaenopsis amabilis yang endemik di Pulau Sulawesi, Maluku, Papua, Kalimantan, Sumatera, dan Jawa. Phalaenopsis berasal dari bahasa Yunani phalaenos yang berarti ngengat atau kupu-kupu dan opsis berarti bentuk atau penampakan.
• KOMPAS
Hutan Kalimantan untuk Tebus Utang RI ke AS
Program ini juga bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebagaimana telah dituangkan dalam Rencana Strategi Kementerian Kehutanan. (zunal.com)VIVAnews - Pemerintah Amerika Serikat akan melakukan debt for nature swap sebesar US$28,5 juta dalam rangkan membantu upaya pelestarian hutan dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia, khususnya di Kalimantan. Kebijakan ini masuk dalam Tropical Forest Conservation Act 2 (TCFA2)
Debt for nature swap adalah pengalihan utang yang kali ini dananya digunakan untuk membiayai program konservasi keanekaragaman hayati dan hutan tropis.
Menurut Direktur Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Darori, program ini melibatkan masyarakat madani yang berperan sebagai pelaksana. Program ini sesuai dengan komitmen pemerintah dalam rangka melindungi hutan dan keanekaragaman hayati.
"Program ini juga bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebagaimana telah dituangkan dalam Rencana Strategi Kementerian Kehutanan," ujar Darori, usai penandatanganan perjanjian di kantor Menko Perekonomian, Jakarta, 29 September 2011.
Lewat program ini, pemerintah akan menciptakan model-model konservasi hutan tropis dan mitigasi perubahan iklim. Sebagai awalan, program akan difokuskan di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Berau dan Kutai Barat di Kalimantan Timur, dan Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat.
Ade Soekadis, Acting Director TNC Forest Program Indonesia menyebutkan, program TFCA2 diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di Berau serta untuk mencapai target pengurangan emisi karbon hingga 41 persen. “Caranya dengan tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi tujuh persen di tahun 2020," ucapnya.
Di sisi lain, Efransjah, Chief Executive Officer WWF Indonesia menyatakan, program ini merupakan lompatan besar dalam upaya konservasi. “WWF bangga menjadi bagian dari program yang tata kelolanya dilakukan bersama oleh pemerintah dan masyarakat madani," ucapnya. (adi)
• VIVAnews
Daun Katuk Bisa Turunkan Kadar Lemak Ayam
BENGKULU--MICOM: Peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu Prof Urip Santoso menemukan ekstrak daun katuk (Saropus androgynus) yang dicampur dengan bahan pakan mampu menurunkan kadar lemak dalam ayam petelur dan ayam pedaging.
"Penelitian yang kami lakukan membuktikan penambahan ekstrak daun katuk pada bahan pangan ayam petelur mampu menurunkan kadar lemak sebesar 40 persen," katanya di Bengkulu, Selasa (6/9).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun katuk juga meningkatkan produksi telur dan warna kuning telur.
Pemberian ekstrak daun katuk untuk pakan ayam petelur sebanyak sembilan gram untuk setiap satu kilogram pakan ternak ayam.
Sementara untuk ayam pedaging jenis broiler, pemberian ekstrak daun katuk sebesar 18 gram untuk setiap satu kilogram pakan mampu menurunkan kadar lemak hingga 25 persen.
"Penelitian tingkat kampus ini sudah pernah diterapkan pada peternak ayam petelur sebanyak 1.000 ekor dan ternyata mampu menghemat pakan hingga 15 persen," tambahnya.
Sedangkan bobot ternak tidak berbeda atau sama dengan ayam pedaging yang tidak menggunakan ekstrak daun katuk. Selain itu keunggulan lainnya adalah jumlah ternak yang bertahan hidup juga lebih tinggi serta lebih tahan terhadap penyakit yang sering menyerang unggas tersebut.
Namun, Profesor mengatakan penelitian ini masih berlanjut hingga ditemukan dosis atau kadar ekstrak daun katuk yang tepat untuk ayam petelur dan pedaging.
"Kami belum mengurus hak paten karena penelitian ini masih terus berlanjut hingga efek samping atau efek negatifnya seminimal mungkin," katanya.
Namun, kelebihan dosis ekstrak daun katuk pada ayam bisa mengakibatkan terganggunya metabolisme dan penyerapan unsur kalsium pada ayam. (Ant/OL-9)
• MediaIndonesia
13 Katak Bertaring Ditemukan di Sulawesi
Jim McGuire Katak ini meletakkan telur di dedaunan dan bukan di air, lalu menungguinya. Jenis ini adalah salah satu dari 9 spesies katak yang belu dikenal dunia ilmu pengetahuan sebelumnya.
KOMPAS.com - Ben Evans, pakar hewan dari McMaster University di Hamilton dan ilmuwan Indonesia menemukan 13 spesies katak bertaring di Sulawesi. Sejumlah 9 dari 13 spesies itu belum pernah ditemukan sebelumnya. Penemuan ini dilaporkan dalam jurnal The American Naturalist bulan ini.
Katak bertaring termasuk dalam genus Limnocetes, disebut bertaring karena memiliki tonjolan tulang di rahang bawah. Taring yang dimaksud bukan berarti gigi taring yang sebenarnya, sebab tak memiliki akar gigi atau ciri-ciri gigi lainnya.
Dalam papernya, Evans menulis, seluruh spesies katak bertaring yang ditemukan memiliki variasi adaptasi yang berbeda, sesuai kondisi lingkungan dan iklim mikro masing-masing, mulai dari yang terbasah hingga terkering dan dengan beragam vegetasi yang ada.
Beberapa spesies punya kaki berselaput tebal untuk beradaptasi dengan arus sungai yang deras. Sementara yang lain berselaput tipis, sesuai dengan lingkungan darat. Yang unik, ada katak yang melakukan fertilisasi internal, meletakkan telurnya jauh dari air dan mengawasinya.
"Penemuan ini menjadi contoh bagus bagaimana spesies pada akhirnya menggunakan taktik yang sama untuk survive dan melakukan diversifikasi ketika diberi kesempatan," kata Evans seperti dikutip CBCnews, Jumat (12/8/2011).
Evans mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian, tak ada genus katak lain di Sulawesi yang bisa berkompetisi dengan genus katak bertaring. Ini menjadi bukti bahwa katak bertaring berevolusi untuk mengisi kekosongan relung kehidupan yang ada di Sulawesi.
Sampai saat ini, ilmuwan belum mengetahui manfaat taring pada katak genus ini. Beberapa kemungkinan adalah sebagai senjata melawan pejantan lain untuk mempertahankan wilayah, menangkap mangsa seperti ikan dan serangga serta sebagai senjata melawan predator.
Untuk menemukan katak ini, Evans dan timnya harus melakukan ekspedisi di sepanjang sungai dan hutan dengan resiko gigitan ular berbisa. Hasilnya, ada 683 ekor katak yang berhasil ditangkap. Peta distribusi katak lalu dibuat, sekaligus perbandingan ciri katak dengan lingkungannya.
Saat ekspedisi, Evans berusaha menangkap katak di hutan yang belum tersentuh illegal logging. Namun, ia mengatakan, "Ada banyak hutan dimana kami mengambil sampel yang kemudian hilang ketika kami mengunjunginya beberapa tahun kemudian."
Sejauh ini, Evans mengatakan belum ada dari spesies yang ditemukan punah. Tapi ia mempercayai, distribusi katak-katak tersebut telah berkurang. Perlu usaha pelestarian lingkungan untuk menjaga katak-katak ini tetap eksis.
Jamur Bikin Padi Beradaptasi terhadap Perubahan Iklim
TEMPO/Iqbal LubisTEMPO Interaktif, Boulder - Padi adalah salah satu sumber pangan utama yang memenuhi separuh kebutuhan kalori harian populasi dunia. Penelitian yang dilakukan badan survei geologi Amerika Serikat (USGS) menemukan cara untuk membuat padi dapat beradaptasi dengan perubahan iklim dan bencana alam. Riset USGS menunjukkan bahwa kolonisasi benih atau tumbuhan padi dengan spora sejenis jamur yang banyak ditemukan di alam dapat menyelamatkan tumbuhan tersebut.
Riset itu dilakukan untuk mengeksplorasi cara untuk meningkatkan adaptibilitas padi terhadap dampak perubahan iklim, seperti tsunami dan meningkatnya pasang-surut air laut yang menyebabkan penurunan hasil panen. Para ilmuwan USGS dan koleganya mengkolonisasi dua varietas padi komersial dengan spora jamur yang biasa ditemukan pada tumbuhan pantai yang tahan air asin dan tumbuhan di kawasan geotermal yang toleran terhadap panas.
"Eksperimen itu cukup sukses," kata Rusty Rodriguez, peneliti USGS di Seattle, yang terlibat dalam riset tersebut.
Padi yang tumbuh subur memperlihatkan peningkatan toleransi terhadap suhu dingin, air asin, dan kekeringan, meski varietas padi yang mereka uji tidak beradaptasi secara alami terhadap ketiga kondisi tersebut.
Setelah sukses dengan peningkatan toleransi tersebut, kini tim riset berusaha membuat padi tahan terhadap panas. Saat ini produksi padi turun sekitar 10 persen untuk setiap kenaikan temperatur 1 derajat Celsius selama musim tanam padi.
"Ini adalah terobosan yang mengagumkan," kata Rodriguez. "Kemampuan jamur ini untuk mengkolonisasi dan memberikan toleransi terhadap stres pada tanaman. Begitu pula peningkatan panen dan sistem perakaran padi, menunjukkan bahwa jamur itu mungkin juga berguna untuk membuat tanaman beradaptasi terhadap kekeringan, air asin, dan temperatur yang akan semakin buruk beberapa tahun mendatang karena perubahan iklim."
Penggunaan jamur kecil yang disebut endofit itu, kata Rodriguez, adalah salah satu strategi untuk mengatasi efek perubahan iklim terhadap tanaman dalam ekosistem pertanian maupun alami. "Kami mendalami bidang riset yang tengah berkembang ini sebagai symbiogenics. DNA padi itu sendiri sama sekali tak berubah," kata Rodriguez. "Sebaliknya, kami menciptakan ulang apa yang normalnya terjadi di alam. Strategi semacam ini sangat diperlukan karena produksi padi diproyeksikan akan menurun sampai 15 persen pada 2050." [SCIENCEDAILY | TJANDRA]
• TEMPOInteraktif
Korea Uji Program Penurunan Emisi di Hutan Lombok
Hutan di Berau, Kaltim. TEMPO/Gunawan WicaksonoTEMPO Interaktif, Jakarta - Korea Internaitonal Cooperation Agency (KOICA) memberi dana US$ 5 juta untuk menanam pohon lokal durian, manggis, alpukat pada lahan seluas 5.000 hektar di Hutan Lantan Kecamatan Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah dan hutan Sekaroh di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Kepala Dinas Kehutanan Nusa Tenggara Barat Hartina menjelaskan bantuan KOICA untuk kepentingan penurunan emisi dari penggundulan dan perusakan hutan. Program penurunan ini dikenal sebagai REDD atau Reducing Emissions from Deforestation and Degradation. "Jangan ada lagi degradasi dan deforestasi, sekarang menunggu izin pengelolaan lahan," kata Hartina, Jum’at ini.
REDD merupakan skema mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di negara-negara pemilik hutan. Negara pengemisi memberi dana agar pemerintah dan masyarakat sekitar menjaga hutan untuk tidak ditebang. Selain Korea, sejumlah negara dan lembaga non-pemerintah bermitra dengan pemerintah daerah.
Australia Kalimantan Forest Climate Programme (KFCP) misalnya, melakukan uji coba REDD di lahan seluas 120.000 hektar di eks Proyek Lahan Gambut.
Dari 1,8 juta hektar lahan pertanian di Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang mengalami penurunan fungsi mencapai 64 ribu hektar terutama di Pulau Sumbawa.
Lahan tersebut merupakan bagian dari 527.800 hektar lahan kritis, di antaranya 159 ribu hektar hutan dan 368.800 hektar lahan non hutan di kawasan hutan bagian selatan Lombok Tengah dan sebagian besar Sumbawa. Adanya kerusakan kawasan juga terjadi di dalam hutan lindung yang luasnya 480 ribu hektar diantaranya 419 ribu hutan produksi dan 70 ribu hektar non produksi.[SUPRIYANTHO KHAFID]
• TEMPOInteraktif
Hutan Sumatera Masuk Daftar Bahaya PBB
Hutan gundul akibat pembakaran lahan (zunal.com)VIVAnews - Hutan Hujan Tropis Sumatera masuk dalam Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya Perserikatan Bangsa-bangsa yang ditetapkan Badan PBB untuk Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya. Hutan Hujan Sumatera masuk daftar bersama Cagar Alam Rio Platano di Honduras.
Masuknya dua warisan dunia ini ditetapkan dalam sidang tahunan UNESCO pada 22 Juni 2011. Hutan Sumatera yang masuk daftar Warisan Dunia pada 2004 ditetapkan dalam bahaya untuk mengatasi pembalakan liar, perluasan perkebunan dan pembangunan jalan.
Sebenarnya, sejak 2004, Hutan Sumatera sudah disarankan masuk daftar bahaya, namun baru pada tahun ini resmi dimasukkan. Dengan masuknya hutan Sumatera dalam daftar bahaya ini, diharapkan ada upaya restorasi segera.
"Menandakan sebuah pesan pada dunia internasional untuk mendukung kawasan ini," kata Peter Shadie, Penasihat Senior International Union for Conservation of Nature yang merupakan konsultan UNESCO, seperti dilansir Environment News Service.
Sementara Hutan Perawan Komi, kawasan alam pertama Rusia yang masuk Daftar Warisan Dunia, tidak masuk kategori bahaya. Padahal izin penambangan emas di lokasi ini sebenarnya telah membuatnya pantas masuk daftar bahaya.
Sementara Cagar Alam Ria Platano masuk daftar bahaya justru karena permintaan pemerintahnya. Kawasan ini telah diramaikan pemukiman liar, penangkapan ikan ilegal, pembalakan liar dan sejumlah proyek konstruksi yang mengancam ekosistem setempat.
Sumatera memiliki beberapa cagar alam yang dilindungi, yang terbentang dari Nanggroe Aceh Darussalam sampai Lampung. Di Aceh terdapat Taman Nasional Leuser, di Sumatera Barat dan Jambi terdapat Taman Nasional Kerinci Seblat. (umi)
• VIVAnews
Bunga Bangkai Kembali Mekar di Cibodas
JAKARTA, KOMPAS.com - Bunga bangkai di Kebun Raya Cibodas akan kembali berbunga untuk ketiga kalinya dalam bulan Mei 2011. Sebelumnya, bunga ini berbunga pertama kali pada tahun 2003 dan kembali berbunga pada 10 Mei 2007.
Amorphopallus titanum biasanya tumbuh di tempat terbuka yang relatif miring dan mendapat banyak cahaya matahari. Bunga ini juga biasa tumbuh di tanah yang gembur dan banyak mengandung humus serta memiliki aerasi yang baik. Pengelola Kebun Raya Cibodas pun menempatkan bunga langka ini di belakang guest house, lokasi yang paling mirip dengan habitat aslinya.
Bunga bangkai raksasa yang ada di Kebun Raya Cibodas dibawa dari Sumatera. Pada tahun 2000, tim eksplorasi Kebun Raya Cibodas mengambilnya dari Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi, pada ketinggian 680 meter di atas permukaan laut dan menanamnya kembali pada 26 Juni 2000.
"Dulu bunga ini ditanam di belakang rumah kaca, tetapi karena tanahnya merah maka dipindah ke lokasi yang sekarang. Tanahnya lebih banyak mengandung humus," kata Makmur, salah seorang pegawai Kebun Raya Cibodas yang ikut menanam Amorphopallus titanum.
Bunga yang memiliki tiga fase pertumbuhan ini--vegetatif (berdaun), generatif (berbunga), dorman (istirahat)--berbunga setiap empat tahun sekali. Oleh sebab itu masa berbunganya menjadi momen istimewa yang selalu ditunggu-tunggu.(National Geographic Indonesia/Agung Dwi Cahyadi)
• KOMPAS
Empat Keladi Jenis Baru Ditemukan
KOMPAS.com - Kebun Raya Eka Karya Bali - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan empat jenis keladi (famili Aracea) baru.Jenis pertama, Alocasia baginda, sudah dipublikasikan di jurnal Acta Phytotaxonomica et Geobotanica 60 (3), edisi Februari 2011. Jenis kedua, Homalomena agens, masih dalam proses publikasi di jurnal Aroideana. Kedua spesies itu memiliki sebaran di daerah Kalimantan Timur.
Jenis ketiga, Homalomena vittariifolia, dalam proses publikasi di jurnal Acta Phytotaxonomica et Geobotanica. Demikian pula dengan jenis keladi keempat, Schismatoglottis inculta. Jenis ketiga dan keempat memiliki sebaran di wilayah Sulawesi Tenggara.
Agung Kurniawan, peneliti di Kebun Raya Eka Karya Bali, Rabu (20/4), mengatakan, penemuan ini dibantu oleh ahli keladi-keladian, Peter C Boyce, dari Universiti Sains Malaysia. Agung mengatakan, Alocasia baginda telah tersebar di kalangan penghobi tanaman hias sejak 3-4 tahun lalu.
"Hanya saja mereka belum sadar kalau tanaman itu merupakan jenis baru," kata dia. Temuan ini didapatkan dari eksplorasi hutan setempat. (ICH)
• KOMPAS
Flora dan Fauna Nusakambangan Terus Terancam
Dermaga pulau Penjara Nusakambangan.Jumlah sipir di tujuh LP Nusakambangan tidak sebanding dengan jumlah napi.KOMPAS.com — Populasi flora dan fauna endemis Pulau Nusakambangan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, terus terancam. Penyebabnya, kerusakan hutan akibat pembalakan dan perambahan liar di pulau seluas 12.202 hektar itu selama 15 tahun terakhir.
Kepala Kantor Wilayah Jateng Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemhuk dan HAM) Chairuddin Idrus mengungkapkan hal itu di sela-sela apel siaga bersama gabungan Wana Nusa untuk konservasi Pulau Nusakambangan di Dermaga Sodong.
"Setidaknya 4.000 hektar hutan di Nusakambangan rusak parah dan gundul," kata dia, Selasa (19/4/2011).
Berdasarkan temuan Flora Fauna Internasional, sejumlah flora dan fauna langka di Nusakambangan itu di antaranya macan tutul (Panthera pardus), pohon plalar (Hydraokarous fitoralis), dan bunga wijayakusuma (Epiphyllum anguliger).
Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemhuk dan HAM Untung Sugiyono mengakui, keterlibatan para pemangku kebijakan dimungkinkan dalam pembalakan hutan. "Tak hanya petugas kami (Kemhuk dan HAM), semua yang punya wewenang di pulau ini tak tertutup kemungkinan terlibat," ujarnya. (GRE)
• KOMPAS
Jeruk Keprok Terancam Punah
Seorang petani memetik buah jeruk nipis di Banyuwangi, Jawa Timur, (26/3). Dalam satu bulan terakhir harga jeruk nipis naik dari Rp.2000/Kg menjadi Rp.6000/Kg. Foto: ANTARA/Seno STEMPO Interaktif, Yogyakarta - Jeruk keprok asal Indonesia terancam punah. Jeruk keprok yang berasal dari Tawangmangu, Grabag dan Garut mulai sulit ditemui di pasar tradisional dan supermarket.
Foto: 'Taman Rahasia Misterius' di Borneo
Spesies katak yang unik dari Kalimantan (David Bickford)VIVAnews - Borneo telah lama dikenal dengan reputasinya sebagai mysterious secret garden. Pulau itu merupakan rumah dari berbagai flora dan fauna yang unik dan eksotis.
Di sana ada Ular Bronzeback (Dendrelaphis kopsteini) dengan leher oranye yang menyatu dengan pola warna-warni terang di sekujur tubuhnya.
Ada udang kecil yang panjangnya 1 cm, semut berbulu berwarna coklat kemerahan ini, juga anggrek langka yang ditemukan di Trus Madi, Gunung tertinggi Malaysia (2.642 m)
Tak hanya itu, ada pula siput berwarna hijau kekuningan yang panjangnya tiga kali panjang kepalanya sendiri. Atau serangga tongkat (stick insect) terpanjang di dunia. yang mencapai setengah meter.
Di sana juga ada kodok bisa melompat dari pohon yang satu ke pohon yang lain, sekaligus mampu berkamuflase seperti bunglon. Ia mampu mengubah warna kulitnya, menyesuaikan diri dengan warna lingkungan sekitar. Foto-fotonya bisa dinikmati di sini.
• VIVAnews



